logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

06 Tanjung Selingkuh

Dada Evrilia nyeri bukan main. Kotak makan yang terjatuh dan ponselnya yang retak dia genggam erat. Mungkin, pecahan layar itu bisa saja melukai tangan. Namun peduli apa soal rasa sakit di tangan jika dada dan otaknya kini lebih merasakan sakit.
Oseng cumi petai dengan nasi hangat dan sambal bawang sudah tidak terdengar lezat. Nasi itu mungkin mendingin.
Evrilia berjalan lunglai melewati basement. Naik ke pelataran kantor yang ramai. Evrilia sengaja meninggalkan mobilnya di sana. Dia terlalu terluka untuk mengendarainya. Daripa terjadi apa-apa, mending berjalan.
"Selamat sore, Mbak Evrilia," sapa satpam kantor yang kini berjalan menghampiri Evril.
Evrilia berusaha menarik senyum. Agar luka yang dia rasakan kini samar akan kebohongan.
"Pak satpam udah makan?" tanya Evril.
"Kalo siang sudah, kalo malam belum, Mbak."
Sekali lagi Evrilia tersenyum. Mengulurkan kotak makan siang dalam tas kecil ke arah pak satpam.
"Ada dua kotak makan, pak. Dimakan aja sama temannya," kata Evrilia yang diikuti senyum. Senyumnya yang palsu. "Kotak makannya di titipin Tanjung aja kalo udah."
Pak satpam mengangguk samar dan Evrilia sengaja ingin cepat pergi dari sana.
Trotoar jalan terasa sesak dan ramai, namun anehnya hatinya menyepi. Pikirannya berputar akan kejadian nyata yang menyayatnya tanpa ampun. Pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat dengan jelas.
Tanjung. Lelaki itu. Dan kecupnya yang lembut. Yang Evrilia kira tak pernah menjadi milik orang lain. Kini terlihat jelas bahwa itu bukan hanya miliknya.
Tatap mata Tanjung sebelum pintu lift tertutup jadi tatap paling membingungkan bagi Evrilia. Apakah itu tatap malu, merasa bersalah, terluka atau kecewa. Yang Evrilia lihat hanya tatap kosong tanpa isi. Tidak menjelaskan apapun pada Evrilia.
Lama berjalan, kaki Evrilia lelah juga. Tubuhnya terjatuh di depan kafe yang sepi. Evrilia yang merasa dirinya sangat terluka memilih menepi. Mengistirahatkan diri dari lukanya baru saja.
Evrilia duduk di ujung ruang. Memainkan jemarinya yang dingin, kuku-kukunya yang tidak cantik, justru terlihat sangat tidak terawat. Evrilia menatap jendela. Pantulan dirinya tergambar samar. Evrilia dengan rambutnya yang lupa dia keramas sejak dua hari lalu. Belum kusut namun tudak terlihat cantik. Bibir pucatnya yang tanpa beroles gincu. Atau matanya yang sama seperti kebanyakan mata. Evrilia terus mengamati pantulan dirinya. Tidak cantik dan cukup mejelaskan bahwa dirinya tidak pantas.
"Kamu tuh sibuk banget. Sesibuk itu!" bentak Tanjung satu hari tergambar dalam memori. Lengan kemeja lelaki itu yang tergulung, rambut kusam akibat keringat yang jatuh di dahi.
"Kamu pikir aku aja yang sibuk? Kamu juga!" Evrilia juga marah. Merasa dia diremehkan. "Aku masih punya hari libur. Kamu mana?!"
Tanjung menghela napas kemudian keluar dari kamar dan membanting pintu.
Iya. Hari itu untuk pertama kali Tanjung semarah itu. Itu, untuk pertama kali Tanjung membentak Evrilia dengan katanya yang kasar. Dan judge tentang kesibukan pekerjaannya.
"Lo brengsek banget, Tanjung." Evrilia bergumam sembari menarik rambut. Tangisnya yang tertahan berganti sesak. Menyakitkan.
Sore menjelang dengan cepat. Oranye langit mendominasi dengan garang. Indah, namun sakit. Evrilia menunduk risau, kepalanya pening namun dia enggan berdiri.
Sampai entah apa yang terjadi, seorang mengusap rambut Evrilia dengan lembut. Dia mendongak, mendapati Tanjung sudah duduk di depannya dengan raut sama seperti terakhir mereka saling tatap. Evrilia mundur, sengaja berdiri. Mengeluarkan lembar lima puluhan untuk membayar kopi namun tak dia sentuh. Selera minumnya hilang karena Tanjung. Dan sebelum semua semakin memuakkan, Evrilia memilih pergi.
Trotoar jalan jadi teman Evrilia lagi. Langkahnya semakin cepat, menghindari Tanjung agar tidak mengejar. Namun dasar Evrilia sudah lelah, Tanjung berhasil meraih tanggannya.
Dia hempas kasar. Berbalik dan menatap Tanjung garang. "Jangan sentuh gue!"
"Evrilia, please," mohonnya masih berusaha meraih. Namun Evrilia memilih mundur dan berbalik untuk melaju lebih cepat. "Evrilia, aku bisa jelasin semua."
Dan jemari tangan Evrilia kembali diraih. Mengalirkan hangat yang menjijikan. Evrilia geli dengan perlakuan itu.
"Oke. Jelasin sekarang. JELASIN SEMUA!!" bentak itu menyiutkan nyali Tanjung. Dari rautnya yang menggebu, berubah menciut.
"Ev–"
"Semua penjelasan lo bakal nyakitin. Jadi sekalian aja, Tanjung. JELASIN SEMUA!!"
Tangisnya belum jatuh. Hanya ada marah yang meluap. Kepalanya seperti mendidih dengan tatap Tanjung yang iba. Evrilia muak.
Baru santer mengatur napas, dadanya justru semakin sesak. Perutnya menjadi nyeri entah efek sakit hati atau kelelahan panjang yang dia rasakan. Senyeri itu membuat Evrilia yang selalu tegar jadi terjatuh. Lututnya menumpu lebih dulu, lantas perlahan paha itu menopang. Perutnya sakit, sebuah kesakitan yang menjalar dari dada dan otak. Kini menguasi seluruh tubuh.
Mengaduh, meski rintih itu tak membantunya untuk sembuh.
"Sayang," panggil Tanjung dengan kalut. Dia ikutan jongkok, menyentuh pundak sang istri dengan lembut. Walau kelembutan itu sangat menyedihkan.
~🍁~
"Kamu bingung?" tanya Sarah. Pada Tanjung yang kesana-kemari sembari berkacak dan menyugar rambut. Kalutnya semakin menjadi kala ponsel Evrilia tak menyahut panggilnnya sama sekali.
"Dia lihat semuanya!"
"Lantas?" tanya Sarah lagi. Membuat Tanjung berhenti dan memicing.
"Dia lagi hamil," ujar Tanjung melemah. Tulang punggungnya seolah tak danggup menopang badan. Melemah membuatnya oleng dan harus bersandar pada meja.
"Kejar dia," kata Sarah. "Kalo kamu takut dia marah, harusnya jelasin semua dan terus terang."
"Dia bakal sakit," gumamnya.
"Kamu kira dengan kamu nggak mejelaskan dia nggak akan sakit?" Sarah menyilangkan kaki. Diam dan tenangnya membuat Tanjung ingin mencabik dirinya sendiri. Karena seharusnya, dia tak senafsu itu dengan Sarah. "Dia tetap sakit dan kamu mungkin bakal lebih sakit."
Perempuan itu berdiri. Meloloskan satu hela napas yang berat. "Kejar dia. Kalo dia lagi hamil, nggak baik stress mikir suaminya selingkuh."
Sarah keluar dari ruangan. Meninggalkan Tanjung yang lemah akan fakta sakit yang dia ciptakan sendiri.
Akhirnya, kala sore menjelang, Tanjung menyusur lokasi di sekitar kantor. Mobil Evrilia di tinggal di basement, dan seharusnya perempuan itu berada di sekitar sana. Tidak, tidak ada kepastian itu namun Tanjung merasa Evrilia tidak pergi sangat jauh dari sana.
Merasa lelah, Tanjung menepikan mobilnya. Meninggalkan itu pada parkiran umum depan restoran dan pergi dari sana untuk berlari. Tidak ada petunjuk pasti akan kepergian sang istri. Kemana langkah itu menuntun, Tanjung hanya harus berlari dan mencari.
Dan keajaiban atau memang semesta sedang berbaik hati memberi kesempatan Tanjung untuk menyusun kembali rumah tangganya, Evrilia sedang duduk di dekat jendela sebuah kafe. Tatapnya nyalang menatap langit yang berubah oranye kemudian menunduk secara perlahan menjatuhkan kepala pada meja. Pada saat itu, Tanjung melangkah mendekat. Mencoba hadir dengan tulus maaf pada sang istri yang sedang terluka.
Namun dia marah. Kemarahan nyata yang membuat Tanjung tidak punya nyali untuk melawan. Kemarahan Evrilia yang menggebu seperti parang yang menebas Tanjung tanpa ampun. Perih rasanya hingga jika bisa, dia ingin menghilang dari semesta.
Kemarahan yang mengerikan itu perlahan menyusut. Berganti rintih sakit yang dia rasakan. Sejenak, Tanjung memberanikan diri mendekat. Hendak meraihnya dalam peluk sebelum secara aneh Evrilia terjatuh.
Pelataran rumah sakit, lorong, lobi, bangsal pasien, apotek, menjadi hal menyakitkan bagi Tanjung. Evrilia berbaring dengan selang melingkar. Alat bantu napas terpasang di wajahnya yang cantik. Mata dengan manik hitam gelapnya tertutup rapat, kemudian alat bantu hidup yang berbunyi samar menyakitkan.
"Ev, aku minta maaf."
Gumam yang tidak berguna. Seperti semesta menarim dirinya, Tanjung terjatuh. Lemah tubuhnya seolah memberi tahu bahwa rasa sakit yang Evrilia rasakan lebih dalam dari itu.
Tak lama berselang, dokter datang. Lucunya, bertepatan dengan Sarah yang berlari menemuinya. Hoodie abu-abu hadiah ulang tahun beserta celana panjang warna hitam menghiasinya. Sarah seperti buru-buru setelah menerima telepon dari Tanjung tadi. Dan secepat kilat, Tanjung menubruk Sarah dengan peluknya. Mungkin, memberi pertanyaan anyar bagi sang dokter.
"Tenang dulu. Jangan kalut, Tanjung."
"Mari saya jelaskan di ruangan," kata sang dokter meraih perhatian Tanjung dari peluk Sarah. Kemudian keduanya mengekor dokter menuju ruang dengan komputer disana.
Kandungan Evrilia melemah kata dokter. Kelelahan dan dehidrasi menjadi penyebab mengapa istrinya pingsan. Dan stress yang membuat kandungannya semakin terluka. Tanjung tidak mengerti seluruh bahasa yang dokter gunakan. Intinya, kandungan Evrilia dalam bahaya.
Selesai menjelaskan, Tanjung keluar dari ruangan dokter. Berjalan lebih dulu dari Sarah dengan terburu-buru menuju IGD tempat Evrilia terbaring. Rupanya, sang istri sudah sadar.
"Ev," panggil Tanjung kemudian meraih jemari tangan istrinya. "Maafin aku, Ev."
Mungkin karena lemah, Evrilia tak bisa menghempas jemari Tanjung. Menggenggam juga tidak membuat seluruh hatinya hampa.
"Sembuh, ya. Nanti aku jelasin semua. Aku bakal hati-hati supaya kamu nggak sakit," kata Tanjung diikuti tangisnya yang pecah. Sesak dadanya sangat lucu. Enggan memberi jalan bagi napas yang seharusnya membuat Tanjung tetap hidup. Hanya tangis dan perih dan entah apalagi yang menyebabkan Tanjung sebegitu hancur.
"Please, sayang. Sembuh, ya."
Sekali lagi, sembari mengecup tangan sang istri.
"Maafin aku, Ev. Aku minta maaf."
~🍁~

Book Comment (85)

  • avatar
    Jumali Bae Lah

    sangat bagus

    19/06

      0
  • avatar
    Ni kadek Wulan restyani

    kerenn bgt pliss

    22/05/2025

      0
  • avatar
    NisaIzzatin

    ceritanya bagusss bgtt

    17/03/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters