logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 MANDI KEMBANG JILID DUA

“Makanya ngomong yang jelas mau kemana, Ya. Kamu kan cuma bilang mau beli kembang.” oceh Mahesa karena Gayatri ngambek.
“Kamu main pergi aja, nggak nanya dulu ke aku.”rajuknya.
“Kok jadi aku yang salah,sih?”Mahesa kebingungan.
“Iya makanya, kalau belum jelas tuh nanya bukannya sok tahu!”malah Gayatri yang gantian mengomeli Mahesa.
“Hm, definisi pria selalu salah tuh begini ya, ternyata.”ujar Mahesa sambil mengelus dadanya.
“Udah buruan putar balik, Mbul.”pinta Gayatri ke Mahesa.
“Iya, iya! Ini di mana belinya?”kali ini Mahesa tidak mau disalahkan lagi karena tidak bertanya terlebih dahulu.
“Di Pasar tradisional, Mbul. Depan rumah Bude yang jual Martabak Telur favorit kita.”jelas Gayatri rinci.
Mereka pun meluncur menuju Pasar secepat kilat, takut jika kembang sudah tak bersisa lagi.
“Mbul, mau kembang juga,nggak?”tawar Gayatri ketika mereka telah tiba di tempat jualan kembang.
“Nggak,ah! Seram!”tolak Mahesa.
“Seram dari mana? Dasar aja nggak mau!”Gayatri masih kesal dengan Mahesa.
Mahesa pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan Gayatri. Ia sibuk melihat lihat suasana Pasar.
“Jajan dulu, Yuk!”ajak Mahesa agar Gayatri marahnya mereda.
Gayatri gantian pura-pura budek.
“Bakso Mas Kangen, kayaknya enak.”Mahesa pura-pura berfikir, namun ujung matanya melirik Gayatri untuk melihat reaksinya.
“Bakso Mas Kangen? Serius?” mata Gayatri berbinar-binar karena itu memang Bakso yang paling dia sukai.
“Serius. Mau, nggak?”Mahesa menyikut Gayatri.
“Mau!”jawab Gayatri cepat.
***
Mereka berdua memesan menu yang sama di Bakso Mas Kangen. Bakso urat jumbo dan es teh manis. Gayatri dengan semangat menambahkan sambal ke kuah baksonya.
“Woi...woi!” Mahesa yang melihat langsung menghentikan sendokan sambal Gayatri yang ketiga kalinya. “Mau sakit perut tujuh hari tujuh malam,Ya?”omelnya.
Gayatri memberengut kesal karena kegemarannya akan sambal terhentikan oleh Mahesa.
“Ya, terusin aja makan sambal sampai nanti, masuk rumah sakit kayak setahun yang lalu.”oceh Mahesa.
Beberapa pasang mata yang sedang berada di warung bakso berbisisk-bisik, beberapa tertawa tertahan melihat Mahesa yang memarahi Gayatri.
“Mbul, orang-orang ngelihatin kita,lho.”Gayatri berbisik ke Mahesa.
“Biar aja.”jawab Mahesa cuek. “Ngomong-ngomong, mandi kembang itu wajib, Ya?”tanyanya.
“Nggak,dong. Itu kan semacam tradisi. Kalau di Jawa Tengah namanya Padusan. Tapi ya itu biasanya mandinya rame-reme nyemplung ke sungai atau mata air,gitu.”jelas Gayatri sambil asyik menikmati pentol baksonya.
“Kamu tiap tahun mandi pakai kembang? Kok aku nggak kamu ceritain?”Mahesa kali ini yang cemberut.
“Waktu masih ada Mbah Putri sih rutin, tiap tahun. Semenjak beliau nggak ada lagi, aku kadang mandi, kadang nggak.”tutur Gayatri.
“Itu mandinya setiap mau puasa?”Mahesa yang memang tidak pernah tahu akan hal tersebut mencecar Gayatri dengan pertanyaan.
“Iya. Biasanya sih sehari atau dua hari sebelum puasa, Mbul. Biar badan bersih menyambut Ramadhan.”jelas Gayatri dengan sabar.
Mahesa mengangguk-angguk. Ia memang pernah mendengar soal mandi kembang, namun itu untuk sebuah ritual perdukunan. Ia baru tahu kalau ternyata ada juga kebiasaan mandi kembang untuk menyambut puasa.
“Tradisi ini disebarkan oleh Wali Songo, Mbul. Tahu kan Wali Songo? Itu tuh, sembilan ulama yang dianggap sangat berjasa dalam menyebarkan ajaran agama islam di Nusantara termasuk pulau Jawa. Pokoknya asal muasalnya dari situ.”tambah Gayatri.
Mahesa yang yang memang sedari kecil mendapat sentuhan modern terkagum-kagum.
“Kamu kemana memangnya, pas pelajaran pendidikan sosial dan sejarah?”Gayatri menatapnya heran.
“Memangnya ada, dipelajari soal mandi kembang?”tanya Mahesa heran.
“Ada dong, soal tradisi masyarakat Indonesia.”balas Gayatri.
“Iya, tradisi dipelajari, tapi nggak ada tuh mandi kembang di materi.”omel Mahesa.
“Jangan-jangan kamu nggak tahu juga nih, soal punggahan.”tebak Gayatri.
“Itu apa lagi? Itu juga dilakukan sebelum puasa?”Mahesa langsung tertarik
“Iya, itu acara baca do’a plus makan-makan sebelum puasa. Mbul, kamu kan setiap tahun datang ke rumah Pak RT buat baca Yasin, terus pulang bawa kotak isi nasi dan lauk. Masa lupa, sih?”Gayatri mengingatkan Mahesa.
“Itu namanya punggahan?” Mahesa menggaruk-garuk keapalanya.
“Iya , kalau diadakan mendekati bulan puasa, namanya punggahan.”ujar Gayatri.
“Ngomong-ngomong pas bulan puasa nanti, kita buka bersama,ya?” Mahesa tersenyum penuh arti.
“Puasa aja belum, Mbul!”Gayatri sewot.
“Ya makanya, aku bilang dari sekarang. Inden ...inden,gitu.”ujar Mahesa asal.
“Aku tahu kok Mbul, maksudnya kamu ngajak bukber. Biar nggak dibilang jomlo,kan? Biar orang-orang nggak melihat kamu dengan tatapan sedih gara-gara beli takjil seorangan ke pasar beduk. Iya,kan?” terka Gayatri yang sudah mencium akal bulus Mahesa.
Mahesa salah tingkah karena niatnya sudah terbaca.
“Mbul, kenapa sih yang di otakmu tuh cuma pacar ke pacar ke pacar? Memangnya kamu tuh nggak bisa hidup kalau nggak punya pacar? Perasaan selama ini kamu baik baik aja mau ada pacar ataupun nggak.”cerocos Gayatri.
Mahesa pura-pura sedang membaca pesan di grup wa bisnisnya.
“Mau tambah bakso, Ya? Mau nambah es teh?” Mahesa mengalihkan pembicaraan.
“Boleh?”tanya Gayatri dengan perasaan senang bukan kepalang.
“Boleh, dong. Mas, tambah satu posri lagi ya sekalian sama es tehnya.”pesan Mahesa.
“Kamu sengaja ya baik-baikin aku biar aku nggak ngomel?”tanya Gayatri jutek.
“Nggaklah! Kamu kan kelihatannya kelaparan, jadi aku berinisiatif untuk nambahin porsi bakso buat kamu, Ya. Aku nggak mau lihat kamu kurus kering gara-gara aku nggak mau jajani kamu.”Mahesa memberikan alasan yang sebenarnya tidak bisa diterima oleh Gayatri.
“Gitu?”Gayatri memastikan perkataan Mahesa.
“Iya, gitu. Aku kan paling tahu muka kelaparan kamu tuh gimana.”kilah Mahesa. “Nih, baksonya datang. Ayo dimakan, Ya!” ujarnya sambil tersenyum manis.
***

“Dapat kembangnya?”tanya Ibu ketika membukakan pintu untuk Gayatri dan Mahesa.
“Dapat, Bu. Aya beli tiga. Buat Aya, Ibu dan Ayah.”jawab Gayatri sambil merebahkan diri di sofa.
“Mbul nggak dibeliin sekalian?”Ibu melihat ke arah Mahesa.
“Dia nggak mau, Bu. Tadi sudah Aya tawari,katanya seram. Tahu tuh, seramnya di mana.”Gayatri menatap sadis ke Mahesa.
“Kalau di film horor kan, mandi kembang buat ritual perdukunan.”balas Mahesa.
“Makanya jangan kebanyakan nonton film horor, Mbul!”Gayatri gemas kuadarat melihat kelakuan sahabatnya yang unik itu.
“Mbul, Mbul, kok malah seram,sih?”Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Padahal, mandi kembang itu segar lho, Mbul. Apalagi ada jeruk purutnya. Hm, wangi!”jelas Ibu.
“Masih tetap seram, Bu. Nanti kalau gara-gara badan bau kembang terus didatangi dedemit,gimana?”tanya Mahesa polos.
“Emang ada dedemit berani deketin kamu, Mbul? Yang ada, dedemitnya takur!”bantah Gayari sambil tertawa.
“Jadi maksudnya aku lebih menyeramkan dari dedemit? Bu, tolong dong si Aya ditatar dulu. Masa, Mbul dibilang sebangsa dedemit?”adu Mahesa sok dimanja-manjain yang membuat Gayatri menjulurkan lidah. Mengejek.
“Konon nih, katanya kalau putri-putri keraton itu sudah mandi kembang, itu kecantikannya jadi nambah,lho.”tutur Ibu.
Otak Mahesa langsung bekerja setelah mendengar penuturan Ibu Aya. “Kecantikan bertambah, berarti auranya terpancar. Berarti, mandi kemban, bisa meningkatkan aura.” Batinnya.
“Bu, Mbul juga mau dong mandi kembang. Aya, bagi dua ya, kembangnya.”rengek Mahesa.
Gayatri menoleh ke arah sahabatnya itu dengan pandangan bingung. “Lah barusan katanya seram, sekarang tiba-tiba mau mandi kembang. Otaknya lagi bermasalah,Mbul?”tanya Gayatri.
“Pokoknya, kembangnya bagi dua.”pinta Mahesa.
“Nggak mau!” tolak Gayatri tegas.
“Aya, tolonglah!”Mahesa memasang tampang memelas.
“Nggak mau, ah! Salah sendiri tadi nolak!”cibir Gayatri.
“Bagi dua, ya?” Mahesa masih berusaha membujuk.
“Nggak!”Gayatri tetap dengan jawaban yang sama.
“Pelit!”tuding Mahesa.
Gayatri berdiri lalu menatap wajah Mahesa yang sebenarnya cakep, cuma kelakuannya sering bikin ilfil. “So, what?”

Book Comment (683)

  • avatar
    Martince Banoet

    yes

    21/04

      0
  • avatar
    Hantori JRhantori

    akusangat senang

    26/03

      0
  • avatar
    Caleb Moses

    struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami

    14/02

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters