Arif Pradipta, begitu Emak memberiku nama ketika aku terlahir ke dunia. Hidupku baik-baik saja selama ini, sebelum akhirnya rumah kosong di samping rumahku dibeli dan dihuni orang asing yang kini menjadi tetangga baruku. Dahulu, aku nyaman aja menyandang status jomlo. Bahkan memang enggak tertarik masuk ke dunia percintaan. Mungkin karena aku sekolah di SMK yang sebagian besar muridnya laki-laki, hingga jarang bergaul dengan makhluk berlawanan jenis. Namun, kedatangan tetangga baru itu menodai pikiran perjakaku yang masih suci. Bisa-bisanya istri tetangga itu begitu mempesona dan membuatku mabuk kepayang … ____ BAB 1 Tetangga Baru Hujan mencampakkan langit karena ingin mencumbu bumi. Hujan tercengang ketika dilihatnya matahari mencintai bumi sama besarnya. Matahari menyapu bersih bekas kecupan yang ia torehkan semalam. Halah, sok puitis! Bilang saja kalau tadi hujan lebat mengguyur kota ini, dan sekarang matahari tanpa sungkan memamerkan senyumnya. Terbentuklah pelangi yang indah di langit bagian barat. Aku duduk di teras warung kelontong milik emak. Secangkir kopi hitam menemaniku menikmati suasana dingin sore ini. Sesekali bunyi air yang jatuh dari dedaunan terdengar. Melalui gawai yang layarnya sudah gak jernih lagi, aku berselancar di media sosial, mencari … "Maen hape muluuuuu … mandi-mandi sanah, sudah sore inih." Suara emak menggelegar dari arah belakang. "Iya, Mak. Bentar lagi, ngabisin kopi dulu. Nanggung nih." Namaku Arif Pradipta, anak bujang emak satu-satunya, tapi enggak pernah dimanja, eh. Umurku sembilan belas tahun, baru juga lulus sekolah menengah kejuruan. Kata Emak, aku tuh ganteng. Yaiyalah … anak sendiri juga. Kulit putih yang kumiliki turunan dari Emak, sementara pahatan wajah dan perawakan tinggi yang mencapai 165cm ini adalah hasil dari sumbangan Bapak ke Emak waktu mencetakku dulu. Haishh. Sejak kecil, aku hanya bisa melihat wajah Bapak melalui potret yang merekam pernikahan yang selalu Emak simpan dengan rapi. Iya, Bapak memang setampan itu. Nampak semburat kebahagiaan yang tergambar dari wajah-wajah pada foto tersebut. Sayangnya kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Bapak meninggal dunia ketika aku masih berumur dua tahun. Dari cerita tetangga yang sering kudengar, sejak kepergian Bapak, kehidupan Emak jadi jungkir balik 180°. Wanita yang dulunya selalu dimanja suami dan hanya menjadi ibu rumah tangga, tanpa tahu rasanya bekerja, jadi membanting tulang sendirian demi membesarkan anak lelaki yang disayanginya. Ah, Emak. I love you forever, Mak. Beberapa hari ini emak mengomeliku karena gak sat set seperti yang diharapkan. Mungkin beliau mulai risih melihatku berseliweran di hadapannya pas jam-jam orang bekerja. Aku bukannya suka jadi pengangguran, cuma lagi nyari kerja, tapi belum beruntung saja. Sekarang nyari kerjaan tuh kayak nyari jarum di tengah lautan—sulit. Apalagi yang cuma lulusan SMK macam aku. Sebenarnya aku ingin sekali kuliah seperti teman-teman lainnya. Bahkan, tanpa sepengetahuan Emak, aku ikut daftar UTBK-SBMPTN dan masuk seleksi. Namun, aku harus merelakan kesempatan itu begitu saja, karena gak tega meminta uang Emak untuk daftar ulang. Bukannya memberi lembaran kertas merah, tapi malah menangis karena merasa gak mampu mendukung cita-cita anak, pasti. Aku gak mau melihat Emak menangis lagi. Sebuah mobil berwarna hitam memelankan lajunya dan berbelok ke halaman rumah kosong yang berada tepat di samping rumahku. Gak lama kemudian, seorang lelaki lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil sebelah kiri. Ia menengadahkan tangan, mempersilakan seorang perempuan turun layaknya pangeran ke putri mahkota. Romantis sekali. Mungkin mereka adalah sepasang pengantin baru. Apa mereka orang yang telah membeli rumah itu ya? Pikirku. Kudengar beberapa minggu yang lalu, rumah yang ditempeli plakat 'rumah dijual' itu telah laku. Gak lama setelah itu, motor gede yang dikendarai seorang pemuda menyusul dan parkir di belakang mobil. Dia siapa lagi? Dilihat dari wajahnya ketika membuka helm, pemuda itu seumuran denganku. Bedanya dia lebih bening, keliatan banget kalo keturunan priyayi. Ihiirrr. Sepasang suami istri melihat-lihat keindahan rumah dari depan dengan lengan suami yang merangkul istrinya. Senyum terus terukir di kedua bibir itu. Seolah seluruh kebahagiaan yang ada di bumi sore ini adalah milik mereka berdua. Yaiyalah bahagia, pasangan mana yang enggak bahagia, kalau bisa membeli rumah sendiri. Apalagi rumah itu adalah rumah terbagus yang ada di kampung ini. Rumah berpagar besi dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Aku terhenyak ketika tatapan mereka tiba-tiba terarah padaku, "Mas …," sapa si lelaki ramah. Sementara si perempuan menganggukkan wajahnya sambil tersenyum semanis gulali. Jarak halaman rumahnya memang sangat dekat dengan teras warung kelontong emak. Tembok yang menjadi tanda pembatas antara tanah mereka dan tanah Emak hanya setinggi perut orang dewasa, selebihnya adalah ukiran besi yang menjulang ke atas. Jadi, kami bisa saling melihat aktifitas masing-masing. Ups, jangan-jangan mereka tahu kalau sejak tadi aku perhatikan. Duh, malunyaa … "Hhee, enggih. Monggo …," balasku dengan nyengir kuda. Kuangkat cangkir kopi yang tertinggal ampas dan melipir ke belakang. Kabuuurr … ____ Hari-hari berlalu, hubungan keluarga kami dengan tetangga baru itu terjalin dengan sangat baik. Gak jarang Emak memasak lauk berlebih hanya untuk memberikannya sebagian pada Mbak Rifani—nama tetangga baru tersebut—Rifani Oktavia lebih lengkapnya. Begitupun dengan keluarga mereka. Bahkan Mas Ardi Winata yang biasa dipanggil Mas Nata, memercayakan istrinya pada keluarga kami. Mas Nata bekerja di sebuah perusahaan ternama. Terkadang, ia ditugaskan ke luar kota hingga beberapa hari. Emak lah yang sering menjenguk Mbak Rifani ke rumahnya, takut kalau Mbak cantik itu membutuhkan sesuatu dan gak bisa mengerjakannya sendiri. Entah alasan apa yang membuat keluarga mereka gak memperkerjakan asisten rumah tangga. Padahal, uangnya melimpah ruah, hingga tumpah-tumpah, mungkin. hehe. Cukup lah jika hanya untuk menggaji seorang pekerja. Rumah sebesar itu, Mbak Rifani kerjakan sendiri. Mulai dari menyapu hingga mengepel. Kalau soal makanan, sepertinya ia lebih suka beli tahu jadi, tinggal lahap, hap nyam nyam nyam. Duh, jadi laper. Seorang pemuda yang tinggal bersama pasangan suami istri itu, ternyata adalah adik kandung Mbak Rifani. Namanya Angga. Anak kuliahan semester satu yang jarang berada di rumah. Pulang-pulang udah malam, tinggal tidur doang. Kadang sehabis pulang juga masih nongkrong di teras warung kelontong Emak yang kalau malam hari berubah jadi warung kopi. Entah bagaimana dulu asal mulanya. Kaum lelaki, enggak tua enggak muda suka nongkrong sampai begadang di teras ini. Akhirnya Emak berinisiatif menggelar tikar dan menerima jasa seduh wedang. Dagangan rokok Emak pun juga kelarisan. Lumayan lah, hasilnya bisa buat nambah-nambah belanja isi dapur. Dari seringnya ngopi bareng sampai tengah malam, Angga menjadi dekat denganku. Teman-teman ngopi sudah pada pulang satu persatu, tinggalah aku dan Angga di teras ini. "Emang Mbak Rifani ma Mas Nata tu baru menikah ya? Trus langsung beli rumah itu?" tanyaku basa-basi. Aslinya penasaran juga, kok mereka selalu terlihat mesra, kayak pengantin baru. "Dah lama … sekitar tiga tahunan lah kira-kira," jawab Angga sambil menyeruput kopi yang sudah kedinginan. "Ah, masa sih?" "Emang kenapa?" "Ya enggak … mereka selalu keliatan romantis. Kalo Mas Nata lagi libur kerja, mereka selalu kemana-mana berdua. Kukira pengantin baru. Hehe." Wah, bisa jadi wisata masa depan nih. Aku juga pengen kayak gitu. Kalo udah nikah nanti, bakal selalu mesra ma istri, sampai tua. Yaelah, mikirin apa sih aku ini? Kutepuk jidatku sendiri. "Hemmh." Angga tertawa mencibir, bibir sebelah kanannya tertarik ke atas. Apa yang salah dengan Angga, kenapa ekspresinya seperti itu? "keliatannya aja romantis, bahagia. Padahal …." Bersambung …
bagus
13/11
0mantap
15/06
0bagus
11/04/2025
0View All