logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Part 3 Dia yang bohong dia juga yang marah

Part 3
Kukembalikan suamiku pada saudaranya
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam ketika Herman memasuki kamar. Dilihatnya Mela sudah pulas membelakangi. Setelah bersih-bersih, ia pun naik ke tempat tidur. Setelah beberapa saat merasa tidak bisa tidur, ia ingin membangunkan istrinya itu.
Dipeluknya Mela dari belakang.
"Ayah darimana ?" tanya Mela tanpa mengubah posisi tidurnya.
"Kan, dari nyervis." Herman mengeratkan pelukannya, dibenamkannya wajah ke tengkuk Mela.
"Nyervis di rumah Ning?" sindir Mela.
Serta-merta Herman mengurai pelukannya, diubahnya posisi menjadi terlentang. Sebelah lengannya diletakkan di atas dahi. Merasa tak ada jawaban dari suaminya Mela membalikkan tubuh. Lekat dipandanginya wajah Herman. Entah benar servis atau tidak Mela sudah tidak peduli lagi.
"Mas, apa terlalu lama bagimu kalau kita sebulan sekali saja kumpul-kumpul dengan adik-adik?" Jika sudah tidak menyebut 'Ayah' tandanya Mela sedang ingin berbicara serius.
Herman menoleh ke arah istrinya, tampak ketidaksukaan di wajahnya mendengar ucapan Mela.
"Kamu ini aneh, ketemu saudara kenapa harus dibatasi, sih? Pingin ketemu, ya, ketemu aja. Ribet banget kamu!" Nada suara Herman naik, kini gantian dia yang membelakangi tubuh Mela.
"Bukankah dulu malah dua bulan sekali kita ketemu mereka, Mas? Bahkan pernah sampai tiga bulan," lirih Mela tak ingin suaranya membangunkan Seruni yang tidur di kamar sebelah.
"Aku tidak nyaman dengan pembicaraan mereka tiap kali kita berkumpul, Mas. Mas tau sendiri mereka selalu bergosip dan saling bersaing satu sama lain. Bukan aku nggak mau kumpul-kumpul, cuma aku minta jangan terlalu sering. Kita juga butuh privasi, kita punya anak-anak yang butuh waktu dan perhatian kita. Mas kalau diajak Seruni ke pasar malam selalu bilang capek, tapi kalau Muti atau Ning ngajakin kumpul-kumpul selalu Mas iyain. Bukankah baru satu minggu yang lalu mereka ngumpul di sini, masa sudah kangen lagi?" cerocos Mela, sekuat hati ditahannya volume suara agar tidak terdengar dua buah hatinya.
"Ya, biarin aja, mereka mau bergosip kek, mau apa kek. Yang dosa, kan, mereka ... bukan kamu. Yang penting kamu nggak ikut-ikutan. Aku ini sudah nggak punya orang tua, yang aku punya cuma adik-adikku. Masa ketemu saudara sendiri nggak boleh, Mel? Udah deh, aku ngantuk. Malam-malam jangan ngajak ribut!" sergah Herman kesal.
Mela menghela napas panjang, menatap punggung suaminya. "Seandainya kamu bisa sedikit saja memahami aku, Mas," batin Mela sedih.
Perempuan bermata bening itu memutar tubuh menghadap dinding. Khawatir vertigonya kambuh lagi karena kurang tidur, ia pun memejamkan mata.
Suara tarkhim yang menggema ke seluruh pelosok kampung membangunkan Mela. Perlahan ia bangun dari tempat tidur lalu keluar menuju dapur.
Seperti biasa sambil menunggu waktu subuh tiba, ia mempersiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya. Memotong sayur dan mengupas bumbu-bumbu. Setelah semua siap, ia beranjak menuju kamar mandi untuk bersih-bersih lalu menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
"Mas ... Mas, bangun, salat subuh! Keburu habis waktunya." Mela mengguncang-guncang tubuh suaminya pelan. Yang dibangunkan tetap pulas, tak bergerak. "Hmm ... ya, sebentar lagi," gumam Herman tak jelas.
Saat akan beranjak ke kamar Reno, mata Mela menangkap ponsel Herman di atas bufet dipan. Diraihnya ponsel itu lalu menuju aplikasi berwarna hijau. Soal ponsel, sedari dulu sepasang suami istri itu memang terbuka satu sama lain. Mela bebas membuka ponsel Herman. Sebaliknya, Herman juga bebas membuka-buka ponsel Mela.
Dilihatnya pesan dari Muti menempati urutan kedua setelah pesan darinya. Karena penasaran, Mela membuka pesan itu.
Tampak sebuah foto Muti dan Delia sedang tersenyum manis di rumah Ning, di bawahnya ada tulisan,
[Mas ... kesini, ya, kami lagi ngumpul di rumah Mbak Ning. Tadi aku udah WA Mbak Mela, kuajak kesini katanya nggak mau. Mas aja yang kesini, kita kumpul-kumpul .... Kutunggu lho, Mas. Jangan lama-lama]
Balasan dari Herman [Ok]
"Astaghfirullah, Muti. Siapa yang bilang nggak mau," batin Mela geram. Dilihatnya waktu terkirimnya pesan itu, pukul 18.30.
"Berarti sebelum Mas Herman pulang kerja."
Diletakkannya benda pipih itu kembali lalu segera pergi ke kamar Reno. Namun, sesampainya disana pintu kamar Reno sudah terbuka, dilihatnya anak yang duduk di bangku kelas lima SD itu sedang menunaikan salat subuh.
"Alhamdulillah." Tersenyum Mela bahagia.
Hari sudah beranjak siang ketika Mela pulang menenteng belanjaan dari tukang sayur. Menu hari ini sudah siap di meja makan, sedangkan belanjaan di tangannya untuk dimasak besok.
Ketika sampai di depan pintu, telinganya menangkap suara ribut-ribut dari dalam.
"Kamu, kan yang tadi malam minta Ibu buat video call Ayah?! Anak sialan kamu, lancang! Gara-gara kamu, Ayah sama Ibu berantem. Anak nggak punya otak! Atau kamu memang suka, ya, lihat Ayah Ibumu berantem. Iya?!"
Mela yang mendengar suara menggelegar suaminya bergegas masuk ke rumah. Tampak Reno berdiri di pojok dapur sambil menunduk ketakutan. Di depannya Herman berdiri berkacak pinggang dengan muka merah padam. Sementara Seruni yang sedang menghabiskan sarapan paginya di depan televisi, melirik takut-takut.
"Apa sih, Yah?" tegur Mela lembut menghampiri suaminya.
"Ajarin, tuh, anak kamu! Biar nggak kurang ajar, nggak lancang sama orang tua!"
Mela menoleh ke arah Reno, bocah yang sudah siap berangkat ke sekolah itu masih menunduk diam tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Kak, berangkat gih ... nanti telat. Ini uang jajannya." Dibukanya dompet lalu mengangsurkan uang saku kepada Reno.
Perlahan Reno mendekat, diambilnya uang dari tangan ibunya, lalu mengulurkan tangan hendak salim.
"Reno berangkat, Bu," ujarnya pelan.
Bergantian diulurkannya tangan kepada Ayahnya, tetapi malah bentakan yang didapat.
"Udah, nggak usah salim-salim, pergi sana!"
Sesak dada Mela melihat putranya diperlakukan kasar oleh ayahnya sendiri. Sekuat hati ditahannya emosi, agar suasana tidak semakin panas. Dia sadar ada Seruni yang sedang memperhatikan mereka.
Setelah Reno berangkat ke sekolah, dilanjutkannya aktivitas yang sempat terhenti. Sekilas ia melirik Herman yang sedang sarapan pagi. Hati yang masih sakit karena kebohongan semalam ditambah perlakuan kasar suaminya pada Reno membuatnya enggan mendekat. Beruntung bekal makan siang Herman telah ia siapkan sejak tadi. Setelah urusan dapur beres, Mela beralih menghampiri Seruni.
"Belum selesai makannya, Dek?" tanya Mela, dilihatnya nasi di piring Seruni masih tersisa separoh.
"Udah kenyang," jawab bocah kecil itu sambil menggeleng.
"Bu ... Ibu, sini deh. Adek bisikin." Tangannya melambai pada ibunya agar mendekat.
Mela segera mendekatkan telinganya. "Masa tadi Ayah marah-marahi Kakak pas Ibu nggak ada. Terus tadi Kak Faiz juga kesini bawa sepedanya, tapi pas denger Ayah marah-marah Kak Faiz langsung pergi lagi," bisik Seruni sambil matanya melirik ke arah meja makan di mana Ayahnya sedang duduk.
"Iya, biarin aja. Mungkin Ayah lagi pusing. Ayo dilanjutkan makannya, Ibu suapin, ya?"
"Enggak mau, udah kenyang," jawab Seruni tegas.
Baru saja hendak membujuk putrinya itu untuk makan, tiba-tiba Herman mendekat.
"Runi ... Ayah berangkat kerja dulu, ya! Runi baik-baik di rumah. Kalau siang tidur, jangan keluyuran. Nanti malam Ayah ajak ke pasar malam." Tersenyum Herman sambil mengacak-acak rambut putrinya.
"Beneran, Yah?!" Berbinar mata Seruni menatap Ayahnya. Masih sambil tersenyum sang Ayah mengangguk.
"Horeeee ...." Seruni berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Mela memandang suaminya datar.
"Semoga kali ini kamu tidak pulang malam dan mengecewakan putrimu lagi, Mas," batin Mela.
*Bersambung lagi, ya, Dear ❤️

Book Comment (308)

  • avatar
    Rahmat ginanjar

    bagus alur ceritanya

    28/02

      0
  • avatar
    WahyuniYuni

    nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..

    17/02

      0
  • avatar
    Annaznissa

    bagus lanjut lagi cerita nya

    07/02

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters