Laki-laki itu tampak rapi dengan setelan formal, tubuh tegap dan rambut belah pinggirnya tertata sempurna. Ia mengambil tempat duduk di samping mama. Dan mama tampak memperlakukannya dengan manis seperti melayani seorang tamu istimewa. Cuih! Rasanya aku ingin muntah. "Ini Om Respati. Dia influencer muda yang sangat berbakat," ujar mama memperkenalkan laki-laki di sampingnya sebelum acara makan malam dimulai. Aku ingin tertawa dalam hati. Sepertinya ada yang tak beres. Influencer muda mengincar perempuan dewasa berusia empat puluh tahun lebih? Adakah maksud lain dari laki-laki ini mendekati ibuku? "Oh .... " Aku menjawab apatis, membulatkan mulut, sepertinya sudah cukup untuk menjawab basa-basi itu. Lagipula, sebenarnya aku kurang tertarik pada pembahasan apa pun. Terlebih mengenai laki-laki ini. "Kok cuma oh? Harusnya kamu mengapresiasi dan menyambut kedatangannya, Om Respati ini folowersnya banyak loh di sosmed," Aku manggut-manggut, spontan mulutku berucap. "Oh, endorsenya banyak dong, Om? Itu jas diendors juga?" celetukku dengan menyuguhkan mimik tertata rapi tanpa ekspresi sambil memperhatikan kuku jari main-main. Aku membuka piring yang masih tertata di meja, membaliknya kemudian mulai menyendok nasi dan mengambil lauk pauk dari mangkuk-mangkuk yang tersusun di meja makan. "Makan, Om. Dekat sama Om influenza bawaannya laper," kataku. Aku tak peduli, kumasukan suapan-suapan besar ke mulut dan laki-laki itu hanya membeku menatapku. Kemarahan ini membuncah dan terasa hampir membunuh akal sehat, membuatku lupa bagaimana cara bersikap santun. Peduli setan, aku tak ingin berpura-pura baik saat hatiku sedang tidak baik-baik saja. Kehidupan selalu menamparku tanpa tahu sopan santun. Dan aku sudah terlanjur terbentuk sebagai jiwa retak yang hampir rusak. Atau mungkin malah sudah rusak? "TERA!" Mama berseru dengan nada tinggi, pria di sampingnya tampak menenangkan. "Kenapa, Ma? Ajak Om influenza makan dong! Lumayan, mumpung gratis, kan!" Aku berbicara dengan wajah tak berdosa. Kuharap, pria ini akan membatalkan niat untuk mengencani mama. Dalam sekejap perempuan itu berdiri, sekonyong-konyong meraih gelas dan mengguyurkan isinya ke wajahku. Terperangah, tubuhku refleks berdiri dan suara sendok terjatuh membentur lantai menimbulkan suara nyaring. "NGGA TAU DIUNTUNG! MASUK KAMAR SEKARANG!" hardiknya. Aku tersenyum kecut, makan malam yang menjengkelkan. Dan sepertinya aku perlu bertepuk tangan sambil mengucapkan selamat karena mereka telah berhasil mengacaukan hariku. Ingin rasanya berteriak. Meluapkan semua amarah yang tertahan di lidahku yang kelu. Aku lelah. Lelah dengan semua rasa sakit yang terus mengonsumsi pikiranku. Apakah aku semalang itu? "Makasih makan malamnya, Ma," putusku sembari menghambur ke kamar. Bantal bergambar karakter Doraemon telah menanti untuk menjadi pelampiasan kekecewaanku. Menumpahkan air mata sebanyak yang kumau di sana. Membenamkan wajah sampai suara sesenggukanku tertahan. Aku sering menangis, tapi yang kutahu, itu bukan perkara aku cengeng. Namun air mata itu hanya keluhan hati tatkala bergelut dengan kemelut berkepanjangan, merasa penat lalu terus-menerus dipaksa kuat. Sadar, aku memang bukan hanya robot mainan. Braaaaakkk... Entah berapa lama setelah tangisanku mereda, aku dibuat terkesiap mendengar pintu dibanting keras-keras. Sosok perempuan mendekat padaku, tangannya menggelandang gaunku dari belakang hingga tubuhku terangkat. Jambakan keras terasa seperti mengelupaskan kulit kepala dan merontokkan beberapa helai rambut dari folikelnya, tubuhku ditariknya kemudian mendorongku hingga menabrak dinding. Wanita itu mencengkeram rahangku. Berbicara lantang dengan jarak begitu dekat pada wajahku sampai embusan napasnya terasa hangat menyapu kulitku. "KAMU PIKIR BISA BERSIKAP SEENAKNYA DI RUMAH INI?! APA INI YANG PAPA KAMU AJARKAN PAS KAMU DI SANA? DASAR ANAK KURANG AJAR!" Makian itu menghunus pedang tajam yang ditikamkan di hati rapuhku. Aku terdiam, senyum pahit mengembang di wajahku. Mata sembab ini menjadi bukti kesedihan dan baru kuseka hingga kering, tapi kembali kumunculkan rintik sedu di kedua netra cekung menyedihkan ini. Mewakili tubuh yang mengeluh sakit tak terucap. Melukiskan rasa pahit yang lagi-lagi harus kucecap. Jemari yang meremas rahangku mengendur, lalu menyentaknya hingga kepalaku terantuk membentur dinding. Rasa sakitnya ada dan terasa. Namun ada sesuatu di dalam dada yang menyita seluruh rasa sakit dan mengumpulkannya. Nyeri tak terperi. Nelangsa tak terkira. "Mama benci papamu, dan Mama benci karena kamu berkoalisi dengannya untuk menjegal kebahagiaanku. Lentera Nayanika, aku benci kenapa harus punya anak seperti kamu!" Blammmmm... Pergi dengan membanting pintu, bunyi entakannya membuat tubuhku terlonjak. Sekilas bayangan tentang hangatnya kasih sayang menjajah khayal. Rasa sakit kian sesumbar, seperti petir tak henti menyambar. Apa salahku? Mengapa aku tak berhak bahagia? Tubuhku merosot ke bawah dan aku memeluk lutut yang bergetar hebat. Kurasakan suatu aliran hawa aneh menggigilkan daksa, meski aku tahu udara cukup hangat malam ini. Penghakiman yang lagi-lagi menyudutkanku, tanpa sanggup kubuat pembelaan atas diri lemah ini. Betapa selain aku tak berharga, aku juga tak berguna. Rasa tak berdaya terus menyesaki rongga dada, kupukul dada ini berkali-kali untuk memudarkan sakit yang berdiam di dalam sana dan tak mau enyah. Tak terhitung pertanyaan yang berseliweran menghampiri kepalaku. Apa salahnya mendengarkanku? Aku hanya ingin dimengerti, hanya ingin didengar, hanya butuh sebuah pelukan dan usapan lembut berbalut kata-kata menyejukkan sukma. Jiwaku kering kerontang, gersang bersama dahaga berlipat. Yang kubutuh hanya setetes saja percikan kasih sayang. Apakah itu terlalu muskil untuk diwujudkan? Bersandar pada dinding pucat di ujung ruang, membentur-benturkan kepala agar segala pertanyaan tanpa jawaban yang menggantung di otakku lekas menguap. Aku tak ingin mencari perhatian, bukan, bukan itu. Aku hanya ingin melegakan rasa sakit yang membenamkanku hingga aku merasa seakan sulit bernapas. Sakit tak berdarah tapi perlahan seolah membunuhku dengan kejam. Jemariku menari bersama pisau cutter yang baru saja kuraih dari samping meja. Menggoreskannya di lenganku dan kutatap tetes warna merahnya. Sejenak senyum penuh luka kubingkai indah. Setidaknya rasa sakit yang berarak di lautan hatiku dapat kualihkan. Memuculkan ketenangan meskipun hanya sekejap saja. Suara hati kembali memprovokasi, inikah yang namanya keluarga? Kehangatan yang seharusnya dapat kurasakan, malah melecutkan cambuk api yang membakar seluruh raga. Aku menanti, apakah Respati akan menjadi awal luka baru yang lebih dalam untukku, atau malah menyembuhkanku dengan kasih sayang seorang ayah sambung kepada anak tirinya. Namun, aku tak yakin akan hal itu. Semua kedamaian terasa semakin jauh untuk kurengkuh. Dan di sini, aku hanya bisa mengaduh dengan tubuh banjir peluh. Jika ada satu kalimat yang bisa kuucap, aku ingin semesta belajar mendengar. Aku lelah. Kumohon biarkan aku sejenak beristirahat. Sirrrr ... Satu luka tak cukup. Kugores lebih banyak, agar luka di tubuhku dapat menghibur luka di hatiku.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (45)
Andar
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
novel yang cukup memuaskan hati, sangat cocok untuk dibaca diwaktu luang dan cukup menyenangkan membaca novel ini.
18/01/2022
2alur cerita yang sangat menarikkk
06/07
0baguss kakk
14/06
0View All