"Aduh, aku lupa kalau sedang mencuci baju." Sekar bergegas beranjak dari tempat tidur karena baru ingat dengan cuciannya. Dia segera menuju ke ruang laundry dan kaget melihat apa yang terjadi di sana. "Astaga…." Lantai ruang laundry sudah dipenuhi dengan busa sabun. Sekar berjalan menuju ke mesin cuci tetapi berulang kali dia harus terpeleset karena lantainya sangat licin. Setelah berusaha keras akhirnya dia sampai dan segera mematikan mesin cuci. "Fyuuh … akhirnya mati juga nih mesin, kenapa bisa jadi seperti ini sih? Jangan-jangan karena aku nuang deterjen kebanyakan?sekarang bagaimana aku harus membereskannya? Duh, nambahi kerjaan saja nih." "Astaga Neng, apa yang terjadi, kenapa jadi lautan busa seperti ini?" Bik Yem kaget melihat ruang laundry yang dipenuhi banyak busa. "Tidak tahu Bik, Tiba-tiba sudah seperti ini," ucap Sekar berbohong. "Astaga Neng, Eneng kasih deterjennya kebanyakan ini," ucap Bik Yem sambil melihat botol deterjen yang tinggal separuh. "Eh, sepertinya iya Bik." "Sudah, Neng istirahat saja, biar Bibik yang bersihkan." "Terimakasih Bik." Sekar bergegas masuk ke kamar dan melanjutkan main hpnya. Saat itu juga Rida menelepon. "Halo Mah," ucap Rida dari seberang telepon. "Iya sayang, kamu jadi kapan kemari?" "Belum tahu nih Ma." "Kok belum tahu sih? Mama kan nungguin kamu disini." "Kami belum punya ongkos untuk kesana Ma." "Minta dulu sama Nenek, nanti Mama ganti." "Iya deh Ma." "Jangan lupa besok pergi ke rumah Mbah buat ambil ramuan." "Kenapa harus besok sih Ma? Rida mau main sama teman-teman nih." "Lain kali saja mainnya, ramuan hanya bisa diambil saat malam jumat kliwon." "Baiklah Ma, nanti hari minggu kami berangkat ke kotanya." "Bagus, Mama tunggu." "Iya Ma." 'Yes, akhirnya ramuanku akan segera datang.' … "Bagaimana hari pertama bekerja, Bay?" tanya Sri. "Gampang Mbak, Bayu sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar, jadi kalau cuma bersih-bersih kecil itu mah." Bayu menjentikkan jarinya dengan pongah. "Kamu ini bisa saja. Ayo kita pulang." "Loh, bukannya restorannya belum tutup?" "Memang belum, Mbak mau pulang lebih awal." "Kalau begitu Mbak pulang dulu saja, Bayu pulangnya nanti nunggu teman-teman yang lain." "Baiklah, biar nanti di jemput Mang Udin." "Iya Mbak." Sri pulang meninggalkan Bayu yang masih mau bekerja. "Bayu, kamu kan adiknya bos Sri, kok mau sih jadi cleaning servis?" tanya Hendra penasaran. "Yang jadi Bos kan Mbak Sri bukan saya. Saya cuma sebagai bawahannya saja." "Iya, tapikan bisa saja kamu minta kepada Mbakku jabatan yang lebih tinggi, masak cuma jadi tukang bersih-bersih sih?" Iwan menimpali. "Tidak masalah buat saya, saya terbiasa dengan pekerjaan yang kasar sedari kecil." "Ah, kamu ini, kalau jabatan tinggi kan enak, tidak perlu capek-capek kaya gini." "Untuk bisa menjadi seorang bos, maka saya juga harus merasakan menjadi cleaning servis dan jabatan yang lainnya yang lebih rendah terlebih dahulu, biar nantinya saya tidak bersikap semena-mena kepada bawahan saya." "Aku masih belum bisa terima dengan alasanmu itu Bay, dapat kesempatan emas kok tidak dimanfaatkan." Bayu hanya tersenyum mendengar perkataan kedua rekan barunya tersebut. Memang baru beberapa jam mereka bekerja bersama, tetapi Bayu sudah paham bagaimana karakter kedua orang tersebut. Karepe mirasa nanging ora gelem rekasa, maunya hidup enak tetapi tidak mau bekerja keras. Mungkin itu adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan karakter mereka berdua. Bayu tidak mau memperdulikan kata-kata mereka, sebisa mungkin Bayu memberikan contoh yang baik agar pikiran mereka bisa terbuka. Pukul sembilan malam Bayu sudah menyelesaikan pekerjaannya, semua karyawan juga sudah pulang. Tinggal dia sendiri saja yang masih menunggu Mang Udin untuk menjemput. "Mari Den," sapa Mang Udin. "Iya Mang." Bayu bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Mang Udin. "Sudah berapa lama kerja dengan Mbak Sri, Mang" "Sekitar delapan tahun Den, Neng Sri itu dulu tetangga saya. Amang tahu betul perjuangannya dulu waktu masih menjadi istri Kadir. Setiap hari dia menjadi buruh cuci dan setrika di tempat tetangga. Itupun belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk tambahannya Neng Sri biasanya mulung Den." "Astaghfirullah, betapa beratnya beban yang harus ditanggung Mbak Sri saat itu ya Mang." "Benar Den, Kadir sendiri kerjaannya cuma mabuk dan judi. Kasian sekali Neng Sri saat itu Den, hidupnya sungguh menderita. Tapi Amang bersyukur sekali sekarang kehidupan neng Sri sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Neng Sri beruntung bisa ketemu dengan Den Dirga. Kami semua yang bekerja dengannya dulu adalah tetangga Neng Sri. Sikapnya kepada kami juga sangat baik, dia tidak pernah menganggap kami sebagai pembantu melainkan sebagai keluarganya." "Syukurlah sekarang Mbak Sri sudah hidup bahagia ya Mang, masa kecil kami juga penuh dengan penderitaan. Kedua orang tua kami hanya berprofesi sebagai pemulung. Hinaan dan ejekan selalu kami terima dari teman-teman sebaya." "Roda kehidupan pasti berputar Den, tidak selamanya kita berada di bawah." "Iya Mang." Mobil sudah sampai di pekarangan rumah, Bayu bergegas masuk dan berniat mandi. "Mas, kok pulangnya malam sekali sih?" tanya Sekar. "Banyak kerjaan Dek." "Memang Mas kerja di bagian apa? Kok baru pertama kerja sudah banyak kerjaan." "Mas menghandle masalah keindahan, kebersihan dan kerapian restoran Dek." "Hah? Bagian apa itu Mas? Manajer bukan?" "Ya, bisa dibilang begitu Dek." "Wuiih, mantap, aku bisa pamer di medsos nih kalau suamiku sudah jadi manajer." "Tidak perlu seperti itu Dek, tidak baik pamer tuh." "Biarin, inikan bukti kalau aku bangga sama Mas." "Dek…." "Sudah, diam, aku lagi nulis nih." "Terserah kamu sajalah." Bukannya tidak mau memberitahu tentang pekerjaannya, tetapi Bayu masih menunggu waktu yang tepat. Sekar pasti bakalan marah jika tahu Bayu hanyalah seorang cleaning servis. "Mas, hari minggu Rida dan Rido mau kesini." "Oh ya? Baguslah kalau begitu." ... Hari minggu tiba, orang yang ditunggu-tunggu Sekar akhirnya datang. Sri, Ani dan Ali juga ikut menyambut mereka di depan pintu. "Mama, aku kangen," teriak Rida sambil menghambur ke pelukan Sekar. "Mama juga sayang. Sini Rido, Mama mau memelukmu." "Tidak mau Ma, aku malu." "Ya sudah, ayo perkenalkan diri kalian sama Bude dan saudara-saudara kalian." "Halo Bude, nama saya Rida." Rida memperkenalkan diri kepada Sri dan mencium tangannya, diikuti Rido di belakangnya. "Halo Nak, selamat datang di rumah kami, semoga kalian betah ya." "Pasti betah Bude." "Perkenalkan ini anak-anak Bude. Ali, Ani di mana adik-adik kalian?" "Sedang nonton film kartun Mak." "Oh, ya sudah." "Mbak Sri, Rida ini seumuran Ali, terus Ridonya seumuran Ani, eh...." Sekar langsung menutup mulutnya karena merasa salah bicara. Sri menatap Bayu dengan penuh tanya tanda, sedangkan Bayu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya seolah paham apa yang dipikirkan oleh Mbaknya tersebut.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 23 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0View All