logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 3 Obat yang Disediakan Semesta

"Seharusnya kamu duduk di depan, memangnya papa ini sopir?!" protesnya seraya melajukan jaguar merah kesayangannya.
Aku tak menjawab dan seperti yang sudah kuhapal di luar kepala, papa akan mencecarku ini-itu ketika menjemputku dari rumah mama. Itu hal biasa.
"Apa aja yang terjadi saat kamu tinggal di tempat mama? Mama udah memperkenalkanmu dengan calon suaminya? Hm ... bagaimana orangnya? Maksudku apa dia kelihatan tampan, hm ... maksudku, baik?" ucapnya sok kalem dan terkesan bertele-tele.
Aku menggeleng samar, dan lagi ... pertanyaan remeh-temeh ini yang keluar dari mulut papa. Bodoh, aku saja yang terlalu berharap papa akan bertanya, "hei, Nak. Apa harimu menyenangkan dan kamu baik-baik saja di rumah mama? Coba ceritakan padaku apa kamu bahagia."
Padahal jelas-jelas mata balut ini tak pernah berbohong bahwa aku tak baik-baik saja. Apakah hal tersebut masih butuh sebuah penjelasan? Apa aku harus merepetisi sebuah kalimat di telinga papa tentang aku yang tak pernah baik-baik saja? Dan kenapa aku harus mengira papa akan peduli?!
"Sebelum Tera jawab, boleh tanya dulu sama Papa?" ucapku memberanikan diri.
"Oke, kita jarang ngobrol sekarang, kamu udah besar, dan papa maklum untuk ngga mencampuri apa yang ngga ingin kamu sampein ke papa. Tapi, kamu bisa cerita apa aja sebenernya," tukasnya sok iya. Dia lupa kalau sebelum aku bercerita apa-apa dia terbiasa memotongnya. Atau marah-marah mencari siapa yang salah dengan berapi-api. Bahkan tak jarang malah menghakimi.
Come on, Pa. Jangan ngigo, Papa bukan orang yang tepat untuk jadi tempat berkeluh kesah. Ke mana Papa pas aku butuh pelukan dan bilang ; 'jangan menangis, Sayang. Semuanya pasti baik-baik aja.'
Diam sejenak.
"Ra, mau nanya apa?"
"Kenapa orang dewasa itu rumit?" tanyaku seadanya sesuai dengan yang menggantung di benakku saat ini.
"Rumit? Papa rasa kamu yang terlalu berlebihan memandangnya dari perspektifmu."
"Papa marah saat mendengar mama akan menikah lagi, kenapa Pa? Kenapa memilih berpisah kalo masih sama-sama saling cinta?"
"Masih cinta? Jangan sok tau soal perasaan. Papa ngga mencintainya lagi semenjak kepergian Althair. Lagian ngapain kamu pagi-pagi ngomongin itu? Mau bela mama sekarang? Dikasih apa sama mama suruh ngomong kaya gitu?!" seru papa dengan nada tak senang.
Aku mendengkus. Mama selalu menuduhku ada di pihak papa, begitupun sebaliknya. Sepertinya memang aku tak boleh menggenggam tangan keduanya secara bersamaan seperti dulu.
"Dia muda, usianya sedikit lebih tua dariku. Mungkin empat atau lima tahun. Seorang Selebgram sekaligus konten kreator, itu jawaban dari pertanyaan Papa tadi," jawabku spontan.
"Lebih muda? Ngga sekalian aja kamu bilang dia ganteng, dia kaya dan papa ngga ada apa-apanya di banding dia sama seperti yang mama kamu bilang?! shit...!" Papa memperlihatkan kerut dahi, tampak kesal. Dan benar, apa pun yang kukatakan tak pernah benar di matanya. Entahlah. Dia sudah bukan seperti papaku lagi. Pribadi yang pernah hangat dan penuh cinta dulu kini telah berubah. Dia hanya laki-laki jemawa yang penuh kebencian dan temperamen.
Seperti yang sudah kuduga. Rumah tangga baru setelah perceraian tak akan menyelesaikan perselisihan-perselisihan mereka. Karena kisah mereka belum selesai. Aku sadar ada rasa yang sama tapi coba mati-matian mereka sangkal. Rasa sayang. Namun, rasa sayang itu menyakiti semuanya. Menyakitiku, terlebih persaingan yang mereka pertontonkan seolah mereka lebih bahagia setelah menemukan sosok pengganti. Padahal yang jelas, aku tahu luka mereka masih basah dan berdarah untuk bisa menerima sebuah perpisahan. Dan mereka tak akan pernah berhasil menemukan sosok pengganti dalam hidup baru.
Seperti mengenggam bongkahan bara api lalu saling melempar, celakanya aku ada di tengah-tengah mereka. Dan apakah mereka rela membiarkan aku terbakar di antara ambisi dan egoisme masing-masing demi sebuah kepuasan 'saling menyakiti'?
Lagi-lagi dadaku dirambati sesak yang seolah menghambat laju darahku. Netraku berlarian menembus kaca mobil dan menatap nanar ke sekeliling. Pagi ini cuaca sedang mendung dan sepertinya air mata langit akan segera menitik, melucuti segala apa yang membentang di permukaan bumi.
Helai napasku memanjang, seperti hari-hari biasanya ketika ingin menyampaikan kalimat sederhana yang belum sempat kulisankan---kemarahan papa selalu lebih dulu memberangus. Maka pilihan terbaik adalah diam dalam suasana canggung yang sangat kubenci. Padahal tak banyak yang ingin kukatakan, hanya sepenggal kalimat, "aku sayang Papa."
🍃🍃🍃🍃🍃
SMA Bima Sakti tahun terakhirku. Aku menyusuri koridor ini dengan ransel merah marun bertengger di gendongan seraya menapak langkah tergesa-gesa. Jalanan terasa begitu jauh untuk bisa dijangkau oleh kakiku yang pendek. Semakin mempercepat langkah, seakan semakin jauh jarak yang harus kutempuh.
Kumohon, Ayolah ... aku tak ingin terlambat lagi ....
Aku memasuki ruangan tanpa menghiraukan mata yang melemparkan pandangan ke arahku dengan tatapan mencemooh saat tiba di ruang kelas. Rupanya jam pelajaran pertama telah dimulai. Aku mendengkus berat, ya ... untuk ke sekian kali, aku terlambat lagi.
"Lentera, Kamu terlambat lagi? Mau bikin alasan apa lagi hari ini? Kamu tidak boleh ikut pelajaran saya!" tegas perempuan dengan kacamata tebal berbingkai bundar sembari melipat tangan di depan dada.
Hanya terdiam di ambang pintu, kukemasi semangat yang masih tersisa untuk mencapai harapan. Hatiku kecut. Orang sepertiku memang tak pernah pantas memikirkan perihal cita-cita.
Langkahku kembali berderap perlahan, keluar ruangan. Ingin rasanya mengeluh, seandainya aku tak sering bangun kesiangan karena menangis semalam, seandainya aku tak menjadi benda yang diperebutkan, seandainya aku tak harus melihat pertengkaran mama dan papa hampir setiap penjemputan. Kepala tak berisi ini mengulang kalimat itu tanpa dikomando. Perlahan menyambung satu persatu sebab akibat yang menjadi garis besar kesedihanku. Mataku menatap malas ubin di bawah entakan kaki. Aku tak ingin menangis lagi hanya untuk hari ini saja.
"Kenapa kamu terlambat lagi?" Suara khas itu menjamah rungu, diikuti suara derap langkah yang mengekor di belakangku.
"Ngapain kamu di sini? Kamu ngga terlambat, ngikutin aku, ya?" Aku berbicara tanpa mengangkat wajah. Masih tetap mengeja langkah kelam tanpa tujuan.
"Aku izin ke toilet dan ngga akan balik kelas. Mau nemenin kamu, Ra."
"Nar, berhenti jadi malaikat pelindung buat aku, aku ngga mau jadi pengaruh buruk buat kamu." Menghentikan langkah sejenak. Mataku menembus iris kecokelatannya dengan tatapan menuntut. Selain membalas tatapanku, dia juga meraih pundak ini dengan kedua tangan dan menguncangnya pelan.
"Mata kamu ... kamu kenapa lagi, Ra?"
Diam.
Binar Muneera. Cahaya yang memancar dengan jelas. Lenteraku yang nyaris padam ini selalu membutuhkannya. Hanya dia satu-satunya yang paling memahamiku di bawah kolong langit ini. Dia satu-satunya teman, pendengar, pemerhati, pemberi ketenangan dan seluruh kasih sayang yang selama ini menjadi damba bagiku. Dia ... Binar Muneera. My love, my hero.

Book Comment (45)

  • avatar
    Andar

    novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.

    18/01/2022

      2
  • avatar
    Tri andiniNabilla

    alur cerita yang sangat menarikkk

    06/07

      0
  • avatar
    audreijonathan

    baguss kakk

    14/06

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters