Kukembalikan suamiku pada saudaranya Part-6 Herman yang sedang duduk bersandar di tempat tidur, hanya diam tak menggubris omelan istrinya, tangannya asyik memainkan ponsel. Berkali-kali Mela mengelus dadanya sambil menggumamkan istighfar. Setelah merasa agak tenang, dia pun keluar menuju ke kamar Reno. Di sana tampak kedua buah hatinya itu sedang menikmati es krim. Dengan sisa-sisa bara di dalam hati, perempuan berambut ikal itu menuju ruang tengah. Dijatuhkannya tubuh di atas sofa lalu menghidupkan televisi. Lama matanya memandang televisi, namun apa yang muncul dari layar kaca itu sama sekali tidak masuk ke kepalanya. Pikirannya malah berkelana kemana-mana. Mela berpikir keras, bagaimana caranya menyadarkan Herman agar tidak lagi berbuat kasar pada anaknya. Suaminya itu seperti mempunyai kepribadian ganda, kadangkala dia bersikap baik pada Reno dan Seruni. Walaupun tidak bisa dibilang penuh kasih sayang, namun adakalanya lelaki itu begitu royal pada anak-anaknya. Seperti mengajak mereka ke mini market lalu membelikan berbagai cemilan. Akan tetapi di lain hari, ketika datang masalah sedikit saja, maka perangainya akan berubah drastis. Bukan hanya mulut, tanganpun berbicara. Dan selama ini Reno yang paling sering menjadi sasarannya. Dada Mela begitu sesak jika mengingat sudah tak terhitung berapa kali suaminya itu menjatuhkan tangan pada putra sulung mereka itu. "Bu ...." Mela terkesiap, tiba-tiba Reno sudah berada di sampingnya. "Ya?" sahut Mela. "Kenapa aku dibelikan tas? Aku kan, nggak minta. Lebih baik tadi nggak usah beli tas, daripada ibu dan ayah bertengkar," tutur bocah tampan itu getir, matanya memandang ibunya lekat-lekat. Mela menatap putranya dengan penuh rasa nelangsa, sekuat tenaga ditahannya air mata agar tak jatuh. Perempuan berparas manis itu tersenyum membingkai wajah putranya, lalu menggenggam lembut kedua tangan Reno. "Tidak apa-apa, Kak. Tas kamu kan udah jelek, udah tipis bagian bawahnya. Lagian itu Ibu yang belikan, bukan ayah," hibur Mela dengan suara bergetar. "Pakai uang hasil nastar kemarin?" tanya Reno polos. "Hu—um," jawab Mela mengangguk. "Makasih, ya, Bu," ucap Reno tulus yang dijawab Mela dengan anggukan kecil. "Kak, maafin Ayah, ya. Mungkin akhir-akhir ini Ayah lagi banyak masalah kerjaan, jadi sering marah-marah," pinta Mela lirih. Entahlah perempuan itu tak tahu lagi harus bagaimana menghibur putranya, ia tahu apa yang dikatakannya salah. Bukankah jika ada masalah dalam pekerjaan seharusnya dicari penyelesaian? Bukan malah dilampiaskan kepada keluarga di rumah. Reno hanya mengangguk tanpa menjawab, sekilas dia mengecup pipi ibunya lalu beranjak kembali ke kamarnya. Sepeninggal Reno, Mela menyusut air matanya dengan ujung lengan baju. Sejatinya Mela adalah wanita yang kuat, sehebat apapun pertengkaran dengan suaminya dia tidak pernah menangis. Namun, jika berhubungan dengan anak-anaknya perempuan itu tidak dapat menahan air matanya. Pagi menjelang, hari ini hari Minggu. Cuaca yang sedikit mendung membuat hawa lebih dingin dari biasanya. Herman sedang mengelap motornya di teras sambil bersiul-siul, sementara Mela dengan aktivitas rutinnya memasak di dapur. Di kamarnya Seruni masih terlelap, sedangkan Reno sudah sejak tadi dijemput teman-temannya bermain bola. Selesai mengelap, Herman menghidupkan motornya untuk dipanasi. Bunyi siulannya diperkeras ketika dilihatnya Mirna lewat di depan rumah. Dengan sigap dibukanya pintu pagar lalu berpura-pura hendak membuang sampah. "Mau kemana Mbak Mirna? Kok, jalan kaki aja," sapa Herman ramah, tak lupa senyum lebar ia sunggingkan spesial untuk tetangganya itu. "Mau belanja ke tokonya Bu Hana, Pak Herman," jawab Mirna sopan. "Oh ... hari Minggu begini kerjanya libur ya, Mbak?" tanya Herman berusaha menahan Mirna untuk bercakap-cakap. "Iya, Pak. Hari Minggu dan tanggal merah saya libur. Mari, Pak!" jawab Mirna sedikit membungkukkan badan lalu bergegas berlalu dari hadapan Herman. Lelaki berkumis tipis itu terus memperhatikan Mirna hingga berbelok ke toko Bu Hana di ujung jalan kampung. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi gerak-geriknya dari balik kaca rumah. Setelah menutup pintu pagar dan mematikan mesin motor, Hermanpun masuk ke dalam rumah. Baru sampai di pintu dia terhenyak melihat Mela yang memandangnya tajam dengan tangan bersedekap di dada. Dilewatinya istrinya itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jangan ganjen jadi orang, Mas! Jangan bikin aku malu!" desis Mela geram. "Apa, sih. Aku, kan, cuma menyapa tetangga. Masa nggak boleh? Ntar kalau ada tetangga lewat, terus nggak disapa, katanya sombong," cibir Herman. "Tetangga yang kamu maksud itu khusus ibu-ibu muda?! Kamu pikir aku bodoh, nggak tahu maksud kamu baik-baikin Faiz. Silakan saja main api, aku pastikan kamu akan terbakar nanti!" Herman diam tidak membantah perkataan istrinya. Dia tahu betul bagaimana Mela jika sedang cemburu. Sebelum amarah Mela semakin menjadi, bergegas dia meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi. Ekspresi wajah Mela yang tidak enak dipandang, membuatnya ingin segera berangkat bekerja. Setelah sarapan dan memasukkan bekal makan siangnya ke dalam tas kerja, lelaki itu menghampiri istrinya yang sedang mencuci pakaian di kamar mandi. "Aku berangkat," ujarnya sambil mengangsurkan tangan ke arah Mela. Perempuan itu meraih tangan suaminya lalu menciumnya tanpa sepatah katapun. Kemudian kembali menyibukkan diri dengan cucian. * * * * * Hari ini bulan Agustus minggu kedua, jadwal pengajian rutin di masjid kompleks perkampungan rumah Mela. Pengajian dimulai pada ba'da asar dan biasanya selesai jam 5 sore. Jika tidak ada urusan yang teramat penting, Mela selalu berusaha untuk hadir. Meskipun harus dengan membawa serta putrinya. "Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan pada ceramah sore hari ini. Mohon maaf bila ada salah kata atau ucapan yang kurang berkenan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh." Ustadzah Fatimah mengakhiri tausiyahnya. Setelah berbincang-bincang sejenak, para jama'ah yang terdiri dari ibu-ibu pun berdiri, lalu satu demi satu menyalami ustadzah Fatimah. "Bu Mela, bisa minta tolong ditunggu sebentar? Saya mau pesan nastar," ujar sang ustadzah ketika tiba giliran Mela menyalami tangannya. "Baik, Bu ustadzah," jawab Mela tersenyum. Setelah mereka tinggal berdua, ustadzah Fatimah meminta Mela untuk duduk lebih dekat dengannya. Sementara Seruni sedang berlarian di teras masjid. "Maaf, Bu. Selain mau pesan nastar, ada yang ingin saya tanyakan juga pada Bu Mela," tutur sang ustadzah lembut, matanya menatap lurus tepat ke manik mata perempuan di hadapannya. Sementara Mela hanya diam menyimak, dia menunggu wanita berwajah teduh itu melanjutkan perkataannya. "Apa Bu Mela ada masalah? Saya perhatikan sejak awal pengajian tadi Bu Mela melamun dan sepertinya tidak fokus pada apa yang saya sampaikan." Mela terkesiap mendengarnya, perempuan bergamis biru tua dan berjilbab putih tulang itu merasa malu dan sungkan karena ketahuan melamun dan tidak mendengarkan ceramah. ❤️❤️❤️❤️
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (308)
Rahmat ginanjar
bagus alur ceritanya
28/02
0
WahyuniYuni
nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ...
semoga ada kelanjutan ny..
bagus alur ceritanya
28/02
0nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..
17/02
0bagus lanjut lagi cerita nya
07/02
0View All