Total : 42Chapter 1 Terciumnya Bau Pengkhianatan
"Aku khilaf, Dik ….” “Khilaf, tapi sampai sejauh itu, Mas …?” “Maaf ….” Hanya itu yang terus suamiku u
readmore Chapter 2 Keinginannya Poligami
Aku bukan manusia super kuat, penuh sabar, dan penuh maaf. Meskipun aib ini masih kugenggam tanpa si
readmore Chapter 3 Rencanaku
Kuminta waktu untuk berpikir, menjanjikan paling lama sebulan. Waktu yang terlalu cepat untukku memu
readmore Chapter 4 Menikahkan Suamiku
“Ma, Naya pulang sekolah langsung ke rumah Tante Laras aja.” “Iya, Nay. Mama sudah checkin ke Aqua la
readmore Chapter 5 Sudah Berbeda
‘Mas ini yang beli rumah minta dikosongkan besok. Katanya mau dipakai.’ Pesan terkirim, langsung diba
readmore Chapter 6 Mulai Lelah
Apa?! Cukup di benak kutahan rasa terkejut. Pernah berfirasat akan begini akhirnya, melihat bagaimana
readmore Chapter 7 Permintaan Syifa
Mas Danang memang labil. Setelah marah hari itu ia terus menghubungi untuk meminta maaf, lalu datang
readmore Chapter 8 Perempuan Tanpa Muka
“Kalian hewan? Begituan tapi pintunya tidak dikunci?!” Kalimat ini sulit kutahan. Masih kuatur napa
readmore Chapter 9 Denok dan Keputusanku
Mobil masuk di jalan daerah kampus Unpar, di sini area kumpulnya kos-kosan para mahasiswa. Aku berta
readmore Chapter 10 PoV April
POV APRIL Air mata sampai ke luar karena aku belum bisa berhenti ketawa. Mati juga dia! Haa. Segera ku
readmore Chapter 11 PoV Danang
“Apa?! Kecelakaan??!!” Aku berlari ke parkiran. “Di mana?!” tanyaku setengah berteriak. “Istrinya sud
readmore Chapter 12 Luka Masih Melekat
“Ibu yakin mau menikahkan putrinya? Ini memang masuk batas minimum usia, tapi bukankah masih terlal
readmore Chapter 13 Sebuah Kesalahan
‘Mama Al, tau kah kejadian tadi malam?’ Setelah Subuh kulihat banyak chat masuk. Salah satu isinya i
readmore Chapter 14 Ancaman Kekanakan
“Mama gak akan larang. Mama paham kalian khawatir sama Ayah,” ucapku sambil bantu Syifa dan Naya per
readmore Chapter 15 Sendiri
“Ada masalah aku di sini …? Ini rumah anak, kita sama-sama berhak ….” Gemetar dan terputus-putus
readmore Chapter 16 PoV Denok
Panas. Panas banget! Aku kipas-kipas dengan buku. Bukannya AC sudah full dingin, aku kok masih kepan
readmore Chapter 17 Dia
Kedua belah keluarga dan mempelai sudah ada di Gedung Balai Pamungkas, dekat Stadion Kridosono, untu
readmore Chapter 18 PoV Danang
“Tolonglah, aku pusing ini, Jum. Sudah ke mana-mana belum dapat jalan juga.” “Ya, kayak yang aku bila
readmore Chapter 19 April?! (PoV Danang)
Dari tempat Soraya segera kulajukan roda dua menuju rumah Haji Muin, letaknya jalan Tjilik Riwut kil
readmore Chapter 20 Mendadak Dilamar
Baru kuletakkan ponsel, nada suara pesan masuk kembali menarik tangan meraihnya. Dia lagi. Senyum ini
readmore Chapter 21 PoV Danang
Peluh belum juga kering, baru sampai depan rumah terasa tambah gerah dengar tangis Adam melengking,
readmore Chapter 22 Noda Dari Tanganku (PoV Danang)
April ...! Itukah … dirimu …? Video panasmu dulu kau bilang dalam pengaruh obat, dalam pen
readmore Chapter 23 Dunia yang Kejam
PoV April “Terima kasih, Pak ... rumahnya nyaman. Aku suka, deh.” “Baguslah kalau suka. Selamat istir
readmore Chapter 24 Di Tempat Baru
PoV Soraya Lepas Ashar kuseduh teh hijau tanpa gula, kubawa ke lantai atas. Nikmat sekali menyeruputn
readmore Chapter 25 Kesempatan Kedua
PoV Author “Eh, Imah, bagaimana orang itu, sudah bisa bangun, kah?” “Belum, Cil. Kadang bangun cuma me
readmore Chapter 26 Dihantui Kesalahan Lalu
PoV Danang “Maaf Pak Danang, tadi hapene bunyi terus, aku angkat. Itu ada saudaranya tanya alamat sin
readmore Chapter 27 Hidup Dalam Ketakutan
POV Danang “Ada apa lagi?” “Mas Danang, dengarkan aku. Maafkan aku, Mas …!” Lama-lama orang ini membua
readmore Chapter 28 PoV Almira
Belum separuh jalan ke klinik, kok, perasaanku tidak enak. Kuputar arah kendaraan kembali ke rumah.
readmore Chapter 29 Tentang Kami
PoV Soraya “Mama bisa gak di sini aja, nungguin sampai Denok lahiran ….” Mengerucut bibir mungil, da
readmore Chapter 30 Melarikan Diri
PoV April “Aaagh! Jangan, Bang …!” “Apa gunanya kamu, kalau bukan buat nyari duit, hah! Maumu apa?!” Ku
readmore Chapter 31 Dia dan Mereka
PoV April “Gimana ini, Mbak? Lah, aku musti antar ke mana?” “Aku gak punya saudara di sini.” “Waduhh,
readmore Chapter 32 Minta Mati
PoV April Dari bandara, akan menuju kampung travel melewati Kota Cantik membuatku kembali mengingat a
readmore Chapter 33 Calon Orang Tua
POV Denok “Gimana, Yang?” “Itu kabarnya dirujuk ke Surabaya. Dibantu sama Komunitas Peduli Perempuan,
readmore Chapter 34 Mama!
POV Denok Mama harusnya tetap di sini! Kuremas bantal, geram. Ini gara-gara Mama nikah lagi. Coba kala
readmore Chapter 35 Aneka Rasa Kehidupan
POV Soraya “Dagu sama hidung persis mamanya,” pujiku pada cucu. Melihat langsung kehadirannya cukup m
readmore Chapter 36 Gelisah
PoV Soraya “Mas, ada Pak Darman.” Aku menyentuh pelan pundak Mas Mahesa, minta izin dulu kalau ada t
readmore Chapter 37 Kesalahan?
POV Soraya Gelisah, aku bingung akan hubungi siapa. Mondar-mandir tidak bisa duduk. Berantakan pecaha
readmore Chapter 38 Kuburan Masa Lalu
POV Danang Huh, anak itu! Menghindar, aku mengarah tongkat kaki empat jalan ke halaman samping. Memega
readmore Chapter 39 Mendamba Maaf
POV April “Benar di sini rumahnya?” Aku mengangguk pada wanita paruh baya bermata kecil saat mobil b
readmore Chapter 40 Rahasia Soraya
POV Danang Bola mata ini terus memanas. Perih. Seperih hati melihat langsung deritanya. Sekali aku me
readmore Chapter 41 Mama Istimewa
POV Denok Mama sakit …! Tolong ya Allah, lindungi Mama. Panjangkan usianya. Doaku mengalir sepanjang p
readmore Chapter 42 Akhir
POV Soraya Flashback 1,5 tahun lalu …. Hari di mana anak-anak memberi hadia
readmore
bagus cepat baru nyoba
19d
0bagus banget
23/02
0Novel bagus, bikin pembaca jadi penasaran
22/12
0cerita yg bagus.. semangat kak
16/11
0sangat bagus ceritanya aku suka 😊
10/09
0luar biasa novel nya
13/08
0cerita yang menyenangkan
07/08
0bagus
19/06
0bagus bangett 😍
12/06
0good,seruuuu
01/06
0