logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

02. Ternyata Kamu...

"Eliyaaa!!! gincu gue napah tebel banget, bujut dah, kek abis di cipok tawon, ini juga pipi kek abis di gampar harimau."
"ishh kak, diem dulu, ini tuh gaya make up amerika," jawab Eliya karena tak terima karyanya di comment:)
"amerikih gua baru percaya el_-"
TTOOKK.. TTOOKK.. TTOOKK..
"El, dah malem nih, mau pulang bareng gue gak?" Tanya Varo dari depan kamar Via
"iyaaa! tunggu bentar," teriak Eliya
Via pun panik saat mendengar suara Varo yang berada didepan kamarnya. Terlebih wajah dia yang kini... ah sudah lah tak usah dijelaskan secara rinci, MALU intinya.
"Eliya! anjir abang lo di depan? mampus gue, ini gue gimana ah elah eliya peak."
"Elah biasanya juga mandi bareng lu_-"
"Itu pas gue masih piyik panjul! gua pletesin tuh pala."
"Serem euy pantes jomblo, abang buka aja pint... eh..." seru Eliya yang justru menyuruh Varo masuk saja, tetapi...
Eliya dan Via tidak sadar padahal sedari tadi Varo sudah berdiri disana memperhatikan perdebatan mereka berdua, di tambah saat ia melihat...
Pffttt Varo hampir saja tertawa.
Varo menyandarkan dirinya di dinding seperti cicak nemplok "Lama lu, ayo buruan pulang," serunya menahan diri untuk bersikap biasa saja.
"Tuh kan ka! Abang gue diem aja, dibilang jugaan kaga ngapa," seru Eliya yang dibalas tatapan tajam Via
Varo pun menggandeng tangan adiknya "Gua pulang dulu vi.." pamitnya. Ia pun segera keluar dari kamar Via.
"Bang var... ppfftt... hahaha, kak lo habis ngelenong?" Seru Rey tertawa lepas.
Via pun melempar Rey dengan brush powdernya "Bacot lu! keluar sekarang dari kamar gue!" Usir Via.


Berjalan sendirian di lorong yang sepi dan dingin terlebih matahari masih malu menunjukan dirinya sedikit membuat nyali Via kesenggol.
Ia pun mencoba mencari kesibukan dengan melihat postingan InstaKeram si anak baru :)
Tunggu.. sendirian?! Iya, karena Rey ingin membeli cemilan terlebih dulu. Dan membuatnya dengan terpaksa berjalan sendirian.
Varo? Aish sudahlah, Varo memang the real of kebo. Tapi beruntungnya ia selalu bisa datang tepat 5 menit sebelum bel berbunyi.
"Manis sih," gumamnya saat melihat postingan si anak baru
BRUKKK..
"Aw... asshh..." ringis Via sembari mengusap kepalanya.
Karena terlalu fokus memainkan ponselnya, tanpa sengaja Via menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sedikit aneh memang, padahal Via sudah berjalan di pinggir, dan... lorong ini kan tadi masih sepi. Seharusnya..
Via pun mengumpulkan keberanian untuk melihat seperti apa sosok yang di tabraknya barusan, dan...
"Sorry... tadi gue terlalu fokus liat papan nama kelas, lo gapapa kan?" Tanyanya memastikan sembari membungkukkan badannya.
Tanpa sadar Via membuka mulutnya sangking terkejut.
Orang ini..
"Kenapa persis?" Tanyanya dalam hati.
"Gak, gak, lagipun katanya di dunia ini kita punya tujuh kembaran," imbuhnya berusaha menenangkan diri.
Dan tanpa Via sadari orang yang baru saja ia tabrak ternyata sudah berjongkok dihadapannya dan sedang menatapnya lekat.
"Gapapa kan?" Tanyanya lagi, dengan tangan yang ingin menggapai wajah Via.
"Gue gapapa." Ujar Via menepis tangan orang itu lembut.
Via pun segera bangkit dan meraih ponselnya yang ternyata terjatuh dengan posisi yang menunjukan dengan jelas apa yang sedang ia lihat.
Jujur Via sangat mengkutuk kecerobohannya.
"Euhm... maaf, ini salah gue, karena gue terlalu fokus sama hp, euhm lo gapapa kan?" Tanya Via sembari menepuk-tepuk roknya.
Via mati-matian mengkontrol dirinya agar tak terlihat gugup. Tapi justru yang ditanya hanya menyunggingkan senyum yang sulit di artikan, membuat Via makin gugup ditambah malu.
Via pun segera mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke saku seragamnya.
"Kenalin, nama gue noel, orang yang baru aja lo liat akun instakeramnya." Ujar Noel sembari mengulurkan tangan dengan senyum yang lagi-lagi susah di artikan.
"Mampus gue..." gerutu Via pelan
Sungguh, Via sangat mengutuk takdirnya hari ini. Mengapa semesta harus mempertemukannya dengan cara yang memalukan seperti ini.
"Nama lo?" Tanyanya lagi menyadarkan Via.
"Hah?" Tanya Via dengan polosnya.
Noel justru terkekeh melihat wajah bingung Via ditambah pipi Via yang memerah.
Sadar diperhatikan, Via pun makin menunduk. Jika saja ia bisa teleport, pasti sudah ia lakukan sedari tadi. Ia hanya berharap seketika dikepalanya muncul baling-baling bambu.
Noel justru mengambil kesempatan dengan meraih tangan Via "Nama lo?" Ulangnya lagi sembari menatap Via.
Pandangan Via seketika seperti terkunci "Vi.. ii.. aa.. via." Ujar Via gugup dan kembali menundukkan kepalanya.
Ia juga buru-buru menarik tangannya membuat Noel makin gemas.
"Udah sadar ternyata," ujarnya lagi pelan namun masih dapat didengar.
Entah ini sudah yang keberapa malu Via, yang jelas ia benar-benar ingin menghilang sekarang juga.
"Bisa tolong anterin gue ke kelas 12 ipa 2 gak? Bingung gue, dari tadi muterin, malah pojok ketemu pojok."
"Hah?" Tanya Via dengan polos, "Oh, iya, hooh, bisa kok bisa." Imbuhnya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Noel pun seberusaha mungkin menahan diri untuk tak menggigit Via. Ia benar-benar gemas dengan tingkah Via, Noel pun menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya untuk menahan diri.
"Ayo," ujar Via berjalan mendahului.
"Buru-buru amat neng," ucap Noel gemas melihat Via berjalan terburu-buru.
Entah mengapa seketika jarak menuju kelasnya terasa jauh sekali, sudah jalan paling dulu tapi seperti jalan di tempat. Hanya ada keheningan, tanpa terasa banyak mata mengintai.
12 IPA 2, akhirnya papan nama kelas itu masuk jarak pandang "akhirnya," ujarnya pelan. 
Via bernafas lega, akhirnya takdir buruknya hampir berakhir.
"Tuh kelasnya," ujar Via menunjuk ruang kelas di depannya.
"Wah, maka-ss,"
Belum sempat Noel selesai mengucapkan terimakasih, Via sudah terlebih dulu pamit dan pergi.
"Gue duluan." Pamit Via.
"Sih, hahaha, gemes."
Bukannya masuk kedalam kelas, Noel justru diam-diam mengikuti Via.
"Oh disana." Ujarnya setelah melihat Via masuk kedalam kelas yang ternyata hanya berbeda lorong dengan kelasnya.
"12 IPA 1? Hm, berati sama kek dia," ucapnya lagi sebelum memasuki kelas.
BRUKKK..
Via menghempaskan tasnya diatas meja singgahsananya.
"Argh, buruk." Gerutunya.
Ia pun menumpukan kepalanya diatas meja dan berusaha memejamkan mata, harap-harap waktu dapat cepat berlalu.
Tak lama berselang, para penghuni kelas pun mulai berdatangan, termasuk Varo dan Nanda yang datang berbarengan.
"azeg, yang udah pdkt ama anak baru." Ujar Nanda menggema, membuat beberapa melihat kearah Via penasaran.
Seketika Via mengangkat kepalanya dan menatap Nanda penuh tanya "Kok bisa tau?" Ujarnya dalam hati.
"Sans, cuman nganterin kan?" Tanya Nanda yang diangguki Via.
Rasa penasaran teman-temannya pun seketika tuntas begitu saja setelah melihat anggukan Via.
Lagi-lagi Via bernafas lega, setidaknya bukan berita buruk untuk saat ini.
Ia pun kembali menumpukan kepalanya sembari menunggu jam pertama tiba. Baru saja memejamkan mata, ada yang menepuk pundaknya, membuatnya dengan terpaksa harus mengangkat kepalanya lagi.
"Mood lu ancur ya?" Tanya Nanda diangguki Via sebagai jawaban.
"Iya sih, keliatan dari muka lo, rusak dari pagi tuh emang paling nyebelin, ye gak?" Tanya Nanda berusaha mencairkan suasana, namun lagi-lagi Via hanya mengangguk untuk menjawab.
"Tidur gih, tar gue bangunin kalo pak Dito dateng." Ujar Nanda yang lagi dan lagi hanya diangguki Via.


Sekitar lima menit Via memejamkan mata, akhirnya bel jam pertama pun berbunyi. Langkah Pak Dito juga sudah terdengar.
FISIKA pelajaran keramat bagi Via, Varo, Nanda dan mungkin juga bagi teman-teman sekelasnya. Anehnya mereka bertiga tak pernah mendapat nilai jelek. Mungkin inilah alasan mereka bisa masuk kelas unggulan ini.
Tetapi sepertinya... hari ini ada yang aneh dengan pak Dito, kali ini beliau tidak ditemani penghapus hitam favoritnya. Tetapi justru di temani oleh seseorang yang...
"Selamat pagi anak-anak" Sapa pak Dito memasuki ruang kelas.
"Bapak harap kalian semua sudah siap untuk mempelajari materi bapak hari ini, ya nak, mengingat kalian sudah dipenghujung kelas, dan akan menghadapi banyak jenis ujian, terutama Ujian Sekolah." Sambutan beliau panjang×lebar×tinggi:dua.
"Ekhem, kali ini bapak tidak ditemani penghapus bapak, karena penghapus itu tertinggal didalam laci," ujarnya menjelaskan dengan senyum canggung.
"Ha..ha, iya, bapak tau, wajah kalian terbaca soalnya." Ujar pak Dito dengan nada medok khasnya berusaha mencairkan suasana.
Varo pun tiba-tiba terkekeh sambil mengkode teman-temannya untuk ikut tertawa sepertinya.
"Oke baik, cukup nak tertawanya ya, kali ini bapak membawa kawan baru untuk kalian, nanti dia bakal kenalin diri, dan bapak harap kalian semua dapat saling membantu ya."
"Baik nak, kamu silahkan maju ketengahan situ, dan kenalin diri kamu." Ujar pak Dito mempersilahkan.
Anak itu pun mengangguk dan maju ketengah untuk memperkenalkan diri.
"Hai, kenalin nama gue Stevanus Imaniel Saputra biasa dipanggil Niel, ehm, semoga kita akur." Ujarnya singkat dan dengan tatapan yang menusuk.
"Hai,"
"Salken ya,"
"No hp sabi kali,"
"Tentu tanggal yuk mas,"
"Azeg list cogan gue nambah,"
"Cakep sumpah,"
"Manis dah,"
"Gak usah galak dong liatnya,"
"Kek koko surabaya gak sih?"
"Koko boboboy?"
"Cakep asli,"
"Ini nih, yang semalem diomongin lambe,"
"Gila, ternyata cakep bener,"
Dan masih banyak lagi respon menarik dari teman-teman kelasnya, namun tak terlalu dipedulikan Via.
Berbeda dengan Nanda... astaga sudah tak bisa dijelaskan, pandangannya terkunci sedari Niel baru memasuki kelas.
"Baik Niel kamu bisa duduk di bangku kosong belakang itu, tepat sebelahnya nak Varo ya." Ujar pak Dito menunjuk bangku disebelah Varo yang kosong.
"Nak Varo tolong dibantu ya temannya," ujar pak Dito lagi sembari membenarkan kacamatanya yang turun.
"Siap pak."
Varo sudah tau dia siapa, karena semalam ia segera mencari info tentang si kembar yang Nanda bicarakan.
"Vi, berarti dia kembarannya yang lu anter tadi dong?" Tanya Nanda berbisik.
Seketika Via membelalakan matanya, "Mampus." Ucapnya pelan.
"Buka buku paketnya, Bab 6."


"Vi, itu si noel dari tadi gua peratiin ngeliat arah sini mulu ya,"
"Liatin lu kali nan," jawab Via malas
"Mungkin dia tertarik sama kak via,"
"Ngada-ngada,"
"Cemburu var?" ledek Nanda yang dihadiahi tatapan maut Varo.
"Ya kagak, tapi jangan tuh kembar kek, noh liat noh, baru sehari aja dah punya geng, petingkah banget jadi orang." Ucap Varo berusaha terlihat biasa saja.
"Terus, maksudnya via sama siapa bolehnya? Sama lo?" Tanya Nanda lagi membuat Varo tersedak.
"Bujut dah, plis, pokus makan aja napah ya tolong orang-orang," ucap Via penuh penekanan
Seketika mereka terdiam dan melanjutkan makan seperti yang Via perintah. Bagi mereka, maung Via lebih horor dari maung bu Wati.
DDINGG.. DDINGG.. DDONGG..
"Panggilan untuk ananda greyzavien zefanalda eunoia sa poetri, harap segera ke ruang kepala sekolah, terimakasih."
DDINGG.. DDINGG.. DDONGG..
BRAKKK..
Via membanting sendoknya cukup nyaring membuat beberapa melihatnya penuh tanya.
"Pamit." Ujar Via sembari membereskan piringnya.
"Hati-hati sayang!" Teriak Nanda.


TTOKK.. TTOKK.. TTOKK..
"Masuk," sahut seseorang dari dalam ruangan itu.
KRETTT..
"Permisi pak.." sapa Via lembut.
"Nah, nak via, sini nak duduk dulu."
Via pun mengangguk, dan duduk di kursi tamu seperti yang ditunjuk pak Kepala Sekolah.
"Ehm.. Ada.. apa ya pak kira-kira?"
"Jadi begini nak, baru saja tadi bapak rapat membahas posisi kamu sebagai bintang sekolah." Ujar kepala sekolah sedikit menggantung ucapannya.
"Jadi kan selama ini kamu belum memiliki pangerannya, dan menurut hasil rapat, pihak sekolah akhirnya memiliki kandidat yang pas untuk kamu." Jelas beliau.
"Eum, Maaf sebelumnya pak, ini hanya pendapat spontan saya, tapi, bukankah sedikit aneh ya pak, saya baru memiliki pangeran di penghujung jabatan saya."
"Jelas tidak dong nak, lagi pun nak eliya juga sudah mendapatkan pangeran untuk menemani masa jabatannya."
"Eum.. maaf pak jika lancang, tapi apakah saya boleh tau, pangeran eliya itu hasil dari rapat juga kah? atau hasil dari tunjuknya?"
"Sama seperti kamu nak, melalui hasil rapat juga." Ujar beliau.
Via pun hanya mengangguk sembari tersenyum, berusaha terlihat biasa saja.
"Terus.. pangeran saya yang dimaksdu itu siapa ya pak kira-kira? Apakah varo?" Tanya Via.
Tetapi pak Kepala Sekolah justru menggelengkan kepalanya, "Kita tidak ingin menambah beban kamu nak, gosip kalian banyak dan 75%nya buruk. Jadi bapak dan ibu guru menunjuk seseorang yang baru, dan pastinya dapat kamu ajak kerja sama untuk menyelesaikan progam kerja kamu."
TTOKK.. TTOKK.. TTOKK..
"Silahkan," sahut pak Kepala Sekolah.
KRETTT...
"Permisi pak, maaf saya telat, tadi pas dipanggil saya sedang antri bayar makanan."
"Iya nak tidak masalah, oh iya via, ini dia orangnya." Tunjuk Kepala Sekolah kepada orang yang baru saja memasuki ruangan ini.
Tunggu?! orang ini..
Seketika Via membelalakan matanya tak percaya, jadi kandidat itu.. Noel?!
Benar-benar semesta belum puas mempertemukannya.
Namun Noel justru tersenyum yang masih tak dapat diartikan Via.
"Noel adalah kandidat satu-satunya, dan otomatis menang telak, maka Noel lah yang akan menemani masa akhir jabatanmu via." Jelas pak Kepala Sekolah.
Untuk pertama kalinya, Via tak dapat menyembunyikan raut kekecewaannya.
"Baik pak," jawab Via dengan sisa tenaganya.
"Lucu," batin Noel.


"Vi, kayanya gue gak bisa anter lu deh," sesal Varo karena mendadak saja ada rapat ekskul.
Varo adalah ketua basket di sekolahnya. Walau sudah kelas 12, tapi baginya adik tingkatnya masih terlalu dini untuk dilepas begitu saja. Maka terkadang Varo akan membantu mengarahkan apa yang harus dilakukan.
Dan Rey memang sudah pulang terlebih dulu karena perbedaan jam pulang antara kelas 10 dan kelas 12 yang terpaut satu jam lamanya.
Argh.. benar-benar takdir sedang menjaihilinya hari ini.
"Gapapa var, lagi pun gue bisa telfon pak anton kok." Jawab Via lembut sembari menyunggingkan senyuman berusaha meyakinkan Varo bahwa dirinya tak apa.
Padahal dalam hatinya, ia sedikit gelisah. Karena jam sudah menunjukan pukul 4. Ditambah langit yang mendung menambah beban kesialannya. Via yakin pasti takdir sedang menertawakannya.
Tak disadari, dirinya ternyata ikut tersenyum, "aish manisnya, diabet dah gue." Batin Varo.
"Maaf vi.. kalau gak lu duduk di tribun aja sampe pak anton nyampe, biar masih bisa gue pantau." Tawar Varo.
Baru saja Varo ingin menarik tangan Via, Via sudah terlebih dulu menarik tangan Varo.
Ia genggam dan usap pelan berusaha meyakinkan. "Gue udah gede var, tenang aja, gue gak bakal kenapa-napa, lagi ini lingkungan sekolah, mana ada sih orang yang berani macem-macem?" Ujar Via dengan senyum teduhnya.
"Gue duluan ya," pamit Via.
DRRTTT.. DRRTTT.. DRRTTT..
"Maaf, nomor yang anda tuju sesang berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi, atau, tekan 1 untuk meninggalkan pesan suara." -opahtor
"Ah elah, pak anton kemana sih? Kok tumben hpnya gak aktif." Ujar Via kesal.
Ia pun melihat sekeliling harap-harap ada keajaiban. Mendung yang makin pekat, ditambah suasanya yang sepi membuatnya makin saja benci dengan hari ini.
"Tau gini gue gak masuk dah, mana mau ujan, udah sore, bis sekolah udah gak lewat." Gerutu Via sembari menghentak-hentakan kakinya.
Bohong memang jika Via menjawab tak tau akan kasus yang belum lama ini terjadi ditempatnya kini berdiri.
Pencabulan yang dilakukan oleh sekelompok geng motor. Dan rumornya, geng itu berasal dari sekolah tempat asal Noel dan Niel.
BRMMM.. BRMMM.. BRMMM..
Tiba-tiba deruman motor yang ramai mulai terdengar dari kejauhan, awalnya Via pikir ini hanya halusinasinya. Tapi sialnya, ia memang melihat motor-motor itu semakin mendekat kearahnya.
Via buru-buru mengambil semprotan cabe yang ia taruh selalu didalam tasnya.
CKITTT..
"sendirian neng?" Tanyanya yang dihadiahi semprotan cabe oleh Via.
Tapi.. suaranya..
Saat orang itu membuka menaikkan kaca helmnya..
"Ihh, pinternya, tapi.. ini gue," ujarnya, tetapi Via tak begitu mengenali karena hanya matanya saja yang terlihat.
Orang itu pun mulai membuka kait helmnya, seakan mengerti bahwa Via tak mengenalinya.
Seketika Via membelalakan matanya terkejut, setelah mengetahui ternyata orang yang baru saja ia semprot tadi..
Ia pun menyangkutkan helmnya di spion dan menyugarkan rambutnya. Tetapi Via, masih saja mematung tak percaya.
Noel mengusap wajah Via kasar, "Biasa aja," ujarnya sembari terkekeh melihat wajah Via yang menganga.
"Noel?" Ucap Via pelan tapi masih dapat didengar.
"Iya, cantik," ujar Noel lembut.
"El, pimpin yang lain ke markas,"
Via yakin, orang yang baru saja dipanggil el itu adalah Niel. Argh, benar-benar takdir buruk yang berkelanjut.
Via heran, mengapa takdir dan semesta belum puas mempermalukannya. Ia juga yakin, tak lama pasti gosip-gosip tentangnya bermunculan.
DRMMM..
Suara bising itu perlahan menjauh.
"Naik sini," ajak Noel menepuk-nepuk jok yang kosong di belakangnya.
Naik? Naik kemana? Tanya Via bingung dalam hati.
"Nih," ujar Noel lagi sembari memberikan helmnya.
Via dengan ragu-ragu mengambil helm itu, antara gengsi, malu, tapi juga takut jika ia menolak maka makin larut lagi ia pulang.
"Udah sore, gak usah kebanyakan mikir, ayok buruan." Ujarnya.
Dan Via, justru menganggukan kepalanya, seakan setuju akan ucapan Noel. Via pun memakai helm itu tapi tanpa ia kaitkan. "Lagi pun hanya dekat." Pikirnya.
Tiba-tiba Noel menarik tangan Via pelan, mengajaknya untuk segera naik keatas motornya, "Sini naik." Ucapnya.
Lagi-lagi Via menganggukan kepalanya, dan naik keatas motor Noel.
Mungkin jika ada lomba mengangguk Via akan memenanginya, atau mungkin saja Via sedang belajar menjadi patung hokben.
Baru saja duduk, Noel justru turun dari motor membuat Via membelalakan matanya karena motornya yang tiba-tiba miring.
Noel melepaskan jaketnya, dan mengikatkannya di pinggang Via yang ramping. "Biar gak terbang-terbang," ujarnya sembari mengkencangkan ikatannya.
"Sialan, kok perut gue kek kruyuk-kruyuk, tapi ini bukan bunyi laper." Pikirnya bingung akan apa yang sedang ia rasakan kini.
"Kenapa?" Tanya Noel melihat wajah bingungnya Via.
Tetapi Via hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Loh, kok gak di kunci?" Tanya Noel sembari mengkaitkan helm Via.
"Kalo gue ketilang gak masalah, tapi kalo tiba-tiba jatoh terus pala lu kebentur aspal gimana?" Tanya Noel dengan nada yang bagi Via tergolong lebay.
"Doa lu jelek banget," ucap Via sembari memutar matanya malas.
"Bukan doa, tapi ngehindarin takdir buruk yang demen gentayangan deket kita aja."
Setelahnya, Noel pun langsung tancap gas menuju rumah Via.
"Justru lo takdir buruk gue," ucap Via dalam hati.
Tetapi, "Yah, gue telat ya vi..." ucapnya lesu.

Book Comment (70)

  • avatar
    Sela Solihawati

    seruuu

    06/08

      0
  • avatar
    FredrinnUmar

    bagus lahh

    06/12/2024

      0
  • avatar
    FitriaAnnisa

    bagus banget ceritanya

    29/11/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters