Kukembalikan suamiku pada saudaranya #Part2 "Itu seperti suara Delia dan Tasya, anak Muti dan Ning. Kenapa mereka ada di situ? Tapi bukankah Mas Herman lagi nyervis? Ah, nggak mungkinlah ... itu pasti suara anak yang punya motor aki." Mela membuang jauh-jauh prasangka buruknya. "Haloo?" Suara Herman membuat perempuan berparas manis itu terkesiap. "I—iya, Yah ... i—ini Faiz rantai sepedanya lepas. Mau minta tolong Ayah buat dibenerin." "Oh, aku kira ada apa ... suruh tunggu aja Faiznya. Ayah sebentar lagi selesai." "O gitu, oke, Yah ... assalamualaikum." "Waalaikum salam." Telepon terputus. "Gimana, Bu?" tanya Reno tak sabar. "Kata Ayah disuruh tunggu, kamu temenin Faiz dulu, ya, sampai Ayah pulang." "Siap!" Setengah berlari Reno keluar rumah, di mana Faiz sudah menunggu. Namun beberapa lama kemudian, Reno masuk lagi. Kali ini diikuti oleh Faiz. "Bu, boleh nggak minta tolong divideo-callkan Ayah? Biar kami perbaiki sendiri tapi dipandu sama Ayah," tanya Reno penuh harap. Sebenarnya Reno pun mempunyai ponsel, hanya saja dia tak punya keberanian untuk menelepon ayahnya. "Kalau nunggu Ayah pulang kelamaan, Bu. Faiz barusan udah dipanggil-panggil Mamanya disuruh pulang," pinta Reno lagi, Faiz yang berdiri di sebelahnya mengangguk mengiyakan. "Emang bisa benerin sendiri?" Menatap Mela bergantian pada dua anak lelaki di depannya. "Bisa, Tante. Dulu pernah diajarin caranya sama Om Herman, tapi Faiz lupa," jawab Faiz yakin. Mela melirik jarum jam yang sudah menunjuk ke angka sembilan. Diraihnya kembali ponsel di atas meja, lalu menelepon suaminya. Setelah panggilan ketiga baru diangkat. "Halo, Yah! Tolong Ayah hidupkan sebentar kameranya. Ini anak-anak mau benerin sendiri sepedanya, tapi minta dipandu sama Ayah." "Ya, sebentar ..." Herman menjawab datar. Terdengar suara berisik di seberang sana, samar-samar seperti orang bercakap-cakap. Setelah menunggu agak lama, wajah Herman terlihat di layar ponsel. Namun pandangan Mela lebih tertuju pada sesuatu di belakang Herman. Bukankah itu perkampungan di rumah Ning? Mela sangat hapal bentuk-bentuk rumahnya karena sering sekali berkunjung kesana. Di sekitar suaminya itu terdengar suara anak kecil berlarian sambil tertawa-tawa. "Kok, berisik banget, Yah?" pancing Mela. "Ya, kan, aku tadi sudah bilang hampir selesai. Ini sudah di luar, mau pulang!," Herman menjawab ketus. Tiba-tiba terlihat sosok anak kecil mendekati Herman. "Pakde ... Pakde ... putus lagi ini talinya." Klik. Telepon langsung dimatikan oleh Herman. Mela yakin anak perempuan itu Tasya, putri Ning yang seusia Seruni. "Jadi kamu bersama mereka, Mas. Kamu bilang ada panggilan servis, tapi ternyata kamu berbohong. Awas aja, kamu, Mas!" batin Mela dongkol. Perempuan berusia 35 tahun itu menghela napas panjang. Menyadari Reno tengah menatapnya penuh selidik, ia pun tersenyum lembut. Sejak kecil putra sulungnya itu sangat peka dengan apa yang dirasakan ibunya. "Mmm ... Faiz, sepedanya dibenerin besok pagi aja, ya, Nak! Sekarang udah malem, kasihan Mama kamu menunggu di rumah. Besok pagi sebelum berangkat ke sekolah Faiz mampir kesini, nanti sepedanya dibenerin sama Om," ujar Mela lembut. "Atau besok kamu nebeng sepedaku aja, Iz, kita boncengan," sergah Reno cepat. "Beneran?" tanya Faiz ragu. "Iyalah, tapi kamu yang boncengin aku, ya!" "Oke, deh, sapa takut!" Faiz mengangguk bersemangat. Faiz pun pamit pulang dengan diantar Reno sampai halaman. Sepulangnya Faiz, Mela menyuruh anak-anaknya masuk kamar untuk beristirahat karena hari sudah semakin malam. "Ayah kok belum pulang, Bu?" Di kamarnya, Seruni gelisah. Mungkin karena terlalu lama tidur siang, ia jadi sulit tidur. "Ayah masih nyervis, bentar lagi juga pulang. Udah, sekarang Adek bobok dulu." Mela mengusap-usap punggung putrinya agar segera tertidur. Kebiasaan mengusap punggung itu dilakukan Herman sejak Seruni masih balita dan terbawa hingga sekarang. Jadilah tiap kali akan tidur, gadis kecil itu selalu meminta diusap-usap punggungnya. Sementara pikiran Mela masih tertuju pada Herman. Hatinya begitu dongkol karena dibohongi. Bukan Mela tidak mau bersosialisasi. Ia paham bahwa menyambung tali silaturahmi itu sangat dianjurkan dalam agama. Kata ustadzah Fatimah—yang biasa mengisi kajian di pengajian rutin di kampungnya—silaturahmi itu memiliki banyak manfaat, selain memperpanjang usia, silaturahmi juga memperluas rejeki. Silaturahmi merupakan tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah SWT dan menjadi mahluk mulia di hadapan-Nya. Beliau juga mengatakan menyambung silaturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silaturahmi juga adalah akhlak terpuji yang sangat disukai Allah. Bahkan, salah satu upaya menjauhkan diri dari berbagai kekhilafan antar manusia adalah dengan membangun silaturahmi. Oleh karena itu, silaturahmi memiliki keutamaan yang luar biasa. Dari segi kesehatan jiwa, silaturahmi juga memiliki banyak manfaat. Dengan berbincang membicarakan berbagai hal seru, secara tidak langsung dapat meringankan kita dari berbagai beban masalah hidup. Namun tentu saja harus pintar-pintar memilih topik pembicaraan. Jangan membahas hal-hal yang sensitif yang membuat suasana menjadi tidak nyaman, seperti kapan nikah, kapan punya anak, sudah kerja atau belum. Juga jangan pula bergosip, membicarakan si A kenapa bercerai atau si B yang dikejar-kejar debt collector. Dulu Mela begitu senang berkumpul bersama keluarga suaminya. Dua atau tiga bulan sekali mereka saling mengunjungi. Dia tulus menganggap keluarga Herman seperti keluarganya sendiri, karena semua keluarga Mela memang berada di luar kota. Herman adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Imran, adik Herman yang kedua adalah suami Ning dan Anam adik yang ketiga, adalah suami Muti. Mereka memang sering berkumpul bersama. Dua bulan sekali Muti yang tinggal di rumah orangtuanya di luar kota berkunjung ke rumah Mela, atau ke rumah Ning. Jika ada acara keluarga tak segan mereka bertiga turun tangan memasak bersama. Meskipun kedua ipar perempuannya itu sedikit ceplas-ceplos dalam berbicara, Mela tidak menggubrisnya. Akan tetapi semenjak orangtua Muti meninggal dunia, dan ia mendapat jatah pembagian warisan yang digunakan untuk membeli rumah di kota yang sama dengan Mela, semuanya berubah. Kadang Mela menyesal telah menyarankan pada Muti untuk membeli rumah di kota yang sama dengannya. Pikir Mela waktu itu, agar lebih dekat dengan saudara. Namun ternyata, saran itu malah menjadi bumerang untuknya. Kedua ipar perempuannya itu semakin sering mengajaknya berkumpul hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting, berghibah tentang almarhumah mertua, tentang sepupu-sepupu mereka, bahkan pamer baju baru atau perhiasan baru. Masalah baju atau perhiasan baru, Mela tidak ambil pusing. Karena bagi Mela rejeki sudah ditentukan oleh-Nya. Jika Ning bisa membeli baju baru atau Muti tiba-tiba memakai gelang baru berarti itu sudah rejeki mereka. Yang membuat perempuan berparas manis itu tidak nyaman adalah kebiasaan bergosip. Ada pepatah yang mengatakan 'Siapa yang mengajakmu bergosip, suatu saat dia juga akan menggosipkanmu'. Mungkin pepatah itu benar. Seringkali Muti menggosipkan Ning jika sedang berkunjung ke rumah Mela dan Ning belum datang. Mela hanya menanggapinya dengan senyum, namun dalam hati dia bertanya, "Apakah jika aku tidak ada, kau juga akan menggosipkan aku?" ❤️❤️❤️❤️ Jangan lupa klik love, ya. Terima kasih atas dukungannya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 23 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (308)
Rahmat ginanjar
bagus alur ceritanya
28/02
0
WahyuniYuni
nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ...
semoga ada kelanjutan ny..
bagus alur ceritanya
28/02
0nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..
17/02
0bagus lanjut lagi cerita nya
07/02
0View All