logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 CELAH DI BALIK PAGAR

Hari-hari berikutnya di SMA Harapan Bangsa terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca bagi Alena. Bangku di sebelahnya kini terasa begitu luas dan dingin. Dita benar-benar menepati janjinya; tidak ada lagi sapaan pagi, tidak ada lagi tawa bersama saat jam istirahat. Dita bahkan memilih pindah ke bangku paling depan, meninggalkan Alena sendirian di sudut belakang kelas yang sunyi.
Pengasingan sepihak itu tidak luput dari perhatian Kevin. Sebagai ketua OSIS yang peka, ia menyadari perubahan drastis dalam hubungan dua sahabat tersebut. Terlebih lagi, ia melihat Alena semakin menutup diri, wajahnya selalu menyiratkan kelelahan yang mendalam.
Saat jam istirahat kedua, ketika kelas kosong karena sebagian besar siswa pergi ke kantin, Alena memilih tetap tinggal untuk membaca buku persiapan ujian. Tiba-tiba, sebuah bayangan menghalangi cahaya matahari di atas mejanya.
Alena mendongak dan mendapati Kevin berdiri di sana, memegang sebotol susu kotak rasa cokelat kesukaan Alena dan sebuah roti.
"Kamu nggak ke kantin, Al?" tanya Kevin lembut, meletakkan makanan itu di sudut meja Alena. "Aku perhatiin beberapa hari ini kamu jarang makan siang."
Alena menatap makanan itu dengan perasaan campur aduk. Kebaikan Kevin terasa seperti garam yang ditaburkan di atas lukanya. "Nggak usah repot-repot, Kevin. Aku bawa bekal kok dari rumah. Makasih ya."
Kevin tidak pergi. Ia justru menarik kursi di depan Alena dan mendudukinya secara terbalik, menumpukan kedua lengannya di sandaran kursi. "Al, kamu bisa bohongi orang lain, tapi kamu nggak bisa bohongi aku. Ada apa antara kamu dan Dita? Kalian musuhan? Dan... wajah kamu pucat banget belakangan ini. Kamu beneran nggak apa-apa?"
"Aku nggak apa-apa, Kevin. Tolong, jangan terlalu peduli sama aku," bisik Alena, suaranya parau. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke jendela, takut jika menatap mata tulus Kevin akan membuat pertahanannya runtuh lagi.
"Gimana aku bisa nggak peduli, Al?" suara Kevin meninggi satu oktav, sarat akan frustrasi yang tertahan. "Aku suka sama kamu. Dari dulu. Dan melihat kamu kayak orang asing yang nanggung beban berat sendirian... itu bikin aku tersiksa."
Alena tersentak. Pengakuan Kevin yang begitu tiba-tiba membuat jantungnya berdegup kencang karena rasa bersalah. Sebelum ia sempat membalas, Kevin mengulurkan tangan, bermaksud menghapus sehelai anak rambut yang menempel di dahi Alena yang berkeringat.
Alena terlambat menghindar. Sentuhan jari Kevin mendarat di dahinya selama satu detik—sebuah interaksi yang tampak begitu intim dari luar jendela kelas.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa di seberang lapangan sekolah, di balik kaca film tebal sebuah mobil sedan hitam yang terparkir samar di bawah pohon rimbun, sepasang mata elang sedang menyaksikan adegan itu melalui lensa teropong kecil.
Arzan Dirgantara duduk di kursi belakang dengan rahang yang mengeras hingga membentuk garis yang sangat tajam. Jemarinya yang mengenakan cincin stempel keluarga Dirgantara mencengkeram sandaran tangan kulit mobil hingga memutih.
Ia sengaja menyuruh Yudha memutar jalur pulang dari kantornya hanya untuk melihat sekilas bagaimana keadaan *sugar baby*-nya di sekolah. Dan pemandangan yang tersaji di depannya justru menyulut api cemburu yang luar biasa membakar.
"Yudha," suara Arzan terdengar seperti desis es yang mematikan.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Yudha sigap, tanpa perlu menunggu perintah lengkap dari tuannya. Ia segera menyalakan mesin mobil.
Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi. Alena melangkah keluar gerbang dengan perasaan yang semakin kacau setelah konfrontasi emosional dengan Kevin tadi siang. Begitu ia sampai di tempat penjemputan biasa di dekat minimarket, pintu belakang sedan hitam langsung terbuka kasar sebelum Alena sempat mendekat.
Alena masuk dengan ragu, dan begitu pintu tertutup, sebuah tarikan kuat langsung menyentak lengannya. Tubuhnya terhempas ke atas pangkuan kokoh Arzan.
"M-Mas Arzan—"
Arzan tidak memberikan kesempatan bagi Alena untuk bernapas. Ia mencengkeram tengkuk Alena dengan kasar, membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang penuh dengan amarah, tuntutan, dan rasa cemburu yang meledak-ledak. Ciuman itu begitu intens hingga Alena bisa merasakan rasa perih di bibirnya yang tergigit.
Ketika Arzan melepaskan pagutan itu, napasnya memburu di depan wajah Alena. Matanya berkilat gelap, dipenuhi kegilaan obsesif.
"Sudah kubilang, bukan? Jangan biarkan bocah itu menyentuhmu!" geram Arzan, jarinya mengusap dahi Alena dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak sentuhan Kevin siang tadi. "Kau milikku, Alena! Setiap jengkal tubuhmu, pikiranmu, bahkan helai rambutmu adalah hakku!"
Alena menangis ketakutan melihat kemarahan Arzan yang begitu besar. "Mas... Kevin cuma bicara... dia nggak bermaksud apa-apa..."
"Aku tidak peduli apa maksudnya!" potong Arzan kejam. Ia memeluk tubuh Alena dengan sangat erat, menenggelamkan wajah gadis itu di ceruk lehernya, seolah ingin menyembunyikannya dari seluruh dunia. "Mulai besok, jam belajarmu di sekolah akan dipotong. Selesai ujian simulasi, kau harus langsung pulang. Dan jika aku melihat bocah itu berada dalam radius satu meter darimu lagi... aku akan memastikan beasiswa dan masa depan keluarganya lenyap dari kota ini."
Alena membeku di dalam pelukan posesif sang milyarder. Sangkar emas yang semula terasa melindunginya, kini perlahan terasa seperti jeruji besi yang siap mencekik siapa saja yang mencoba mendekatinya.
---
Keesokan paginya, langit Jakarta tampak mendung, seolah sejalan dengan suasana hati Alena yang kian kelabu. Ancaman Arzan semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika Arzan bilang bisa menghancurkan masa depan Kevin, maka hal itu bisa terjadi hanya dengan satu jentikan jari.
Alena tahu ia harus bertindak. Ia harus menjauhkan Kevin dari dirinya, demi keselamatan cowok itu sendiri.
Saat jam istirahat pertama, Alena sengaja menghadang Kevin di koridor dekat ruang guru—tempat yang cukup ramai agar tidak memicu kecurigaan, namun cukup bagi mereka untuk bicara serius.
"Kevin, bisa bicara sebentar?" tanya Alena dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar dan sedingin mungkin.
Kevin, yang melihat Alena menghampirinya, langsung tersenyum cerah. "Tentu, Al. Ada apa? Kamu udah baikan?"
"Ikut aku ke mading depan," ucap Alena singkat.
Begitu mereka berdiri di depan papan mading yang agak lengang, Alena berbalik menatap Kevin. Ia memaksakan matanya untuk menatap tajam, menekan seluruh rasa bersalah yang berkecamuk di dadanya.
"Kevin, aku minta dengan sangat... tolong berhenti peduli sama aku. Tolong jangan pernah dekati aku lagi, jangan ajak aku bicara, dan jangan pernah sentuh aku seperti kemarin," ucap Alena ketus, setiap kata terasa seperti duri yang menusuk tenggorokannya sendiri.
Senyum di wajah Kevin seketika pudar. Dahinya berkerut dalam. "Al? Kenapa tiba-tiba begini? Apa karena omongan Dita? Atau... karena pria di mobil mewah itu?"
Jantung Alena berdetak liar mendengarnya. "Itu nggak ada hubungannya dengan siapa pun! Ini demi kebaikan kamu sendiri, Kevin. Kita... kita berada di dunia yang berbeda. Dan kalau kamu terus nekat mendekati aku, kamu cuma akan menghancurkan masa depanmu sendiri. Tolong, jauhi aku."
Setelah mengatakan itu, Alena berbalik dan berjalan cepat tanpa menunggu respons Kevin. Ia tidak sanggup melihat luka di mata cowok baik-baik itu.
Namun, peringatan Alena justru memicu reaksi sebaliknya pada diri Kevin. Sebagai remaja laki-laki yang memiliki idealisme tinggi dan rasa keadilan yang kuat, ia tidak merasa takut. Malahan, kecurigaannya kini berubah menjadi keyakinan bahwa Alena sedang berada di bawah ancaman atau tekanan dari pria dewasa yang menjemputnya tempo hari.
“Dunia yang berbeda? Menghancurkan masa depan?” Kevin mengepalkan tangannya di dalam saku celana abu-abunya. “Siapa sebenarnya pria itu? Aku nggak akan biarkan Alena dimanfaatkan oleh orang kaya bajingan.”
Siang harinya, sepulang sekolah, hujan deras mengguyur kota. Sesuai perintah baru Arzan, Alena harus langsung menuju mobil jemputan tanpa penundaan satu menit pun. Dengan payung lipatnya, Alena berlari kecil menuju minimarket. Di sana, sedan hitam Yudha sudah menunggu.
Alena segera masuk ke dalam mobil. Ia tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, Kevin berdiri di bawah guyuran hujan dengan sepeda motornya. Cowok itu sengaja memakai jas hujan gelap agar tidak mencolok, matanya menatap tajam ke arah plat nomor sedan hitam yang membawa Alena.
Kevin mengeluarkan ponselnya yang dibungkus plastik klip transparan, lalu memotret plat nomor mobil tersebut dengan jelas.
"Aku bakal cari tahu siapa pemilik mobil ini," bisik Kevin bertekad, suaranya tenggelam di antara gemuruh suara air hujan yang menghantam aspal.
Sementara itu, di dalam mobil, Alena menyandarkan kepalanya yang terasa pening pada kaca jendela yang berembun. Ia menatap tetesan air yang mengalir di kaca, merasa seolah hidupnya kini sedang meluncur bebas ke dalam jurang yang tidak diketahui ujungnya. Ia merasa telah berhasil menyelamatkan Kevin dengan peringatannya tadi pagi, tanpa tahu bahwa tindakannya justru melempar Kevin ke dalam radar bahaya sang milyarder posesif.

Book Comment (2)

  • avatar
    SajaApa

    lanjut

    9d

      0
  • avatar
    Nevii_Chaa

    saya suka

    9d

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters