Sebuah parfum berkelas, keluaran luar negeri yang harganya cukup fantastis. Padahal, sebelumnya Mas Nata gak pernah suka menghambur-hamburkan uang. Jika pun membeli parfum, ya yang sewajarnya saja. Ketika ditanyakannya pada Mas Nata, suaminya itu menjawab jika parfum itu milik atasan yang tertinggal di sakunya. Suaranya sedikit bergetar ketika menjawab pertanyaan tersebut. Dari situ, Mbak Rifani mulai menaruh curiga pada sang suami. Negative thinkingnya keluar. Ia berpikir jika perubahan sikap suaminya dikarenakan ia belum bisa memberinya keturunan, padahal sudah tiga tahun menikah. ____ Hari-hari setelah malam itu, hubunganku dengan Mbak Rifani semakin dekat. Apalagi saat Mas Nata sedang keluar kota. Kemana-mana, perempuan kalem itu memintaku untuk mengantarnya. Dan sialnya, aku gak bisa menolak permintaan itu. Sudah seperti sopir pribadi saja. Bahkan aku pernah mencancel orderan pelanggan demi memprioritaskan Mbak Rifani. Tentunya tanpa memberi tahu perempuan itu. Jika dia tahu, pasti akan mengomel dan gak jadi minta diantar. Mbak Rifani memperlakukanku dengan sangat baik. Malahan, bisa dibilang … lembut. Seringkali dia memberiku perhatian lebih seperti perhatiannya pada Angga—adik kandungnya sendiri. Menyemangatiku untuk rajin narik orderan penumpang. Katanya, aku harus rajin menabung, biar tahun depan bisa melanjutkan kuliah. Dari banyaknya perhatian yang dia berikan, sepertinya aku mulai ngelunjak. Entah sejak kapan aku mempunyai perasaan sayang pada Mbak Rifani. Bukan lagi rasa sayang dari adik ke kakaknya, melainkan rasa sayang seorang lelaki dewasa kepada perempuan yang disukainya. Quote—indahnya cinta tak semanis namanya— yang pernah kudengar dulu, nyatanya sekarang malah menimpaku. Pada kenyataannya, cinta ini hanya bisa kurasakan dalam hati saja, tanpa bisa mengungkapkan pada dirinya. Aku harus memendam rasa cinta ini begitu rapat, tanpa seorang pun yang boleh mengetahuinya. Percayalah, keadaan yang seperti ini, justru begitu menyiksa. "Rif, bikinin gua kopi susu satu, ya." "Siap, Bang." Emak sudah berangkat tidur sejak satu jam yang lalu dan aku yang melanjutkan jaga warungnya. Dengan luwes, aku melaksanakan tugasku. Menyeduh kopi mah, sudah biasa bagiku. Di sela-sela obrolan para pelanggan Emak, terdengar suara dua orang tertawa yang semakin lama semakin mendekat Wajah Angga nampak setelah sampai teras warung. Di belakangnya, Mas Nata mengikutinya. Tadi sore, Mas Nata baru pulang dari luar kota. Seperti sebelumnya, perempuan yang kucintai itu akan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Ke mana-mana, akan diantarkan oleh pasangan halalnya. Gak membutuhkan jasa sopir lagi sepertiku. Hah, aku tersenyum sumbang. "Brow, gua juga mau dibuatin sekalian. Kopi tubruk yang ampasnya juga manis, ya. Haha …," ujar Angga setelah berada di dekatku. Yaelah Angga, masih diingat2 saja, kejadian konyol waktu itu. "Saya juga. Sama seperti Angga." Mas Nata ikut-ikutan memesan kopi. Tumben sekali lelaki itu ngopi di sini. Tiba-tiba aku merasa gerah. Keringat dingin sedikit menyapa kulitku. Ada rasa khawatir sekaligus gak nyaman. Apa dia sedang memata-mataiku? Apa dia mulai mencium gelagatku yang mempunyai perasaan cinta pada istrinya? Ah gak mungkin. Kami 'kan jarang bertemu. Lagian, aku gak sesembrono itu, memperlihatkan isi hatiku pada orang lain. Termasuk pada Mbak Rifani sendiri. Aku gak mau perempuan itu menjadi marah dan menjauhiku setelah tahu perasaanku yang sesungguhnya. Sepertinya hanya pikiranku saja yang over thinking. Mungkin seperti inilah perasaan maling, selalu was-was tanpa sebab, gak tenang. Nyatanya, setelah beberapa menit ngobrol dan main kartu remi bareng, kami gak lagi merasa canggung. Mas Nata adalah lelaki yang supel dan pintar menjaga penampilan, pantas saja jika Mbak Rifani begitu mencintainya. Untuk sesaat, aku melupakan cerita Mbak Rifani tentang Mas Nata waktu itu. Permainan kartu telah selesai. Berakhir dengan gelak tawa, menikmati pemandangan wajah Angga yang penuh dengan bedak bayi, karena dia sering kalah. "Rif, besok kuundang kamu makan malam di rumah, ya," ujar Mas Nata ketika hendak pulang. "Wah, ada acara apa, Mas?" "Itu, cuma syukuran kecil-kecilan saja, kok." "Oh, okay … siap, Mas." Kuterima saja undangannya, meski gak tahu, acara syukuran apa yang dimaksud. Aku sudah berada di kamarku. Menatap jendela yang pintunya lupa belum kututup. "Waduh … untung, Emak gak liat. Kalo tau aku belum menutup jendela hingga tengah malam seperti ini, pasti beliau akan ngomel." Aku berbicara sendiri sambil berjalan mendekati jendela, hendak menutupnya. Tanpa sengaja, kulihat lampu kamar di rumah sebelah baru saja menyala. Kata Angga waktu itu, kamar tersebut adalah kamar kepemilikan Mbak Rifani. Entah kebetulan atau apa, kamarku berdampingan dengan kamar wanita yang kucintai. Jendela kamarnya lebih lebar ketimbang jendela kamarku. Jendela yang terbuat dari lembaran kaca bening itu tertutup tirai berwarna putih. Hingga samar-samar aku bisa melihat pergerakan bayangan manusia di dalamnya. "Udah malam, kok malah menyalakan lampu. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan ya?" Tiba-tiba aku jadi kepo. "Setelah hampir seminggu gak bertemu, pasti mereka sedang kangen-kangenan." Aku menjawab pertanyaanku sendiri. Glek! Otakku mendadak traveling ke mana-mana. Astagfirullah … aku segera menutup jendela dan menjauhinya. Mungkin segera tidur, bisa membuat otakku kembali waras. Aku sudah berusaha merem, tapi tetap gagal tidur. Sudah setengah jam aku bolak-balik di atas ranjang, dari mulai miring, telentang, tengkurap, posisi seperti apapun tak juga membuatku nyaman dan tertidur pulas. Wajah Mbak Rifani beserta ceritanya waktu itu berputar-putar dalam ingatan juga pikiranku. Kata-kata Mbak Rifani waktu itu masih terekam jelas di ingatanku. "Dulu di awal pernikahan, Mas Nata pernah bilang kalau dia sangat menginginkan anak perempuan yang lucu, imut, pinter, cerdas, dan bikin gemes seperti Gempita Loka. Anak artis yang sudah terkenal dari Sabang sampai Meraoke sejak sebelum lahir itu. Pun dengan saya. Saya juga mendambakannya. Rasa bersalah berulang kali menampar jiwa, ketika menyelisik hasil dari tespek yang selalu menunjukkan satu garis berwarna merah keunguan." Sepertinya, Mbak Rifani benar2 sudah memercayaiku. Buktinya, dia menceritakan hal-hal yang sangat sensitive. "Saya sudah berusaha sebaik mungkin loh, Rif. Setelah melakukannya dengan suami, saya segera berbaring telentang dengan posisi kepala di bawah dan kedua kaki kuangkat ke atas, menempel dinding. Kata Mbah gugel yang sempat kuselancari, dengan posisi seperti itu selepas melakukan hubungan suami istri, cairan bibit bayi memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mencapai sel telur. Tidak lupa, kutaruh ganjalan bantal pada pinggul agar cairan cinta itu dapat terus masuk ke rahim." Mbak Rifani menjeda cerita. Mengambil napas sebelum melanjutkan curhatan yang mungkin saja membuat hatinya nyeri. "'Udah, gapapa. Besok dicoba lagi' ujar Mas Nata setiap kali saya tunjukkan benda kecil bergaris satu itu dengan muka masam. Dulu, suamiku itu selalu menenangkan, menyemangati, juga melantukan kata-kata lembut dan manis, agar saya nggak merasa bersalah berkepanjangan. Namun, akhir-akhir ini, sikapnya jadi sedikit berubah. Apalagi waktu aku mengajaknya periksa ke dokter, dia malah marah-marah. Katanya, saya terlalu teropsesi dengan anak. Padahal 'kan saya melakukan semua ini demi dia juga, demi keutuhan rumah tangga kami." Mengingat cerita Mbak Rifani waktu itu, membuatku terbawa perasaan. Begadang sendirian di dalam kamar sampai tengah malam, dengan ingatan tentang istri orang, maka yang bisa kulakukan adalah … Bersambung …
bagus
13/11
0mantap
15/06
0bagus
11/04/2025
0View All