“Lega Sayang akhirnya kita resmi jugaaa ….” Tangan Harlan tak mau lepas dari pinggang istri barunya yang tengah membersihkan wajah dengan susu pembersih. “Beneran ya, Mas Har, janjinya.” Bibir sudah bebas lipstick itu manyun dua senti, ingin memastikan janji lelaki ini akan ditepati. Harlan yang gemas segera menyerang dengan bibir Safea dengan mulut lebar miliknya. “Mmmh, ugh, sabar dong, Mas.” Perempuan berwajah imut itu mendorong dadanya sampai mundur. “Janjinya?” “Iya, iya. Kamu tenang aja, itu semua gampang kalau mas tamvanmu ini yang urus.” Harlan menepuk dada. “Awh ….” Belum siap diterkam singa jantan itu, Safea mengaduh berkali-kali. Harlan mengangkat tubuhnya sedikit melempar ke peraduan empuk. Lelaki itu berubah buas saat melihat sosok menggoda mata yang kini resmi jadi miliknya. Seorang istri yang bebas ia sentuh kapan saja saat suka. Tercapai sudah rasa ingin memiliki perempuan berisi itu secara utuh, meski setelah terkulai lemas, dalam hatinya merasa ada yang kurang. Kosong. Ternyata adrenalinnya tadi naik tidak setinggi seperti sebelumnya. Nikmat hubungan sembunyi-sembunyi dulu tidak dirasakan lagi. Kenapa terasa flat? Benaknya kecewa. Ia berpura tidur membenamkan rasa ketidakpuasan yang menggelayut. Sementara bagi Safea, malam pertama sebagai istri Harlan, cukup membahagiakan. Meski bukan malam pertama sesungguhnya, toh yang diinginkan bukan itu Ia merasa resmi mendapat partner yang tepat untuk saling mendukung misi. Awalnya, mengenal sosok suami ini adalah kakak ipar yang perhatian. Selain suka bercanda, sikap royal Harlan diam-diam menyelipkan uang di kantongnya sebagai sangu sejak masih sekolah dulu. Merasa dimanja dengan materi yang tak banyak didapat dari orang tua, ia pun kecanduan meminta. Membuatnya larut dalam gaya hidup berlebihan. Rasa gatal kalau tidak pakai barang mahal. Baju, tas, hingga sepatu semua di atas harga 200 ribu, di bawah harga itu rasa gengsinya tak rela memakai. Tuntutan keinginan itulah memaksanya termakan bujuk rayu hingga kelepasan dalam pergaulan. Saat kondisi keluarga Harlan terpuruk lelaki itu lebih memihak keluarga, walau tetap diam-diam menyelipkan sesuatu di tangannya, meski jumlahnya lebih sediki, tentu tanpa sepengetahuan sang kakak. Uang berjumlah pas-pas’an makin tidak cukup, membuatnya sedikit bermanja menuntut dan itu jadi cara ampuh mendapatkan. Saat Safea sedang galau akut akibat kesalahan sendiri, mulai melancarkan serangan saat melihat lelaki nganggur itu makin membara setiap melihat kemunculannya. Itu terjadi ketika Rahma mulai menjadi assisten rumah tangga. Mereka pun intens bertegur sapa. Kesempatan saat ngantar makanan untuk keponakan mulai ia manfaatkan. Sekadar ngobrol ngalor-ngidul yang sangat nyambung. Ternyata ambisi mereka sama, ingin suatu saat berada di puncak gunung kenikmatan dunia. Punya segala yang diinginkan tanpa mengindahkan bagaimana pun caranya. Kekompakan yang nyambung itu menerbitkan sebuah rencana untuk masa depan Safea yang terlanjur bernoda. Galau Safea pun hilang saat gayung bersambut. Semua akan diberi asal lelaki itu berani memegang janji. Cakaran Mbak Rahma tak seberapa dibanding apa yang akan kita dapat, Mas … kesempatan ini terlalu berharga …. Ponsel baru pemberian Harlan di sisi tempat tidur digenggamnya, entah dari mana lelaki itu dapat uang lima juta saat itu untuk membelikan benda yang diidamkan ini. Masih banyak yang aku mau, kau pasti akan kabulkan untukku, Mas. Dikecupnya pipi penuh lubang-lubang kecil itu tanpa rasa. Cinta bukan utama untuknya sekarang. Materi dan gaya di atas segalanya, benak Safea puas. Harlan yang berpura tidur segera berbalik badan merengkuh istrinya dalam. Kamu sama liciknya denganku, Safea … perut buncit ini akan segera menaburkan uang ke badan kita. Apa pun yang kamu mau akan mas beri …. Harlan kemudian mendengkur keras, hanyut dalam mimpi terbang bersama karpet uang merah raksasa ke atas awan. * Dia perempuan yang bersahaja, pantas Dimas begitu memperhatikannya. “Sudah, istirahatlah, Rahma, dari tadi kok sibuuuk aja,” Dini sering memperhatikan Rahma yang begitu sibuk membantunya tanpa diminta, sejak awal kehadirannya di sini pekerjaan assisten yang tengah pulang kampung sejak tiga hari lalu itu tergantikan. Tugas untuknya malah tak tersisa, kerepotan wanita single parent ini tidak lagi terasa. Pekerjaan Rahma malah lebih bersih dibanding pekerjaan assistennya, padahal kondisi lukanya belum membaik. “Ah, ini cuma pekerjaan rumah biasa, Mbak Dini. Malah kalau diam saya nggak bisa,” sahut Rahma sambil mengelap daun jendela yang berdebu. Bahkan kacanya bisa jadi papan tulis dengan jari sebagai pena’nya. Untuk urusan bersih-bersih Dini memang kurang telaten, ia wanita karier yang melepaskan semua pekerjaan pada assisten. Terlalu banyak memegang cairan pembersih kuku-kukunya bisa rusak dan patah, itu yang tak ia suka. “Aku jadi nggak enak. Jay ajak kamu ke sini ‘kan sebagai tamu, tapi malah beres-beres tanpa henti.” Rahma menghentikan gerak tangannya, lalu tersenyum manis. “Anggap aja buat bayar jasa Mas Dimas sudah bantu saya, Mbak. Apalagi Mbak Dini kasih tumpangan gratis, saya bayar pake apa coba?” “Jangan mikir balas-balasan budi gitu, anggap kita saudara. Aku cuma dua bersaudara sama Jay, jadi nggak punya adik cewek.” Dini mulai cerita kalau ia dan Dimas jarak umurnya 7 tahun, tapi sikap Dimas sangat menjaganya bagai seorang abang. Perempuan yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta ini bangga adiknya begitu siaga, selalu ada saat ia butuhkan. “Hidupku berat, Rahma. Nggak seperti yang kamu lihat. Untung ada Jay, jadi aku nggak merasa terlalu terpukul.” Rahma tercengang mendengar wanita cantik berkulit bersih itu pernah jadi korban KDRT mantan suaminya, giginya tanggal tiga di depan terkena tonjokkan. “Ini gigi palsu semua.” Tunjuknya pada gigi sambil meringis. Rahma langsung menghentikan aktivitas, ia melangkah perlahan mendekati Dini yang duduk di kursi makan. Dengan saksama dan penuh perhatian mendengar penuturan Dini. Ternyata ada seorang perempuan yang hidupnya pernah lebih parah dari keadaan dirinya. “Ini ...” Dini menurunkan lengan bahu bajunya, perlihatkan bekas luka di punggung. “lagi nyetrika malah punggung aku yang ‘digosok’nya.” Mata Rahma langsung basah, mulutnya mengatup rapat, tidak tahan membayangkan keadaan Dini dulu saat kekerasan itu terjadi. “… mbak Dini ini cantik, kurang apa lagi? Rasanya nggak percaya kalau harus jadi korban kekerasan,” ujar Rahma setelah Dini selesai bercerita dengan tenang, tanpa tangis atau pun suara gemetar. Terlihat jelas ketangguhannya. “Cantik atau tidak, enggak ada hubungnnya, Rahma. Siapa pun bisa mengalami. Kalau takdirnya terkena lelaki yang sejahat set*n hatinya.” “Saat itu aku lagi hamil muda si Nadia, dukungan Jay berhasil menjebloskan mantan suami ke penjara. Aku pun bisa stabil menjalani hari sampai sekarang. Kamu lihat ‘kan ceriwisnya Nadia itu? Alhamdulillah jiwanya sangat sehat gak terpengaruh keadaan stresku waktu dia di perut.” Penuturan Dini tak sengaja membawa bayang Safea hadir di benak Rahma. Ya Tuhan … semoga Safea tak menjadi korban lelaki berotak setan itu, harapnya dalam benak. “Ngobrol apa, sih, sampai nggak tau aku masuk.” Mereka kompak menoleh pada Dimas yang datang membawa plastik biru tua. “Hei, Jay. Tumben nih jadi rajin nyambangin mbak. Kerjaanmu gimana?” Dini melihat antusias isi plastik yang dibawa Dimas taruh di depannya. “apa ini?” “Makanan, Mbak Din. Biar kita makan bareng. Kerjaan Alhamdulillah lancar, makanya ke sini rayakannya.” “Baunya mie ayam, ya? Uhmm ….” Dini menghirup bau sedap bumbu yang menguar ke udara, membuat cacing-cacing menari girang di perutya. Rahma segan, ia mau beranjak berdiri. “Eh, mau ke mana?” tanya Dini sama Dimas bersamaan. “Mm, silakan makan, saya mau lanjut-“ “Ayo makan bareng …” Dimas menyentuh bahunya, membuat Rahma yang kikuk. “mubazir kalau nggak dimakan,” pinta lelaki yang sudah bercukur bersih kumis dan jambang di dagu. Dengan ikatan satu di belakang kepala rambut gondrongnya jadi rapi, tampak sangat menawan mata. Rahma melihat pada Dini yang senyum-senyum melirik mereka. “Ayo, Rahma makan bareng.” “I-iya, mau cuci tangan dulu,” sahut wanita sederhana ini melangkah ke wastafel. Ia lalu sigap mengambil mangkuk dan sendok membawanya ke meja makan. Rahma mulai memindahkan makanan masih panas itu dari plastik ke dalam mangkuk. “Nadia belum pulang les?” Dimas sudah cuci tangan, kembali menarik kursi sambil memandangi tangan Rahma yang menyiapkan makanan untuknya. “Belum, seperempat jam lagi aku jemput. Habis makan inih,” tunjuk Dini pada isi mangkuknya yang sudah siap disantap. “Saos, kecapnya, Mbak Dini?” “Oh iya lupa, makasih ya, Ra. Aku enaknya manggil kamu gitu deh, kalau Rahma agak belibet di lidah,” alasan Dini, membuat suasanan jadi lebih akrab. “Terserah Mbak Dini aja.” Mereka mulai menyuap. Diam-diam Dimas suka melihat dua orang itu sudah tidak canggung seperti di awal bertemu. Kakaknya bisa menerima kehadiran Rahma, malah justru kelihatan senang sekarang. “Kamu usianya belum 25 ya, Ra?” “Iya, masih jalan arah 25, Mbak.” ”Muda banget.” Dini menambah satu sendok lagi sambal, tapi ditahan Dimas. “Ingat maag’nya,” tegur Dimas sambil menarik wadah sambal menjauh. Meski merengut tapi Dini patuh juga. Rahma tersenyum melihat keakraban dua bersaudara itu. Andai aku dan Safea bisa seperti mereka …. “Eh, ya ampuun, lupa.” Buru-buru mendorong mangkuknya yang sudah kosong, tinggal kuah merah saus dua sendok saja, Dini gegas bangkit dari kursi. “Apa Jay aja yang jemput, Mbak?” tawar Dimas melihat kakaknya buru-buru mencuci tangan dan mulut di aliran keran air. “Nggak usah, jangan, Mbak sekalian ada yang mau dicari,” katanya sambil pamit. Padahal Nadia akan pulang setengah jam lagi, karena ada tambahan les piano dengan guru yang sama. Ia sengaja memberi kesempatan adiknya lebih mengenal wanita yang membuatnya merasa respek itu. Jay trauma dan sangat pemilih, melihat sikap dan sorot matanya pada Rahma menumbuhkan harapan adik lelakinya itu bisa membuka hati lagi. Di belakang kemudi sedan putih miliknya Dini tersenyum dikulum. “Aku sangat setuju kalau Rahma pilihanmu, jay,” gumamnya yakin.
yujjje
30/11
0memuaskan 😍
20/10
0bagusss
15/06
0View All