logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

BAB 5 : SECOND CASE

Angin kencang disertai hujan deras membasahi setiap sudut kota pada malam hari, Pipit terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu.
“Siapa?” Panggilnya, namun tak ada sahutan dari si pengetuk.
Ia pun berjalan gontai ke arah pintu, mencoba untuk tidak membangunkan Keken yang sedang tidur di sofa. Gadis itu terpaksa menginap di asrama karena rumahnya terlalu jauh, biasanya juga Keken akan menginap di asrama kalau dirinya sudah pulang kemalaman.
Pipit membuka pintu kamarnya namun nihil, tidak ada siapapun. Ia dengan was-was menengok ke arah kanan dan kiri mencari tahu jika ada yang mengerjainya. Ia terkejut melihat ada jejak kaki dilantai.
Ia lalu berjalan pelan mengikuti arah jejak kaki tersebut yang membawanya hingga kedepan tangga, matanya menatap ke arah tangga atas dan tangga bawah.
“Jejaknya berhenti disana...” gumamnya sambil melihat jejak kaki yang berhenti di depan sebuah kamar salah satu murid.
“Pipit?” Pipit terjingkat kaget, rupanya itu Dani.
Lelaki itu menatap Pipit bingung. “Kenapa lo ada disini?”
‘Bukankah harusnya aku yang nanya kenapa kak Dani ada di asrama putri?’
Pipit tak langsung bertanya, ia lantas menunjuj jejak kaki dibawah kaki mereka.
“Jejak kaki?”
Dani berjongkok menatap jejak kaki tersebut dari dekat, ia menyikut Pipit bermaksud untuk mengajaknya naik ke atas tangga.
Dibukanya pintu kamar salah satu mahasiswa, mereka mundur beberapa langkah saat menangkap sosok orang yang sudah terkapar di lantai dengan leher yang sobek dan mengeluarkan banyak darah.
Wajah Dani pucat pasi dan tubuhnya tak bergerak dari tempatnya berdiri, sementara Pipit sudah berlari ke lantai 1. Tak lama, dosen-dosen yang tinggal di lantai 1 asrama putri dan putra serta penjaga keamanan datang, suasana menjadi riuh saat mayat mahasiswa itu dibawa keluar dari kamarnya oleh pihak berwajib.
“Diperkirakan ia meninggal karena sayatan di leher dan tembakan di dadanya karena kami melihat ada luka tembakkan, mungkin sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari pelaku melakukan aksinya...” jelas salah satu detektif yang sebelumnya juga menangani kasus pembunuhan pertama.
“Pokoknya saya tidak mau tahu, Pak. Usut kasus ini sampai tuntas, kasihan anak-anak saya banyak yang trauma karena kejadian ini.” Jelas Ibu Sri.
“Tunggu Ibu Sri.”
Sebelum Ibu Sri dan Detektif itu meninggalkan TKP, Keken memanggil dosennya itu.
“Ada apa, nak?”
“Saya masih bingung soal dapur yang berantakan kemarin.” Ucapnya.
“Hmm, mungkin ulah pelaku yang sedang nyari bahan makanan, nak.”
Keken menatap Ibu Sri dengan wajah yakinnya.
“Bukan, bu! Dia gak nyuri makanan, kok.”
“Tapi semua isi kulkas berserakkan, kakak juga lihat kan kemaren?” jawab salah satu mahasiswi yang ada disitu.
Keken menggeleng.
“Memang telur pecah dan sayuran serta buah-buahan berserakan dimana-mana, bahkan makanan yang tahan lama seperti roti juga. Tapi jumlahnya enggak berkurang, loh!”
Beberapa mahasiswa yang ada di depan kamar korban menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang terkejut, ada yang bingung, bahkan ada yang merasa jengah.
“Saya memiliki kemampuan fotografis, saya enggak akan lupain apapun yang pernah saya lihat meskipun itu hanya sekali. Tempo hari setelah malam pembunuhan pertama saya mengambil air minum didapur, saya lihat tepung terigu masih utuh dan mentega yang masih ada 4 kotak. Tetapi saat kejadian di dapur, sebungkus tepung terigu berisi 50gram dan 1 kotak mentega hilang! Padahal kalian yang tinggal di asrama tidak mungkin memakai mentega dan terigu di malam hari.”
Pipit menatap jendela-jendela kamar yang ada disampingnya.
“Tu—tunggu dulu, waktu aku dan Kak Dani temukan mayat tadi. Sebelumnya ada yang mengetuk kamarku lalu kabur, ia bahkan meninggalkan jejak kaki. Aku dan Kak Dani lalu mengikuti jejak kaki itu dan sampai di kamar ini. Jika pelaku itu kabur dalam keadaan hujan seperti ini, dia pasti akan basah kuyup kehujanan. Tapi semua yang ada disini tidak basah.” Jelasnya.
Dani mengangguk setuju dan menambahi, “mungkin saja jejak kaki ini bagian triknya. Untuk memberi kesa seolah pelaku sudah melarikan diri jadi dia lebih dulu membuat jejak ini.”
Salah satu mahasiswi mendengus, “mungkin saja itu bisa jadi teori karanganmu, Dani.”
“Bukannya lo yang temuin kunci yang ada di gudang saat kasus pertama? Bisa saja lo pura-pura temukan kuncinya padahal lo sendiri yang jatuhin!”
Dani ternganga tak mampu berkata apa-apa.
“Mustahil! Kalau kunci itu jatuh, pasti menimbulkan suara dan dia harus berjongkok supaya enggak berbunyi. Itu terlaku mencolok!” protes Pipit.
“Jangan-jangan Dani pelakunya?!” Seru mereka.
“Kenapa kalian nuduh orang tanpa bukti?!” protes Pipit.
“Terus lo sendiri kenapa terus-terusan bela Dani? Apa alasanmu?” Protes mereka
“Karena Kak Dani sahabatku!” kata Pipit dengan penekanan.
Hanif berjalan mendekat bersama dengan Arthur, kini beberapa mahasiswa dari asrama putra juga sudah berkerumun di depan kamar korban pembunuhan kedua. Bahkan Ghege, Awan dan Gwen juga ada.
“Berbahaya kalau kita menilai orang seperti itu, Pit.” Tukas Arthur dengan nada dingin.
“Apa? Bahkan Kak Arthur juga menuduhnya?!”
Hanif memasang eajah datarnya dihadapan Keken, Pipit dan Dani kemudian berkata.
“Kita tidak mau tergesa-gesa menuduh Dani sebagai si pelaku, sebab...”
Gadis itu mulai memasang mimik wajah serius yang tetap datar.
“Gue rasa, ruangan tertutup ganda itu bisa diciptakan dengan trik yang sederhana.”
“Gue, Arthur dan Hanif menemukannya dari kedua fakta yang ditemukan Keken, yaitu 50 gram terigu dan sekotak mentega yang hilang.” Timpal Ghege.
Pipit tersadar, ia menarik nafas menyadari sesuatu. “Terigu dan mentega... Ja—jadi begitu?”
“Sebenarnya analisis Awan waktu itu tidak terlalu meleset.” Kata Gwen sambil menatap sahabatnya yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
“Gue dan Hanif bakal tunjukkin triknya pada kalian, mari kita ke TKP pembunuhan pertama. Gue dan Hanif bakal nyusul saat persiapan selesai.” Ucap Ghege.
Gwen, Pipit, Dani, Awan dan Arthur menuju kelantai 2 tempat TKP pembunuhan pertama, sebelum itu Gwen sempat memanggil penjaga keamanan untuk menemani mereka di tempat kejadian. Beberapa mahasiswa yang ingin bergabung dilarang masuk karena yang boleh masuk hanya mereka yang memang punya tujuan terhadap kasus itu.
Pipit berjalan pelan menatap jejak kaki didekat tangga itu sekali lagi.
“Sepertinya ada yang aneh...” gumamnya pada Keken, Awan, dan Gwen yang menghampirinya.
“Jejak kaki itu?” tanya Keken dengan bingung.
“Ya. Seperti ada yang aneh tapi aku enggak ngerti, ada hal kecil yang luput dari pengamatan kita.”

Book Comment (115)

  • avatar
    Fathir boysFathir

    bagus dan sangat menarik

    06/04

      0
  • avatar
    ZulfianDzikri

    oke

    27/10

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    28/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters