Kevin memacu sepeda motornya menembus badai hujan sore itu, mengabaikan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam benaknya, hanya ada satu tujuan: sebuah kantor polisi sektor di pinggir kota, tempat paman sepupunya, Hendra, bekerja sebagai bintara administrasi. Dengan napas terengah-engah dan pakaian yang setengah basah, Kevin melangkah masuk ke ruang pelayanan. "Loh, Kevin? Kenapa kamu basah kuyup begini? Ada masalah apa?" tanya Hendra terkejut melihat keponakannya datang tanpa kabar dengan wajah tegang. Kevin menyeka sisa air hujan di wajahnya, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan foto plat nomor sedan hitam yang membawa Alena tadi siang. "Om Hendra, aku butuh bantuan penting. Tolong cek pemilik plat nomor mobil ini atas nama siapa. Ini... ini terkait keselamatan salah satu teman sekolahku." Hendra mengernyitkan dahi. "Vian, kamu tahu kan ini data rahasia? Polisi nggak bisa sembarangan melacak plat nomor kecuali ada indikasi tindak pidana." "Om, aku mohon," potong Kevin dengan nada putus asa. "Gadis yang ada di dalam mobil itu tertekan banget. Aku takut dia korban perdagangan orang atau semacamnya. Tolong, Om. Cuma cek nama pemiliknya aja." Melihat kesungguhan di mata keponakannya, Hendra akhirnya menghela napas. Ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan ruangan aman, lalu mengetikkan nomor plat tersebut ke dalam sistem database kepolisian. Namun, begitu tombol enter ditekan, layar komputer Hendra mendadak memunculkan kotak dialog berwarna merah terang dengan tulisan tebal: [AKSES DITOLAK: DATA DIBAWAH PERLINDUNGAN KHUSUS / LEVEL 1 CORPORATE]. Hendra terbelalak. Ia buru-buru menarik tangannya dari keyboard. "Kevin... kamu berurusan dengan siapa sebenarnya?" "Kenapa, Om?" "Mobil ini bukan milik orang sembarangan. Ini terdaftar di bawah nama perusahaan aset milik Dirgantara Group. Dan sistem kami langsung mengunci karena identitas pemilik aslinya diproteksi oleh pengacara tingkat tinggi," ucap Hendra dengan wajah pucat. "Saran Om, jauhi mobil ini. Siapa pun yang ada di dalamnya, mereka punya kekuatan hukum yang bisa melenyapkan kita dalam sekejap." Mendengar nama 'Dirgantara Group', jantung Kevin berdetak liar. Semua orang tahu siapa pemilik tunggal raksasa bisnis itu: Arzan Dirgantara, milyarder muda yang terkenal kejam dan tak tersentuh hukum. “Arzan Dirgantara? Jadi pria itu... yang membeli Alena?” batin Kevin, kombinasi antara rasa takut dan amarah yang luar biasa berkecamuk di dadanya. Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Tower, suasana ruang kerja sang CEO tampak mencekam. Arzan sedang berdiri menatap pemandangan kota di balik dinding kaca raksasanya saat Yudha melangkah masuk dengan tablet di tangannya. "Tuan," ucap Yudha dengan nada bicara yang sangat formal. "Sistem enkripsi keamanan aset kita baru saja mendeteksi adanya upaya pelacakan plat nomor kendaraan operasional Nona Alena." Arzan tidak berbalik. Ia hanya menyesap wiski di gelasnya, namun rahangnya mengeras. "Dari mana asal pelacakan itu?" "Polsek wilayah barat, Tuan. Dilakukan oleh seorang bintara bernama Hendra. Namun setelah kami selidiki lebih dalam melalui rekaman CCTV sekitar Polsek, yang meminta pelacakan itu adalah keponakannya... Kevin Aditya, ketua OSIS di sekolah Nona Alena." Krek. Gelas wiski di tangan Arzan berderit karena cengkeramannya yang terlalu kuat. Aura membunuh seketika menguar di dalam ruangan mewah tersebut. Senyuman dingin yang sangat mengerikan terukir di bibir sang milyarder. "Bocah ingusan itu rupanya benar-benar bosan hidup," bisik Arzan, suaranya terdengar seperti desis ular yang mematikan. "Dia tidak mendengarkan peringatan wanitaku." Arzan berbalik, menatap Yudha dengan mata elangnya yang berkilat gelap. "Yudha, jalankan rencana cadangan. Besok pagi, pastikan paman bocah itu dipecat secara tidak hormat dari kepolisian. Dan untuk Kevin... beri dia 'pelajaran kecil' malam ini agar dia tahu posisinya di dunia ini." "Baik, Tuan. Segera dilaksanakan." Malam itu, di dalam kamar tidurnya yang mewah di penthouse, Alena tiba-tiba terbangun dengan perasaan cemas yang luar biasa. Dadanya bergemuruh hebat seolah merasakan ada bahaya besar yang sedang mengintai orang-orang di sekitarnya, tanpa tahu bahwa benang rahasia yang coba ia jaga kini telah terurai dan siap menjerat leher siapa saja. --- Malam semakin larut ketika Kevin memacu sepeda motornya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Pikirannya masih dipenuhi oleh nama Arzan Dirgantara. Kepalanya berputar mencari cara bagaimana bisa menyelamatkan Alena dari cengkeraman rahasia sang milyarder. Jalanan yang ia lewati sangat minim penerangan, hanya mengandalkan lampu motornya yang temaram. Hujan telah reda, menyisakan aspal basah dan udara dingin yang menusuk. Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah mobil SUV hitam besar dengan lampu sorot tinggi melaju kencang. Mobil itu sengaja memepet motor Kevin, membuat cowok itu terkejut dan kehilangan keseimbangan. Ckiiiiittt! Kevin terpaksa membanting setir ke kiri, membuat motornya ambruk di atas tanah berumput di tepi jalan. Tubuhnya terlempar beberapa meter, menimbulkan rasa nyeri yang menjalar di bahu dan sikunya yang terbentur keras. "Sialan! Siapa sih?!" umpat Kevin sembari meringis kesakitan. Sebelum ia sempat bangkit, mobil SUV itu berhenti mendadak di depannya. Pintu mobil terbuka, dan tiga orang pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam melangkah keluar. Wajah mereka dingin, tanpa ekspresi, memancarkan aura preman profesional yang terlatih. Kevin memundurkan tubuhnya, instingnya meneriakkan bahaya. "Kalian... kalian siapa? Mau apa?!" Pria yang berdiri di tengah, yang tampaknya adalah pemimpin kelompok tersebut, berjalan mendekat. Ia berjongkok di depan Kevin yang masih terduduk di tanah. "Kau Kevin Aditya, bukan?" tanya pria itu dengan suara berat yang menakutkan. "Kalau iya, kenapa?!" jawab Kevin, mencoba memberanikan diri meski jantungnya berdegup liar. Bugh! Satu pukulan mentah mendarat telak di perut Kevin, membuat cowok itu terbatuk-batuk dan meringkuk menahan rasa sakit yang luar biasa di ulu hatinya. "Pukulan ini untuk mengingatkanmu agar tidak lancang mencampuri urusan orang dewasa," ucap pria itu dingin sembari menarik kerah jaket Kevin, memaksa wajah cowok itu mendongak. "Kau pikir kau siapa, hah? Berani-beraninya melacak plat nomor aset milik Dirgantara Group?" Mendengar nama itu, mata Kevin terbelalak. Tebakannya benar. Pria-pria ini adalah suruhan Arzan Dirgantara. "Kalian... kalian apakan Alena, bajingan?!" teriak Kevin dengan sisa tenaganya, kemarahannya mengalahkan rasa takutnya. Pria itu mendengus sinis, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan sebuah rekaman video singkat. Di dalam video itu, terlihat pamannya, Hendra, sedang diberhentikan secara sepihak oleh atasannya di kantor polisi, disuruh mengemas barang-barangnya dengan wajah frustrasi. "Pamanmu sudah kehilangan pekerjaannya malam ini karena kelancanganmu," bisik pria itu tepat di telinga Kevin. "Dan jika kau masih nekat mendekati Nona Alena, atau membuka mulutmu pada siapa pun tentang hal ini... bukan cuma pekerjaan pamanmu yang hilang, tapi nyawa keluargamu yang akan menjadi taruhannya." Pria itu menghempaskan tubuh Kevin kembali ke tanah. Ia bangkit berdiri dan meremukkan ponsel milik Kevin di bawah sepatu bot militernya yang tebal hingga hancur berkeping-keping. "Tuan Arzan Dirgantara mengirimkan salam untukmu, Bocah Sekolah," ucap pria itu sebelum berbalik dan masuk kembali ke dalam mobil SUV bersama anak buahnya. Mobil itu langsung melesat pergi, meninggalkan Kevin sendirian di kegelapan malam, menangis menahan sakit fisik dan kehancuran mental yang luar biasa. Sementara itu, di lantai 27 penthouse, Alena terbangun dari tidurnya karena mendengar suara pintu kamar terbuka. Ia melihat Arzan melangkah masuk dengan kemeja yang sudah agak longgar. Wajah pria itu tampak rileks, seolah tidak baru saja menghancurkan hidup seseorang. Alena bangkit dari ranjang, mendekati pria itu. "Mas Arzan... baru kembali? Dari mana?" Arzan menatap Alena, lalu menarik pinggang gadis itu mendekat ke dalam pelukannya. Ia mengecup pucuk kepala Alena dengan dalam, menghirup aroma wangi rambutnya yang menenangkan. "Hanya menyelesaikan sedikit gangguan kecil di luar, Alena," jawab Arzan dengan suara beratnya yang menenangkan, namun menyembunyikan kekejaman yang mutlak. "Sekarang, semuanya sudah aman. Tidak akan ada lagi yang mengganggumu." Alena memeluk dada bidang Arzan, tidak menyadari bahwa di bawah perlindungan posesif pria ini, duniar remajanya di luar sana baru saja diguncang badai yang sangat mengerikan. ---- Pagi itu, suasana SMA Harapan Bangsa digemparkan oleh pemandangan di koridor utama. Kevin Aditya, sang ketua OSIS yang biasanya tampil rapi, karismatik, dan penuh senyum, berjalan dengan langkah pincang. Sudut bibirnya pecah dan membiru, sementara pelipis kirinya ditutupi plester medis berukuran besar. Tangan kanannya dibalut perban kain kasa hingga ke siku. Bisik-bisik seketika menjalar di antara para siswa. "Kevin kenapa?", "Apa dia habis dikeroyok geng motor?", "Ada yang bilang dia kecelakaan." Alena, yang baru saja tiba di sekolah, membeku di tempatnya saat melihat kondisi Kevin dari kejauhan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Peringatan Kevin kemarin, ancaman Arzan dua malam lalu, dan ucapan Arzan semalam tentang 'menyelesaikan gangguan kecil' seketika menyatu di dalam kepalanya seperti kepingan teka-teki yang mengerikan. “Mas Arzan... apa yang sudah Anda lakukan?” batin Alena, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Alena berlari kecil mengejar Kevin yang hendak masuk ke ruang OSIS. Begitu Kevin membuka pintu ruangan yang masih sepi itu, Alena menyusup masuk di belakangnya dan langsung mengunci pintu dari dalam. "Kevin!" panggil Alena dengan suara bergetar menahan tangis. Kevin berbalik perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Alena, ada kilat ketakutan sekaligus trauma yang mendalam di netra cowok itu—sebuah tatapan yang belum pernah Alena lihat sebelumnya dari seorang Kevin yang pemberani. Kevin refleks mundur satu langkah, menjauh dari Alena. "Alena... kamu... mau apa ke sini?" suara Kevin parau, terdengar sember karena luka di bibirnya. "Kevin, jujur sama aku. Siapa yang melakukan ini? Apa... apa orang-orang Mas Arzan?" air mata Alena luruh, ia melangkah mendekat, berniat melihat luka di wajah Kevin, namun Kevin dengan cepat mengangkat tangannya yang diperban, memberi isyarat agar Alena berhenti. "Jangan mendekat, Al. Aku mohon, jangan dekat-dekat aku lagi," bisik Kevin dengan nada memohon yang sangat frustrasi. "Pria itu... Arzan Dirgantara... dia bukan manusia. Dia iblis." Alena menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah. "Maafkan aku, Kevin... Maaf..." "Om Hendra dipecat secara tidak hormat dari kepolisian tadi malam, Al. Hanya karena aku mencoba mencari tahu pemilik plat nomor mobil itu," kata Kevin, air matanya ikut menetes di sela luka-lukanya. "Orang-orangnya menyergapku di jalan sepi. Mereka bilang... kalau aku berani mendekatimu lagi, atau membuka mulut pada siapa pun... bukan cuma p jabatanku atau pekerjaan paman yang hilang, tapi nyawa keluargaku." Kevin menatap Alena dengan pandangan penuh keputusasaan. "Aku nggak punya kekuatan apa-apa buat melawan milyarder seperti dia, Al. Aku menyerah. Tolong... biarkan aku dan keluargaku hidup tenang. Jauhi aku." Kata-kata Kevin seperti belati yang menghujam tepat di ulu hati Alena. Rasa bersalah yang teramat sangat menyergap dirinya. Ia adalah pembawa sial. Karena dirinya, Dita menjauhinya, dan karena dirinya pula, hidup Kevin dan keluarganya hancur berantakan. Alena mundur perlahan dengan tubuh lemas. "Maafkan aku, Kevin... aku berjanji, aku tidak akan pernah muncul di depanmu lagi. Aku bersumpah." Alena membuka pintu ruang OSIS dengan tangan gemetar, lalu berlari sekencang-kencangnya menuju toilet perempuan. Di dalam bilik kamar mandi yang sempit, Alena menangis sejadi-jadinya, meremas seragam putihnya hingga kusut. Rasa sedihnya perlahan berubah menjadi kemarahan yang membakar. Ia menyadari satu hal: Arzan Dirgantara telah melintasi batas. Pria itu tidak hanya mengunci dirinya di dalam sangkar emas, tapi juga menghancurkan dunia luar Alena agar gadis itu benar-benar tidak memiliki tempat kembali selain ke pelukannya. Sore harinya, begitu Alena masuk ke dalam mobil sedan hitam, suasananya berubah total. Tidak ada lagi kepasrahan di wajah Alena. Yang ada hanya tatapan dingin dan rahang yang mengeras. "Pak Yudha," ucap Alena dengan nada suara yang dalam dan dingin, meniru gaya bicara Arzan. "Bawa aku menemui Tuanmu sekarang juga. Bukan ke apartemen, tapi ke kantornya."
lanjut
8d
0saya suka
8d
0View All