Keluarga yang berkecupan ternyata tak membuat hati gadis yang kini tengah mengenyam pendidikan di salah satu SMA swasta ternama di Indonesia itu bahagia. Semua tersedia namun tetap saja kejanggalan masih terasa baginya. Iri terkadang kala memandang keluarga yang tinggal didepan rumahnya. Kala rapuh, mereka saling menguatkan. Berbeda dengan dirinya yang merengkuh sendiri untuk tetap bertahan. Greyzavien Zefanalda Eunoia Sa Poetri, atau yang akrab di panggil Via, lagi-lagi melamun menatap langit-langit kamarnya. "Lusa serunya ngapain ya," pikirnya sedari tadi. Sibuk menerka-nerka apa yang harus ia lakukan pada hari bahagia adiknya. Memiliki adik dan dua sahabat ternyata membuat kehidupannya sedikit berwarna. Yaps, Mahendra Alvaro Defantra Kusuma atau yang kerap disapa Varo. Si tetangga depan rumahnya itu memang sudah bersahabat baik dengan Via. Persahabatan kedua orang tuanya yang begitu erat, membuat mereka berdua sudah menyatu sebelum mengenal kerasnya dunia. Bahkan bagi Via, Bunda Varo adalah Bundanya juga.
Banyak yang mengaku iri dengannya, terutama karena materinya. Tetapi bagi Via, itu semua belum cukup membuatnya bahagia. Justru ia lebih iri dengan Keluarga kecil Kusuma yang begitu harmonis. Sering di sangka berpacaran, bahkan terparahnya pernah disangka sudah menikah pun biasa mereka lalui. Tetapi mereka memilih untuk tidak mempedulikan. DRRRTTTT.. Bunyi notifikasi ponselnya menyadarkan lamunan. Sebenarnya Via sudah curiga saat melihat nama yang terpampang pada notifikas, terlebih isi pesan singkat terakhirnya. Tapi ia tetap membukanya, harap-harap pikiran buruk yang sempat terlintas itu salah. Tetapi, BUGH.. Suara ponselnya yang dilempar ke sembarang arah. Untung saja ponselnya terjatuh dan memantul diatas bantal. HUFTT.. Hembusan nafas gusar menggema memenuhi kamarnya. Isi pesan dari Maminya pun terus berputar, membuat kepalanya pening. Via masih tak habis pikir, bagaimana bisa Maminya tidak jadi pulang. Padahal ini sudah direncanakan dari jauh-jauh hari, sengaja karena ingin menjadi surpries paling utama untuk adiknya. "Bahkan meluangkan waktu lusa untuk ulang tahun Rey, Mami dan Papi ga bisa kah? Gak harus kalian berdua... Salah satunya saja udah cukup," Pikirnya runyam. Bahkan ia sampai terisak. Dadanya mulai sakit, bahkan migrainnya mulai terasa. Sering menahan sesak bahkan sejak dini, membuatnya tak kaget akan hal seperti ini. Tetapi ia terus merahasiakannya, karena tak ingin ada yang tau bahwa dirinya juga bisa lemah. Sebab ia paling tidak suka dikasihani entah dari siapapun itu. Via pun berjalan ke arah jendela kamarnya dengan tangan yang terlipat didepan dada. Melihat pemandangan luar lengkap dengan udara yang segar mungkin dapat membantunya. Berdiri melamun dengan tatapan kosong sembari beberapa kali menghembuskan nafas gusar. "Sesibuk itukah Mi?" Cicitnya pelan. Bahkan raut kecewanya terlihat jelas. Raut yang biasa ia sembunyikan. Tiba-tiba memori akan ulang tahunnya yang ke tujuh terputar, momen dimana saat-saat ia mulai mengenal dunia justru tak bersama kedua orang tuanya. Dimana tepat di hari bahagianya itu ia masuk ke jenjang sekolah dasar, namun hanya ditemani oleh dua asisten rumah tangganya, dan dua supir pribadinya. Padahal kala itu hampir semua murid disana ditemani oleh kedua orang tuanya. Saat itu suasana menjadi heboh karena Via yang dikawal empat orang sekaligus, bahkan ada beberapa orang tua yang langsung menjilatnya. Membuat Via risih bukan main. Cukup miris bukan? Untuk usia yang masih belia, ia sudah mengenal jilat menjilat terbelih benefit yang ingin mereka dapatkan "naik kelas sosial." HUFFTT... Okey ini kesekian kali nafas gusarnya menggema. AKHHH... Ringisnya sembari memegangi kepala yang rasanya seperti ingin pecah. Bahkan yang diseberang sana pun ikut kepalang kabut. "Papi sibuk karena mau berikan semua yang terbaik untuk kamu sayang." Jawaban andalan Hendja setiap kali ditanya kenapa ia selalu saja sibuk pun ikut terlintas membuat putaran dikepalanya semakin kuat. "Gue harus apa Vi?!." Batin Varo bertanya. Ia sibuk mondar-mandir mengelilingi kamarnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membantu Via. Karena sebenarnya sedari tadi ia memperhatikan Via dari balik jendela kamarnya. Tetapi sang empu tak sadar-sadar sedari tadi diperhatikan. "Argh, bang*at! Gue gak bisa gini terus!." Varo pun beranjak mengambil jaketnya. Ia sudah membulatkan tekadnya. Ia tak bisa jika harus menjadi penonton saja, sedang yang dipertontonkan meringis kesakitan. Melihat Via tak henti meringis sambil memegangi kepalanya, membuatnya tak bisa menahan diri. Baru saja ia memutar kenop pintu kamarnya, tiba-tiba ia mendengar suara gebrakan dari seberang. Membuat atensinya teralih penasaran siapa yang berani membuat kegaduhan itu. Padahal ia sudah mengetahui gambarannya, tetapi ia ingin memastikan. BRAKK.. BRAKK.. BRAKK.. "Kakak!" BRAKK.. BRAKK.. BRAKK.. "Argh!" "Kak, jawab kek buru!" BRAKK.. BRAKK.. BRAKK.. "Woy kak!" BRAKK.. BRAKK.. BRAKK.. BRAKK.. BRAKK.. BRAK.. "Apaan!" Teriak Via menjawab. Bahkan Varo saja ikut terjengkat mendengar teriakan Via, padahal belum ada 5 menit yang lalu ia melihat Via meringis seru. "Gue sama Eliya mau beli sebla Bang Jamal, mau nitip gak?!" Tanya Rey dengan urat yang terlihat jelas di lehernya. "Mau satu yang pedes banget!" Jawab Via lagi. Hanya membayangkan seblak legendaris bang Jamal dengan kuah merah merekah, ditambah rasa yang sangat pedas favoritnya pun sukses membuatnya meneguk saliva. Bahkan peningnya ia hiraukan. "Udah di bilangin jangan sering makan pedes, batu banget si lo," gerutu Varo kesal. Tetapi disatu sisi ia merasa tenang, karena Via sudah mulai mengembangkan senyumnya. Walau ia tau bahwa senyuman itu pura-pura. "Rey buruan keburu rame!" Teriak Eliya dari depan pagar rumahnya. Eliya = toa masjid "Sabar!" Balas Rey ikut berteriak. Tak selesai-selesai ia sedari tadi, masih saja kelimpungan mencari kunci motornya. "Nah ketemu!" Ucapnya senang saat menemukan kunci motornya yang ternyata tergeletak di kolong meja ruang tamu. Rey pun segera menuju garasi untuk mengeluarkan motornya. "Naik," titahnya pada Eliya. Eliya pun melompat naik keatas motor membuat Rey terjengkat dan hampir saja menjatuhkan motornya. Diperjalanan, Eliya mendapatkan pesan dari abangnya untuk mengurangi level pedas pesanan Via. "Dek, punya Via samain kek kita aja." "Berani berapa bang?" "Perlu lu berapa?" "100M" "Kurang hajar." Varo pun mengubah nama kontak adiknya itu menjadi "Rentenir gak tau diri." :) • • "Turun sonoh," titah Rey setelah memberhentikan motornya disamping kedai Bang Jamal. Bukannya turun, Eliya justru jahil dengan mencubit kecil pinggang Rey. Rey yang terkejut pun lagi-lagi hampir saja menjatuhkan motornya karena keseimbangannya goyah. "Eh.. eh.." ucap Eliya panik karena ia hampir saja kena batu dari ulahnya sendiri. "Lagi elu.. buru turun!" "Sabar tuyul," jawab Eliya, ia pun segera turun dari motor yang sudah dua kali hampir terjatuh karena ulahnya. "Tolong sekalian yang punya gue 2, tapi satunya pedes banget ya," ujar Rey. "Buat?" Tanya Eliya, padahal ia sudah tau pesanan itu untuk siapa. "Kakak gue," jawab Rey yang di acungi jempol oleh Eliya. Rey pun kembali menyalakan mesin motornya untuk menepikan motornya agar tak mengganggu jalan. "Bang 4 pedes biasa ya," ujar Eliya sembari memastikan Rey tak dapat mendengarnya. "kenapa ga yang luar biasa aja neng kaya cinta saya pada neng?" Goda Bang Jamal. Eliya pun memutar bola matanya malas "Auah," jawabnya. Bukannya tersinggung, Bang Jamal justru terkekeh "Gemes." Rey yang samar-samar mendengar Eliya digoda bang Jamal pun membuatnya ikut terkekeh. "Ape lo!" Tanya Eliya dengan wajah yang siap menerkam. "Bujut galak bener nenek lampir," batin Rey. "udah napah el ga usah marah-marah terus, cepet tua," ujar Rey sembari mengacak rambut Eliya yang sudah susah payah di tata. Dan, yaps Eliya pun melayangkan satu tabokan khasnya. "Aw, gak boleh kasar, nanti cantiknya luntur loh," ujar Rey sembari mengusap-usap lengannya. Eliya pun merapihkan kembali rambutnya "Lagi elu sih reseh, udah capek-capek di catok juga," jawabnya. "Lagi siapa suruh timbang ke Bang Jamal doang pake nyatok," jawab Rey lagi tak mau kalah. "Auah emang cowok tuh gak bakal ngerti," jawab Eliya sambil memalingkan wajahnya dan melipat tangannya didepan dada. "Nah kan salah lagi gue," "Bayarin seblaknya," ujar Eliya kali ini sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. "Iya." Jawab Rey malas. • • BRAKK.. Suara pintu rumahnya yang di banting, dan Via tau pasti siapa dalangnya. Niat ingin menyemprot adiknya pun kali ini ia urungkan mengingat adiknya membawa makanan yang sedari tadi ia bayangkan. "Sesuai pesenenan kan?" Tanyanya sembari membawa nampan berisi sirup lengkap dengan empat gelas. Tunggu, empat? Iya, ia sudah tau pasti Eliya dan Varo kini juga berada di rumahnya, apalagi tadi Rey pergi dengan Eliya. "Iya kakak Rey paling cantik" jawab Rey tak menoleh karena kini tengah asik memainkan ponselnya. Dan benar saja, Varo dan Eliya berada di samping Rey dan sedang fokus membukakan bungkus seblak, mengingat ikatan plastik Bang Jamal memang legendaris sulitnya. Via pun menaruh nampan itu di atas meja dan duduk bersebrangan dengan Varo. "Kok..." cicit Via sambil mengerutkan dahinya. "Hm?" Dehem Rey tanpa menoleh lagi ke Via. "Warnanya kek sama semua? Gak salah kan lu dek?" Tanya Via menoleh ke Rey dengan wajah penuh tanya. Eliya yang mendengarnya pun langsung memberi kode ke Abangnya, bahwa ia telah melakukan sesuai instrupsi. Varo langsung mengangguk paham dan mencoba mengalihkan perhatian Via. "Cobain dulu Vi," ujar Varo sembari menyodorkan seblak dengan bungkus yang sudah ia buka "Nih yang punya lu," ujarnya lagi. "Euhm... okay," jawab Via akhirnya tak ambil pusing. "Punya gue tolong sekalian bukain dong bang," ujar Rey menatap Varo sembari memajukan bibirnya gemas. "ogah, noh buka sendiri," tolak Varo mentah-mentah sembari menyodorkan satu bungkus seblak yang belum dibuka. Sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba Eliya membisikan sesuatu "100M ato gue cepuin sekarang," bisik Eliya menyunggingkan senyum liciknya "numpung situasi mendukung," imbuhnya. Mendadak Varo pun tersedak setelah mendengar bisikan setan, ia pun buru-buru mengambil minum yang telah disiapkan Via tadi. Tanpa rasa dosa, adiknya justru menepuk-nepuk punggung Varo menenangkan. Padahal ia tau hal itu terjadi karena ucapannya. TTINGG.. TTUNGG.. Bunyi notifikasi ponsel Varo membuyarkan keheningan yang sempat tercipta karena semua tengah asik menikmati sedapnya seblak legendaris. Puluhan balon pesan Nanda kirim kedalam grup ghibah, tapi tidak kunjung ada balasan membuatnya menahan geram. Pasalnya ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Dari sekian ponsel yang ada disana, memang hanya ponsel Varo yang tidak dimatikan bunyi notifikasinya. Tetapi Varo tidak menggubris, karena baginya tak etis untuk memainkan ponsel saat sedang makan bersama terlebih makanan kali ini adalah seblak legend Bang Jamal. "Bang, hp lu bunyi terus tuh," tegur Eliya, membuat perhatian Via dan Rey pun ikut teralih. "Biarin dulu, tar kelar makan gue buka," jawab Varo enteng. "Ekhem, bang, abis ini maen ps di kamar gue yok," ajak Rey mengingat ia baru saja menginstall game baru. "Terus gue gimana:(" tanya Eliya sembari memajukan bibirnya. "Nyobain make up baru gue aja yok el," ajak Via. "Okey fiks gass ngueng," seru Eliya semangat. Mereka pun kembali menyantap seblak sambil membahas hal-hal random, topik terserunya adalah saat membahas si ibu guru cantik nan killer mereka, Bu Wati. Mengajar bahasa Inggris tiga angkatan sekaligus membuat mereka ber-4 merasa bosan. Bukan karena pelajarannya tapi karena gurunya yang tak ganti-ganti:) Cantik sih, bahkan ootdnya tak ada yang gagal. Selalu FASHIONABLE lengkap dengan high heels khasnya setinggi 5cm dimana suara tapak hellsnya menjadi pertanda kehadiran. Tak lupa pegangan wajib di tangannya yaitu penggaris kayu maha dasyat sepanjang 30cm. Ia memang bukan tipe guru yang suka teriak dan memukul, "Bukan level," kalau katanya. Tapi kata-katanya... mampu menembus ginjal bahkan lima orang sekaligus. Akhirnya mangkok-mangkok pun mulai bersih, Rey dan Varo langsung menuju kamar. Memang dasar laki-laki pemalas:( Berbeda dengan Via dan Eliya yang memilih untuk membantu Bi Inah terlebih dulu untuk membereskan kekacauan yang tercipta, mulai dari gelas-gelas hingga bungkus seblak. Padahal Bi Inah sudah menolak, tetapi mereka tetap saja ingin membantu. "Terimakasih ndok," ujar Bi Inah dengan suara medok khasnya, ia pun menaruh gelas yang dibawa Via ke dalam wastafel. "Iya ibuk sama-sama, via cuciin dulu ya buk, ibuk istirahat aja okey," ujar Via sembari memakai sarung tangan karet yang biasa Bi Inah pakai untuk mencuci piring. "Eh, ndok, gak, aduh, gak usah," jawab Bi Inah berusaha menghalang-halangi Via. Via pun tersenyum lembut dan mendorong pelan badan bi Inah "Gapapa buk," jawab Via dengan yakin. "Eliya bagian bilasinnya ya kak," tawar Eliya riang, kini ia juga telah berdiri disebelah Via. "Eh, ampun ndok juga gak usah ikutan." "Gapapa ibuk, ibuk duduk aja ya," jawab Eliya memberikan senyum manisnya. Bi Inah pun menatap takjub pada kedua perempuan yang mulai beranjak dewasa itu. Ada perasaan haru dalam benaknya, tak terasa ia sudah ikut andil membesarkan Via sejauh ini. "Dapet jodo ne seng tenan yo ndok ayu," bati Bi Inah. Di lain tempat, kini ada yang sedang keribetan memasang colokan terlebih Varo yang tidak ingin membantu. "Bang, ishh, bantu kek, onoh colokan yang di laci tolong ambilin kek," ujar Rey. "Gak," tolak Varo mentah-mentah. "ettt, ah, elah, abang mah," bujuk Rey. "Diem, urusan penting nih," jawab Varo masih setia menatap layar ponselnya. "Ah elah bang Varo mah." Varo memilih untuk tak mempedulikan dan melanjutkan melihat postingan InstaKeram Via. Bahkan tanpa Varo sadari senyumnya tak henti mengembang membuat Rey penasaran. Dan... "Ohh, gituu, sibuknya..." seru Rey yang ternyata sudah berada disebelah Varo. Varo pun terjengkat kaget dan buru-buru mematikan ponselnya "Eh, ga.. ga gitu," ujarnya panik. Tiba-tiba Rey berteriak membuat Varo semakin panik "KAK VIAAA!!! BANG VARO SUK..MMM..MMH.." dengan sigap Varo pun membekapnya. Tanpa Varo ketahui, belum lama ini kamar Rey sudah di modifikasi menjadi kedap suara. Membuat Rey makin tertawa lepas. "Hahaha, bang, ini kan kamarnya dah gue bikin kedap bege," ujar Rey dengan senyum meledek. "Bang*at." Umpat Varo pelan namun masih dapat didengar. "Disuruh ama kakak, gegara kalo maen game gua berisik bat katanya." Ujar Rey menjelaskan. "Bodo." "Gue cepuin ya," goda Rey. "Anj, jangan dodol!" "Turutin kemauan gue kalo gitu," ujar Rey mengancam lengkap dengan senyum liciknya. "okeh, gua turutin apa mau lo, asal gak cepu." "Duit dong 250M" ujar Rey mantap membuat Varo membelalakan matanya terkejut. "Ember?" Tanya Varo dengan wajah bingung. "Miliyar! Ah elah." "Gak." Tolak Varo mentah-mentah sembari memalingkan wajahnya. "Dih, kan duit lu banyak bang." Cicit Rey. "Bakal masa depan gue." "Ama kakak gue?" "Bacot lu." "Deal gak nih 250 miliyar?" Tanya Rey lagi memastikan. "Bang*ke, gak eliya, gak elu, sama aja setan." "Okeh kalau gak mau," Rey pun mengambil ancang-ancang untuk berteriak, dan... "KAKK VIAAA!!!!" Mendengar teriakan Rey yang tiba-tiba membuat Varo jadi berbicara asal, "Gua bakal jadi babu lo seminggu." "sebulan, atau gua lari ke kakak sekarang," ujar Rey menyunggingkan senyum evilnya. "2 minggu, atau gua bilangin ke via, lu baru aja nge-check out 20 jeti di tokowidiyak." Untung saja tadi Varo sempat melihat Rey saat sedang membayar tagihan TokoWidiyak. Spontan Rey pun terdiam dan menimang tawaran Varo, mengingat jumlah yang lumayan besar terlebih belum lama ini ia baru saja membeli laptop dengan alibi agar lebih semangat belajar, padahal sebenarnya hanya untuk bermain game. Sebenarnya mami dan papinya pasti memperbolehkan berapa pun itu "Asal anak seneng," kalau kata mereka. Tapi masalahnya yang dirumah kali ini itu kakaknya, yang entah sifat hemat nyerempet pedit dari mana bisa muncul di diri kakaknya. "Ga mau?" Tanya Varo membalas menyunggingkan senyum liciknya. "VIAAA!!!" Teriak Varo lebih lantang membuat Rey panik kalang kabut. "Deal." Jawaban yang membuat Varo tersenyum lebar. "Hitung-hitung gue punya dua adek, walau sifatnya cem setan semua," pikirnya. "Dari pada gue dijadiin peyek ama kakak," cicit Rey pelan tapi masih dapat didengar dan membuat Varo terkekeh. Varo pun bangkit dari kasur dan berjalan menuju rak tempat kabel-kabel berdiam "Sabar ya brader, sekarang gue bantuin deh nih, kuy." Setelah sibuk memasang beberapa colokan, akhirnya layar pun menyala dan mereka sudah mulai tenggelam dalam dunia yang mereka cipta. "Woy, lu pada kemana sih? Gue mau ngasih tau nih kalo ada anak baru disekolah kita_-" "Ganteng woy, kembar pula, @stvnoelptra sama @stvnielptra Noh kalo pada mo kepoin" kurang lebih inti dari pesan singkat Nanda seperti itu. Bahkan Eliya seketika jadi heboh, berbeda dengan Via yang justru masa bodo. Via memilih untuk kembali merapihkan meja riasnya, karena memang pada dasarnya Via jarang peduli akan hal seperti ini. Tak lupa ia mengambil beberapa alat tempur untuk bermain dengan Eliya seperti yang sudah ia rencanakan. Berbeda dengan Eliya, kini ia justru melamun. Bukan melamunkan tagihan TokoWidiyak, bukan:), tetapi sedang membayangkan seperti apa wajah si anak baru itu. Bahkan sedari tadi sibuk menerka-nerka wajah si anak baru, "Kak, kira-kira cogannya itu kelas berapa ya?" Tanya Eliya memecah fokus Via. Via pun kembali melanjutkan kegiatannya, "Hah? Kenapa emang? Mau lu gebet?" Tanya Via "Ish, kak, jan gamblang banget napah ngomongnya," ujar Eliya memajukan bibirnya. Ia merasa belum apa-apa sudah tertangkap basah. "Jadi tuh ya kak, mata kak nanda itu gak pernah gagal kak, apalagi kalau udah gempar gini nih, beuh... berati itu orang murni gantengnya," ujarnya lagi semangat. Dengan rasa penasaran, ia pun mulai membuka aplikasi InstaKeramnya. Akhirnya Via selesai dengan kegiatannya dan membawa sekotak penuh dengan alat tempur "Seandainya ganteng kenapa emangnya el? mau gebet?" Tanya Via menghampiri Eliya. "Gak tau sih, tapi mungkin iya, lumayan bakal jadi pasangan gue di duta sekolah, ye gak kak?" Tanya Eliya sambil mengangkat-angkat alisnya. "Yeuh, duta sekolah aja masih gue." "Iya napah iya," jawab Eliya sembari memutar bola matanya malas. "Btw nih kak, kok lu masih jomblo?" Selidik Eliya. "Hm," jawab Via malas. karena sejatinya ia malas membahas hal seperti ini. Baginya, berpacaran itu hanya menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan batin saja. "Lo, gak..." tanya Eliya membuat Via menjadi ambigu. "Mikir aneh-aneh gua tabok tuh pala ampe mlesep," ancam Via menatap Eliya tajam. Eliya dengan refleks memegang leher dan kepalanya sendiri secara bersamaan membuat Via tak bisa menahan gelak tawanya. • • Betapa terkejutnya Via saat melihat pantulan dirinya yang telah selesai di make up oleh Eliya, "maha karya" kalau katanya sih, tapi...
seruuu
06/08
0bagus lahh
06/12/2024
0bagus banget ceritanya
29/11/2024
0View All