Byur... Mendadak guyuran air menyapu wajah hingga basah, membuatku berjengit dan bangkit seraya mengucek kelopak mata. Aku mengumpulkan nyawa yang masih berpendar antara alam mimpi dan nyata. Tak sadar bahwa setelah puas semalaman menangis, rupanya rasa lelah membawaku lelap dalam belaian malaikat malam yang menidurkan. Sisa rasa nyeri semalam pada sekujurku masih kentara. Aku merunduk, tak ada kata yang mampu terucap. Kalimat apa pun tak akan ada gunanya. Lebih baik memendam semua kutukan ini di lembah hati. Tak ada pilihan selain mendiamkan meski sukmaku meradang dan tertekan. "JAM BERAPA SEKARANG?! JANGAN BERLAGAK SEOLAH KAMU SEORANG PUTRI, SEKOLAH!" Suara khas mama menyerangku lagi. Tak ada perisai yang mampu melindungi rasa sakit yang semakin hari semakin menumpuk di palung hati. Tanpa memprotes, kucoba berusaha meredam jiwa lapuk ini agar tak patah. Ma, apakah Mama tahu jam berapa aku baru bisa tidur semalam? Sepanjang malam aku terjaga, menjelang subuh baru bisa beristirahat dari semua rasa sakit yang merambati sekujurku tanpa henti. Kenapa, Ma? Kenapa Mama ngga ngerti gimana pedihnya? Kenapa ngga peduli? Dan kenapa aku ngga pernah diperlakukan dengan layak? Lirih suara hati ini merintih meluapkan perih. Lagi-lagi tercetak luka merajam hati dan aku dipaksa membeku atas ketidakadilan. Dasar bodoh, kenapa aku tidak pernah bisa berbuat apa-apa? hati ini menjerit kesakitan, namun tak didengar oleh semesta. Aku sudah lelah mengiba. Meratapi diri tak berguna yang teronggok kalah sia-sia. "Althair itu anak laki-laki, tapi dia begitu sempurna. Dia disiplin, pintar, ngga pernah pagi minta dibangunin. Sementara kamu, apa? Bisanya cuma nyusahin. Sama seperti papamu yang ngga berguna." Intonasi mama tak lagi tinggi, malah cenderung berat seakan menahan amarah dengan suara menggondok di kerongkongan. Pun suara itu membuatku tersadar betapa mama tak pernah mencintaiku. Aku menapak langkah gontai, mengambil handuk kemudian beranjak ke kamar mandi, menyeka air mata yang kembali mengalir dan aku menyamarkannya dengan guyuran shower. Sesenggukan ini tertahan, terkadang membuat air yang mengalir terhirup dan menjejali rongga hidung hingga tersisa rasa nyeri di sana. Kepalaku berdenyut sakit, mata balut bukanlah pemandangan baru saban pagi. Kepergian Althair menyisakan luka mendalam di hati mama, aku tahu. Lalu mama menuntutku untuk bisa menjadi sama sepertinya. Mustahil. Althair terlalu istimewa hingga tak mungkin bisa kuduplikasi. Pun saat Althair masih ada, semuanya baik-baik saja. Ia hidup dengan keluarga sempurna. Ya, keluarga ini pernah bertengger sempurna melawan hujan dan badai bersama-sama, mewarnai pelangi bersama dan merasakan sakit yang sama saat satu diantara kami terluka. Hingga kepergian Althair melahirkan luka menganga dan membuat kedua orang tuaku saling mencari kesalahan satu sama lain. Mempertanyakan mengapa Althair harus meninggal secepat itu. Setelah kepergian Althair, neraka itu mulai samar-samar terbentuk dan mengutuk. Semakin hari semakin menyata. Di mana mama tak lagi menghormati papa dan papa tak lagi mengerti mama. Komunikasi yang buruk, mama yang terlalu gila belanja untuk menghibur diri---juga papa yang mulai terbiasa mengkonsumsi minuman beralkohol. Tak cukup sampai di situ, papa juga mulai berani main perempuan sebagai anastesi untuk mengikis kekecewaanya kehilangan Althair. Segalanya memburuk seiring waktu. Pilar kokoh keluarga kecil ini semakin rapuh hingga akhirnya runtuh. Seakan, Althair adalah pemegang kendali atas keluarga ini. Aku bersiap mempercepat langkah. Bahkan tak ada waktu untuk menyuapkan sesuatu sebagai pengganjal lapar. Tak bisa lagi mengulur keberangkatan lebih lama. Aku tak ingin terlambat. Kuturuni undakan tangga, sayup-sayup terdengar suara ribut di ruang tengah. "Kamu mau nikah lagi? Kalo gitu, Tera akan ikut bersamaku!" "Kenapa? Kamu cemburu? Sudah kesepakatan kita untuk ngga meributkan hak asuhnya ke pengadilan. Tera bersamamu dalam tiga hari dan bersamaku tiga hari berikutnya, kita juga mengundi hari ketujuh dia akan tinggal di mana. Itu sudah cukup fair, Beno! Tera itu anakku, seenggaknya aku ngga pernah nyakitin dia dengan cara ngehancurin keluarga kita!" Mama mengetatkan rahang saat mengatakannya kepada papa. Sementara papa menatap mama penuh kebencian. "Kamu nyindir? Jadi kamu nyalahin aku atas perceraian kita? Kamu ngaca, dong, Jes! kamu juga ngga becus jadi istri. Kalo aja kamu ngga kebanyakan nuntut dan foya-foya, Maya juga ngga akan hadir di tengah-tengah kita." "Udahlah, ngga perlu mencari banyak alasan atau pembenaran. Toh, aku juga udah tau kamu laki-laki macam apa, Ben." "POKOKNYA JIKA KAMU MENIKAH LAGI, TERA AKAN TINGGAL BERSAMAKU. DARI AWAL KITA SUDAH SEPAKAT TERA AKAN KITA ASUH BERSAMA. TAPI JIKA KAMU BERSIKERAS, AKU AKAN MENUNTUT HAK ASUH TERA DAN KUPASTIKAN AKU AKAN MEMENANGKANNYA. JIKA ITU TERJADI, JANGAN HARAP KAMU BISA MENEMUINYA LAGI!" ucap papa dengan nada meninggi beberapa oktaf dan tampak begitu represif. "KAMU BISA MENIKAH DENGAN MAYA, KENAPA AKU NGGA? KAMU BILANG MAYA LEBIH BAIK DARI AKU, KAN?" Wanita itu menjeda kalimatnya sejenak, "DAN AKU JUGA UDAH NEMUIN LAKI-LAKI YANG JAUH LEBIH BAIK BERLIPAT-LIPAT DARI KAMU! KAMU PIKIR AKU NGGA BISA MELAKUKAN HAL YANG SAMA, HAH?!" lanjutnya. "Masa bodoh, kamu mau membalas? aku sudah kasih semua yang kamu mau, rumah, mobil, sebagian aset berharga, apa itu ngga cukup? Dan sekarang mau menguasai Tera setelah kamu menikah lagi? Apa ... apa rencanamu setelah ini? Ngejauhin Tera dariku? NGGA AKAN!" Cukup lama membatu di antara bising yang mereka ciptakan, puas melihat mereka mempertahankan argumentasi masing-masing. Hingga tiba saat di mana mereka ingat bahwa aku sudah harus berangkat ke sekolah. Papa menatap ke arahku yang bergeming di undakan tangga terakhir, kemudian menyingsingkan lengan kemeja linennya untuk meneliti sudah pukul berapa saat ini. Matanya beralih ke mama dan kembali bersuara, "urusan kita belum selesai, Jes!" serunya. "Ayo berangkat, Ra. Kita hampir terlambat. Hari ini waktunya kamu tinggal bersama papa, sudah bawa baju?" ucap papa seraya menggiringku menuju mobil yang telah terparkir di halaman. Hanya menganggukkan kepala, seperti biasa ketika sampai di mobil aku selalu memilih duduk di jok belakang. Hal tersebut kembali mengundang protes papa. "Seharusnya kamu duduk di depan, memangnya papa ini sopir?!" protesnya seraya melajukan jaguar merah kesayangannya. Lentera hanya bisa diam. Mengapa mulut manusia sangat kejam?
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 21 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (45)
Andar
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
18/01/2022
2alur cerita yang sangat menarikkk
06/07
0baguss kakk
14/06
0View All