Dibeberapa daerah di Indonesia, masih ada ritual mandi sebelum memasuki bulan Ramadhan. Secara umum disebut mandi wangi, namun di Sumatra Utara disebut Pangir, Di Jawa tengah dan Jawa Timur disebut Padusan, di Sumatra Barat disebut Mandi Balimau, dan lain-lain. Di setiap daerah mempunyai sebutan dan tata cara mandi sebelum puasa yang berbeda-beda, namun intinya tetaplah satu, yaitu menyambut kedatangan bulan suci dengan jasmani yang bersih. Dulu, semasa Mbah putrinya masih hidup, Gayatri tidak pernah absen untuk mandi wangi sebelum puasa. Biasanya ia dan keluarganya mandi dengan menggunakan air yang dicampur kembang melati, mawar, cempaka, kenanga, dan juga jeruk purut. Beberapa tahun belakangan ini, semenjak Mbah Putri sudah tiada, ia sering lupa melaksanakan mandi wangi tersebut. Gayatri baru saja menyelesaikan tulisannya tentang apa saja yang dilakukan masyarakat di Indonesia sebelum Ramadhan tiba, di mana mandi wangi menjadi salah satu yang masih sering dilakukan masyarakat Indonesia. Ia membaca tulisannya sekali lagi, lalu setelah ia merasa itu pas, ia pun mengirimkan tulisannya ke Mbak Yanti, editor di tabloid tempat ia bekerja. “Sebentar lagi puasa, Masya allah!” ia bersemangat ketika melihat kalender yang terpajang tepat di hadapannya. “Kangen kolak Ibu,nih.”ujarnya sambil membayangkan kolak buatan ibunya yang rasanya tak terungkapkan. “Tahun ini mandi wangi nggak,ya?” tanyanya dalam hati. “Seru juga kalau mandi wangi. Ajak Mbul beli kembang,ah!” Ia lalu segera mengirim chat ke Mahesa. “Mbul, beli kembang,yuk!”ajak Gayatri. Hanya dalam hitungan detik chat Gayatri dibalas. “Ayok!”jawab Mahesa dengan emotikon tertawa. “Aku jemput pakai motor atau kamu kesini jemput aku pakai mobil?”tanya gayatri lagi. “Berhubung pertamax naik, aku mau kamu jemput aku aja.”balasnya yang membuat Gayatri terbahak-bahak. “Halah, biasa beli pertalite aja belagu pakai pertamax!”semburnya lewat chat. “Mikir belakangan bestie, yang penting nge gas dulu.”jawab Mahesa yang semakin membuat Gayatri terpingkal-pingkal. “Tunggu ya, satu jam lagi aku kesitu.”ujar Gayatri dan dibalas dengan emotikon marah oleh Mahesa. “Lama amat sejam lagi. Aku ngapain selama sejam nungguin kamu,Ya?”protes Mahesa. “Aku kan mau mandi dulu, mau dandan, mau cakep-cakep. Ya kali keluar kucel,lecek bin kusut.”omel Gayatri sambil membayangkan wajah ngambek Mahesa. “Udah deh, aku aja kesitu naik ojek online. Nanti beli kembangnya pakai motor kamu aja.”sahut Mahesa nggak sabaran. “Nih anak heran deh ya, nggak bisa sabar.”batin Gayatri. “Ya udah, terserah, kalau kesini aku masih di kamar, jangan rusuh, ya. Ketuk pintunya pelan-pelan, pakai salam jangan lupa. Aku ggak mau ibuku jantungan gara-gara kehebohanmu, Mbul.”akhirnya Gayatri membiarkan Mahesa yang ke rumahnya. “Siap,bu Bos!”canda Mahesa, kemudian Gayatri mengakhiri percakapan mereka. *** “Ibu Aya, Ibu Aya! Mbul datang!” Mahesa ternyata tidak bisa menepati janjinya untuk tidak membuat kehebohan. “Ibu Aya! Mbul bawa gorengan nih, walaupun agak mahal dari biasanya gara-gara minyak goreng langka.” Serunya lagi dan tak lama Ibu Aya keluar sambil menahan tawa. “Mbul, kamu nih suka banget bikin marah Aya.”goda Ibu dan Mbul memasang wajah tanpa dosa.”Masuk sini, Aya sudah mandi tinggal pakai baju.”ajak Ibu. “Bu, itu mobil kalau nggak dipakai gara-gara Aya nggak kelar-kelar kursus mengemudinya, biar Mbul aja yang bawa.”ujarnya seraya menunjuk mobil di garasi. “Kamu mau Aya ngamuk? Tiap pagi dipanasi kok sama Ayahnya Aya.”tutur Ibu lembut. “Tapi kan Ayah Aya sudah jarang kemana-mana pakai mobil,Bu. Mubazir. Lagian, si Aya ada mobil nganggur malah kemana mana pakai motor!”omel Mahesa yang sengaja nadanya ia perjelas agar Gayatri dengar. “Mbul,sudah,ya! Jangan bikin aku keluar pakai handuk cuma buat ngiket tu mulut,ya!”Gayatri bereaksi. Mahesa dan Ibu mendadak cekikikan karena Gayatri terpancing emosinya. “Itu kenapa lagi berdua cekikikan? Dikira Aya nggak dengar,gitu?”Gayatri kembali mengoceh dari dalam kamar. Mahesa dan Ibu langsung menahan tawa dengan menutup mulut mereka. “Ih, nggak ibu, nggak Mbul sama aja!”repetnya lagi. Gayatri lalu keluar dari kamar dengan wajah kesal. “Ibu dulu ngidam apa pas hamil Gayatri? Kok dia nggak seimut Mas Dewa,sih?”tanya Mahesa sok lugu. “Sudah Ya, Mbul. Nggak usah bannding-bandingi aku sama Mas Dewa.” Gayatri menyebut nama Kakaknya yang sudah berekeluarga. Sekali lagi Mahesa dan Ibu tertawa lepas melihat Gayatri yang cemberut. “Katanya mau cari kembang? Sana pergi, nanti kesiangan nggak dapat lagi kembangnya.”Ibu menyudahi perseteruan dua sahabat itu. Bagi Ibu, Mahesa sudah seperti keluarga. Ia menganggap Mahesa anak ketiganya dirumah ini setelah Dewa dan Gayatri. Gayatri lalu mencium tangan ibunya dan Mahesa pun ikut berpamitan dengan mencium tangan Ibu. “Tumben!”sindir Gayatri. “Sini kunci motornya, aku dong yang bawa.”Mahesa mengambil kunci motor dari tangan Gayatri. Ibu melepas kepergian mereka berdua sambil tersenyum-senyum. “Jodoh ntar, baru tahu!”batin Ibu. +++ “Aya, yang romantis gitu kenapa? Kan kita lagi naik motor.”protes Mahesa dan Gayatri mencibir. “Ngapain harus romantis ke dirimu, Mbul?”balas Gayatri. “Biar dikira aku punya pacar!” Mahesa mengencangkan suaranya karena harus melawan deru angin. “Apa? Nggak dengar!”balas Gayatri tak kalah kencang. “Biar dikira aku punya pacar! Ya Allah, tuh kuping apa tetelan?”Mahesa membalas dengan suara lantang. “Nggak dengar,Mbul!”sahut Gayatri. Orang-orang yang berada di sekitar mereka melihat mereka berdua dengan tatapan aneh karena saling memekik di jalanan, bahkan ada yang berfikir mereka sepasang sejoli yang sedang bertengkar. Ketika di lampu merah, pengendara motor yang lain menegur Mahesa dan gayatri. “Mbak, Mas, kalau berantem jangan di jalan. Bahaya! Menepi aja dulu, lalu selesaikan baik-baik.” Ujar orang tersebut yang membuat Mahesa dan Gayatri bengong. “Kamu sih!” Gayatri menyalahkan Mahesa yang memulai berteriak. “Lah kamu tuh, kupingnya KW”balas Mahesa. “Mbul kamu tahu kan jalan ke tempat yang jualan kembang?”tanya Gayatri karena ia merasa arah motor melaju ke jalan yang salah. “Tahu, Aya! Kan dulu aku pernah kamu ajak beli kembang.”sahut Mahesa, sementara Gayatri berusaha mengingat kapan ia pernah mengajak Mahesa membeli kembang untuk mandi wangi. “Kapan,ya?”tanyanya dalam hati. Gayatri membiarkan Mahesa menuju tempat jualan kembang yang ia maksud, namun firasatnya mengatakan bahwa mereka salah jalan. “Mbul, kok arah sini sih?”Gayatri bertanya dengan lantang. “Udah aya, berisik!”balas Mahesa, juga dengan lantang. “Tapi ini salah jalan,Mbul!”protes Gayatri. “Nggak salah, kok.Kamu nggak percaya banget sama aku.”omel Mahesa. Gayatri terdiam dan ia mencerna kemana sebenarnya arah yang dituju Mahesa. Benar saja, sesuai dugaan Gayatri, mereka salah tempat. “Taraaaa....sampai!” Mahesa menunjuk sekumpulan penjual tanaman hias. “Mbul, maksud aku bukan kembang yang ini.”Gayatri bertolak pinggang. Rasanya ia ingin mengmuk saat itu juga. “Tadi kamu bilang kembang Ini kembang!”tunjukknya lagi. “Kembang buat mandi wangi mau puasa, Mbul! Bukan kembang untuk dipajang di halaman!”
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 26 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (683)
Martince Banoet
yes
21/04
0
Hantori JRhantori
akusangat senang
26/03
0
Caleb Moses
struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami
yes
21/04
0akusangat senang
26/03
0struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami
14/02
0View All