logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 2 Telur 1 Sosis

"Nyuruh lu nganterin dia ke supermarket, katanya ada barang yang perlu dibeli. Sedangkan adiknya selalu pulang malem-malem."
Oalah, Mbak Rifani mau make jasa ojek toh. Kukira …
Aku sudah bersiap-siap mau mengetuk pintu rumah Mbak Rifani, tapi tiba-tiba benda berbahan kayu jati itu sudah terbuka, sebelum punggung tanganku menyentuhnya.
Wajah Mbak Rifani mendominasi pupilku begitu pintu terbuka lebar. Malam ini Mbak Rifani berdandan ala kadarnya, tapi justru membuat perempuan itu terlihat cantik alami, tanpa pemanis buatan.
Perempuan yang tingginya menyamai telingaku itu menggunakan kombinasi kaos lengan pendek dan celana kulot. Kaos bagian bawah, ia masukkan ke dalam kulot. Tampilannya terlihat kasual dan santai.
"Eh, Arif sudah datang rupanya," sapa perempuan itu dengan mengulas senyum.
"Iya, Mbak. Kata Emak, Mbak Rifani menyuruhku ke sini setelah bakda magrib. Memangnya ada apa Mbak?" Aku pura-pura menanyakan hal yang sebenarnya sudah kuketahui, untuk sekadar basa-basi.
"Oh iya, saya mau minta tolong, anterin belanja ya. Tenang, nanti pasti saya bayar sesuai ketentuan kok. Nyalain aja aplikasinya."
"Memangnya, Mbak Rif gak papa dibonceng pakai sepeda motor?" tanyaku memastikan.
Soalnya, pas aku memuji-muji pasangan yang selalu terlihat romantis dan bahagia itu, Angga cenderung mengejek. Kata Angga, suami Mbak Rifani tu cemburuan banget. Bahkan, Mbak Rif gak dibolehin keluar rumah sendirian. Takut istrinya digoda lelaki lain. Ah, kalau sayang mah, memang bawaannya takut kehilangan, iya gak sih?
"Kenapa? Kamu berpikiran kalo saya gengsi naik sepeda motor?" Yaelah, Mbak Rifani malah mengasumsikan pertanyaanku dengan hal yang berbeda.
Bibirnya sedikit mengerucut, seolah menawarkan untuk digigit. Pasti rasanya manis. Eh, astagfirullah.
"Ehmm bukan, bukan itu maksudku, Mbak. Hmm, yaudah mari kuantar belanjanya." Akhirnya aku pasrah saja, lagian 'kan aku hanya dianggapnya sebagai tukang ojek. Suaminya pasti memaklumi.
Malam ini, kali pertama aku membonceng perempuan ayu yang sudah menjadi milik orang itu. Meski Mbak Rifani enggan berpegangan dengan pinggangku, tapi jarak kami begitu dekat, bahkan tanpa sekat, dan itu membuat jantungku jedak-jeduk gak karuan, hatiku resah.
Entah apa yang terjadi, padahal pas membonceng penumpang yang merupakan cewek-cewek SMA tadi, aku biasa saja. Aku bisa bersikap profesional. Namun, kali ini … ah sial.
Di sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam. Aku lebih fokus ke jalanan, daripada menuruti kecanggungan yang tercipta.
Gak begitu banyak kendaraan yang melewati aspal ini, perjalanan kami pun begitu tenang sebelum tiba-tiba ada seorang ibu-ibu berjilbab lebar yang membelokkan kendaraannya ke kanan, padahal lampu seinnya mengarah ke kiri.
Sial, aku yang gak menduga sebelumnya, jadi kehilangan keseimbangan.
Untungnya, dengan cepat aku bisa mengendalikan kepanikan yang sempat menguasai otak.
Segera kututup gas dengan cepat, dan tarik rem depan hingga penuh. Dalam jeda sepersekian detik, aku langsung menekan rem belakang hingga penuh sebelum memastikan kondisi motor dan posisi ban sedang lurus, agar motor gak ngesot.
Kuda besi yang kukendarai berhenti dengan cepat, membuat penumpang di belakang ikut terdorong maju. Dengan cekatan, kedua lengan Mbak Rifani mendekap perutku. Reflek yang pintar, dengan begitu penumpang di belakang gak akan jatuh.
Namun, ada sesuatu yang berbeda. Aku merasakan ada benda empuk yang menempel di punggungku. Oh astaga, apakah itu … buah mangga? Otakku mendadak beku ketika menyadarinya.
Jedak-jeduk jantungku semakin gak beraturan, mengalahkan getaran rasa takut ketika kami hampir kecelakaan lalu lintas tadi dan itu membuatku semakin frustasi. Jangan sampai dedek ikut terbangun karena merasa terusik. Oh Tuhan, aku harus bagaimana?
"Rif, aku takut. Hiks hiks." Kulihat dari kaca spion, mata Mbak Rifani masih terpejam. Aku bisa merasakan detak jantungnya juga terpompa lebih cepat. Sepertinya dia benar-benar ketakutan.
Aku segera menepi dan memasang penyangga kaki motor.
"Maaf ya, Mbak. Aku gak sengaja ngerem mendadak." Kuputar tubuh dan segera merengkuh tubuh berisi itu. Berharap perempuan milik orang ini segera tenang. Bagaimanapun juga, aku yang menyebabkannya ketakutan seperti ini.
Mas Nata, ampun Mas. Semoga kamu gak melihat kejadian ini. Percayalah, aku memeluk istrimu hanya untuk membuatnya tenang. Bukan untuk merebutnya darimu. Haish, aku berbicara dengan diriku sendiri, karena kenyataannya Mas Nata gak ada di tempat ini.
Setelah hati Mbak Rifani kembali tenang, kami melanjutkan perjalanan hingga berhenti di parkiran sebuah supermarket yang ada di kota ini.
Mbak Rifani gak membiarkanku menunggu di parkiran, dia mengajakku masuk, "Saya nggak nyaman kalo di dalam sendirian, kelihatan banget kalo nggak punya temen," ujarnya dengan tampang memelas.
Ok lah, kali ini biar kutemani dia. Anggap saja sebagai permintaan maafku yang hampir membuatnya celaka.
Mbak Rifani mengambil kereta dorong, sementara aku hanya kowah-kowoh tanpa tahu apa yang harus kulakukan.
Melewati lorong yang di samping kanan kirinya tertata berbagai kebutuhan rumah tangga, tangan Mbak Rifani dengan cekatan mengambil barang-barang yang ia perlukan.
"Kamu mau beli apa, Rif? Ambil aja, gapapa," ujar Mbak Rifani di sela-sela kesibukannya.
"Ah, iya Mbak." Namun, aku gak mengambil apapun, sadar kalau dompetku gak ada isinya.
"Oh iya, boleh minta tolong dorongin ini? Udah mulai berat. Hihi," pintanya dengan suara yang begitu manis. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian yang membuatnya takut tadi, syukurlah.
"Oh, tentu saja," jawabku dengan memamerkan deretan gigi.
Kata pak ustaz, jika tidak mampu beramal dengan harta, maka perbanyaklah tersenyum, karena senyum di depan orang lain merupakan sedekah. Alibiku sebagai seorang tuna dompet tebal. Haha.
Aku pun mendorong kereta yang mulai penuh dengan barang-barang. Kami berjalan beriringan. Beberapa pasang mata, menatap kami dengan ceria. Pasti mereka berpikir jika aku dan Mbak Rifani adalah sepasang pengantin baru yang sedang romantis-romantisnya. Yaelah, kumat kepedeanku.
Aku berpamitan menunggu di luar, ketika Mbak Rifani mengantre di kasir, dan perempuan baik hati itu mengiyakannya.
Pasti rasanya malu sekali, ketika perempuan mengeluarkan kartu kredit, sementara si lelaki hanya bengong di belakangnya.
"Rif, mampir ke tempat makan itu dulu, yuk. Saya lapar."
Modiar, di kantongku hanya tersisa dua puluh ribu yang rencananya mau kubelikan pertalite. Mana cukup untuk beli makanan di tempat semewah itu?
"Oh, aku menunggu di sini aja lah, Mbak. Mbak Rifani bisa 'kan ke sana sendiri?" Aku menolaknya dengan tetap memamerkan senyum.
"Udah, ayok. Tenang aja, nanti saya yang bayar," ucap Mbak Rifani to the point, seolah sudah mengerti alasanku menolak ajakannya.
"Aku udah kenyang loh, Mbak. Beneran. Kapan-kapan deh, kita makan bareng," kilahku, agar gak malu-malu amat.
"Ayoklah …." Mbak Rifani gak mengindahkan penolakanku. Tangannya dengan santai menggenggam lenganku agar menyeimbangkan langkahnya.
Akhirnya di sinilah kami berada, di tempat makan mewah—menurut kantongku yang tipis.
Mbak Rifani duduk di hadapanku dengan meja bundar di tengahnya, setelah memesan makanan. Entah apa yang dipesannya. Aku sih nurut saja, lha wong ditraktir juga.
Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan makanan datang, sesekali menyeruput minuman masing-masing. Gak pakai acara cheers, karena ini bukan dinnernya sepasang kekasih. Jiiaah.
Seorang pelayan membawa dua piring makanan dan mempersilakannya pada kami. Ternyata Mbak Rifani pesan nasi goreng spesial pakai toping telur ceplok dan sosis.
"Kamu suka telur nggak, Rif?"
"Suka." Suka kamu, lanjutku dalam hati. Astagfirullah.
Aku melongo ketika tiba-tiba Mbak Rifani menyendok telurnya dan menaruhnya dalam piringku.
"Biar tambah spesial. Hihi," ujarnya.
Aku memandangi piringku. Dua telur satu sosis? Aku 'kan jadi membayangkan yang nganu-nganu. Apa yang kita pikirkan saat ini, sama, Mbak?
Bersambung …

Book Comment (62)

  • avatar
    PaLe

    bagus

    13/11

      0
  • avatar
    FotbalRezi

    mantap

    15/06

      0
  • avatar
    Fazri99De

    bagus

    11/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters