logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

BAB 6 : KODE ANGKA KEMATIAN

Gwen, Pipit, Dani, Awan, Keken dan Arthur serta penjaga asrama sedang menunggu Ghege dan Hanif selesai dengan persiapan mereka.
“Trik yang di perlihatkan Awan kemarin malam tentanggimana mengembalikan kunci itu kedalam ruangan tertutup. Yaitu dengan menggunakan lubang tikus dan celah dibawah pintu kedua sampai situ teorinya benar.” Jelas Ghege.
“Tapi seperti yang kita lihat, kunci itu tidak ada di pojok gudang. Mana mungkin kalau kunci bergerak sendiri.” Jawab Arthur.
Hanif tertawa pelan, “Kunci itu tidak bergerak, tapi bergulir dalam posisi datar. Karena itu, diperlukan sedikit bantuan.”
Gadis itu tersenyum tipis lalu menunjukkan sebuah bola yang agak lunak.
“Gue udah masukkin kunci ke dalam bola ini, diameter bola ini 5cm dan tentu saja ukurannya pas dengan lubang tikus itu.”
“Tunggu dulu!” Awan menyergah.
“Kalau bola saja memang bisa bergulir. Tapi didalam gudang kan ada banyak tumpukan barang, Nif. Gimana bola itu hanya bergulir tapi tidak bisa lewat? Selain itu gimana caranya ngambil kuncinya kalau kunci itu ada didalam bola?”
Ghege mendengus pelan, ia lalu masuk ke dalam kamar korban pertama yang berada di sebelah gudang. Ia lalu memasukkan bola yang di ambilnya dari Hanif ke dalam lubang tikus, mereka yang menyaksikan bola yang bergulir dari kamar sebelah ke arah gudang yang sedang mereka masuki.
“Bole itu berhenti, Kak!” tunjuk Pipit.
Tiba-tiba bolanya berjalan lagi menuju pojokkan dimana Dani menemukan kuncinya, yaitu di atas lubang pembuangan air.
“Sudut kemiringan!” teriak Awan, “Lantai gudang ini menjadi sudut kemiringan!”
“Benar, seperti kata Awan. Walau sekilas memang enggak kelihatan, gudang ini menjadi titik dari sudut kemiringan. Sebelumnya gue udah cari tahu. Gudang ini dulu bekas kamar mandi yang di rubah menjadi gudang barang-barang karena setelah di renovasi, semua kamar asrama memiliki kamar mandi pribadi.” Jawab Hanif.
“Karena itu adalah saluran pembuangan air, Biasanya lantai kamar mandi dibuat sedikit mirinf supaya air bisa masuk kedalam lubang pembuangan air.” Timpal Keken.
Gadis itu menatap bola yang kini berada di pojok gudang dimana Dani menemukan kuncinya, ia berjongkok hendak mengambil bola itu.
“Jangan, Kak!” teriak Pipit.
Tiba-tiba beberapa ekor tikus mengerumuni bola yang dibuat Hanif dan Ghege, Keken terjingkat lalu berlari kebelakang Awan.
“Bau tajamnya sampai mengundang tikus untuk makan bola itu?”
Hanif terkikik pelan, ia mengambil kunci yang sudah terlihat di antara tikus-tikus itu.
“Bola itu terbuat dari 50gram terigu dan sekotak mentega yang hilang di dapur asrama. Cara ini hampir sama dengan yang di pakai Jack The Ripper lakukan tahun 1888 dulu, ruangan tertutup ganda.”
“Lalu, apa lo sudah tahu identitas pelakunya?” tanya Dani.
Hanif menggeleng, “gue belum tahu soal itu. Tapi gue bakal berusaha mencari tahu lebih banyak lagi.”
“Kalau begitu, mohon kerjasamanya.” Gheghe memberikan satu kepalan tangannya pada Hanif yang juga dibalas oleh gadis itu.
Arthur tersenyum pada Ghege dan Hanif secara bergantian.
_____
Hasil ujian semester sudah muncul di mading kampus, para mahasiswa sudah tidak terlalu membicarakan tentang pembunuhan yang terjadi bulan lalu lagi. Mereka sekarang meributkan soal ranking mereka yang naik dan yang turun, walau beberapa mahasiswa kadang masih membahas dua pembunuhan itu.
Bagaimana tidak, dua mahasiswa yang menjadi korban pembunuhan itu adalah anak dari seorang dokter. Begitulah gosip yang beredar di kalangan kampus, tapi satu hal yang membuat mereka resah. Pihak berwajib belum juga menunjukkan hasil tentang kasus itu.
Ghege sedang berdiri mematung di depan mading kampus. Dia bukan sedang mencari namanya pada hasil ujian, namun dia sedang memikirkan sesuatu. Ya, hasil outopsi mayat pembunuhan kedua.
Jika hasil outopsi mayat pertama mereka mandapatkan kunci dan gembok yang mengikat leher korban pertama, kali ini adalah kode pada lengan korban kedua.
Kode itu ter tulis : ‘302-123... Taring, kesombongan. Sadarlah, hari-hari. Nanti.’
Jujur saja itu kode yang tak masuk akal, apa yang dimaksud dengan taring dan kesombongan?
Bahkan di antara mereka yang sudah memecahkan kasus pertama pun tak bisa memecahkan kode di kasus yang pertama.
Ghege masih memikirkan kode-kode yang entah apa artinya hingga ia tak menyadari Arthur sudah ada di sampingnya, kepalanya menatap mading yang berisi ranking seluruh mahasiswa dari tahun pertama sampai tahun ke empat.
“Ck, lagi-lagi si Aiden yang dapat peringkat pertama!” omel Arthur.
Ghege yang sudah sepenuhnya menyadari keberadaan Arthur lantas menoleh, ia melihat namanya berada di urutan 73 dari 302 mahasiswa yang ada di tahun ke tiga.
Tunggu dulu!?!
302?
Nomor itu mengingatkan Ghege dengan kode itu.
“Gue tahu!” teriaknya yang membuat Arthur sebentar lagi mendapat serangan jantung kronis.
“What? Tahu apanya?”
Ghege menatap Arthur dengan tatapan seakan menyadari sesuatu yang tidak ia duga.
“Gue tahu arti kode itu, Thur! Artinya kode 302 itu jumlah mahasiswa per angkatan, sedangkan 123 itu ranking dari mahasiswa!”
Arthur mengangguk, sepertinya ia mulai paham apa yang dibicarakan mantan teman satu tim mabanya itu. Tetapi alih-alih menjawab, Arthur mendengus kemudian berucap.
“Bukannya semua angkatan berjumlah 302 mahasiswa? Bagaimana cara kita tahu?” Ghege melipat tangannya.
“302-123!” serunya.
“179?” jawab Arthur kurang yakin.
Jujur saja ia sangat pusing dengan pertanyaan dan kode tersebut, mereka menatap nama mahasiswa yang berada di peringkat 179, mulai dari tahun ke satu sampai tahun ke empat.
Terdapat 4 nama yang berada di ranking 179. Di tahun pertama ada ‘Mustafa’, di tahun kedua ada ‘Asyifa’, ditahun ketiga ada ‘Haniffah’, dan di tahun keempat ada ‘Aqilah’.
Mata mereka berdua terbelalak saat melihat nama Hanif berada di urutan 179 angkatan tahun ketiga, selain bersnggapan bahwa Hanif adalah mahasiswa yang cukup bodoh dengan mendapatkan peringkat hampir dibawah tetapi mereka juga terkejut dan tak percaya jika Hanif adalah korban selanjutnya.
“Cepat kita cari Hanif” teriak Ghege lalu berlari mencari Hanif diikuti Arthur.
Mereka berdua melewati Aiden yang baru tiba di depan mading, lelaki itu berjalan menggunakan tongkat karena ia mengalami kecelakaan sejak kecil yang membuat kaki kanannya tak bisa berjalan. Ia menatap namanya yang berada di peringkat pertama di angkatan tahun ketiga, lelaki itu lantas tersenyum puas.

Book Comment (115)

  • avatar
    Fathir boysFathir

    bagus dan sangat menarik

    06/04

      0
  • avatar
    ZulfianDzikri

    oke

    27/10

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    28/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters