logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

BAB 7 : WHO'S NEXT?

Awan mendecak, mengacak rambutnya dengan frustasi.
“Kenapa kalian berdua beranggapan hal yang sama, sih?” Tanya Keken pada Awan dan Pipit.
Dani tampak ikut kebingungan, seakan tak mengerti apa maksud dari Pipit dan Awan.
“Karena jejak kaku yang kemarin malam itu benar-benar rapi!” seru Pipit ikut frustasi seperti Awan karena Keken dan Dani tidak mengerti kenapa kesimpulan mereka seperti itu.
“Kenapa bisa seperti itu?” Tanya Dani.
“Menurutku, jejak kaki kemarin malam seperti dipaksakan, alias sengaja dibuat untuk memancing kita.” Jawab Awan.
“Karena salah satu jejak kaki ada yang terbalik.” Lanjutnya.
_____
Aiden, lelaki ranking 1 itu berhenti didepan mading, menatap namanya yang berada di urutan nomor satu. Disanapun ada Ghege dan Arthur yang sedang memecahkan teka-teki angka.
“Berarti Hanif dalam bahaya, ayo kita cari Hanif!”
Buru-buru mereka berdua pergi tanpa menghiraukan Aiden, lelaki itu hanya menoleh sesaat.
“Hanif?”
“Apa mereka yakin Hanif dalam bahaya?”
Kini datanglah seoranf gadis wajahnya tidaklah datar, hanya saja ia jarang mau bergaul, sama seperti Hanif. Hanya saja ia tidak secantik dan sepopuler Hanif. Namanya Riana, dia gadis yang mendapat peringkat pertama di angkatan tahun kedua.
Ia menoleh ke arah Aiden, lelaki itu sibuk menatap Ghege dan Arthur dari jauh, Riana memiringkan kepalanya.
“Kak Aiden baik-baik ajah?” tanya Riana.
Aiden mengalihkan pandangannya, ia tersenyum pada Riana.
“Enggak apa-apa.”
Lagi-lagi Aiden menatap Ghege dan Arthur yang kini sudah tak terlihat.
“Kakak lagi mikirin apa?”
Aiden diam sesaat, ia menatap Riana dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Hanif itu adalah benang, tapi dia malah bermain-main dengan gunting...”
Lelaki berambut hitam legam itu mengetukkan tongkatnya lalu berjalan pergi meninggalkan Riana yang kebingungan sendiri.
_____
Langkah kaki mereka berdua membawa mereka kantin, Ghege dan Arthur menatap sekitar. Mereka tampak sangat khawatir, Ghege dan Arthur berjalan saat melihat Pipit, Dani, Keken dan Awan. Tanpa pikir panjang mereka langsung menghampiri.
“Ada yang lihat Hanif, gak?” tanya Ghege.
Mereka berempat saling bertatapan, kemudian menggeleng. Arthur mendesah, ia memijat keningnya yang terasa sakit. Dani berdehem pelan mengheningkan suasana sebelum bertanya.
“Memang kenapa kalian nyari Hanif?” tanya Dani.
“Kita harus nyari Hanif.” Jawab Ghege sambil menarik lengan Keken tanpa memperdulikan pertanyaan Dani.
“Woi, jawab gue dulu!” Dani memprotes.
Ghege lalu menoleh, menghujamkan tatapan aneh pada Dani.
“Hanif dalam bahaya. Kode-kode pada korban kedua menunjukkan bahwa beberapa murid akan jadi korban selanjutnya, dan salah satunya itu Hanif!” jelas Ghege.
Dani berdiri dari duduknya, wajahnya tampak ikut shock. “Kita harus cari Hanif!”
_____
Dilain sisi, Hanif sedang membuka loker miliknya. Tiba-tiba sepucuk surat jatuh dari dalam lokernya, Hanif berjongkok mengambil surat tersebut.
Matanya menunjukkan kebingungan saat melihat surat tanpa nama pengirimnya, ini jelas-jelas bukan dari penggemarnya atau apapun itu.
“Seseorang berdiri dibalik tongkat, menggunakan akal menerobos masuk, pandanglah seksama kedalamnya. Kantor dosen sangatlah gelap, amarah merupakan emosi dan mati tetaplah mati.” Gumam Hanif membaca isi suratnya.
Sempat Hanif terpaku di tempat, ia tidak mengerti apa maksud dari kata-kata ini, mungkinkah ini puisi? Tapi ini membingungkan.
Kepalanya menggeleng pelan, ia menutup lokernya. Muncullah sosok Pipit dibalik pintu lokernya.
“Ghege dan Kak Arthur mencarimu.” Ucapnya.
Hanif nampak cuek meninggalkan Pipit, gadis berhijab maroon itu ikut berjalan mengikuti langkah kaki Hanif.
“Kenapa lo enggak pergi?”
Pipit diam saat telinganya mendengar perkataan kasar dari Hanif.
“Kamu enggak minta aku untuk pergi...” jawab Pipit sambil mengangkat bahu.
Decakan keras terdengar dari mulut Hanif, gadis itu mengerutkan keningnya.
“Jauh-jauh dari gue!” ucapnya dingin.
“Enggak.”
“Lo kenapa sih, Pit?”
“Aku mau kamu jadi temanku, biar gak usah sendiri terus. Enggak enak tahu kalau apa-apa sendiri, gak ada warna kalau kata Kak Keken.”
“Tapi gue enggak butuh teman.”
“Enggak usah jual mahal, aku tahu kamu kesepian.”
Hanif terpaku di tempat, ucapan terakhir Pipit memang tidaklah salah. Ia memang kesepian selama ini, tapi selama Arthur sepupu satu-satunya yang masih berada disampingnya ia sudah cukup senang.
“Aku mau kok jadi temanmu.”
“Gue gak butuh lo!”
“Kamu memang gak membutuhkanku, tapi yang kamu butuhkan itu seorang teman, Nif.”
‘Aku tidak butuh itu semua, Pit. Semangat hidupku saja sudah hilang. Bagaimana aku butuh teman?’
Tiba-tiba Hanif terbatuk, ia lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Pipit yang melihat itu hanya diam.
‘Apa dia sedang sakit?’
Hanif teringat dengan surat barusan, Pipit saja bisa memecahkan teori ruangan tertutup ganda yang disempurnakan. Siapa tahu Pipit juga tahu arti tulisan ini. Hanif mendekati Pipit, menunjukkan secarik kertas surat padanya.
“Lo tahu artinya?” Pipit lalu mendekat.
“Seseorang berdiri dibalik tongkat, menggunakan akal menerobos masuk, pandanglah seksama kedalamnya. Kantor dosen sangatlah gelap, amarah merupakan emosi dan mati tetaplah mati.” Ucap Pipit membaca surat itu.
Hanif lagi-lagi mengerutkan alisnya, berusaha fokus berfikir.
“Apa mungkin ini teka-teki untuk membantu mencari korban berikutnya? Gimana menurut lo?”
Pipit menggeleng, ia tidak bisa berpikir hari ini maka dari itu ia memotret surat Hanif lalu pamit kembali ke kelas karena jam perkuliahannya akan dimulai.

Book Comment (115)

  • avatar
    Fathir boysFathir

    bagus dan sangat menarik

    06/04

      0
  • avatar
    ZulfianDzikri

    oke

    27/10

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    28/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters