Memeluk guling yang ada di sampingku. Membayangkan jika itu adalah tubuh Mbak Rifani. Kupeluk erat, kuelus-elus, kutenangkan hatinya yang kacau. Yaelah … sepertinya aku sudah semakin gak waras. ____ Suara ayam berkokok, bersahut-sahutan di pekarangan rumah Emak. Selain hobi ngomel, Emakku juga hobi memelihara ayam kampung. Katanya bisa buat teman, saat aku sedang gak ada di rumah. Asem lah, aku disamakan dengan ayam. Aku masih bermalas-malasan di kamar. Mata masih sepet banget gegara semalam gak bisa tidur dengan damai. Namun, aku segera bangkit pas ingat kata-kata semangat yang diucapkan oleh Mbak Rifani, "Masa depan yang cerah sudah menanti, asal kita selalu bersemangat untuk menghampirinya." Jika memilikimu tak bisa kulakukan, maka tetaplah menjadi penyemangatku, Mbak. Halah nglantur. Tunggu aku, Mbak … tunggu aku hingga bisa kuliah, lulus, dan jadi orang sukses. Aku ingin membuatmu dan Emak merasa bangga padaku. Yaelah, makin nganu. Waktu menunjukkan pukul enam. Dengan lahap kumakan nasi yang masih panas dengan lauk favoritku—bakwan jagung—buatan Emak tersayang yang rasanya gak ada duanya. Bakwan jagung dengan tambahan rempah-rempah kunci, membuat rasanya menjadi unik dan bikin nagih. Setelahnya, aku langsung berangkat narik orderan ojek. Mangkal di tempat biasa, pertigaan dekat pasar. Lokasi yang disarankan Bambang waktu itu. Dia pun biasanya juga mangkal di sini, tapi entah kenapa jam segini kok belum juga nongol. Padahal biasanya dia selalu datang lebih awal. Entah ini hari keberuntungan atau apa, orderan masuk gak henti-hentinya. Namun, aku yakin, pasti ini gak luput dari doa-doa Emak yang menyertai. Ditambah suasana hati yang sedang bersemangat, tentunya juga memengaruhi hasil pekerjaanku. Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Aku pulang membawa kantong yang lebih tebal ketimbang biasanya. Aku yang baru saja menyelesaikan ibadah magrib, memilih rebahan di kamar untuk merenggangkan oto-otot. Inginnya sih, meluruskan tulang rusuk yang masih bengkok, tapi belum punya. Haish. Rebahan sambil menggulir layar gawai, menyelancari sosial media memang pekerjaan yang menyenangkan dan membuat lupa diri. Beberapa lama aku tenggelam dalam aplikasi berwarna biru, hingga akhirnya menyadari suatu hal. "Oh iya, gue sampai lupa kalo diundang makan malam di rumah, Mas Nata." Kutepuk jidatku sendiri. Aku segera bangkit dari tempat tidur, ke kamar mandi sebentar untuk menuntaskan hasrat ingin pipis, daripada nanti di rumah orang malah rempong nyari kamar mandi. Gak lupa, kubasuh muka dengan facial foam, agar nampak ada seger-segernya gitu. Kusisir rambut di depan kaca, sambil memandangi wajahku yang terpantul di dalamnya. Memastikan wajahku masih terlihat ganteng atau gak. Mau ke rumah ayang yang sejak kemarin gak aku lihat batang hingungnya, harus tampil prima. Halah Halu … Mana ada ayang? Yang ada istri orang. Ngenes banget, bisa-bisanya aku jatuh cinta pada pasangan halal orang lain. Aku berjalan dengan santai menuju rumah Mas Nata, lebih tepatnya berusaha di santai-santaiin. Menekan rasa cinta untuk Mbak Rifani yang semakin hari semakin merekah. Aku harus bisa mengendalikan hati dan sikapku, jangan sampai ada orang lain yang bisa membaca perasaan ini. Sesampainya di teras rumah Mas Nata, segera kuketuk pintunya. Gak membutuhkan waktu yang lama, pintu itu terbuka, menampilkan sosok tinggi tegap. Mas Nata adalah lelaki berbadan sixpack. Kemejanya yang begitu pas dengan bentuk tubuh seolah menginformasikan jika di balik kain itu tersimpan dada yang tercetak seperti roti sobek, dengan otot-otot lengan berisi, kuat, dan atletis. Oh iya, Mbak Rifani juga pernah bercerita jika suaminya sering ke tempat fitnes. "Nah ini Arif sudah datang, kutunggu dari tadi loh. Ayo masuk." Mas Nata menyambutku dengan hangat dan menggiringku menuju tempat makan yang berada di ujung belakang. Aku pun mengekorinya, takut jika kesasar di rumah yang besar ini. Malam ini baru pertama kali kuinjakkan kaki di ubin rumah ini. Ketika rumah ini dihuni oleh pemilik yang sebelumnya, jangankan main ke rumah ini, saling bertegur sapa saja jarang sekali. Maklum, penghuninya adalah orang-orang sibuk semua. Aku tercengang ketika melihat ruang makan itu. Ternyata bukan hanya aku yang diundangnya makan malam. Sudah ada beberapa orang yang lebih dulu ada di sini. Mereka menganggukan wajah, ketika menatapku. "Ayo silakan duduk," ujar Mas Nata. Aku pun mendekati meja berbentuk oval yang panjang dan mencari tempat duduk yang masih kosong, di samping Angga. Beberapa orang belum pernah kulihat sebelumnya. Tiga orang lelaki dan dua perempuan. "Mereka adalah teman kantorku, Rif." Mas Nata memperkenalkan tamunya yang lain, mungkin dia bisa menangkap kecanggunganku. "Oh iya, perkenalkan, aku Arif. Tetangganya Mas Nata. Salam kenal semua," sapaku pada mereka. Mereka pun juga memperkenalkan diri dengan ramah. Aku memandangi seisi meja yang sudah penuh dengan makanan, namun tak kutemui nasi di dalamnya. Hanya ada kacang, oatmeal, telur dan aneka buah-buahan. Lah, kalau seperti ini, mana bisa disebut makan malam? Lauk seenak apapun gak akan afdal jika belum ada nasinya, bagiku yang sejak kecil tinggal di kampung. Namun, lagi-lagi aku harus menerimanya dengan senang hati, lha wong diundang makan, gratis pula. Pujaan hatiku keluar dari dapur. Dia tersenyum ketika tatapan kami saling beradu. Duh manisnya, tapi aku hanya menanggapi dengan senyum ala kadarnya. Tangannya membawa daging beserta salmon mentah dan menaruhnya di atas meja. Aku semakin bingung, emang seperti ini ya, kesukaan orang kaya tu, makanan yang masih mentah? Di belakangnya, Mas Nata membawa alat pemanggang daging, ia menaruhnya di atas meja juga. Bersanding dengan daging yang tadi dibawa Mbak Rifani. Oh, jadi makan malam kali ini, kita disuruh manggang sendiri ala ala korea gitu toh. Oke lah, aku ngikut saja. Aslinya … mending aku ditraktir nasi pecel pinggir jalan aja deh, Mbak. Daripada disuruh makan-makanan mahal, tapi aku gak doyan ini. Ah, semoga perutku bisa diajak kerja sama, biar gak malu-maluin. Mas Nata duduk di samping Mbak Rifani. Mereka terlihat sangat mesra, tangan Mas Nata yang gempal menggenggam jari-jari istrinya. Sialnya, kenapa aku tadi memilih tempat duduk ini? Tempat duduk yang berada tepat di hadapan mereka. Huffh. "Oh iya, selamat ya, Pak Nata." "Selamat." "Selamat, sudah naik jabatan jadi sekretaris." Oalah, pesta perayaan atas kenaikan jabatan, toh. Aku pun turut mengucapkan selamat. "Iya, iya terima kasih, semua," jawab Mas Nata. Wajah Mas Nata tampak berseri, aura ketampanannya semakin menonjol. "Terima kasih banyak, Pak Alex, sudah memercayai saya menjadi sekretaris, Bapak," ucap Mas Nata sambil memandang salah satu lelaki yang ketampanan dan keperkasaan tubuhnya gak kalah dari Mas Nata. Pria tersebut juga sangat menjaga penampilan, dari ujung sepatu hingga ujung rambut. Benda-benda mahal menghiasi sekujur tubuhnya, nyaris sempurna. "Iya, sama-sama. Makanya yang lebih rajin lagi bekerjanya. Jangan mengeluh, kalau harus ikut saya meeting dengan klien di luar kota," ujar orang tersebut, pandangannya menuju Mbak Rifani. Seperti sedang memberi sindiran halus pada istri Mas Nata. Oh, jadi yang ini, bosnya Mas Nata? Apa beliau pemilik parfum yang tertinggal di kantong Mas Nata tempo hari? Bersambung …
bagus
13/11
0mantap
15/06
0bagus
11/04/2025
0View All