“Maaf, saya menolak.” Ucap Awan tegas di depan semua orang, diikuti anggukan oleh Gwen dan Fatim. Saat ini mereka berdelapan sedang berada di rumah Ghege yang sebelumnya memberitahukan mereka bahwa ayahnya mengundang tujuh temannya ke rumah karena ada acara, ternyata itu hanya alasan. Tujuan sebenarnya ayah Ghege memanggil teman-teman sang anak adalah menawarkan kerjasama untuk mengungkap kasus pembunuhan di kampus mereka yang sebelumnya sudah di ceritakan oleh Ghege kepada sang ayah yang merupakan mantan detektif yang dulu bertanggungjawab pada olah TKP. “Kalau pelakunya tahu kalau kita juga turun tangan menyelidiki kasus ini, bukan tidak mungkin nyawa kita juga diincar, Pak.” Sambung Awan lagi. “Lo takut mati?” Ghege bersuara. Awan memoleh ke arah Ghege, ia menatap tajam sahabatnya seolah tak terima dengan pertanyaan Ghege. “Asal lo tahu, semua manusia pasti akan mati dan yang memegang kematian bukan sesama manusia, tapi Yang Maha Kuasa.” Ucap Ghege. “Kenapa tidak lo sendiri saja?” kali ini Gwen yang menantang Ghege. “Gue gak bisa sendiri, makanya gue dan Bapak gue minta tolong kerjasama kalian.” “Kan udah ada polisi, Ghe.” “Seperti yang Kak Arthur bilang, polisi terlalu lambat bahkan untuk mengetahui trik yang dilakukan pembunuhnya.” “Aku ikut!” Semua orang menoleh pada sumber suara, Pipit yang baru dari ruang makan mengambil cemilan dan mendengar percakapan mereka di pertengahan langsung setuju ikut memeriksa kasus itu. “Lo ikut?” tanya Keken dan di jawab anggukkan oleh Pipit. “Pit, ini bukan mainan loh. Ini kasus besar!” ucap Fatim. “Lah emang kenapa? Keren tahu, kita kek berasa jadi detektip.” Gwen menghela nafas serta menggeleng setelah mendengar ucapan Pipit barusan. “Kalau misalnya saya menawarkan kerjasama ini dengan imbalan uang jajan kuliah kalian selama setengah tahun gimana?” Kedelapan anak remaja itu menoleh ke arah ayah Ghege dengan kaget, begitupun Fatim. Di antara mereka berdelapan, Fatim termasuk anak dari keluarga kaya, uang bulanan yang di kasih Abinya saja tak tanggung-tanggung. Dan sekarang ayah Ghege menawarkan stengah tahun uang bulanannya. “Serius, pak?” tanya Keken meyakinkan. Ayah Ghege melipat kedua tangannya lantas tersenyum, “sejak kapan Bapak bohong sama kalian?” “Kalau gitu gue ikut!” teriak Keken. Awan, Fatim, Gwen, dan Jeje menatap gadis yang sedang menunjukkan senyum konyolnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun sudah mengubah penolakan menjadi persetujuan. “Gue juga ikut” sekarang giliran Dani. “Gue juga” kata Jeje, “imbalan yang berikan bisa cukup untuk gue buat usaha kecil-kecilan, yang penting gue gak terluka.” Mendengar ucapan Jeje, Ghege lantas menatap sang ayah. “Kalau kita ikut penyelidikan ini, apa teman-teman Ghege dapat perlindungan?” tanyanya. “Papa akan jamin nyawa kalian akan baik-baik saja, jika kalian butuh sesuatu seperti pemeriksaan barang bukti, pemeriksaan sidik jari, autopsi mayat, ahli forensik dan lain-lain juga papa siap menyediakan. Asal kalian melakukannya secara diam-diam, jangan sampai anggota kepolisian mencium penyelidikan kalian.” Jelas ayah Ghege. Akhirnya, dengan pertimbangan yang begitu panjang juga tawar menawar dengan anggota yang menolak, mereka berdelapan setuju untuk menguak motif pembunuhan yang terjadi di kampus mereka secara diam-diam. _____ Pipit berjalan pelan di lorong asrama sambil menenteng kantong berisi beberapa cemilan yang baru ia beli dari minimarket di dekat asrama, ia berhenti sejenak saat matanya menangkap sosok gadis yang tengah duduk sendiri di taman tengah asrama, taman pemisah antara asrama putra dan asrama putri. “Hanif?” gumamnya pelan, lekas ia berjalan menuju Hanif. Terlihat Hanif nampak terkejut namun hanya sebentar sebelum ia kembali menatap layar tablet yang ia bawa. “Lagi ngapain?” tanya Pipit namun tak di gubris oleh Hanif. “Lagi gambar sesuatu?” “Gue gak suka orang asing yang suka ikut campur urusan orang lain.” Ucap Hanif ketus. “Dih, galak amit.” Tiba-tiba suasana menjadi hening, Pipit lantas duduk di samping Hanif yang masih sibuk dengan tabletnya. “Nif, aku boleh nanya sesuatu?” tanya Pipit agak ragu-ragu. “Terserah.” “Entah kenapa setiap kali lihat kamu, aku rasa aneh. Seperti kita sebelumnya sudah saling kenal, apa memang pernah kenal sebelumnya, yah?” Hanif menoleh ke arah Pipit, “menurutmu?” Pipit mangangkat kedua bahunya dan menggeleng pertanda ia tidak tahu. Hanif mematikan tabletnya dan menaruh di atas pahanya. “Pernah dengar cerita Mawar Putih?” Sekali lagi Pipit menggeleng, “akan ku ceritakan.” Hanif memberi jeda untuk mengambil nafas sebelum ia bercerita. “Ceritanya ada sekuntum mawar putih ajaib yang tumbuh pada ujung tangkai tanaman mawar, bunga itu nampak bersinar indah dibanding mawar lainnya. Banyak sekali manusia yang kagum karena keindahannya, namun suatu haru seorang manusia memetip mawar itu dan merusak setiap helaiannya yang indah...” Pipit merasakan semakim Hanif bercerita, tatapannya semakin kosong dan terdapat aura aneh yang ada di sekitarnya. “Padahal mawar putih itu selalu ingin menjadi yang terbaik bagi para manusia, ia sangat menyukai manusia-manusia yang mengaguminya walau ia tahu kelak ia akam dipetik dna dihancurkan seperti sekarang.” “Namun, di akar yang sama lahir sekuntum mawar merah di pangkal batangnya yang hampir menyentuh tanah, bunga itulah yang paling menderita...” “Kasihan sekali, lalu apa yang terjadi?” “Bunga itu adalah evolusi dari mawar putih, tapi ia jahat. Dengan durinya ia akan merusak dan menyakiti manusia yang berusaha memetiknya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pecinta tanaman, hanya orang itu yang bergumam ‘kau sangat cantik’ padahal bunga itu begitu buruk.” Hanif terdiam sangat lama, Pipit melihat wajah gadis itu yang makin lama makin terlihat pucat. “Lalu apa yang terjadi.” “Aku lupa, kurasa aku harus pergi. Langit sudah mulai gelap.” Hanif lalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 3 asrama putri. Pipit yang masih duduk di kursi taman menengadahkan kepalanya ke atas, dilihatnya langit yang sudah mulai tak bersahabat. “Hujan lagi? Kenapa beberapa hari ini hujannya seperti pengantar orang-orang yang mati? Ironis...” Pipit bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2. ‘Setiap kali lihat Hanif, aku rasa ada deja vu yang sulit di artikan apa maksudnya. Deja vu yang sulit dari kasus manapun dan makin dipaksa untuk mengingat, kepalaku makin sakit. Entah apa maksudnya, tapi kayaknya ada sesuatu yang buruk yang bakal aku alami atau Hanif alami.’ Setelah menutup pintu kamarnya, Pipit lalu duduk di atas karpet di lantai dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya di temani cemilan yang tadi di belinya tanpa tahu bahwa sedari ia keluar minimarket sampai bertemu dan bercakap dengan Hanif hingga masuk ke dalam kamar asramanya, seseorang tengah mengikutinya.
bagus dan sangat menarik
06/04
0oke
27/10
0seruuu
28/09
0View All