Malam harinya di asrama Universitas Anugerah turun hujan lebat, Pipit mendengar suara petir menyambar dari dalam kamar mandi karena gadis itu sedang menggosok giginya. Karena Pipit dan Dani merupakan anak rantau dan tak memiliki sanak saudara di kota tempat mereka berkuliah, maka mereka memilih tinggal di asrama milik universitas. Asrama ini di bagi antara asrama putri dan asrama putra, juga gedungnya hanya bersebelahan jadi kadang Dani menjemput Pipit di asramanya jika mereka memiliki jam kuliah yang sama. “Kenapa aku masih mikirin si Hanif, yah? Kayak pernah kenal lama tapi lihat wajahnya tadi baru yang pertama kali.” Gumam Pipit sambil melihat pantulan dirinya di cermin. “Aku bisa gila lama-lama.” ‘AAAAAKKKKKKKK!!!!!!’ Tiba-tiba suara teriakan terdengar sangat kencang saat hujan sudah mulai reda, lantas Pipit keluar dari kamarnya menuju sumber suara. Ia tiba di depan ‘Kamar 155’ yang sudah dipenuhi oleh mahasiswi yang tinggal di gedung asrama itu, tak lama mahasiswa yang berada di gedung sebelah pun mulai berdatangan termasuk Dani. “Ada apa tuh?” tanya Dani pada Pipit. Gadis itu hanya mengangkat bahu sambil menatap keramaian. Mereka berdua menengok dari atas kepala kerumunan siswa lainnya, mereka melihat salah satu siswa tergantung di langit-langit kamar 155. Dani dan Pipit saling berpandangan tak percaya, tak lama kemudian datang dua dosen yang kebetulan tinggal di lantai satu masing-masing asrama beserta kepala keamanan asrama. “Minggir semuanya!” ucap petugas keamanan menerobos kerumunan. Pipit dan Dani mundur beberapa langkah untuk memberi akses pada petugas yang akan membantu. Murid-murid yang lain sibuk membicarakan apakah mahasiswi itu mati bunuh diri atau dibunuh atau apapun itu, tapi Pipit masih diam meskipun Dani mengajaknya bicara. “Gimana?” tanya Pak Toni, salah satu Dosen yang ada di TKP. “Maaf, kami tidak tahu bagaimana cara melepaskan talinya. Tali itu diikat di leher lalu di kaitkan di langit-langit yang kayunya sangat kokoh untuk beban seorang mayat. Kaitan itu juga di kunci dan tali yang tadi juga di pisah menjadi dua bagian, yang satunya terikat di kaki ranjang. Selain itu kami tidak dapat menemukan kuncinya.” Jelas petugas sambil berusaha untuk melepas ikatan tali yang mengikat leher mayat itu. Pak Toni mendengus menatap tali yang diikatkan pada mayat dan di kaitkan di langit-langit kamar menggunakan katrol seperti alat pengambil air jaman dulu (timba untuk air sumur), pada katrol itu terdapat dua tali. Tali yang pendek diikat pada leher dan langit-langit kamar, sementara yang satunya diikat dikaki ranjang dalam posisi sama-sama dikunci. “Kalian semua bentuk kelompok dan cari kuncinya sampai ketemu bagaimanapun caranya!” bentak Pak Toni pada kerumunan mahasiswa termasuk Pipit dan Dani. Seketika kerumunan bubar dan berpencar berkelompok untuk mencari kunci tersebut, Pipit dan Dani sekelompok dengan Arthur yang diketahui merupakan sepupu Hanif. “Kenapa kita harus sekelompok sama dia?” Bisik Dani pada Pipit. “Udahlah Kak Dan, toh dia juga gak menggigit.” Dani menoleh pada Arthur yang juga sibuk mencari kunci, tatapan mata Arthur hampir sama dengan Hanif hanya saja lebih menusuk. Arthur mengernyit saat Pipit dan Dani ikut membantu petugas mencari di kamar korban, ia melihat sebuah lubang di sisi kamar. “Lubang apa ini?” gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Pipit dan Dani. Pipit yang melihat gerak-gerik Arthur keluar kamar lantas mencolek Dani untuk mengikuti kemana lelaki itu pergi. Arthur memutar knop pintu gudang yang berada tepat disebelah kamar korban namun tak terbuka, Lekas Arthur menendang pintu itu hingga terbuka keras menghantam dinding, isi gudang pun terlihat hanya kardus-kardus usang berukuran besar, sedang, dan kecil. Segera Pipit, Dani dan Arthur memasuki gudang tersebut dan mencari kunci yang di maksud. “Ketemu!” pekik Dani lekas mereka berdua menghampiri lelaki itu. “Lo ketemu dimana?” tanya Arthur sedikit heran. Dani menunjuk lubang resapan air di pojok ruangan. “Bagus, ayo!” Pipit menyikut Dani, mereka berdua lalu keluar gudang meninggalkan Arthur sendiri. Arthur menyunggingkan senyumnya, “begitu, ya?” gumamnya pelan lalu berjalan menyusul Pipit dan Dani. _____ Pagi ini kampus sedang geger dengan pembunuhan salah satu mahasiswa, mereka semua takut kalau nantinya mereka juga akan menjadi korban. Kali ini Pipit duduk di kantin dengan jus alpukat di mejanya bersama dengan sohib tercintanya. “Gue bingung, deh. Gimana caranya coba pelaku ikat korban dengan talu yang di kunci, gak hanya itu kuncinya pun cocok dengan dua gembok!” ucap Dani sambil menyeruput jus apelnya. Ghege mendengus, “Mudah saja! Gembok yang sama dapat dibuka oleh kunci yang sama walaupun kunci hanya satu biji!” “Biji apa?” tanya Keken. Jeje memutar bola matanya, pasti kalau Keken mulai bertanya berarti dunia sedang tidak baik-baik saja. Jadi lebih baik hentikan dia berbicara atau bencana alam akan terjadi. “Biji mata lu yang ada empat!” kesal Awan. “Dih si mata ayam!” “Hushh, udah-udah. Gak akan kelar berantemnya ini anak bedua.” “Eh, benar juga. Tapi yang masih membingungkan, pas gue foto mayatnya, terdapat angka dan tulisan ini...” Fatim lalu menunjukan sebuah foto yang sempat ia ambil saat ikut menemani ayahnya yang seorang ahli forensik untuk menangani mayat mahasiswa itu. “Ini adalah leher korban, disana terdapat angka ’12.05. Balok kanan. 55, gue gak tahu apa maksudnya.” “Biar gue lihat.” Fatim terjingkat kaget, ia lalu berbalik ke belakang dengan wajah yang terkejut, begitu juga dengan yang lain. Rupanya Arthur dan sang adik Hanif yang ada di belakang Fatim. “Biar gue lihat.” Ulang Arthur dengan penuh penekanan di setiap katanya. Fatim meneguk ludah susah payah sambil memberikan foto di ponsel miliknya. Arthur dan Hanif menatap foto itu dengan teliti, Dani hanya tersenyum dengan mulut yang tak sepenuhnya tertutup sambil menatap Hanif seperti melihat bidadari surga yang jatuh ke bumi, sementara Pipit juga sedang menatap Hanif masih dengan rasa penasarannya terhadap gadis itu. Arthur yang sudah selesai meletakkan foto itu ke meja, lalu ikut duduk bersama kedelapan remaja bobrok diikuti sang adik. “Siapa yang nyuruh kalian duduk?” tukas Jeje sewot. Gadis itu memang tidak menyukai orang asing apalagi ia tidaj mengenal keduanya. Arthur mendelik kearah Jeje yang membuatnya diam dan menatap ke arah lain. “Apa yang sudah kalian simpulkan dalam kasus ini?” tanya Arthur pada mereka berdelapan. Mereka saling berpandangan kikuk, Fatim lalu membuka pembicaraan. “Mungkin, ini mungkin yah menurut gue. Motif dari pembunuhan ini adalah balas dendam, karena setahuku korban yang bernama ‘Fitrah’ ini adalah mahasiswa ternakal dan suka membully, bahkan hampir satu kampus ini banyak yang membencinya.” “Kalau balas dendam sesama mahasiswa gak mungkin sejahat ini, Tim.” Gwen menimpali. Jeje meletakkan lengannya di atas meja, “Kalau yang gue pikirkan, feelingku dan kecurigaanku ini adalah pembunuhan yang direncanakan karena tragedinya seperti sudah dipikirkan secara matang.” “Gue sedikit mengerti untuk apa kode-kode ini, gue memang kurang ngerti untuk apa kode-kode ini tapi gue rasa akan ada korban lagi menggunakan kode yang hampir serupa kode-kode ini.” Dani ikut menambahkan. Pipit menatap mereka dengan serius, “aku curiga dengan kunci yang kutemukan di gudang, padahal gudangnya dikunci. Tapi kenapa kunci dari tali-tali itu ada di dalamnya?” Hanif yang mendengar itu lantas tersenyum miring, “itu namanya trik.” “Trik?” tanya Awan dengan bingung. Sementara Arthur melipat tangannya dan tersenyum puas, “Trik ruang tertutup.” Ucap Arthur. Entah kenapa keadaan menjadi senyap, sebelum akhirnya Awan menggeleng. “Gue gak ngerti.” “Trik ruang tertutup pernah terjadi di Amerika sebelumnya, itu adalah trik dari sebuah pembunuhan yang sulit untuk di pecahkan, bahkan pelakunya gak bisa di tangkap” Arthur menjelaskan. “Lalu?” “Hanya begitu saja, jika kalian mau tahu silahkan pecahkan kasus ini.” “Sudah ada pihak berwajib yang menyelidiki kasus ini.” “Polisi dan rekan-rekannya terlalu lambat bahkan untuk mengetahui trik ini, aku yakin pasti belum ada yang menyadari trik pembunuh ini.” Ghege yang sedari tadi hanya diam dan sibuk dengan ponselnya lantas menatap tujuh sahabatnya secara bergantian. “Guys, bapak gue manggil kalian bertujuh ke rumah, katanya ada syukuran dan kalian bertujuh harus dateng.” “Sekarang?” tanya Fatim. “Bentar, jam 3.” “Okelah.” Setelah itu Arthur dan Hanif pamit karena jam kuliah mereka sudah dekat, Pipit dan Dani hanya menatap kakak beradik itu dengan diam hingga mereka hilang dari pandangan keduanya.
bagus dan sangat menarik
06/04
0oke
27/10
0seruuu
28/09
0View All