Perempuan di Klinik Bersalin Part 7 *** POV Bidan Dewi *** Sesampainya di dalam Ruang Bersalin, aku melihat Bidan Ara sedang melakukan PD (periksa dalam, yaitu memasukan dua jari, jari telunjuk dan jari tengah ke dalam v****a, untuk mengetahui pembukaan jalan lahir dalam proses persalinan) kepada pasien itu. Sementara Bidan Ara melakukan periksa dalam, aku berdiri di samping pasien, seraya mengamati wajahnya, yang terlihat masih sangat muda, seperti masih bersekolah di bangku SMA. Dia meringis menahan sakit, saat tangan Bidan Ara melakukan periksa dalam. Sekitar lima menit Bidan Ara selesai melakukan periksa dalam. Dia kemudian melepas handscoon (sarung tangan) yang baru saja dipakainya. "Sudah pembukaan delapan, ketuban tipis," kata Bidan Ara padaku, memberitahu hasil periksa dalam yang dia lakukan. Berarti tak akan lama lagi pasien hamil ini akan melahirkan. Kalau his (kontraksi) nya normal dan teratur, tak sampai memerlukan waktu dua jam bayinya sudah bisa lahir. Karena dia baru pertama kali hamil. Jika sudah hamil anak kedua dan seterusnya, waktu yang diperlukan untuk bersalin lebih sebentar lagi. "Dewi, kamu jangan pulang dulu ya, temani aku sampai pasien ini melahirkan," pinta Bidan Ara. Aku melihat jam yang terpasang di dinding Ruang Bersalin, waktu sudah menunjukan pukul sembilan lebih empat puluh menit. Seharusnya sudah sejak sepuluh menit yang lalu aku bergantian shift dengan Bidan Ara. "Tolong kamu buatkan pasien air teh hangat, setelah itu anamnesa ya," titah Bidan Ara selanjutnya, tanpa menunggu jawabanku, apakah aku setuju atau tidak untuk menemaninya menolong persalinan pasien ini. "Iya, Mbak." Akhirnya aku menjawab, meskipun aku sendiri tidak yakin dengan jawaban tersebut. Bidan Ara kemudian keluar dari Ruang Bersalin. Aku lalu menuju ke dapur untuk membuatkan pasien teh hangat. Entah mengapa, ada perasaan takut yang sangat ketika menuju dapur yang terletak di belakang. Siang tadi dapur ini tak begitu kelihatan menyeramkan, tapi kenapa saat malam mulai tiba, suasana di sekitar dapur begitu menakutkan. Aku mengambil termos yang ada di meja. Apes. Ternyata termosnya kosong. Apa Bik Ratmi tak merebus air tadi pagi, aku bergumam. Cepat-cepat aku menyalakan kompor dan merebus air hanya satu gelas saja, asal cukup untuk membuat air teh hangat, karena aku ingin segera keluar dari dapur ini. Begitu air minum teh selesai kubuat, bergegas aku menuju ke Ruang Bersalin. "Diminum tehnya, Mbak. Mumpung masih hangat," kataku pada pasien, setelah menaruh gelas berisi air teh hangat itu di atas meja yang ada di samping bed gynecologi. "Iya, Bu. Terima-kasih." Aku kemudian mengambil sarung dan baju atasan yang ada di lemari. "Mbak, ganti baju dulu ya, biar nyaman waktu melahirkan nanti." Pasien itu kemudian melepas bajunya dan memakai sarung serta baju atasan yang kuberikan. Aku lalu ke meja pendaftaran, kulihat Bidan Ara sedang menulis di sana. "Ini, tolong kamu anamnesa pasiennya ya," titah Bidan Ara sambil memberikan map yang berisi beberapa lembar blanko untuk anamnesa pasien baru. Aku menerima map itu, kemudian menuju ke Ruang Bersalin untuk melakukan anamnesa. Pasien hamil itu bernama Silvi, berusia enam belas tahun, hamil anak pertama, umur kehamilan 34 minggu. Sebelumnya tak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan. Aku kemudian mengambil tensimeter untuk mengukur tekanan darahnya. Tapi berulang kali aku mencari denyut nadi di pergelangan tangan Silvi, tak teraba olehku. Tangannya begitu dingin, seperti tangan Bik Ratmi saat bersalaman denganku tadi pagi. Mungkin memang aku yang tak bisa merasakan denyut nadi di pergelangan tangan Silvi. Aku lalu menggunakan stetoskop dan kembali mencari denyut nadinya, tapi tetap saja tak terdengar. Aneh, pikirku. Apa stetoskopnya yang rusak, atau telingaku yang tak bisa mendengar? Akhirnya aku tak jadi memeriksa tekanan darah Silvi. Kulihat wajah Silvi, tampak begitu pucat dan putih seperti mayat. Semakin aku mengamati wajah perempuan itu, semakin terlihat pucat dan mengerikan. Segera aku memalingkan wajah ke arah lain, sebab aku merasakan takut yang datang tiba-tiba. Aku lantas mengambil doppler (alat untuk mendengarkan detak jantung bayi) dari dalam lemari kaca. Lagi-lagi detak jantung bayi di dalam perut Silvi pun tak terdeteksi. Dengan rasa penasaran, aku mengulangi berkali-kali mencari detak jantung bayi itu, tapi tetap tak terdengar. "Sudah berapa lama bayinya nggak bergerak, Mbak?" tanyaku pada Silvi. "Waktu saya akan ke sini masih bergerak kok, Bu." Aneh. Masa iya hanya dalam waktu beberapa menit bayi dalam perut Silvi bisa langsung tidak bergerak? Atau sebetulnya dia yang tidak paham dengan yang namanya gerakan pada janin karena usianya yang masih sangat muda? Entahlah, aku tak berusaha untuk menanyakan dengan lebih detail pada Silvi. Aku lalu keluar dari Ruang Bersalin untuk memberitahukan hasil anamnesa pasien Silvi kepada Bidan Ara. Kulihat Bidan Ara sedang berbicara dengan seorang perempuan di luar klinik. Tak lama kemudian, mereka masuk ke ruang dalam. Seorang ibu hamil, yang wajahnya masih sangat muda, berjalan di samping Bidan Ara. Usianya sepertinya sepantar dengan Silvi. "Dewi, pasien baru inpartu (akan melahirkan) Kamu anamnesa saja dulu, biar aku menemani pasien yang di VK (verlos kamer, ruang bersalin). Siapa namanya?" tanya Bidan Ara kepadaku. "Silvi, Mbak," jawabku. Bidan Ara kemudian pergi menuju ke Ruang Bersalin. Sementara aku melakukan anamnesa pada pasien yang baru datang. Nama pasien itu Maya, berusia enam belas tahun, hamil anak pertama, umur kehamilan 36 minggu. Sama seperti Silvi, Maya pun belum pernah melakukan pemeriksaan kehamilan. "Siapa yang mengantar, Mbak?" tanyaku pada Maya, setelah selesai melakukan anamnesa. "Nggak ada yang ngantar, Bu." "Terus kamu naik apa tadi ke sini?" Aku bertanya dengan rasa heran. Apa mungkin Maya berjalan kaki dari ujung jalan sampai ke klinik? Alangkah jauhnya. Atau orang di kampung sini memang sudah terbiasa berjalan kaki, walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh? Apalagi dia sedang hamil, sepertinya tidak mungkin. "Saya tadi ke sini naik ojek, Bu." Ojek? Rasanya telingaku belum tuli kalau hanya untuk sekadar mendengar suara sepeda motor. Tapi dari tadi aku tak mendengar suara apa pun. Aneh sekali, namun diri ini tak berusaha untuk menanyakannya lebih lanjut, karena aku pikir hal itu tidak ada hubungannya dengan kondisi kehamilan pasien, dan juga bukan urusanku. Aku lalu mengajak Maya ke Ruang Bersalin. *** Di Ruang Bersalin, tampak Bidan Ara sedang memimpin persalinan pasien Silvi. "Maya, tunggu di luar sebentar ya, kami akan menolong persalinan terlebih dahulu," kataku pada Maya. "Iya, Bu," jawabnya. Dia lantas duduk di salah satu bangku panjang yang ada di depan kamar perawatan. Aku kemudian masuk ke Ruang Bersalin dan segera memakai handscoon, kulihat bayi pasien Silvi sudah hampir lahir. Tak sempat lagi aku memakai perlengkapan untuk menolong persalinan. Tidak sampai lima menit, Silvi telah melahirkan bayinya. Bayi itu tak menangis, seluruh badannya biru. "Innalilahi wainnailahi roji'un …," ucapku dalam hati. Bayi Silvi ternyata telah meninggal. Sekilas aku melirik ke arah Silvi, dengan ekor mata. Tak ada rasa sedih di wajahnya, dia bahkan tersenyum, yang aku tak bisa mengartikan arti senyumannya itu. Aku juga melihat ke arah Bidan Ara, dia telah melepas maskernya. Dia juga tersenyum, seperti ada rasa puas di wajahnya. Aneh sekali, Silvi dan Bidan Ara malah tersenyum mengetahui kalau bayi yang baru lahir itu dalam kondisi telah meninggal. Segera aku mengurus mayat bayi yang baru dilahirkan Silvi. Setelah kumandikan, bayi itu lalu aku bungkus dengan menggunakan kain. "Apa nggak sebaiknya kita menghubungi keluarga pasien, Mbak? Untuk mengurus jenazah bayi ini," kataku pada Bidan Ara. "Nggak perlu, besok pagi saja," jawab Bidan Ara dengan dingin. "Taruh saja bayi itu di Kamar Bayi," titahnya kemudian. Dengan tak habis pikir, aku menuruti apa yang dikatakan oleh Bidan Ara. Aku menaruh mayat bayi Silvi di Kamar Bayi. Kasihan sekali bayi malang ini. Kemudian aku kembali ke Ruang Bersalin, setelah menaruh mayat bayi Silvi. Bidan Ara telah selesai membereskan semuanya, ruangan VK telah bersih kembali seperti sedia kala. [Cepat sekali Bidan Ara membersihkan ruangan ini, padahal baru beberapa menit saja aku tadi berada di Kamar Bayi] "Dewi, tolong sekarang kamu pindah Silvi ke Ruang Perawatan ya, pasien baru yang tadi suruh masuk," perintah Bidan Ara. Aku menuntun Silvi menuju ke Ruang Perawatan. Dan meminta Maya untuk segera masuk ke Ruang Bersalin. *** Setelah selesai mengurus Silvi, aku kembali ke Ruang Bersalin untuk melihat keadaan Maya. "Baru pembukaan empat, masih lama. Apa kamu mau pulang juga?" tanya Bidan Ara, begitu dia selesai melakukan periksa dalam. Aku melihat jam di tangan kiriku. Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Sudah terlalu larut untuk pulang. Aku ragu, belum pernah aku pulang sendirian semalam ini. Bagaimana jika terjadi hal yang tak diinginkan di tengah jalan nanti? Tapi, seharian ini aku tidak mandi, karena tak membawa baju untuk ganti. "Kalau kamu mau ganti baju, ada di lemari obat sebelah bawah," kata Bidan Ara tiba-tiba, seperti tahu apa yang sedang kupikirkan. Akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di klinik hari itu. Sebab aku tak mau mengambil resiko jika pulang tengah malam. Setelah berganti pakaian, aku berusaha menghubungi kedua orang tuaku. Berkali-kali aku mencoba menelepon nomor ayah dan ibu, tapi tak bisa terhubung. Setelah itu aku lalu duduk di tempat pendaftaran. Sebetulnya tadi Bidan Ara menyuruhku untuk tidur di salah satu Ruang Perawatan, tapi aku menolak. Mata ini tak terasa mengantuk, aku juga tak merasakan lapar, padahal seharian aku belum makan, hanya sempat sarapan sepotong roti bolu buatan ibu saat akan berangkat tadi pagi. Aku membuka Buku Register Pasien Baru, lalu mencatat nama Silvi dan Maya di buku tersebut. Iseng aku membaca nama-nama pasien yang pernah berkunjung ke Klinik Bersalin Kencana. Sejenak aku tertegun, umur mereka tak ada yang di atas duapuluh tahun. Dan semuanya hamil anak pertama. [Aneh sekali. Kenapa nggak ada pasien yang datang dengan kehamilan anak kedua, ketiga dan seterusnya?] Tiba-tiba mataku membaca nama Sekar di dalam buku itu. Apa itu Sekar yang kuantar tadi sore? Tapi kenapa ada tanda (+) di keterangan namanya? Bukankah itu tanda untuk orang yang sudah meninggal? Atau mungkin bukan Sekar yang kuantar tadi sore, sebab nama Sekar kan tidak hanya satu. Banyak hal aneh sebenarnya yang kurasakan di Klinik Bersalin Kencana ini. Tapi entah kenapa, aku tak berani atau lebih tepatnya tak bisa menanyakan tentang hal itu kepada orang-orang yang kutemui di sini. Mulutku seperti terkunci. *** Keesokan harinya, sekitar pukul enam pagi, Bu Anggi datang bersamaan dengan Bik Ratmi. Aku sama sekali tak melihat dari arah mana mereka berdua datang, padahal sepanjang malam aku duduk di tempat pendaftaran, yang dengan sangat mudah melihat setiap orang yang datang, karena meja pendaftaran mengarah ke pintu depan klinik. Aku juga tak mendengar ada suara mesin kendaraan. Masa iya sih Bu Anggi datang dengan berjalan kaki dari ujung jalan sana menuju klinik? Atau aku tadi sempat tertidur sehingga tak menyadari kedatangan Bu Anggi dan Bik Ratmi? Entahlah ... Dengan tanpa menghiraukan keberadaanku yang duduk di tempat pendaftaran, mereka berdua segera menuju ke Ruang Bersalin. Beberapa saat kemudian, Bik Ratmi masuk ke Kamar Bayi dan keluar dengan menggendong bayi Silvi. Mereka bertiga (Bu Anggi, Bik Ratmi dan Bidan Ara) lalu membawa bayi Silvi ke belakang. [Akan dibawa ke mana mayat bayi itu? Dan akan mereka apakan?] Dengan rasa penasaran, aku berjalan mengendap mengikuti mereka. Kulihat mereka menuju ke arah pohon bambu. Sesampainya di sana, aku melihat Bik Ratmi membuat lubang di tanah menggunakan cangkul yang sudah ada di tempat itu. Bidan Ara bergantian menggendong mayat bayi Silvi. Sedangkan Bu Anggi hanya berdiri melihat Bik Ratmi yang sedang mencangkul. Sebentar kemudian, mayat bayi Silvi dikuburkan di bawah pohon bambu. Aku melongo melihat pemandangan tersebut. Seakan tak mempercayai penglihatanku. Kenapa harus dikuburkan di sini mayat bayi itu, kenapa tak dibawa pulang saja oleh Silvi? Siapa sebetulnya Silvi, kenapa dia tak memberitahu keluarganya tentang keadaan yang sebenarnya? *** Bersambung
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 42 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (284)
dilanDilan
ini cerita sangat seru ☺penuh dengn misteri dan rasa penasaran yg ingin tau 😊mkasih y buat yg menulis cerita ini🙂🙂😊😊😉sukses slalu 😉
11/01/2022
0
n******4@gmail.com
jalan cerita yang sangat bagus dan tidak membosankan.. Rugi siapa yang tidak baca Recommended👍👍
10/01/2022
0
Madara
bingung mau ngmong apa,inti nya cerita ini sudah berhasil buat aku merinding dan tangan ku jadi keringet dingin,aku kayak bener2 masuk ke dalam cerita ini,bisa ngerasain apa yang di rasain sama bidan dewi,mulai dari rasa penasaran sampe rasa curiga😭 pokoknya top bgt cerita ini👍👍👍
ini cerita sangat seru ☺penuh dengn misteri dan rasa penasaran yg ingin tau 😊mkasih y buat yg menulis cerita ini🙂🙂😊😊😉sukses slalu 😉
11/01/2022
0jalan cerita yang sangat bagus dan tidak membosankan.. Rugi siapa yang tidak baca Recommended👍👍
10/01/2022
0bingung mau ngmong apa,inti nya cerita ini sudah berhasil buat aku merinding dan tangan ku jadi keringet dingin,aku kayak bener2 masuk ke dalam cerita ini,bisa ngerasain apa yang di rasain sama bidan dewi,mulai dari rasa penasaran sampe rasa curiga😭 pokoknya top bgt cerita ini👍👍👍
09/01/2022
0View All