"Mendengarkan tanpa menjudge adalah suatu kemampuan yang ga semua orang miliki, perlu latihan dan simpati yang tinggi untuk memilikinya." Arifin ~ DR. ANDRO *** Meisya POV: Ingatanku kembali tertarik kehilangan, saat malam dimana aku meratapi kepergian Andromeda dengan mata sembab. Putus bukanlah opsi yang ku inginkan namun aku harus apa? Rasanya aku tidak mungkin sanggup melihat kekasihku terlibat dekat dengan wanita yang pernah satu ruangan tertangkap basah tak berbusana. Rasanya dadaku sesak sekali memikirkan betapa hancurnya aku menyaksikan Andromeda dengan tubuhnya sendiri menutupi dan melindungi seorang wanita yang pernah sangat aku kagumi. Aku tahu, wanita itu adalah dokter Anita. Salah satu dokter spesialis anak yang memiliki paras cantik dan sikap ke ibuan. Meisya memilih untuk mengalah, melepaskan Andromeda menemukan bahagianya yang lain dan Meisya sadar, bahagianya Andromeda bukanlah dirinya. "Sya.. " Uncle Agam menyentuh tanganku hangat, aku terkejut saat tangan hangat yang lain menghapus air mata dipipi kananku. "Ayah.. " Gumamku, aku bahkan tak menyadari jika air mataku keluar dengan kurangajarnya. "Ayah.. " Gumamku lagi, aku tak tahan untuk kembali menangis menumpahkan segala jenis emosi yang kutahan selama ini. "Yah.. Ayah... Hiksss... " Tangisku pada akhirnya kembali pecah, seperti malam itu. Malam dimana Andromeda meninggalkan rumah kontraknku. Malam itu, aku menangis meratapi betapa menyedihkannya hidupku. Tak ada sanak saudara, tak ada keluarga untuk tempat berkeluh kesah.Hingga tanpa sadar, pelukan hangat kembali kurasakan,.. "Ayah.. " Gumamku, sama seperti malam itu. *** Malam itu, untuk pertama kalinya aku membiarkan Ayah memeluk tubuhku yang ringkih ini. Membiarkan air mata jatuh dan melebur bersama dengan kepingan hati yang patah dan hancur. Malam itu untuk pertama kalinya aku mengesampingkan ego yang begitu besar yang selama ini telah tertanam. Aku membiarkan diriku terlihat lemah, aku menyerah dengan kerasnya hidup. Aku menyerah dengan kerasnya hati yang selama ini begitu kuat membenci. Aku memberanikan diri dan membiarkan mata ini untuk menangis, meratapi betapa hancurnya aku. Dan aku membiarkan Ayahku menyaksikan semua luka ini. "Hiks.. Yah, Mei lelah, Mei minta maaf sama Ayah.. Mei salah, Mei salah udah sejahat ini sama Ayah" Gumamku waktu itu, aku bahkan sudah sangat siap jika Ayah akan berbalik tertawa dan memaki ku. Memaki berapa keras kepalanya aku. "Sya, Ayah juga salah... Ayah minta maaf juga sama Meisya. Maafkan Ayah" Katanya sembari mengeratkan pelukan ditubuhku. "Hiks.. " "Enggak, Ayah nggak salah.. Meisya yang salah" "Udah sih.. drama banget kalian berdua. Awasss minggir, lebay banget nangis di depan pintu udah kayak film indoikan aja! " Cibir om Arifin seketika merusakn moment haru kami. Aku dan Ayah seketika berpandangan dan tertawa "Ahahahah... bener si yah kata daddy, kita kayak drama banget ya yah" Gumamku sembari membiarkan Ayah menghapus jejak dan sisa air mata ku. "Sesekali nangis nggak apa-ap sih Sya, sah dan boleh-boleh aja kok" Kata Om Arifin, kami berjalanan menuju ruang tamu mengambil tempat duduk disofa panjang dan membiarkan tubuh lelah ini bermanja di bahu Ayah. "Terkadang Daddy salut loh sama kamu yang lebih memilih menjadi seorang guru TK daripada ikut Daddy" Kata Om Arifin, ia memberikan segelaa air putih kepadaku "Munim dulu, biar punya tenaga buat nangis" Katanya "Jujur ya, aku salut sama kamu yang bisa mendengarkan tanpa menjudge, ya karena buat Daddy itu sulit. Dan Daddy salut sama orang yang bisa melakukan ini. Bagi Daddy mendengarkan tanpa menghakimi adalah suatu kemampuan yang ga semua orang punya, perlu latihan keras,kesabaran besar dan simpati yang tinggi untuk memilikinya. Dan kamu memilikinya" Kata Om Arifin, ia lalu mengambil posisi disebelahku. Di tatapnya mata ku tajam "Tapi,... " Aku memicingkan mata dan menunggu dengan sabar kelanjutan dari perkataan Om Arifin. "Ahhhh nggak jadi.. " Kata Om Arifin menyebalkan. "Ihhh apaan, nyebelin udah tungguin juga" Gumaku tak mencoba menutupi kekesalanku. "Anak perempuan kalau lagi patah hati mode gini kali ya, menjadi manja dan kekanak-kanakan. Ni kalo bukan Anak loe udah gua tuker sama kerupuk di Xyn" Kata Om Arifin sembarangan, sontak aku melotot tajam dan beranjak mengambil jarak. "Oke Mei mode kembali ke pengaturan awal! " Ancaman, Ayah dan Om tertawa berbanding terbalik dengan aku yang justru menyerngitkan alis. "Bocil banget kamu Mei" Gumam Asoka, tanpa sadar hantu itu telah duduk disebelah ku. Sontak gelak tawa kedua bapak-bapak itu pu terhenti, berganti dengan suasana hening dan canggung. "Ada apa nih? " Tanyaku heran, aku memandang ayah, Om dan Asoka bergantian. "Kok mendadak hening?" Ulangku. "Ka? Ayah? Uncle?" Gumamku heran. *** Jam berdenting, menandakan waktu magrib sebentar lagi mulai. "Sholat Sya? " Ajak Om Agam, aku hanya tersenyum dan mengangguk mempersilahkan mereka untuk menunaikan ibadah menurut keyakinan mereka. "Anak gua Hindu bego!!" Kata Ayah, aku tersenyum dibuatnya. "Ya maaf Xyn, gua lupa bego!! " "Udah yuk buruan, keburu subuh" "Isya aja belum udah main subuh aja, elu islam berapa lama sih Xyn. Bodo amat!!! " "Dih,, sok alim loe. Jadi imam mushola sekali aja bangga!" "Lah daripada elu, jadi imam mayat aja songong" "Jadi, mau pada ibadah atau cekcok dulu nih? Masa mau ketemu Tuhan pake acara berantem dulu, gimana tuh ceritanya" Gumamku menginterupsi perdebatan kedua orang ini. Setelah perdebatan cukup lama, akhirnya telingaku dapat beristirahat lega sebab suara-suara itu kini tak dapat lagi kudengar. Aku tersenyum, mengintip kegiatan ibadah Ayah dan Uncle Agam yang terlihat khusyuk sekali jauh berbeda dengan tadi. Mataku berkaca-kaca melihat kebaikan Sang Hyang Widhi terhadap cerita hidupku. Ya, mungkin Tuhan tengah mengujiku dengan cara memisahkan akun dengan Andromeda, namun tanpa aku sadari berkat inilah hubunganku dengan Ayah ku benar-benar kembali akur atau tepatnya, aku memberanikan diri untuk berhenti membenci seseorang yang tak seharusnya aku benci. Dia Ayah ku, bukankah telah seharusnya aku memaafkan dia? Toh sekarang mamah udah menemukan bahagianya yang baru, dan aku telah mendapatkan ganjaran yang setimpal, dan aku rasa ini cukup bukan? Meisya POV OFF.. *** AUTHOR POV : Andromeda terlihat semakin kurus dan lemah, setiap harinya ia semakin tertekan menahan rasa rindu yang tak dapat ia utarakan. Lagi-lagi ia kembali melepaskan wanita yang sangat ia cintai, dulu ia pernah melepaskan dan mengikhlaskan wanita yang sangat di cintainya untuk menikahi saudara kembarannya. Membiarkan wanita itu hidup bahagia bersama laki-laki yang di cintainya. Andromeda pikir ia akan bahagia melihat wanita itu bahagia namun ternyata Andromeda salah, dan kini ia mengulang kesalahan lain yang serupa.. "Sya, aku kangen" Gumam Andromeda, tubuhnya semakin lemas dan sayu. "Nak, maafkan mommy" Gumam seorang wanita yang terisak dipelukan seorang lelaki. Melihat kondisi anaknya yang terpuruk setidak berdaya ini membuat hatinya sakit. "Maafkan Mommy.. " .... Bersambung...
mantap
10/09
0suka bangettts
09/08
0baguss
09/06
0View All