logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Kukembalikan Suamiku Pada Saudaranya

Kukembalikan Suamiku Pada Saudaranya

Nila Nilu


Part 1 Kebohongan

Kukembalikan suamiku pada saudaranya
#Part1
[Mbak Mela, nanti malam aku ke rumah Mbak Ning. Mbak kesana juga, ya ... kita kumpul-kumpul]
Mela menghela napas panjang, dibacanya berulang kali pesan dari Muti, adik iparnya.
"Kumpul-kumpul lagi? Bukannya baru satu minggu yang lalu mereka kumpul-kumpul di sini," batin Mela kesal.
Segera dia mengetik balasan.
[Mbak lagi nggak enak badan, Muti. Kayaknya nggak bisa]
Mela tidak berbohong, beberapa hari ini vertigonya memang kambuh. Untunglah sejak kemarin sudah agak membaik, sehingga dia bisa mengerjakan nastar pesanan Bu RT.
Terlihat Muti mengetik balasan.
[Ohh ... Ya udah]
"Selalu begitu. Tak bisakah sedikit berbasa-basi, kenapa? Sakit apa?" batin Mela sebal.
"Ah, sudahlah. Memang sudah watak Muti begitu. Lebih baik aku membersihkan dapur, agar bisa segera beristirahat."
Tak berapa lama, dapur yang tadinya berantakan sudah kembali bersih. Peralalan untuk membuat kue juga telah tersusun rapi di tempat masing-masing. Segera Mela menuju kamar, kepalanya tiba-tiba sedikit pusing.
Direbahkannya tubuh di samping Seruni, putri bungsunya, yang masih nyenyak terlelap dalam tidur siangnya.
Baru saja hendak memejamkan mata,
"Assalamualaikum, Ibu ... aku pulang!"
Mela segera bangkit lalu keluar dari kamar, dilihatnya Reno yang telah memasuki rumah. Wajahnya tampak lelah.
"Waalaikum salam, katanya ada tambahan pelajaran, Kak ... nggak jadi?"
"Ada, Bu, cuma sebentar," jawab Reno sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Adek mana, Bu?" Reno celingak-celinguk mencari adiknya.
"Tidur, tuh dari tadi," ucap Mela.
Reno melongok ke dalam kamar, dilihatnya Seruni terlelap nyenyak menghadap dinding.
"Adek jago tidur, ya, Bu ... mirip Ayah," ujar Reno terkekeh geli. Dia teringat hari di mana ayahnya libur kerja dan tidur siang berjam-jam, hingga acara jalan-jalan yang telah mereka rencanakan sebelumnya tertunda sampai malam tiba.
"Capek mungkin, Kak. Tadi sehabis pulang sekolah langsung latihan mewarnai. Nih, lihat hasilnya ... bagus nggak, Kak?" Mela menunjukkan kertas bergambar sebuah pemandangan yang telah penuh polesan warna krayon.
"Wah, bagus banget!" Reno berdecak kagum. Dipandanginya hasil warna karya Seruni yang begitu indah. Perpaduan warna yang serasi dan teknik pewarnaan yang begitu halus membuat gambar itu seolah-olah hidup.
"Kereeen ... adek ada bakat jadi pelukis kayaknya, Bu." Pandangannya tak lepas dari gambar di tangannya.
Mela tersenyum, diusapnya kepala putranya.
"InsyaAllah, Ibu akan melakukan yang terbaik untuk kalian. Apapun yang kalian suka dan itu bermanfaat, pasti akan Ibu dukung. Sudah, sekarang bersih-bersih dulu, terus makan. Ibu mau lanjut istirahat," diraihnya gambar dari tangan Reno lalu menaruhnya di laci meja belajar.
Reno yang hendak ke kamar mandi teringat sesuatu.
"Bu, nastarnya masih ada sisa?"
"Ada, sudah Ibu pisahkan di toples di lemari makan," jawab Mela pelan, dia tak ingin Seruni terbangun dan membuatnya batal tidur siang.
Sengaja Mela membuat nastar sedikit lebih banyak dari pesanan, karena anak dan suaminya juga suka nastar buatannya. Apalagi Reno sudah meminta untuk menyisakannya sedikit. Anak lelakinya itu seharian kemarin membantunya di dapur. Walaupun hanya sekedar menimbang bahan-bahan kue atau mengoles permukaan nastar dengan kuning telur, Mela sudah merasa sangat terbantu.
Reno memang anak yang patuh. Dia tak segan membantu Mela mengerjakan pekerjaan rumah bila dilihatnya ibunya itu sedang kerepotan.
* * * * * *
Azan isya' telah lama berkumandang, ketika motor Herman memasuki halaman rumah.
Herman, suami Mela—lelaki berusia 39 tahun—bekerja sebagai driver harian lepas di sebuah toko perlengkapan anak dan bayi. Sebuah toko yang menjual kereta dorong bayi, box bayi, juga motor aki mainan anak. Untuk menambah penghasilan, Herman membuka jasa perbaikan motor aki di rumahnya. Tak jarang dia juga mendapat panggilan service dari rumah ke rumah. Kegemarannya mengutak-atik sesuatu membuatnya piawai dalam hal itu.
Mela baru saja melipat mukenanya ketika Herman memasuki kamar.
"Lembur lagi, Yah?" tanya Mela sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Ada kiriman tadi," jawab Herman singkat.
Segera Mela beranjak menuju dapur untuk membuatkan minum suaminya. Biasanya sepulang kerja begini Herman suka minum teh hangat. Dahi Mela mengernyit saat dari kamar mandi yang bersisian dengan dapur terdengar suaminya itu sedang mandi.
"Tumben langsung mandi, Yah? Biasanya nyantai dulu," tanya Mela sambil meletakkan segelas teh manis hangat di atas meja.
"Iya, nih ... Ada pangglian service," Herman keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxer langsung menuju kamar dan berganti baju.
"Jauh rumahnya?" Mela menyusul suaminya ke kamar, tampaknya Herman sedang terburu-buru.
"Nggak, deket kok ... anak-anak mana?"
"Belum pulang mengaji,"jawab Mela mengekori suaminya menuju ruang makan.
"O iya, Yah. Tadi Muti mengajak kita kumpul-kumpul di rumah Ning. Aku bilang lain kali aja, aku lagi nggak enak badan," lanjut Mela. Herman mengangguk-angguk, diseruputnya teh manis hangat buatan istrinya hingga menyisakan separuh.
Segera diraihnya jaket dan tas punggung berisi peralatan untuk menyervis. Mela yang baru saja akan menyiapkan makan malam untuk suaminya itu terheran-heran.
"Nggak makan dulu, Yah?"
"Nanti saja ... sudah ditunggu orangnya," sahut Herman, meraih helm lalu segera menaiki motornya.Tak lama kemudian, suara motor Herman semakin menjauh dari halaman rumah.
Hari semakin malam, Mela sedang menonton televisi bersama anak-anaknya, ketika terdengar suara anak laki-laki dari luar rumah.
"Assalamualaikum ...Reno ... Reno!"
Reno yang dipanggil segera keluar. Tak lama kemudian bocah laki-laki itu masuk kembali dengan wajah cemas. Didekatinya ibunya.
"Bu, Ayah masih lama nggak pulangnya?"
"Nggak tau, Kak. Kenapa memangnya?" tanya Mela heran.
"Si Faiz, tuh, Bu, rantai sepedanya lepas. Mau minta tolong Ayah buat benerin. Tadinya mau dibawa ke bengkel, tapi udah tutup," tanya Reno, berharap ayahnya bisa segera pulang menolong sahabatnya itu.
Faiz adalah anak semata wayang Bu Mirna. Rumahnya hanya berjarak lima rumah dari rumah Reno. Setiap ada masalah dengan sepedanya, Hermanlah yang selalu memperbaiki. "Kasihan, nggak ada ayahnya." Begitu kata Herman. Pak Banu, ayah Faiz memang sudah berbulan-bulan tak pernah pulang. Ada salah satu tetangga yang bilang Pak Banu kecantol perempuan lain.
Serta merta Mela menengok jam dinding, jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Sebentar, Ya! Ibu coba telepon Ayah dulu," ucap Mela meraih ponsel, dipencetnya kontak suaminya. Tersambung, tapi tak diangkat.
"Mungkin Mas Herman masih sibuk nyervis," gumam Mela, dipencetnya sekali lagi kontak suaminya. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya terdengar suara Herman.
[Halo ....]
[Assalamualaikum, Yah ... Ayah belum selesai nyervisnya?]
[Waalaikum salam, belum ... kenapa?]
Samar-samar Mela mendengar suara orang cekikikan dari seberang sana, dan juga celotehan anak kecil. Mela menajamkan pendengarannya,
"Tunggu-tunggu, itu seperti suara Delia dan Tasya, anak Muti dan Ning .... Tapi, kan, mas Herman lagi nyervis. Ah, nggak mungkinlah, itu pasti suara anak yang punya motor aki," batin Mela menepis jauh-jauh prasangka buruk dalam hatinya.
❤️❤️❤️❤️

Book Comment (308)

  • avatar
    Rahmat ginanjar

    bagus alur ceritanya

    28/02

      0
  • avatar
    WahyuniYuni

    nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..

    17/02

      0
  • avatar
    Annaznissa

    bagus lanjut lagi cerita nya

    07/02

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters