logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Rayuan Maut

"Yang spesial buat orang spesial … nasi goreng toping dua telur satu sosis, biar cepet gedhe. Hehe." Mbak Rifani melanjutkan kalimatnya.
"Apa yang gedhe, Mbak? Aakh … jangan membuatku dewasa sebelum waktunya, Mbak."
Uhuk!
Mbak Rifani sampai terbatuk-batuk mendengar ucapanku.
"Dih, Arif. Dasar kamunya aja yang udah mesum duluan. Maksud saya tuh, makan yang banyak biar cepet gedhe. Kamu 'kan masih masa pertumbuhan."
"Iya iya, aku udah tahu maksud, Mbak Rifani, kok. Lagi pengen bercanda aja. Hehe. Lagian 'kan aku emang udah dewasa, udah sembilan belas tahun loh. Boleh dong, mikirin yang agak dewasa dikit? Wkwkk."
"Udah, buruan dimakan. Nanti keburu dingin loh."
"Iya." Kami pun menikmati nasi goreng masing-masing. Rasanya enak. Seenak perasaanku ketika menatap wajah Mbak Rifani. Jiah.
"Rif, menurutmu, apa yang membuat seorang laki-laki nggak tertarik pada wanita?" Tiba-tiba Mbak Rifani bertanya dengan nada serius ketika makanan di piringku sudah tandas. Padahal nasi di piringnya sendiri masih tersisa separuh, tapi sepertinya perempuan itu sudah gak bernafsu untuk menghabiskannya.
"Ada banyak hal sih. Bisa karena wajah si perempuan kurang menarik, bisa juga kelakuannya yang kurang baik," jawabku asal. Gak tahu siapa yang sedang dibahasnya.
"Menurutmu, wajahku menarik gak?"
"Lebih dari menarik lagi, Mbak. Udah bisa bikin para pria klepek-klepek, itu mah."
"Ah masa? Termasuk kamu gak?"
"Iya." Ups keceplosan, "Eh, nganu. Maksudku, setiap lelaki yang memandang Mbak Rifani, pasti akan langsung tertarik," imbuhku, biar gak dianggap tertarik pada perempuan milik orang.
"Kalo perilakuku gimana? Apa aku sering berbuat nggak baik?"
"Sejauh aku mengenal, Mbak Rifani, Mbak adalah wanita baik. Buktinya sekarang, Mbak, mau menraktirku di tempat ini." Aku mulai penasaran, kenapa perempuan berwajah meneduhkan itu tiba-tiba menanyakan hal semacam itu, "Memangnya kenapa, Mbak? Ada yang mengganggu pikiran, Mbak?" Akhirnya aku menanyakannya juga.
''Iya, aku penasaran. Kenapa suamiku akhir-akhir ini jadi sering keluar kota. Apa dia sedang mau menjauhiku ya?" Mbak Rifani melayangkan kalimat tanya retoris. Dia gak membutuhkan jawabanku, karena dia pun tahu jika aku gak begitu mengenal suaminya.
Mungkin Mbak Rifani hanya butuh teman curhat. Maka yang bisa kulakukan hanya menjadi pendengar yang baik. Kata orang, mencurahkan unek-unek pada orang yang dipercaya, bisa mengurangi beban hati tersebut. Mungkin istrinya Mas Nata itu sudah mulai mempercayaiku.
"Mungkin karena Mas Nata memang sedang ditugaskan ke luar kota oleh atasannya, Mbak. Positive thinking aja." Aku mencoba menghiburnya.
"Lagian, kata Angga, Mas Nata itu cemburuan 'kan? Jealous itu tanda sayang loh, Mbak," lanjutku.
"Iya sih, dia cemburuan. Kalo tau kita sedang makan malam di sini. Pasti dia akan menodongmu."
"Waduh, senjataku cuma satu, belum pernah dikasih tumbal pula," kelakarku.
"Ahahaa …," perempuan berhidung bangir itu justru terbahak.
"Saya tadi udah pamit ke suami kalo mau belanja diantar, Arif, kok. Sedikit aneh sih. Biasanya dia melarangku untuk berhubungan dengan pria lain, walau sopir taxi sekalipun, tapi kali ini kok dia membiarkanku dibonceng kamu ya?" Mbak Rifani menempelkan jari-jari di antara bibir dan dagunya.
"Rif, jika nanti kamu udah menikah, trus hingga beberapa tahun belum juga dikasih keturunan, apa kamu akan mencampakkan istrimu?" Dia mulai berbicara dengan nada serius lagi. Maka aku harus menjawabnya dengan serius pula.
"Enggak. Jika aku mau menikah nanti, maka tujuan menikahku adalah untuk menyempurnakan agama. Jadi, jika pun belum dikasih keturunan, mungkin Tuhan belum memberi kepercayaan berupa anak kepadaku. Aku hanya perlu berusaha dan merayu Tuhanku dengan lebih rajin lagi." Jawabanku malah membuat perempuan anggun itu meneteskan air mata.
"Eh, loh, Mbak Rifani kenapa?" Dia gak menjawab, malah semakin sesenggukan. Mungkinkah ini efek dari PMS? Yang kutahu dari tik tik, PMS itu 'kan terjadi sebelum menstruasi, tapi bukannya Mbak Rifani tadi pagi sudah beli pembalut di warung Emak ya? Ah dah lah.
Aku jadi serba salah. Mau memeluknya, tapi takut kalo jadi kecanduan. Mau kubiarin aja, tapi beberapa pasang mata tengah memelototiku dengan penuh curiga. Pasti dikiranya aku baru saja melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Duh, rasanya kayak jadi terdakwa, ini mah.
Akhirnya kuberanikan diri untuk memapah Mbak Rifani. Menjauhkannya dari orang-orang yang kepo dengan urusan orang lain. Tempat makan disini menggunakan sistem pembayaran di awal. Jadi kami gak akan diteriaki maling jika meninggalkan tempat ini begitu saja.
Tidak jauh dari tempat makan, kulihat ada sebuah taman. Sepertinya, aku perlu menenangkan Mbak Rifani dulu di sana.
Sesampainya di taman, kami duduk berhadapan lagi.
"Mbak, boleh gombalin, Mbak Rifani gak?" tanyaku ketika Mbak Rifani sudah bisa mengatasi kesedihannya.
"Gombalin apa? Mana coba?" Dih, Mbak Rifani malah nantangin. Gas aja lah, siapa tahu Mbak cantik ini bisa ceria lagi setelah kugombali.
"Walau esok pagi aku akan tenggelam, tapi percayalah hari ini, esok, atau nanti aku akan mendatangimu kembali, karena aku telah tercipta untukmu." Perempuan yang berstatus istri orang ini mulai tersenyum.
Aku berpikir sejenak, mencari diksi yang pas. Entah kenapa kalimat ini yang ketemu, "Ketika harap telah menyelimuti kalbu, semoga kamu tak hirap dimakan waktu." Asyik, senyumnya mulai lebar.
"Mbak, tau gak, apa bedanya kunang-kunang sama, Mbak Rif?"
"Apa?"
"Kunang-kunang bersinar di kebun tetangga, kalo Mbak Rif bersinar di hatiku. Awokawokawoo."
"Tau gak, Mbak, kenapa malam ini, begitu terang?" tanyaku lagi.
"Karena ada saya?" jawabnya yang bernada tanya.
"Karena kita sedang ada di taman kota, kalo lampunya gak dinyalakan, keindahan taman gak akan terlihat. Hihi."
"Yaaah …." Perempuan itu nampak kecewa.
"Biar kutebak, dua bulan lagi, ultahnya, Mbak Rifani, 'kan?"
"Loh, kok tahu?" Perempuan di hadapanku mengernyitkan alis.
"Karena nama lengkap, Mbak, Rifani Oktavia. Pasti lahirnya di bulan Oktober. Hehe."
"Yaaa … jadi mudah ketebak ya? Haha."
"Mbak, tau gak, perbedaan umur kita berapa?"
"Berapa?"
"Satu tahun. Aku sembilan belas, Mbak, delapan belas," jawabku merayu.
"Salah." Kali ini, dia ngakak.
"Bener loh, coba lihat ini!" Kutunjukkan jepretan hasil nyuri yang baru saja kulakukan.
Mbak Rifani melongok demi melihat gambar yang ada di gawai. Setelahnya dia tersipu malu, pipinya memerah. Tadi, aku sempat memfotonya ketika sedang tersenyum cerah. Dalam waktu yang singkat, aku berhasil mengedit fotonya dengan fotoku, hingga kami terlihat seakan-akan sedang duduk berjejer.
Jam yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul setengah sepuluh, ketika aku mengantar Mbak Rifani sampai ke depan pintu rumahnya.
Sesampainya di rumahku sendiri, aku langsung merebahkan diri di kamar. Sengaja mengunci pintunya, sebelum Emak menghampiri dengan ribuan pertanyaan dan omelan.
Malam ini, untuk pertama kalinya aku begitu dekat dengan perempuan cantik itu. Aku merayunya habis-habisan, tapi perempuan itu hanya menganggapnya guyonan. Gak ditanggapi dengan serius, karena memang dia hanya menganggapku seorang adik. Syukurlah … jika dia beneran baper, bisa-bisa aku mendapat stempel pebinor sejati. Ah gila.
Mbak Rifani juga banyak bercerita. Katanya pernikahan mereka sudah berlangsung selama tiga tahun. Namun, akhir-akhir ini hubungan itu tak sehangat dulu. Apalagi ia sempat melihat sesuatu yang aneh dari dalam saku suaminya.
Bersambung …

Book Comment (62)

  • avatar
    PaLe

    bagus

    13/11

      0
  • avatar
    FotbalRezi

    mantap

    15/06

      0
  • avatar
    Fazri99De

    bagus

    11/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters