logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

BAB 4 : TRIK RUANG TERTUTUP

Malam hari yang sunyi dan para penghuni asrama juga sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Keken, Jeje dan Fatim sedang berada di kamar Pipit membantu gadis itu dengan tugas-tugasnya.
Teman-teman perempuan Pipit memang sering membantu Pipit mengerjakan tugas gadis itu di kamar asramanya, tak jarang juga mereka mengerjakan tugas mereka bahkan menginap disitu.
Tiba-tiba suara teriakan terdengar lagi, untuk pertama kalinya Keken, Jeje dan Fatim mendengar teriakan itu. Mereka berempat lantas berdiri dan berlari menuju sumber suara.
Kali ini bukan soal temuan mayat, tapi soal dapur asrama yang berantakan bak kapal pecah.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya salah satu mahasiswi dengan wajah terkejut bercampur bingung.
“Banyak tikusnya.” Ujar salah satu mahasiswi yang lain.
Hanif menatap tumpukan mentega dan telur di atas meja, ia lalu menarik Pipit dan Jeje saat menyadari sesuatu.
Keken dan Fatim yang masih berada di dapur sedang diam dengan alis yang mengkerut.
“Lo lihat apaan? Ayo kita balik ke kamar Pipit, mereka udah duluan ke sana bareng Hanif.” Seru Fatim sambil menarik lengan Keken.
Gadis itu masih saja diam, menatap setumpuk mentega dan telur yang tergeletak di atas salah satu meja.
“Lihat, Tim.” Tunjuk Keken.
Fatim memutar bola matanya, menatap mentega dan telur yang ditunjuk Keken.
“Apaan?” tanyanya malas.
“Lo ingat gak waktu kita nginap di sini, gue diminta Ibu Sri untuk beli mentega supaya bisa disimpan di dapur ini, waktu itu gue belinya 4 kotak tapi sekarang kok tinggal 3 kotak? Terus bungkus tepung disana juga berkurang.”
Fatim bertambah malas lagi dengan perkataan Keken yang tak masuk akal.
“Namanya saja asrama, ya jelas saja kalau bahan-bahannya tiap hari berkurang, Ken. Yang kita nginap disini ajah udah 4 hari lalu.”
“Lo harusnya tahu, dapur ini jarang banget di pakai karena anak-anak males masak dan lebih milih beli makanan jadi di luar asrama.”
Fatim menatap sekitar, kepalanya menggeleng pelan melihat setiap barang-barang didapur yang berantakan seperti kapal pecah, selain itu didepan kakinya terdapat sebuah anak timbangan.
“Ya udah, nanti ajah dibahas. Sekarang kita kembali ke kamar Pipit.”
Mereka berdua lantas pergi dari dapur dan menuju kamar teman mereka yang sudah menanti.
_____
“Ini adalah trik pembunuhan ruang tertutup yang sudah disempurnakan, persis seperti kasus Jack The Ripper.” Ucap Hanif.
Kini mereka berkumpul di kamar Pipit, beberapa anggota Geng Bobrok datang karena dihubungi oleh Keken dan Fatim yang kebetulan ijin pulang karena ada materi kuliah yang belum mereka selesaikan.
Awan yang berdiri di dekat pintu kamar Pipit yang terbuka menunjukkan gambar anak timbangan ke arah mereka.
“Dari penjelasan kalian, gue sepertiny tahu trik pemindah kunci yang dilakukan si pembunuh.” Kata Awan
Lelaki itu lalu pergi menuju kamar korban yang sebelumnya sudah meminta ijin petugas keamanan dengan alasan tugas kuliah yang berkaitan dengan pembunuhan tersebut. Hanif, Pipit, Gwen dan Ghege mengikuti Awan dari belakang.
“Gue rasa benar apa kata Hanif kalau ini adalah pembunuhan ruang tertutup yang sudah disempurnakan, gue akan jelaskan disini gimana cara si pembunuh memindahkan kunci dikamar mayat pertama ke gudang.”
Ghege yang memang dasarnya pendiam hanya melipat kedua tangannya didepan dada seakan siap menonton, sementara beberapa mahasiswi yang melewati koridor kamar korban terlihat tertaril dengan percakapan mereka.
Awan mengeluarkan sebuah koin China dengan lubang di tengahnya. “Sebagai percobaan, gue akan menggunakan koin ini.”
Awan mengikat benang pada anak timbang dan koin, ia berjalan ke arah lubang tikus yang menghubungkan kamar mayat dengan gudang. Beberapa menit sudah berlalu sejak Awan mencoba triknya.
“Nah, pasti koin itu sudah berada di pojok gudang.” Tukasnya semangat.
Beberapa murid yang menyaksikan reka adegan Awan langsung membuka pintu gudang karena penasaran, dan saat dilihat koinnya tidak ada di pojok gudang tetapi berada didekat lubang tikus. Berarti Awan gagal mengungkap trik si pembunuh.
“Aku lupa memberitahumu, Wan.”
Ghege menunjukkan gambar kunci pembunuhan korban di ponselnya pada Awan, terkejutnya mereka melihat kunci yang dipakai oleh pelaku untuk mengikat tali pada pembunuhan itu tidak memiliki lubang yang berarti kunci tidak bisa dimasuki benang atau tali atau sebagainya.
Para mahasiswi tertawa mengejek Awan, kecuali teman-temannya dan Hanif tentunya. Mereka lalu meninggalkan lima remaja itu sambil sesekali terdengar tawa mengejek.
“Sia-sia...” Gumam Awan dengan kecewa.
“Siapa yang bilang sia-sia? Analisis Awan sudah bagus, kok. Aku saja enggak tahu gimana cara si pelaku membuat pembunuhan ruang tertutup yang di sempurnakan.” Ucap Pipit menghibur.
Awan lalu melempar koin tersebut ke sembarang arah, mata Gwen menatap koin yang dibuang Awan. Tanpa mereka lihat, koin tersebut bergulir dan terus bergulir seakan di gelindingkan.
‘Apa ada angin?’ Batin Gwen.
‘Oalah, jadi begini trik ruang tertutup gandanya!’
“Gue yang akan tunjukan satu trik pada kalian berempat!”
Awan, Hanif, Pipit dan Ghege yang ingin oergi dari gudang itu menoleh kebelakang, menatap Gwen yang barusan berbicara.
“Gue yang gantian mereka triknya.”

Book Comment (115)

  • avatar
    Fathir boysFathir

    bagus dan sangat menarik

    06/04

      0
  • avatar
    ZulfianDzikri

    oke

    27/10

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    28/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters