logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Terkunci

Semesta bergulir, silih berganti, bagai pelari estafet yang menyerahkan tongkatnya. Lalu, saat yang lain mendapat gilirannya, dia akan berlari menuntaskan tugasnya. Hingga, sampai ke garis finish dan berakhirlah tugasnya.
Seperti itulah tugas pagi ini, dia juga pelari setelah mendapat giliran berlari dari malam. Hari-hari yang terbagi empat masa; pagi, siang, sore, dan malam. Setidaknya, ini telah mengajari kita, bahwa kita harus berlari, agar tidak kedahuluan waktu yang selalu mengejar amal-amal manusia.
Creative force, creative power, and urban development.
Begitulah kehidupan, titah yang harus dijalani kehidupan, setiap elementnya. Tak ada yang tertinggal jika manusia meninggal, tak perlu batu nisan tertanda pernah ada di dunia. Karena, yang ditinggalkan adalah kehidupan itu sendiri. Dan, apresiasi karyanya bukan atas pandangan manusia, karena manusia amat singkat dan lemah penilaiannya.
Tetapi Allah-lah sang penilainya. Tak ada yang lewat, semua mendapatkan penghargaan sesuai apa yang dikerjakannya. Tak perlu repot dan susah, mencari simpati di hadapan makhluk, karena manusia akan kelelahan. Kerja cipta karyanya di dunia pun, tak membuahkan ikhlas.
Ah! Begitu mudahnya kehidupan ini berjalan, amatlah sederhana sesungguhnya.
Dedi meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepalanya, tertumpuk, dan menadah kepalanya yang menyandar di tembok, dan duduk kursi kayu memanjang di depan kelasnya. Kursi kayu itu memanjang, kedua ujungnya bertemu dengan tiang tembok sebagai kaki-kakinya.
Tak rugi juga rasanya, Dedi selama ini belajar ngaji dengan pak Mahfudz. Tak terasa sudah lima kali dia bertemu dengan gurunya itu, ada rasa sejuk yang tercipta, setidaknya Dedi begitu rindu menunggu hari kamis, tepatnya sepulang sekolah, di mushola sekolahnya.
Dalam hidupnya pula, pernik dan percik bahagia seolah baru menyapanya, setelah sekian lama menghilang, disappear. Dedi memejamkan matanya sejenak, di depan kelasnya, tak peduli para siswa lain hilir mudik melintasinya, toh, mereka juga tak pernah peduli padanya.
Dedi tersenyum kecil, ada percik ketenangan yang tumbuh lebih besar.
”Hai, kau sedang bahagia?”
Dedi sedikit kaget, dibukanya matanya. Suara yang lembut, tepat di belakangnya, berjarak terpisah dengan tiang tembok. Pastilah, si pemilik suara juga tengah bersandar pada tiang juga, karena kursi kayu itu memanjang sepanjang koridor-koridor di depan tiap kelas.
”Kamu memang aneh,” suara lembut itu, kini bisikan.
”Aku memang aneh, berhati-hatilah padaku,” Dedi menjawab dingin.
”Pantas saja kamu tidak memiliki teman, mungkin, hanya aku yang mengobrol seperti ini denganmu.”
Hening.
”Hai Ded, apakah kamu sudah punya pacar?”
”Bukan urusanmu,” cepat dan lirih.
”Memang bukan urusanku sih, tapi aku hanya ingin cerita. Baru seminggu ini aku pindah di sekolah ini, sudah ada sekitar tujuh orang yang memintaku menjadi pacar mereka. Terutama kakak kelas tiga itu yang paling ngotot, apakah kau kenal dia, namanya..., ya Roni namanya. Apakah kau kenal dia Ded?”
”Brengsek!”
”Kau bilang apa barusan?” Mega sedikit kaget, atau tak terlalu konsentrasi mendengar sanggahan Dedi barusan.
”Tidak apa-apa.”
”Kau memang aneh ya Ded,”
Dedi hanya tersenyum kecil, membelakangi Mega, bahkan mirip kesinisan dan bukan sebuah senyuman.
”Kenapa kau tak takut padaku?”
”Kenapa harus takut?”
Dedi berputar seperempat putaran, telinganya menempel tiang yang sedari tadi disandarinya, ”Kalau kau tak takut, setidaknya kau malu berteman denganku. Karena aku seperti bukan manusia, aku asing, aku...”
”Hai,” Mega membuat Dedi berhenti berkata, ”Tak ada yang beda denganmu Ded, kau sama seperti aku bukan?”
Angin berhempus pelan, diantara mereka. Hingga, tanpa disadari...
”Mega?” Roni telah berada di samping Mega, dan menepuk pelan pundak Mega, ”Kenapa kamu disini? Bersama anak kacangan ini lagi?” Roni melirik kearah Dedi yang menunduk, tiga orang telah berdiri di dekat Dedi. Tampak wajah Dedi ketakutan dan terus menunduk.
”Iya Kak, kebetulan tadi ketemu dengan Dedi. Kami duduk satu meja, jadi berbincang-bincang agar lebih akrab.”
”Ooo,” Roni memegangi dagunya, ”Ehm..., saya ada perlu sebentar dengan Dedi. kamu tidak apa-apa kan saya tinggal bersama Dedi?”
”Iya, tidak apa-apa lagi Kak,” Mega tersenyum.
”Baiklah,” Roni membalas senyuman Mega, lalu melangkah mendekati Dedi yang masih menunduk di kelilinga tiga orang, ”Ayo Ded, aku ada perlu.”
Dedi tak berani mengangkat kepalanya, tapi tangannya telah diapit oleh Roni. Jaka merangkul Dedi dari kiri dan mengajaknya berjalan bersama, mungkin, mereka berakting seolah teman akrab. Dedi terbawa paksa, tapi dari raut wajahnya yang menunduk, tak ada yang tahu bahwa dia terpaksa.
Saat melangkah sepuluh meter, Dedi memberanikan kepalanya menoleh sejenak ke belakang. Saat itulah, tatapannya dan Mega bertemu. Tatapan itu sama-sama aneh, namun segera sirna karena Roni memalingkan wajah itu untuk kembali memaksanya menunduk.
Saat melewati tikungan koridor, mereka belok lagi, menuju toilet. Masuk dan mengusir seorang siswa kelas satu yang masih hendak buang air bersih.
”Pindah di tempat lain!” dengan wajah sangar Deri, si anak kelas satu tampak mengkerut wajahnya, dan undur diri.
Pintu toilet laki-laki itu ditutup dari dalam. Roni memegang kerah baju Dedi yang masih menunduk, tepat melihat lantai, dua kilan dengan ujung sepatunya.
”Hei kampret! Berani-beraninya kamu dekati Mega! Hah! Sudah bosan hidup Loe ya!”
Dedi ketakutan, keringat dingin menetes dari dahinya. Bayangan demi bayangan, membayang dalam pikirannya, serasa malapetaka akan datang lagi.
Dedi menggelengkan kepalanya cepat, beberapa kali.
”Sial! Gak punya mulut Loe ya!” dan satu tamparan mendarat demikian mulus di pipi Dedi. tangan Dedi yang terangkat, hendak mengusap pipinya yang panas, telah dipegang paksa oleh Jaka dan Firman.
Karena mengkal, Roni menggeledah kantong depan celana Dedi, mencari uang untuk bersenang-senang.
”Kurang ajar! Kau sembunyikan dimana uangmu!”
Dedi yang ketakutan, napasnya memburu, dan hanya bisa menggeleng.
”Syetan! Geledah dia!”
Jadilah Deri menggeledah paksa Dedi yang tercekal kuat oleh Firman dan Jaka. Tapi kosong, Deri tak menemukan ada uang.
Roni kehilangan kesabarannya, dipukul perut Dedi yang pagi ini belum terisi makanan kecuali air minum. Deri menambahi pukulan pula di perut Dedi, hingga Dedi lemas dan kuyuh jiwanya, hendak jatuh namun kedua tangannya masih dicekal kuat. Hingga saat cekalannya dilepaskan, tubuh Dedi sempurna jatuh di lantai toilet pria.
Roni masih belum puas, dia mengambil sebuah wadah minuman gelas plastik. Dia berjalan di pojokan ruangan, dan kencing dengan menadah urine-nya di gelas plastik itu. Saat selesai, dia berbalik kepada teman-temannya.
”Pegangi dia!”
Dengan senang hati, ketiga anak-buahnya mencekal kuat Dedi yang terduduk lemah. Deri paham sesuatu dari lirikan berkilat mata Roni, dia segera memegang kepala dan menjambak rambut Dedi, memegang mulutnya dan membukanya lebar-lebar.
Air urine itu semakin mendekati wajah Dedi yang ketakutan, hendak meronta, tapi cekalan begitu kuat sedangkan wajahnya juga dicekal oleh sigemuk Deri. Maka, air urine itu dipaksakan diminumkan ke mulutnya. Tumpah dan tumpah, tapi tetap dipaksakan memasuki tenggorokannya. Kebiadaban ini, membuat keempat orang itu tertawa puas.
Dan, penyiksaan demi penyiksaan menimpa Dedi.
Mereka meninggalkan Dedi dalam keadaan terbungkam mulutnya dengan baju sekolahnya, sekaligus mengikat kedua tangan di belakang kepala. Lalu, celana panjangnya digunakan untuk mengikat kedua kakinya.
Keempat orang itu keluar toilet dengan tenang, mengunci pintu itu dari luar. Ada kepuasaan terpancar dari wajah mereka, kepuasan iblis dan syetan yang menari-nari di pundak-pundak mereka. Atau, merekalah iblis-iblis dan syetan sesungguhnya?

Book Comment (105)

  • avatar
    Izz Hafizi

    Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..

    10/06/2022

      0
  • avatar
    Dzaidan Ahmad

    Bagus

    09/10

      0
  • avatar
    sasa

    baguss sekali

    04/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters