logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 2 Pesona Istri Orang

"Padahal gimana?" tanyaku memotong ucapan Angga karena saking penasarannya.
"Kenapa lu jadi bersemangat gini?" Angga mengernyitkan alis.
"Ah, enggak." Buru-buru aku membantahnya. Angga masih menatapku dengan curiga, "Yaelah … biasa aja keles," sambungku lagi agar Angga berhenti berpikir yang macam-macam tentangku.
Kuteguk kopi yang tinggal seperempat cangkir hingga tandas. Tiba-tiba Angga mendekat dan menempelkan punggung tangannya pada keningku.
"Enggak panas."
"Apaan sih, lu?" Kumundurkan kepala menjauhi tangan Angga yang masih melayang di udara.
"Kukira lu lagi sakit, hingga ngabisin kopi hingga ampas-ampasnya."
Kulirik ke bawah. Benar saja, ampas kopi yang ada di cangkirku sampai bersih. Nanggung, sekalian aja kujilati ampas kopi yang masih menempel di sekitar bibir, "Enak kok. Ampas kopi emang enak, tauuu … lu belum pernah mencobanya?" kibulku untuk menutupi rasa malu.
Dodol, Angga malah mengikuti jejakku. Namun, tak lama kemudian ia semburkan ampas kopi yang baru saja masuk mulut ke tanah.
Cuih, hbrrr!
"Sialan lu." Kami akhirnya ngakak bersama.
"Dah malam, pulang sana. Nanti gak dibukain pintu, Mbak Rifani baru tau rasa lu." Kuusir pemuda itu setelah kulihat layar gawai menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit.
Pemuda itu akhirnya pulang melalui pintu kecil berbahan besi yang menghubungkan pelataran rumahku dengan halaman rumahnya.
____
"Rif, bangun! Sudah siang inih." Teriakan Emak yang dibarengi dengan gedoran pada daun pintu.
Hoamm!
"Iya, Mak, bentar lagi."
"Buruan bangun! Kalo kesiangan gak akan dapat penumpang lu nanti."
"Riiifff …," panggil Emak lagi, karena merasa aku belum juga beranjak dari tempat tidur. Ada yang lebih dulu bangun dan bergerak-gerak kok, tapi bukan tangan dan kakiku. Ups.
"Iya iya …," jawabku sedikit keras. Begitulah Emak, gak akan berhenti mengomel jika titahnya belum dilaksanakan.
Sudah terbiasa dengar omelan Emak, jadi aku sama sekali gak merasa risih. Bahkan, jika sehari aja belum dengar Emak ngomel, rasanya kayak ada yang kurang. Aku malah merasa takut jika Emak diam aja, itu pertanda buruk. Jika enggak sakit, berarti ya sedih.
Aku menggeliat, merenggangkan otot-otot pada tubuh kurus ini. Lumayan lah, udah dapat bonus tidur dua jam. Sebenarnya aku tadi sudah bangun pukul 04.00, tapi setelah menunaikan ibadah wajib, gak kuat menahan pedesnya mata, jadinya molor lagi.
Setelah mengumpulkan sisa-sisa nyawa, aku beranjak mendekati jendela. Menggeser gorden ke kanan kiri, kemudian membuka kaca jendelanya, agar udara yang ada di kamarku berganti oksigen yang masih suci, belum bergumul dengan debu.
Aku masih berdiri di dekat jendela. Menghirup udara pagi dalam-dalam, kemudian kuhembuskan perlahan. Ah, segarnya.
Aku tercengang ketika tak sengaja melihat sosok bayangan bidadari. Tangan pun reflek mengucek mata ini, demi memastikan apa yang kulihat itu benar-benar manusia atau bukan. Kakinya menyentuh tanah, berarti itu beneran Mbak Rifani. Bukan bidadari yang menjelma perempuan yang menjadi tetangga baruku, haish. Namun, bagaimana bisa dia secantik itu yaa Allah?
Perempuan itu sedang melakukan olah raga ringan di halaman rumahnya. Namun, ada yang berbeda. Kali ini dia sendirian, padahal biasanya ngapa-ngapain selalu sama suami, kayak amplop ma perangkonya. Apa sang suami sedang keluar kota ya? batinku menduga-duga.
Perempuan yang sedang menggerak-gerakkan kaki dan tangannya itu menggunakan tank top sports dari bahan polyester dipadu dengan legging sebatas betis.
Dengan pakaian seperti itu, setiap lekuk dari tubuhnya yang padat berisi terpampang nyata. Mbak Rifani mempunyai tinggi yang seimbang dengan berat badan, sehingga membuatnya terlihat ideal.
Lengan yang tak tertutup kain, begitu bening mengkilau ketika terpapar semburat matahari pagi. Kelihatan sekali kalau kulit itu selalu mendapat perawatan yang baik.
Wajahnya masih saja terlihat seperti abege. Meski kata Angga, umurnya sudah menginjak angka dua puluh empat. Lima tahun lebih tua dibandingkan denganku. Namun, jika dijejerkan berdua, pasti orang-orang pada mengira kalau kami sepasang kekasih. Ahaii.
Setiap pahatan pada wajahnya seolah tercipta tanpa cela. Hidung bangir didukung dengan bibirnya yang sedikit tebal berisi. Hmm seksinya, cokotable banget. Eh astagfirullah, mikir apa sih aku ini? Ingat, perempuan itu adalah istri orang!
Tiba-tiba telingaku sebelah kiri terasa panas. Ketika kuusap, ada tangan lain yang sedang menjamah di sana. Aku pun menoleh, ternyata Emak sudah berada di belakangku. Jari-jarinya belum selesei menjewer.
"Auh, Mak, sakit, Mak." Kugenggam tangan Emak, lalu kuturunkan perlahan.
"Salah sendiri, dipanggilin dari tadi, kagak nyaut-nyaut," tandas Emak, sewot, "Lagian, lagi liatin apa lu? Sampai bengong kayak gitu." Emak memajukan kepalanya mendekati jendela, celingak celinguk mencari sesuatu yang dirasa aneh.
Mampus aku, kalau Emak sampai melihat Mbak Rifani di sana, pasti bakal mikir yang macem-macem tentangku. Aampuuuuun, Mak. Aku khilaaf.
"Liat apa? Kagak ada apa-apa." Emak memutar tubuh dan melanjutkan kalimatnya, "Buruan mandi!" Memerintah dengan mata mendelik sambil berjalan ke arah pintu kamar. Aku tahu, pelototannya itu hanyalah kelakar belaka.
Kulirik halaman rumah tetangga baru itu. Oh, jadi Mbak Rifani sudah gak ada di sana? Syukurlah.
Udah mandi, udah wangi, udah ganteng, aku bersiul-siul sambil menyiris rambutku di depan kaca lemari. Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja. Harus full senyum, harus semangat.
Iya, setelah lelah mencari pekerjaan ke sana sini, aku akhirnya mengikuti tawaran Bambang—teman sekolahku—beberapa hari yang lalu. Tak apa lah jadi tukang ojek online, yang penting halal ye 'kan?
Bambang membantuku daftar driver gojek sebagai mitra pengemudi motor. Dia juga bekerja di sana, jadi aku tinggal mengikuti jejaknya.
Tuhan itu maha baik, selalu membuka jalan untuk hambanya yang mau berusaha. Buktinya, jalanku untuk mengais rezeki aja dipermudah seperti ini.
"Rif, Emak mau nyuci piring bentar." Lu jaga warung dulu, bisa 'kan?"
"Iya, Mak. Aku juga agak siangan aja nariknya. Sambil menyiapkan mental dulu. Haha."
Aku duduk pada kursi kayu yang ada di dalam warung sambil memainkan gawai.
"Loh, Bulek Siti, mana Rif?" Suara Mbak Rifani mengalihkan perhatianku. Wanita itu sudah berada di teras warung kelontong.
"I-itu, lagi nyuci piring," jawabku sedikit grogi, ingat apa yang sempat terpikirkan di otakku tadi. Kali ini, Mbak Rifani memakai pakaian yang lebih tertutup. Namun, aku masih belum berani mamandangnya lama-lama, takut nganu lagi.
"Oh, hmmm." Ia pun terlihat ragu untuk menyampaikan apa yang ada di benaknya.
Gak mau terjebak dalam kekikukan, aku pun berusaha berbicara dengan nada yang biasa saja, "Emang, mau nyari apa, Mbak?"
"Itu, anuu … eee …."
"Di sini gak jualan anu loh, Mbak. Hehe," candaku.
"Hehe … bisa aja, kamu. Itu mau beli roti tawar."
Aku pun mengambilkan barang yang dimaksud Mbak Rifani dan mengulurkan roti berbentuk lembaran kotak-kotak tersebut padanya.
"Eh, bukan itu maksudku. Itu yang itu loh." Mbak Rifani menudingkan jarinya, mengarah ke kaca etalase bagian bawah.
"Eh, ada Neng Rifani." Emak tersenyum lebar menyambut Mbak Rifani, sementara matanya mendelik ketika menolehku, "Sudah minggir sana. Biar emak aja yang mengambilkannya."
"Ok deh." Aku menggaruk kepala yang enggak gatal dan menyeret langkah ke belakang.
Namun, karena penasaran, aku mengintip lewat ruang tengah yang terhubung dengan warung. Apa yang diambil Emak, membuatku molongo.
Bersambung …

Book Comment (62)

  • avatar
    PaLe

    bagus

    13/11

      0
  • avatar
    FotbalRezi

    mantap

    15/06

      0
  • avatar
    Fazri99De

    bagus

    11/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters