Total : 53Chapter 1 Hampir Tertabrak
“Awas ya kau Raka! Hari ini, jangan harap kau bisa bisa lepas dari jerat kemarahankuuu!” gumam Anna
readmore Chapter 2 Sebuah Tuduhan
Ravel berdiri dari posisinya, melipat kedua tangan di dada setelah Anna di depannya, “Ngapain anda k
readmore Chapter 3 Kekasih Palsu
Ravel merasa kasihan dengan Anna. Air mata Anna bercucuran deras membasahi lantai dingin yang menyen
readmore Chapter 4 Mengajaknya
“Jadi, hal apa yang akan kita mulai untuk pertama kalinya?” tanya Anna dengan polosnya. Kali ini dia
readmore Chapter 5 Memaksamu
“Eh, udah nya?” Anna berbalik badan, mihat kondisi tubuh Ravel dari atas kebawah membuatnya tersenyu
readmore Chapter 6 Khawatir
“Cepat, carikan itu, atau aku akan memutusmu jadi pacar palsuku!” teriak Anna dengan nada menantang.
readmore Chapter 7 Terima Kasih
“Dimana aku?” guman Anna ketika kedua mata indahnya terbuka. Satu pandangan yang ditangkapnya adalah
readmore Chapter 8 Pikiran Terbuka
“Ah, kamu ... Turunin aku. Lihat lah, ada banyak orang lihat kita. Malu tau!” lirih Anna, mencoba me
readmore Chapter 9 Rasa Takut
“Terima kasih ya dok. Saya pergi dulu.” Ravel berjalan keluar dari dalam ruangan dokter. Pria itu, den
readmore Chapter 10 Menenangkannya
“Dia hanya perlu istirahat. Jangan kaget kan dia seperti keusilanmu tadi,” ucap dokter setelah belia
readmore Chapter 11 Situasi Baru
“Aduh ... Lama amat sih si adek tampan langganan kita.” “Iya nih, padahal, aku udah siapin uang hasil
readmore Chapter 12 Buatan Ravel
Ravel membawa Anna ke dalam rumahnya. Rumah yang sudah sehari penuh sejak kejadian itu ditinggalkann
readmore Chapter 13 Salah Paham
Langkah dari beberapa orang memasuki rumah kecil milik Ravel menimbulkan keributan cukup luar biasa.
readmore Chapter 14 Lari-larian
‘‘Dengar ya, Ibu-ibu, bapak-bapak. Kami tidak seperti pemikiran Ibu-dan bapak sekalian. Kami hanya s
readmore Chapter 15 Sebuah Panggilan
Tepat pukul 16.00 Keadaan rumah Ravel sangat ramai warga. Mereka berbondong-bondong memakan potong de
readmore Chapter 16 Menyerah?
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dikatakan Anna pada Ravel, Anna tampak begitu gusar. Duduk p
readmore Chapter 17 Bingung
“Sudah seperti apa keadaannya dok?” “Pasien terlalu banyak mengeluarkan darah. Lagi pula kenapa dia s
readmore Chapter 18 Kehilangan
Kedua mata Tuno tampak membulat. Dia tak percaya, kalau hewan kesayangannya akan menjadi sebuah alat
readmore Chapter 19 Ayah Tiri
“Bi, aku mau tanya, boleh?” seru Ravel dengan hati-hati. Dia duduk perlahan diatas sofa, memandangi
readmore Chapter 20 Segalanya Masih… Pertanyaan
Ravel berlari tergesa-gesa menuju ruang rumah sakit tempat gadis yang perlu darah itu berada. Bukan
readmore Chapter 21 Rakanya Orang Lain
“Sudah ku katakan, Anna Bunga Vanesha! Pergi!! Kamu budek ya!?” Anna hanya diam di tempat. Tertunduk,
readmore Chapter 22 Mimpi Terburuk
‘‘Hallo Rav. Ada apa?’’ ‘‘...’’ ‘‘Owh ... Begitu ya. Hehe, maaf, yaaa. Aku, seperti biasa lah. Mampir
readmore Chapter 23 Mimpi Terburuk 2
Dibawah sinar bulan yang bersinar, menyoroti kepala tertunduk Anna melewati pintu kaca besar di depa
readmore Chapter 24 Aldo…
“Iya, iya. Sebentar!” Anna turun dari tangga dengan wajah sedikit kusam. Membuka kedua buah pintu rum
readmore Chapter 25 Bayi Manis
Selepas kepergian Aldo dari rumahnya, Anna kembali melakukan kegiatan sehari-harinya. Mengemas rumah.
readmore Chapter 26 Bayi yang Menangis
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Anna masih bermain dengan Sweety. Namun di
readmore Chapter 27 Keanehan
“Tidur, tidur, tidur lah sayang .. Jadi anak yang manis setelah besar!’’ Anna menyanyi kembali. Dalam
readmore Chapter 28 Curhatan Hati
‘‘Ann .. Apa aku boleh duduk?’’ Lagi-lagi Ravel minta izin pada Anna. Anna yang mendengar suara dan m
readmore Chapter 29 Sudah Sejauh Itu Kah?
“Jadi, apa kau menerimanya Ravel?” “Hem'eh ... Baik lah. Aku menerimanya.” Entah dapat kejutan dari ma
readmore Chapter 30 Tidur Bertiga
Setelah mengamati foto, Ravel berjalan mendekat ke ranjang. Memang, termasuk lancang, dia masuk dan d
readmore Chapter 31 Nenek Lampir
Pagi harinya. Ravel merenggangkan seluruh tubuh, menguap sambil menyesuaikan cahaya yang menyelusup j
readmore Chapter 32 Akui
“Kalau dia memang putriku, memang kenapa?!” tantang Anna. Dia ingin melihat, bagaimana Vanesha, wanit
readmore Chapter 33 Menjenguk
“A-aku pergi dulu ya, Bi. Ada urusan mendadak,” nada bicara Anna, sambil menatap tiga orang di depan
readmore Chapter 34 Ayah Anna
Anna menyusuri lorong jalan di rumah ayahnya. Bayangan mengenai bagaimana raut wajah ayahnya ketika d
readmore Chapter 35 Kenyataan
“Karena ini rumah suamiku! Apa yang jadi miliknya, itu jadi milikku! Aku ratunya, dan dia rajanya!”
readmore Chapter 36 Cerita Masa Muda
“Apa benar semuanya itu nak? Kamu berpacaran dengan Ravel?” tanya ayah seketika pria itu sudah kelua
readmore Chapter 37 Kesalahan
“Hingga sang pria itu datang ke dalam keluarga besar, keluarga sang wanita, bekerja cukup keras dan
readmore Chapter 38 Ayah Overprotektif
“Sekarang, kalian berdua akan tinggal disini, titik!” Robert menutup pintu. Berbalik badan, menghada
readmore Chapter 39 Tuan Robert…
“Hanya karena hal itu 'kah?” Robert yang begitu mengetahui alasan kenapa Ravel dan Anna hanya bisa m
readmore Chapter 40 Kemarahan Lasma
“Ayah! Kemana Raveell! Kenapa dia tidak ada di rumah kitaaa!” Anna berteriak histeris. Tak henti-hent
readmore Chapter 41 Pertemuan Menegangkan
“Bu, ini. Kuenya.” “Makasih.” “Sama-sama.” Ravel, dengan ramahnya melayani para pelanggan setianya. Set
readmore Chapter 42 Pertemuan Kembali
“Ravel! Ravel!” dengan suara tergesa-gesa, terlihat Anna berlari menuju tempat Ravel yang seperti di
readmore Chapter 43 Si Keras Kepala
Anna dan Ravel kini berada di dalam mobil. Dimana Anna mengendarai mobilnya, sedang Ravel berada di
readmore Chapter 44 Pada Kening
“Bapak tidak boleh begitu. Kami hanya mau menikmati pemandangan, masa iya tidak boleh!?” Tiba-tiba sa
readmore Chapter 45 Melakukan
Sedang disisi lain, dimana Ravel yang sedang berhadapan dengan empat pria bertubuh preman itu hanya
readmore Chapter 46 Keanehan
Kkreeeetttt... “A'Anna? Ka-kamu su-dah bangun!?’’ Ravel terlihat begitu kaget. Dia bertindak seperti
readmore Chapter 47 Hukuman
“Jangan kata, jika anak gila itu yang datang dan mengghancurkanmu!” “Benar, Anna!?” Robert, dan Vanesh
readmore Chapter 48 Pemberian Maaf
Oek... Oek... Oek... Hmmphfth... “Bhi Mha... Oh, bhi Mha!’’ berkali-kali, Anna memanggil Bi Ma. Pelayann
readmore Chapter 49 Kebenaran Sebenarnya
Pandangan tajam, setelah Robert, ayahnya. Dileparkan Anna pada Ravel. Matanya menyimpan pancaran kila
readmore Chapter 50 Kebenaran Sebenarnya 2
“Maaf, tapi sebenarnya kamu hamil.” Anna membulatkan mata—merasa tak percaya. Menutup mulut, bahkan
readmore Chapter 51 Hancur
"Sekarang, sudah dipindahkan lewat suntikan ini. Semuanya akan dimulai dalam jangka waktu dua jam se
readmore Chapter 52 Merasakannya
“Kau, tidak tau?’’ ikut mengerutkan kening. Annna menggeleng kepala, akhirnya Robert mengerti. Pria
readmore Chapter 53 Perasaan Canggung
‘‘A-apa maksudmu. T-tidak kok, Anna. Aku baik-baik saja. Mengenai makanannya, nanti saja ku makan. M
readmore
cerita novel nya sangat baguss hebatt💞
06/05/2022
4cerita nya bagus kak..
19/03/2025
0bagus
16/02/2025
0cerita nya sangt bguss
02/01/2025
0novel ini sangat membantu saya dan bisa mengisi ruang gabut saya dan novel ini juga bermanfaat bagi saya terima kasih
09/12/2024
0Very beautiful story line
23/09/2024
0seru banget
07/08/2024
0aku sgt suka jln cerita
28/07/2024
0🥰😍😍😍
23/07/2024
0bagus banget
26/06/2024
0