Hubungannya dengan Tanjung diambang keputusasaan. Bisa saja pada akhirnya sirna dan menghilang. Perasaan yang Sarah rajut selama lebih dari empat tahun sepertinya akan berakhir mengenaskan. "Sekarang lo nyesel?" tanya Siska, sahabatnya. "Harusnya gimana?" Sarah justru bertanya. Pandangan kosongnya pada jalan raya terus menghujan. "Daripada nyesel, gue lebih ke kecewa." "Bukannya sama?" Siska memberi komentar. Sarah memiliki Siska. Teman sejak kuliah yang membuka bisnis toko bunga di pusat kota. Teman yang siap memaki kebodohan Sarah ketika Tanjung adalah objek penjabarannya. "Gue harus apa?" "Putus lah. Masih nanya." Siska mengulurkan segelas kopi. Sarah menerima itu tanpa meninum. Hanya dia genggam untuk menyalurkan hangatnya pada telapak tangan. "Nggak segampang itu, Sis." "Gampang, Sarah. Lo tinggal datengin dia terus bilang, 'I'm done. Kalo lo suka Evrilia, tinggalin gue'." "Iya, gampang banget ngomongnya." "Bego!" Siska mengeluarkan hoodie dan celana panjang. Mungkin tahu bahwa Sarah tidak nyaman dengan pakaian kantornya yang sedikit ketat. "Ini hoodie yang gue pinjem. Pake, gih." Hooddie abu-abu hadiah dari Tanjung beberapa hari sebelum mereka resmi pacaran. Hoodie yang mengukir sejarah panjang tentang hubungan di belakang mereka. Suka dan duka, senyum dan tangis. Seperti ikutan terjahit di sana. Sarah bertemu Tanjung empat tahun lalu. Ketika Sarah melamar bekerja sebagai resepsionis pada sebuah perkantoran. Tanjung sendiri yang menunjuk Sarah sebagai pelamar yang diterima. Kemudian berlanjut pada hubungan rekan kerja yang lebih serius. Hingga puncaknya, Sarah jatuh cinta. Dia tahu Tanjung sudah memiliki kekasih. Namun kesibukan kekasih Tanjung jadi alasan untuk Sarah mendekat. Mengisi kekosongan hati akibat kesibukan sang kekasih. Dan berhasil, hubungan itu berjalan dua tahun. Rasa sakit pertama ketika pernikahan Tanjung dan istrinya digelar. Sarah hadir sebagai rekan kerja. Ikut mengangkat gelas wine dan mendoakan yang terbaik. Padahal setelah itu, Sarah menangis hebat. Enggan putus dari Tanjung dan siap melebarkan perasaan untuk semakin terbagi. Dan berjalan selama dua tahun selepas pernikahan, Sarah kembali sakit. Bukan karena akhirnya hubungan mereka diketahui Evrilia. Namun gurat aneh Tanjung kala menatap mata sang istri yang sama sekali tak bisa dia jelaskan. "Sarah!" panggil Siska sedikit membentak. "Lo ngelamun, ya? Ya nggak heran, sih. Lo lagi sakit." Sarah kembali duduk setelah berganti hoodie dan celana yang lebih layak. Di sela sakitnya dan pening kepalanya, ponsel Evrilia berdering kuat. Dering lain yang Sarah setel khusus untuk telepon masuk dari Tanjung. "Sialan! Tuh cowok ngapain masih telfon gue, sih," umpat Sarah. "Nggak mau lo angkat?" "Gue harus berusaha tegar buat ngangkat telepon dia. Pelakor nggak boleh selemah gue, Sis." Sarah mengakui dirinya pelakor. Lucu sekali, Sarah Hanifah. "Dan lo bisa pura-pura tegar," kata Siska lagi. "Angkat, siapa tahu penting." "Nggak ada yang penting," gumamnya malas. "Lo belum tahu karena belum diangkat." Deringnya berhenti. Sarah menghela napas. "Gue lagi nggak bisa nebak dia." "Angkat. Lo bisa bersikap seperti Sarah yang kejam dan menawan." "Emang gue bisa?" "Sejauh ini lo selalu bisa. Jangan jadi lemah." Dering kedua, tangan Sarah masih tidak kuat menganggkat. Beban pundaknya terlalu berat untuk mendengar apapun tentang apa yang akan terucap. Namun dering ketiga, Sarah meluruskan punggung. Tatapnya lurus menatap ponsel lantas berganti pada Siska. Tanjung bukan tipe orang yang akan menghubungi lebih dari dua kali. Dan jika itu terjadi, mungkin sesuatu mendesak sedang menghantuinya. Kilat, Sarah meraih ponselnya. Bukan kalimat sapa yang Tanjung lontarkan, melainkan isak tangis yang membuat Sarah tersayat. Siska bertanya lewat tatap, sayang belum terjawab Sarah berlari keluar ruangan. Sepertinya Sarah sedang tidak sadarkan diri. Bagaimana dia bisa berlari sangat kencang ketika berita yang Tanjung sampaikan adalah, "Evrilia sakit. Kamu harus kesini." Sarah mengusap air mata. Mencegat taxi dan melaju kencang menuju rumah sakit. Kenapa dia harus hadir untuk seorang yang membuatanya sakit. Kenapa langkahnya seringan itu padahal dia sedang menuju objek sakit hatinya. Sarah menangis di dalan taxi, isaknya seolah memberitahu bahwa dia tidak sanggup namun untuk kehilangan, dia juga tidak sanggup. Sarah menemukan Tanjung menunduk di kursi tunggu. Dia lusuh, tak seperti Tanjung yang selalu dia lihat. Dia menangis, bukan seperti Tanjung yang hanya memeluknya ketika sedih. Kala langkahnya semakin dekat dengan sang kekasih, lelaki itu mengangkat wajah. Dan sungguh, raut itu bukan raut yang pernah Sarah lihat. Terlalu lusuh dan sendu. "Tanjung," gumam Sarah samar. Dan langkahnya cepat ke arah sang kekasih. Spontan, peluk itu dia lontarkan. Sarah mendekap Tanjung erat, mencoba menggosok punggung sang kekasih dengan lembut. Menyalurkan kata baik-baik saja agar dia tidak lagi menangis. Evrilia keguguran, itu kabar selanjutnya yang Sarah terima. Malam itu juga operasi dilakukan. Sarah mendampingi Tanjung. Menemaninya dari tangis, mengusapnya dari duka. Padahal dirinya lemah dan tidak baik-baik saja. Apakah Sarah harus jahat dengan egois dan menyeret Tanjung dari sana? Atau dia hanya harus menyeret dirinya sendiri. Pergi dari hadapan Tanjung yang masih menangis hebat. "Aku kehilangan dia," gumamnya. "Dia nggak pergi jauh dari sini." Sarah menyentuh dada sang kekasih. Kemudian mencoba tersenyum dari sayatan keadaan dirinya sendiri. Tanjung ikutan menyentuh dada. Menumpuk tangannya dengan milik Sarah. "Aku pembunuh dia?" tanyanya. "Dia pergi atas keinginannya sendiri," kalut Sarah. Enggan membuat Tanjung menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang jabang bayi. "Kamu jangan gini." Sarah tak bisa bilang bahwa kepergian itu karena Tanjung. Karena jika iya, berarti Sarah ikut andil dalam kehilangan itu. Bahwa kepergian sang janin juga ulahnya. Sarah meraih Tanjung dalam peluk lagi. "Everything will be fine. It's okey, Tanjung." ~🍁~ Selain fakta bahwa Tanjung berkhianat, Evrilia kesakitan dengan fakta lain. Bayi dalam kandungannya memilih menyerah. Evrilia keguguran. Sang jabang bayi yang belum genap dua bulan memilih pergi padahal belum menyentuh dunia. Seolah dia enggan menjadi saksi pertengkaran kedua orang tuanya yang menyedihkan. Evrilia meremas kain di atas perutnya dengan nyalang. Tatap ke arah langit-langit yang kosong. "Sayang?" panggil Tanjung. Sialan, suara itu membuat Evrilia kembali menangis. Dia butuh peluk Tanjung dalam kesakitan itu, namun disisi lain, sakit lainnya hadir dari dia. Susah payah Evrilia mengalihkan tatapnya. "Evrilia, aku mohon." Jangan memohon. Seharusnya Evrilia yang memohon dia untuk pergi. Agar kesakitan sedikit dia redam dengan kepergian Tanjung. Sayangnya daripada pergi, lelaki itu duduk dan menyentuh jemari Evrilia. Evrilia hendak mengibasnya, namun egonya bilang bahwa dia butuh Tanjung dalam kesulitan itu. Akhirnya, setelah perdebatan ego yang panjang, Evrilia berani menatap mata sang suami. Seorang paling jahat yang pernah ada. Bibir itu melengkung ketika Evrilia menatap. Dan gurat wajahnya sendu membiru. Mungkin dia juga menangis. "Sayang?" "Mas," panggilnya. Sembari menahan tangis yang hendak keluar. "Sakit." "Sebentar lagi nggak sakit. Kamu tahan, ya." Bukan hanya perutnya. Namun lainnya juga. Seluruh tubuh Evrilia sakit. Evrilia menggeleng samar, "dada aku sakit, Mas." Tanjung terdiam sebentar dan menunduk. Dia menunduk dalam kemudian isaknya terdengar jelas. Tanjung menangis. Samar namun Evrilia ikut merasakan sesak itu. "Maaf, sayang." Jika dunia bisa baik-baik saja hanya dengan kata maaf, mungkin banyak orang di luar sana yang sering berbuat jahat kemudian menutup kejahatannya dengan kata maaf. Sayangnya kata itu tidak sesimple kedengarannya. Ada banyak perdebatan dalam diri untuk bisa mengucapkannya. Dan untuk menerima maaf itu, seorang harus berdebat hingga babak belur. Hingga nuraninya sendiri kelelahan dengan perdebatannya. Evrilia meneguk saliva, dia muak dengan kata maaf yang sering terdengar. Namun untuk menolak itu, hayinya bilang bahwa tunggu dulu. Dengarkan semua yang terjadi lantas putuskan harus apa. "Kamu jahat," kata Evrilia. Sangat samar dengan tangisnya yang lebih banyak. Bahkan wajahnya sudah kebas dengan tangis itu. "Aku jahat. Iya, jahat sayang. Aku minta maaf." "Kamu seharusnya pergi dari sini." Isak Evrilia membuat suaranya tak terdengar jelas. Tanjung menggeleng. Genggam tangannya menguat. "Kamu harusnya nggak disini, Mas." Tanjung semakin erat menggenggam. "Ijinkan aku jelaskan semua, sayang." Dan jika seluruhnya sudahbjelas, bisa Evrilia marah dan pergi? Evrilia diam, isaknya jadi satu-satunya suara beradu isak dari Tanjung yang sudah sedikit tenang. Kini bukan tentang perselingkuhan itu. Kini otaknya berpikir tentang janinnya yang tidak bertahan bahkan sebelum Evrilia merasakan detak sang janin. Kesedihan itu menyebalkan, memuakkan juga membuat segalanya semakin runyam. Seharusnya, jika semesta menyakiti Evrilia dengan Tanjung, ijinkan Evrilia memiliki tempat untuk menguatkan. "Maafin mama ya, nak." Evrilia berkata samar. Mencengkeram kain di atas perutnya dengan kuat. "Mama nggak bisa jaga kamu." ~🍁~
sangat bagus
19/06
0kerenn bgt pliss
22/05/2025
0ceritanya bagusss bgtt
17/03/2025
0View All