ทั้งหมด : 97Chapter 1
Ruangan serba putih yang sangat familier. Di tengah-tengahnya ada sebuah meja bundar. Tiga orang dew
readmore Chapter 2
Wanita itu mencekik leherku dengan kuat. Semua oksigen berlari keluar dari mulutku. Sebagai gantinya
readmore Chapter 3
Sesampainya di kamarku, aku langsung melangkah ke lemari dan mengeluarkan beberapa pasang pakaian. S
readmore Chapter 4
Setelah Dokter memeriksa keadaan Layla, dia mengatakan jika Layla tidak mengalami cidera apa pun dan
readmore Chapter 5
"Apa benar itu kamu, Senja?" Orang berjubah hitam itu mengulangi pertanyaannya dan mulai menurunkan
readmore Chapter 6
Beberapa hari telah berganti sejak salah seorang anggota Fylax menyerang kami. Hari-hari berlalu jau
readmore Chapter 7
Keesokan harinya, pukul 08:15 pagi. Aku dan Layla berada di kantor Kapten. Entah apa alasannya meman
readmore Chapter 8
Sirene Custodia terdengar dimana-mana, padahal baru beberapa jam berlalu sejak aku dan Layla kabur d
readmore Chapter 9
Dua jam telah berlalu sejak kami berangkat dari pusat perbelanjaan. Perkiraan 1 atau 2 jam lagi untu
readmore Chapter 10
Matahari terbit menyinari permukaan bumi. Pagi-pagi sekali kami membantu nenek membereskan rumahnya.
readmore Chapter 11
Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Layla dan nenek sedang memasak di tungku untuk makan siang
readmore Chapter 12
Beberapa hari telah berlalu sejak kami tinggal di perbatasan utara. Belum 1 orang pun datang dari Cu
readmore Chapter 13
"Seharusnya kalian tidak tinggal di sini," ucap anggota Fylax yang berdiri di depanku. Hawa dingin y
readmore Chapter 14
"Tidak bisakah kalian tinggal di sini lebih lama lagi? Padahal Nenek sudah menganggap kalian seperti
readmore Chapter 15
Setelah sekitar 3 jam berjalan kaki dan beberapa kali beristirahat, sampailah kami di Kota Boreus. K
readmore Chapter 16
Kukeluarkan buku itu dari dalam tasnya. Sampul buku itu berwarna oranye polos. Tidak ada tulisan apa
readmore Chapter 17
Cahaya matahari menyeruak masuk melalui jendela, menyinari seisi ruangan seluas 16 meter. Aku dan La
readmore Chapter 18
Tampak seorang pria yang mengenakan mantel tebal berwarna abu-abu terang sedang membentak seorang pe
readmore Chapter 19
Wanita gemuk yang dipanggil sebagai bu Luna yang tadinya sedang menonton TV langsung memalingkan muk
readmore Chapter 20
Bunyi flush toilet terdengar dan keluarlah Layla dari dalam kamar mandi. Kini ekspresi wajahnya tida
readmore Chapter 21
Mangkuk keramik putih yang sebelumnya berisikan sup kentang-wortel telah kosong. Kami berbincang dan
readmore Chapter 22
Sebuah mobil sedan kuning berhenti di depan bangunan bertingkat 3 yang memiliki banyak jendela pada
readmore Chapter 23
Cahaya yang sangat terang membuatku terpaksa terbangun dari tidur dan membuka kedua mataku. Sinar ma
readmore Chapter 24
Seharian ini, aku hanya mengurung diri di kamar tidur. Aku mengurung diri bukan karena gelisah akan
readmore Chapter 25
Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Layla dan empat hari sebelum festival berburu dimulai. Hari
readmore Chapter 26
Lapisan sihir yang mengelilingi arena seluas 49 meter ini menghilang. Sorak-sorai dan tepukan tangan
readmore Chapter 27
Hari perayaan festival berburu yang diadakan setiap tahun pada tanggal 17 Juli telah tiba. Pada awal
readmore Chapter 28
Selama mengejar naga putih raksasa itu, aku menanamkan bayanganku ke bayangan pohon yang kutemui di
readmore Chapter 29
Sesaat sebelum naga putih raksasa itu menerkamku, aku membuat perisai berbentuk bola untuk melindung
readmore Chapter 30
Area terbuka yang luas ini dipenuhi oleh orang-orang yang berdesak-desakan. Mereka berebutan ingin b
readmore Chapter 31
Orang yang berdiri di belakangku mendorong bahuku untuk berjalan maju. 'Sial, apa dia mempunyai keku
readmore Chapter 32
Sebuah mobil van hitam melaju di jalanan yang tidak dipadati oleh kendaraan lain, lebih tepatnya kos
readmore Chapter 33
Ruangan berbentuk lingkaran dengan dinding dan lantai putih bersih. Perabotan yang ada di dalamnya b
readmore Chapter 34
Kembali ke tempat ini membuatku teringat akan masa kecilku dulu. Saat sidang yang diselenggarakan un
readmore Chapter 35
Satu minggu kemudian, hari yang telah kutunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu hari dimana Prof. Hora ak
readmore Chapter 36
Aku duduk santai di bawah pohon yang rimbun, di perkarangan laboratorium. Aku memutuskan untuk kelua
readmore Chapter 37
Aku membaca hasil tes atribut 'Arte'-ku yang ditampilkan pada layar holografi itu. Tertulis data-dat
readmore Chapter 38
"Itu karena perjanjiannya dengan Tabella, yakni Layla harus menjadi dewan eksekutif yang akan berbag
readmore Chapter 39
Keesokan harinya, aku datang ke Istana Putih untuk menemui Layla. Aku telah membulatkan tekadku untu
readmore Chapter 40
Aku mengungkapkan perasaan yang telah kupendam selama bertahun-tahun kepadanya, yakni bahwa aku menc
readmore Chapter 41
Tiga minggu telah berlalu sejak Layla menolakku. Aku tidak lagi pergi ke Istana Putih untuk mencari-
readmore Chapter 42
"Bawa mereka ke penjara," perintahku kepada para personel yang melindungi tempat ini. Mereka mengang
readmore Chapter 43
Sampailah aku di Istana Putih. Sebenarnya masih beberapa ratus meter dari gerbang masuk, tetapi area
readmore Chapter 44
"Kami tidak mungkin menyerah begitu saja setelah semua pengorbanan yang sudah kami lakukan!" Puluhan
readmore Chapter 45
"Kakek?" Aku menyentuh bahunya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia tidak membalasku yang memanggi
readmore Chapter 46
Layla menghentikan langkah kakinya dan menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Apa ...?" Wajahnya m
readmore Chapter 47
"Layla, aku akan mengirimmu ke tempat yang aman. Tolong jangan kembali ke sini apa pun yang terjadi,
readmore Chapter 48
Aku tercengang menyaksikan serangan-seranganku dihentikan olehnya. 'Bagaimana bisa dia menghentikan
readmore Chapter 49
Telingaku menangkap suara orang yang memanggil namaku berulang kali. Suaranya terdengar tidak begitu
readmore Chapter 50
Aku menganggukkan kepalaku menerima tawarannya. Entah kenapa aku merasa informasi tentang eksperimen
readmore Chapter 51
Setelah mengantar Layla ke kamarnya, aku meninggalkannya di sana bersama beberapa pengawal perempuan
readmore Chapter 52
Bulu mata wanita yang berbaring di sampingku bergetar. Dia tampak berusaha membuka matanya dan terba
readmore Chapter 53
Aku tercengang saat baru saja mengetahui bahwa Layla tidak lagi dapat menggunakan 'Arte'-nya untuk m
readmore Chapter 54
"Huh? Maksudnya pikiranku juga harus dikendalikan?!" tanyaku yang terkejut mendengarnya mengatakan t
readmore Chapter 55
Layla hanya berdiri diam di depanku, dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kuhela napas frustrasi dan m
readmore Chapter 56
Ruangan ini adalah kamar asrama pasukan elit yang berada tak begitu jauh dari gedung istana sehingga
readmore Chapter 57
Saat ini aku berada di luar gedung istana. Lebih tepatnya di dekat teras belakang. Aku bersembunyi d
readmore Chapter 58
Beberapa menit telah berlalu sejak aku berhasil keluar dari area Istana Putih walau aku terpaksa har
readmore Chapter 59
Terdengar bunyi langkah kaki dari belakangku. Mataku terbuka lebar karena kaget, tidak menyangka ada
readmore Chapter 60
Aku menganggukkan kepalaku mengerti. 'Sabtu malam, ya ... berarti masih ada 4 hari lagi sebelum aku
readmore Chapter 61
Pemuda itu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya dan bangkit berdiri. Tidak kuberikan dia waktu u
readmore Chapter 62
"Selanjutnya, aku ada di pihak ...," lanjutnya dengan menggantungkan perkataannya. Aku menaikkan sal
readmore Chapter 63
"Apa yang akan kulakukan? Jawabannya sudah jelas, aku akan menghentikanmu," balasku dengan nada seri
readmore Chapter 64
Orang yang baru saja menasuki ruangan ini memiliki rambut merah jambu yang disisir belah tengah. Dia
readmore Chapter 65
"Fungsi awal eksperimen penciptaan 'Arte' pengendali pikiran adalah untuk menggunakan 'Arte' itu unt
readmore Chapter 66
Prof. Hora melangkah melewatiku, berjalan menuju pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu, tetapi d
readmore Chapter 67
Ada 5 orang berbadan besar berdiri mengelilingi sedan kuning ini. Masing-masing dari mereka memiliki
readmore Chapter 68
Terjadi keheningan sesaat setelah 2 orang dari kelompok pembegalan itu tumbang, atau mungkin 3 orang
readmore Chapter 69
"Sial. Aku malah membuat lebih banyak lagi orang kehilangan nyawanya, padahal aku sudah bertekad unt
readmore Chapter 70
Akhirnya aku tiba di Kota Boreus. Sebelum mencari tempat tinggal, aku meminta supir taksi untuk meng
readmore Chapter 71
Beberapa hari telah berlalu sejak aku tiba di Kota Boreus dan tinggal di indekos Luna. Hari-hari yan
readmore Chapter 72
Beberapa menit telah berlalu, aku telah mengambil semua bahan makanan yang ada di dalam daftar belan
readmore Chapter 73
Pria itu melangkah mundur untuk menjaga jarak denganku. Disimpan kembali telepon seluler miliknya ke
readmore Chapter 74
Pria itu mengeluarkan sebuah benda berukuran kecil dari balik pakaian luarnya yang tebal. Benda itu
readmore Chapter 75
Dua minggu telah berlalu sejak aku sepakat untuk bekerja sama dengan Aquilo. Aku sedang duduk santai
readmore Chapter 76
"Kamu benar juga ...," gumamku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah televisi yang masih menyala. Ala
readmore Chapter 77
Acara penyambutan kedatangan Layla dan rombongannya berjalan dengan lancar tanpa sedikit pun masalah
readmore Chapter 78
Aku menutup mataku dengan telapak tanganku dan menghembuskan napas berat. "Aku tidak menyalahkanmu j
readmore Chapter 79
Tanganku menggenggam pergelangan tangannya dan berusaha melepaskan tangannya dari leherku, tetapi ga
readmore Chapter 80
Layla meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menjawab pertanyaanku. "Aku mau membahas detail pe
readmore Chapter 81
Tibalah hari dilaksanakannya sidang Quattor. Aku sedang melangkah mengikuti wanita berambut perak ya
readmore Chapter 82
"Bunuh mereka." Itulah yang dikomat-kamitkan oleh mulut Layla. Dia memberiku perintah untuk menghila
readmore Chapter 83
Kuayunkan kakiku untuk menghampiri Layla. Sepanjang jalan menuju tempatnya berdiri, jejak merah meng
readmore Chapter 84
Setelah terbang dan menghindari kejaran pasukan elit negara dan Custodia, akhirnya aku berhasil menj
readmore Chapter 85
Bunyi serangan mereka masih berlanjut. Orang-orang yang menyerang perisaiku masih belum menyerah wal
readmore Chapter 86
Dia memunculkan sebilah pedang yang terbuat dari api lalu mengarahkannya ke mukaku. Kurasakan hawa p
readmore Chapter 87
Saat itu aku sedang menyendiri. Bukan karena aku tidak ingin bergaul dengan yang lainnya, tetapi kar
readmore Chapter 88
Sejak itulah aku menyesal karena mudah meremehkan orang lain. Karena aku hampir tidak pernah terkala
readmore Chapter 89
Hari H, yaitu hari dimana ribuan anggota Fylax mengepung Ibu Kota yang sunyi. Berkat saran dariku, p
readmore Chapter 90
Layla terlihat heran karena tiba-tiba aku duduk santai di lantai dan mengajaknya untuk mengobrol. "M
readmore Chapter 91
"Bagaimana bisa ...?" gumamku dengan suara kecil. "Ini aneh, kenapa mereka malah ikut mengepung kami
readmore Chapter 92
Aku menghembuskan napas lelah. Layla sudah tidak tertolong. Dia tidak ada keinginan untuk berhenti,
readmore Chapter 93
Layla menatapku dengan tidak percaya. "Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tetap membiarkanku mengend
readmore Chapter 94
Kuhindari serangannya dengan melompat mundur untuk berjaga jarak darinya, mengantisipasi ledakan yan
readmore Chapter 95
Aku menaikkan salah satu alisku karena heran melihat Layla tiba-tiba tertawa seperti itu. "Apa yang
readmore Chapter 96
Layla tersenyum mendengar pertanyaanku. Dia pun menjawab rasa heran dan penasaranku. "Sepertinya kam
readmore Chapter 97
"Kamu tidak percaya padaku? Aku janji aku benar-benar akan mengeluarkanmu dari sini kalau waktunya t
readmore
gak ngerti judul tapi seru di baca
10/05/2025
0nanti ya
23/04/2025
0bagus kak
29/03/2025
0cerita novelnya bagus alurnya sangat sesuai dengan judul
15/03/2025
0sangat bagus dan menarik
15/02/2025
0keren ceritanya
24/01/2025
0bagus bagey
19/01/2025
0terima kasih atas partisipasinya
18/01/2025
0pi po
12/01/2025
0cukup menarik
11/01/2025
0