Sebuah pesan text masuk ke gawai Tanjung. Membuatnya menarik senyum singkat kemudian bergegas menuju mobil yang baru terparkir di garasinya. Tentu setelah memberi kecup perpisahan pada istrinya, Evrilia. Ramai Jakarta di sore yang cerah tidak membuat kesal Tanjung seperti hari biasa. Entah karena kabar baik dari Evrilia tentang keinginannya untuk hamil atau oleh pesan text yang baru dia terima. Tentang Evrilia dan kabar baik tentang keinginan kehamilannya. Tepatnya sudah dua tahun keduanya menikah, Evrilia belum berkeinginan mempunyai anak. Akibat pekerjaan sebagai kommis chef yang merepotkan juga karena ketakutannya akan kehamilan. Evrilia sering bilang, dia takut hamil, takut punya anak, takut tanggung jawab yang seharusnya terpikul justru tidak dia laksanakan. Katanya juga dia masih egois tentang dirinya sendiri. Padahal menurut Tanjung, Evrilia sudah sempurna. Dia siap dan Tanjung yakin akan kesanggupan Evrilia menimang bayi. Namun keputusan itu tetap ada di tangan Evrilia, Tanjung hanya bisa menunggu. Dan tentang pesan text yang barusan masuk. Dari seorang resepsionis di kantor perusahaannya yang katanya menerima penawaran untuk di angkat menjadi asisten seorang Tanjung Pratama. Perempuan cantik yang Tanjung kenal mungkin empat tahun lalu, kala untuk pertama kali dia menjadi seorang resepsionis cantik di perusahaan itu. Namanya Sarah Hanifah. Usianya dua puluh enam tahun dengan tinggi semampai dan tubuh ramping. Senyum mekar menunjukkan lesung di kedua pipi. Berhias rambut panjang tebal hitam dan bahu yang tegap sempurna. Sangat cocok menjadi wajah pertama sebuah perusahaan. Belum senyumnya dan sikap ramahnya pada siapa saja. Sarah terlampaui sempurna. Sarah juga berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang profesor di salah satu universitas ternama, ibunya dokter spesialis anak yang sedang terjun pada banyak penelitian. Sarah anak tunggal, yang hidup serba bebas dan berkecukupan. Lalu hubungan apa yang Tanjung jalin dengan Sarah? Tidak tahu. Tanjung sendiri bingung tentang apa yang dia rasakan. Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk terus bertanya tentang perasaannya, namun empat tahun itu cukup untuk membuat Tanjung dan Sarah menjadi dekat. Di depan pintu apartemen, Tanjung sengaja mengetuk pintu dengan sangat lembut. Dan seorang perempuan berbalut baju tidur kimono berbahan tipis telah menyapanya. Tanjung spontan masuk, memeluk Sarah dengan hangat juga mengecup pipi perempuan itu. "Masih sore, kok kamu udah pake baju tidur?" tanya Tanjung. "Kelihatan aneh ya?" tanyanya dengan tatap menggoda. Tanjung sontak menggeleng. "Kamu cantik. Tetep cantik," katanya. Sekali lagi mendekap Sarah dengan hangat. Bahkan lelaki itu mendorong Sarah hingga sofa. Tentang Sarah Hanifah, seorang kekasih yang dia temui empat tahun lalu. Hanya bermodal saling lirik kemudian jauh menjadi saling suka. Sebuah hubungan yang terjalin lewat belakang terutama setelah pernikahan Tanjung dan Evrilia resmi di gelar. "Kamu kelihatan lebih bahagia hari ini," ujar Sarah mencoba menarik Tanjung untuk duduk. Lantas perempuan itu bergelayut manja. "Kelihatan banget, ya?" "Ada apa?" tanya Sarah sembari menyibak rambut panjangnya. Seperti sengaja memperlihatnya leher indah itu. "Dapat saham gede dari perusahaan asing?" Tanjung menggeleng kemudian mengecup singkat bibir kekasihnya. "Evrilia sudah siap hamil." Senyum Sarah sontak menghilang, "tenang, Sarah. Bukan berarti menyingkiran kamu." Sarah justru menarik diri. Kalimat menenangkan yang Tanjung berikan tak mampu membuat perempuan itu kembali tersenyum. Sarah menunduk, murung perempuan itu membuat Tanjung merasa tak enak hati. "Kamu marah?" "Kamu sesayang itu sama Evrilia, lalu aku?" Tanjung menghela napas. Perbandingan lain tentang Sarah dan Evrilia. Tanjung akan menjawab, keduanya. Namun rasa sayang yang terpatri itu berbeda. Pada Sarah yang menghibur Tanjung kala kelelahan, sedih atau berduka tentang pekerjaan, sedangkan Evrilia menyembukan Tanjung tentang rasa bosan. Dua hal yang berbeda. Tanjung akan menempatkan keduanya dalam posisi yang sama. Tak ada yang sedikit lebih rendah atau sedikit lebih tinggi. Keduanya sama. "Aku sayang kamu," jawab Tanjung. "Tapi kamu lebih sayang Evrilia." Sarah terbakar cemburu. Padahal selama empat tahun ini dia baik-baik saja. "No, aku sayang kamu di posisi yang sama. Nggak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah." "Nginep sini untuk malem ini, ya?" Tanjung diam. Dia punya janji lain dengan Evrilia. Namun sepertinya Sarah sedang tidak ingin mendengar apapun tentang Evrilia. "Aku nggak bisa," katanya. "Ada janji lain, Sarah." "Evrilia?" Tanjung hampir marah. Bukan tentang penyebutan nama itu yang menyebalkan, namun kecemburuan Sarah tentang istrinya sedikit berlebihan. Lagipula, malamnya dengan Sarah sama banyak dengan malamnya bersama Evrilia. Seimbang. Tanjung mengangguk. Dasar tak bisa menyembunyikan apapun dari Sarah. Daripada perempuan itu semakin marah, Tanjung menghadapinya kini. "Malam yang mana kamu bisa sama aku lagi?" Untuk kasus Evrilia ingin sebuah kehamilan, Tanjung rasa akan sedikit sulit untuknya. "Tunggu Evrilia hamil dulu." Sarah diam. Tunduknya membuat Tanjung merasa bersalah. Dari awal, sejak hubungan mereka dimulai memang terjadi kesalahan. Kesalahan lain yang hadir ada di Tanjung. Karena dia tidak bisa melepas salah satu di antara dua hati yang dia miliki. Rasanya jadi menyesakkan. Tanjung, lelaki itu meraih dagu Sarah agar tak lagi menunduk. Mengamati mata perempuan yang dia sayang sendu membuat Tanjung tidak tahan. Hela napas jadi satu-satunya suara yang mendominasi ruangan. Tanjung tersenyum kaku. "Maaf," ujarnya. Yang langsung dapat gelengan lembut dari Sarah. "Jangan minta maaf." "Aku salah, tapi nggak pernah memperbaikinya." Tanjung merasa kesalahannya sudah cukup jauh. Namun untuk kembali, juga terasa sangat jauh. "Aku disini sampe nanti jam 7," kata Tanjung. "Stop bahas Evrilia. Kamu mau makan sesuatu?" "Kamu kan nanti mau makan sama Evril. Kita Netfix and Chill aja. Ada satu film yang wajib ditonton." Sarah, jadi lambang bahagia bagi Tanjung dari berbagai aspek. Perempuan penyabar yang menempatkan mahkota indah di kepalanya. Sarah pandai menghargai, pandai memuji. Sampai satu hal paling sederhana Sarah lihai dalam hal itu. Sore beranjak. Teh, beberpa kue kering, film dan Sarah jadi paduan apik. Manja perempuan itu sempurna membuat desir dadanya bergemuruh. Dia senang, sendu dan merasa bersalah satu waktu. Rasanya aneh, namun sensai aneh yang dia alami menjadi candu. "Oh, iya. Soal kontrak kerja, kamu serius terima tawarannya?" tanya Tanjung setelah mengingat sesuatu akan penawarannya beberapa waktu lalu. Tentang kenaikan jabatan–lebih tepat dengan lompat jabatan– dari resepsionis kantor menjadi asisten pribadi Tanjung. "Udah, tapi baru lewat lisan." Sarah mengangkat kepala dari bahu Tanjung. Mungkin sengaja menjadikan topik perkerjaan mengambil alih siaran di layar televisinya. "Jadi gimana dengan kontrak kerjanya, Pak Tanjung?" Tanjung terkekeh kecil. Kata 'Pak Tanjung' jadi guaruan lain Sarah ketika sedang berdua. Bukan sebagai atasan dan bawahan. "Kamu ketemu HR besok, saya akan minta HR untuk menyiapkan kontrak kerjanya," balas Tanjung dengan formal. Yang sukses membuat Sarah terkekeh. "Jadi saya akan punya ruangan sendiri di samping ruang kerja Bapak?" "Tentu saja. Bahkan jika kamu mau satu ruangan dengan saya, semua bisa diatur." "Enak ya jadi pacar atasan sendiri." Sarah terkekeh kemudian menjatuhkan diri di bahu Tanjung sekali lagi. Dan tangan lelaki itu menyugar rambut kekasihnya dengan gemas namun lembut. Sungguh desiran mesra bisa sangat terasa di ruang dingin ber-AC itu. "Seneng ya punya pacar atasan sendiri?" "Seneng banget. Enak juga ternyata. Gini terus ya, sayang." Tanjung menatap layar televisi dengan senyum getir. Tampilan di sana seorang perempuan tertawa renyah oleh gurauan singkat sang kekasih. Yang jujur, bayang adegan itu memiliki pemenang bernama Evrilia Prajapati. Padahal orang lain sedang tidur manja di lengannya. Sarah Hanifah melawan Evrilia Prajapati. Lawan yang sulit. Dan tidak mungkin memiliki dua pemenang. Tanjung tersenyum nanar, lantas memilih melempar jauh Evrilia dari otaknya. ~🍁~
sangat bagus
19/06
0kerenn bgt pliss
22/05/2025
0ceritanya bagusss bgtt
17/03/2025
0View All