Kukembalikan suamiku pada saudaranya Part 5 Berkali-kali Mela mengucap istighfar dalam hati. Sejujurnya, hatinya sakit mendengar kata-kata tajam dari mulut adik iparnya itu. Dia tidak menyangka, Muti yang selama ini dianggap sebagai adik kandungnya sendiri, berani mengatur bahkan mencampuri urusan rumah tangganya. Selama ini Muti dan Ning memang sering ceplas-ceplos dalam berbicara, akan tetapi Mela tidak pernah menggubrisnya. Pernah pada suatu ketika, dua perempuan yang berusia hampir sebaya itu sedang berada di rumah Mela. Saat Mela menyuguhkan nastar buatannya, Ning berkomentar, "Ini Mbak yang buat?" "Iya," jawab Mela, tersenyum melihat Tasya yang begitu lahap menikmati bulatan demi bulatan nastar sambil menonton acara kartun di televisi. "Ya, iyalah Mbak bisa bikin ginian, Mbak kan pengangguran, nggak kerja kayak aku. Kalau aku, ya, nggak mampu, Mbak. Pulang kerja aja udah capek," tandas Ning sambil mencomot nastar. Mela hanya tersenyum kecut. Kata pengangguran yang diucapkan Ning sedikit menyisakan nyeri di hatinya. Sementara Herman yang duduk di sampingnya hanya diam tak bereaksi apa-apa. Malam harinya, pada saat Muti dan Ning sudah pulang, Mela mencoba memancing reaksi suaminya itu. "Yah, kata Ning aku pengangguran. Belum tau aja dia kalau pesanan nastarku lagi ramai," ujar Mela sambil tertawa. "Ya, biarin aja. Emang kamu pengangguran kok ... kamu, kan, bukan wanita karier. Lagian nastar itu ramainya, kan, musiman aja. Nggak setiap hari ada yang pesen." Jawaban Herman membuat Mela terdiam seketika. Ning memang bekerja di sebuah toko grosir barang pecah-belah. Tempat kerjanya berdekatan dengan toko tempat Herman bekerja. Sore hari, ketika suaminya pulang kerja Mela sama sekali tidak menyinggung tentang telepon dari Muti. Dia tidak ingin Herman marah lalu batal mengajak Seruni ke pasar malam. Sebenarnya jika menuruti ego, ingin rasanya Mela mencaci maki suaminya itu. Terkadang dia merasa lelah, baktinya selama ini terasa tidak dihargai. Suami yang seharusnya memuliakan malah menjatuhkannya. Akan tetapi, demi Seruni yang seharian ini begitu ceria, Mela berusaha menahan diri. Dia tak ingin menghancurkan kebahagiaan putrinya itu. Dengan berboncengan naik motor bertiga, Herman membawa anak dan istrinya berangkat ke pasar malam. Sementara Reno, menolak ketika ibunya menawari untuk ikut. "Ingin menonton televisi saja di rumah," begitu katanya. Sepanjang perjalanan Seruni bersenandung gembira. Sesekali menyapa teman-temannya yang ia temui di jalan, lalu dengan bangga mengatakan akan pergi ke pasar malam. "Ah, putriku," batin Mela sendu. Selama ini Seruni memang jarang sekali diajak jalan-jalan oleh kedua orangtuanya. Ayahnya selalu tiba di rumah ketika hari sudah gelap. Di hari Minggu atau hari libur lainnya, lelaki itu juga tidak pernah libur kerja. Toko tempat Herman bekerja hanya libur di hari kemerdekaan, hari raya Idul Fitri dan tahun baru. Jadilah momen jalan-jalan seperti ini adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh Seruni. Kadangkala saat malam Minggu tiba, terbersit keinginan di hati Mela untuk sekedar jalan-jalan di taman di pusat kota, seperti para tetangganya. Akan tetapi, tiap kali keinginan itu diutarakan kepada Herman, suaminya itu selalu menolak dengan alasan capek. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di pasar malam. Suasana yang sangat ramai membuat Seruni makin antusias. Setelah motor diparkir, gegas bocah kecil itu menarik tangan ayah ibunya masuk ke dalam pasar. Mela hanya menggeleng melihat tingkah putrinya. Diikutinya Seruni kemanapun gadis kecil itu melangkah. Setelah hampir satu jam berjalan-jalan dan Seruni terlihat puas menikmati berbagai permainan, Mela teringat akan membelikan tas sekolah untuk Reno. "Yah, aku mau beliin Reno tas, kasian tasnya udah buluk. Kayaknya di sana tadi ada yg jual tas sekolah," ucap perempuan berkulit kuning langsat itu. "Buluk apanya?! Orang tasnya masih bagus, kok. Lagian anaknya aja nggak minta. Kamu jangan ngajari anak jadi boros dong!" Herman menjawab kesal. "Kalau nunggu anaknya minta, ya, nggak bakal minta, Yah. Seperti nggak tau Reno aja." "Ya, udahlah nunggu masuk SMP aja sekalian. Entar diganti baru semua," sergah Herman. "Ya Allah, Yah ... SMP masih dua tahun lagi. Itu tasnya udah jelek banget. Lagian ini aku yang bayar, aku ada uang hasil pesenan nastar kemarin," jawab Mela sebal. "Ya, udah terserah kamu! Aku tunggu di sini aja, aku capek dari tadi muter-muter!" sungut Herman. Segera Mela mengajak Seruni menuju stan yang berjualan tas sekolah. Setelah cukup lama memilih dan tawar-menawar harga, pilihannya jatuh pada sebuah tas punggung berwarna hitam yang desainnya cukup simpel. Setelah membayar, bergegas Mela kembali menuju tempat di mana suaminya menunggu. Namun, dari kejauhan dia melihat Herman sedang berbicara akrab dengan seorang wanita. Dengan keheranan, didekatinya keduanya. Dari jarak cukup dekat baru Mela dapat melihat dengan jelas, wanita itu ternyata Mirna, tetangganya. "Eh, Mbak Mirna, kesini juga? Sama Faiz, Mbak?" sapa Mela ramah. "Iya, Mbak Mela, dari kemarin Faiz ngajak kesini baru sempat sekarang," jawab Mirna tersenyum. "Faiznya mana, mbak?" Celingak-celinguk Mela mencari keberadaan Faiz. "Tuh, lagi beli sosis bakar, Mbak." Perempuan dengan rambut dicat kecoklatan itu menunjuk stan sosis bakar tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Udah, beli tasnya?" potong Herman. "Udah, Yah," jawab Mela. "Kalau gitu ayo pulang!" ajak Herman. "Mbak, kami duluan, ya!" pamit Mela pada tetangganya itu. "Iya, Mbak Mela silakan." Baru saja hendak pergi, ada Faiz yang baru kembali sambil menenteng sosis bakar yang cukup besar. "Om, terimakasih sosisnya, ya!" Faiz tersenyum riang menatap Herman. Suami Mela itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Sedikit kaget Mela melirik suaminya itu. "Kebiasaan ... sama anak orang lain sok dermawan, sama anak sendiri pelit," batin Mela geram. Lama Seruni memandangi sosis di tangan Faiz, Mela yang memergokinya mencolek pipi putrinya itu. "Adek mau sosis juga?" tawar Mela. Seruni diam sejenak lalu menggeleng, di tangannya sudah ada boneka panda hasil dia memancing tadi. "Atau kita beli es krim aja, ya, di toko Bu Hana? Kita beli dua, untuk Kakak dan Adek masing-masing satu," tawar Mela lagi, tak dipedulikannya Herman yang mulai tak sabar menunggu. "Mau ... mau ...." Mendengar kata es krim mata Seruni berbinar. Gegas Mela meraih tangan putrinya lalu menggandengnya menuju parkiran motor. Sesampainya di rumah, Herman melempar tas yang baru dibeli ke pangkuan Reno. Anak yang sedang bermain game itu sampai berjingkat kaget, lalu segera mematikan gawainya. Tanpa berkata apa pun, suami Mela itu masuk ke kamar. Mela yang menyaksikan perlakuan Herman, merasa sangat geram. Disusulnya lelaki itu ke dalam kamar. "Mas, bisa nggak, nggak usah kasar ke anak?! Mas ini sama orang lain baik banget, ramah, penolong. Tapi sama anak dan istri malah kebalikannya. Kami ini keluargamu, Mas! Kalau Mas nggak bisa berlaku baik sama Reno mending gak usah deketin dia! Biarlah setelah kenaikan kelas aku masukkan ke pesantren aja, daripada di rumah jadi sasaran kelakuan bapaknya yg kasar!" omel Mela dengan penuh emosi. Sejak semalam dadanya terasa sesak penuh amarah, dan ia merasa tak sanggup menahannya lagi. Terima kasih sudah berkenan membaca ya, Dear 🥰
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 24 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (308)
Rahmat ginanjar
bagus alur ceritanya
28/02
0
WahyuniYuni
nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ...
semoga ada kelanjutan ny..
bagus alur ceritanya
28/02
0nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..
17/02
0bagus lanjut lagi cerita nya
07/02
0View All