Overview
|Catalog
- Tag(s):
- Pernikahan yang diatur
- Coolguy
- Cinta pertama
- Cinta yang manis
- Thriller
Edwin dipaksa menikahi seorang wanita yang ternyata tengah hamil 5 bulan. Keduanya terlibat dalam hubungan rumah tangga yang tidak sehat dimana, hanya ada kebencian dan pertengkaran di dalamnya. Konflik: Edwin membenci Melati dan ayahnya yang sombong dan otoriter. Saat dirinya terus memupuk kebencian, disaat itu juga Melati terus membuat ulah. Akankah keduanya bertahan dalam pernikahan paksa tanpa cinta?
Last Update
Editor´s Choice
Recommendation
Book Comment (29)
- Total: 99
Chapter 1 Pernikahan Paksa
Bab 1
Edwin hanya bisa diam dan menurut saat empat laki-laki itu menyeretnya. Edwin merasa tubuhnyaChapter 2 Kamu Hamil?
Bab 2
Edwin menghela nafas panjang karena memang tadi siang dia tak berdaya. Pantas saja tenaganya kChapter 3 Bawa Melati Pergi
Pagi-pagi sekali Edwin sudah bangun dari tidurnya, tepatnya saat mendengar suara adzan subuh berkumaChapter 4 Seharusnya Kau Berterima Kasih Padaku
Seharusnya kau Berterima Kasih Padaku
Erwin kembali duduk di sofa sambil memikirkan banyak hal. Dia yChapter 5 Jaga Sopan Santunmu
5
Melati menatap ke arah Ernawati dengan muka masam saat wanita itu menatapnya dengan wajah sulit diaChapter 6 Penasaran
6
Melati baru saja melangkah ke dapur dan berhenti di pintu menuju ke sana, ketika dia mendengar sayuChapter 7 Dasar Si Mulut Besar
"Hmm … aku datang tepat waktu rupanya," ujar Jovan saat aroma harum masakan tercium dari arah ruangChapter 8 Kau Pikir Aku Peduli
8
"Wow …!" Mata Jovan membulat melihat pemandangan di depannya saat ini. Bagaimana dia tidak terkejutChapter 9 Jangan Terlalu Keras Padanya
Jovan menggelengkan kepalanya pelan ketika melirik Edwin yang masuk ke dalam kamarnya, sekaligus menChapter 10 Aku Tidak Butuh Bantuan Darimu
10
Wina membuka pintu kamar pelan, setelah beberapa kali mengetuk, namun tidak ada jawaban dari dalamChapter 11 Edwin Sudah Menikah?
11
Jovan mendengus kesal dengan tangan mengepal sempurna. Mereka baru saja tiba di kantornya beberapaChapter 12 Ada Apa Dengan Melati
12
"Halo, Bu, bagaimana keadaan wanita itu?" Edwin bertanya tanpa basa-basi, bahkan hampir lupa menguChapter 13 Rahasia Tentang Melati
13
"Tenanglah, Mbak, wanita itu pasti akan baik-baik saja." Anita berusaha untuk menenangkan ErnawatiChapter 14 Aku Tidak Mungkin Meneruskan Pernikahan Ini
14
"Anda sudah siap mendengarnya?" Lelaki dengan setelan formal duduk di depan Edwin, saat tatapan leChapter 15 Lelaki Yang ...
15
Melati terbangun saat sinar matahari menerpa wajahnya yang putih bersih. Mata wanita itu mengerjapChapter 16 Menemani Melati?
16
"Baiklah, jika ibu baik-baik saja, sebagai gantinya, ibu harus pulang bareng Jovan saja nanti." ErChapter 17 Aku Tak Butuh Ceramah Darimu
17
Dada Edwin bergerak naik turun saat mendengar perkataan wanita yang berbaring di ranjang tersebut.Chapter 18 Dia Adalah Pabian
18
Edwin mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian mulai menuturkan bagaimana pernikahan itu terjadi.Chapter 19 Jangan Terlalu Baik Padaku
19
Waktu beranjak menuju tengah malam. Edwin sengaja menyalakan lampu di ruangan itu agar tetap menyaChapter 20 JangN Bercanda Lagi
20
"Apa kau sengaja ingin memerasku?" Lelaki itu menggebrak meja, dan menatap tajam pada seorang priChapter 21 Teguh Wicaksono
21
Edwin membiarkan apa yang dilakukan ibunya kepada wanita yang perutnya sudah membulat di depannya.Chapter 22 Kamu Menunggu Orang Lain?
22
Suasana di bandara tampak ramai meskipun hari sudah menunjukkan tengah malam. Edwin berdiri menetaChapter 23 Sabarlah
23
"Ma-maaf, aku nggak sengaja. Kamu pasti tak nyaman dan kesakitan." Edwin segera menarik tangannya,Chapter 24 Berhenti Menyalahkan Dirimu
24
Ernawati menyibak gorden dalam ruangan enam kali enam meter persegi itu hingga sinar matahari lanChapter 25 Terserah Apapun Katamu
Suasana pagi hari itu seharusnya lebih menyenangkan karena seluruh anggota keluarga berada di rumahChapter 26 Peduli Apa Sama Dia
26
"Kenapa wajahmu mendadak murung, Ed?" Jovan menatap wajah sahabat sekaligus bosnya yang tak biasa.Chapter 27 Jangan Menghindariku, Melati!
27
"Kenapa kita harus tetap pergi sih, Bu. Aku kan ingin diam aja di rumah. Lagian malas juga harus kChapter 28 Apa Yang Kau Pikirkan
28
Pandangan Edwin menggelap menatap tajam ke arah keduanya. Disaat lelaki itu hampir saja menerima MChapter 29 Apa Ini Tentang Pabian?
29
"Bangunlah, Mel, sudah terlalu lama kamu tertidur. Apa kamu nggak mau melihatku dan memarahi pengChapter 30 Apa Kamu Tak Merindukan Aku
30
Melati terbangun pada akhirnya saat mentari hampir mencapai ujung barat. Senja yang temaram segeraChapter 31 Kemungkinan Istrimu Menghubunginya
31
"Pak Edwin, sebaiknya anda keluar dulu, karena kami akan memeriksa pasien. Silahkan." Suster wanitChapter 32 Sudahlah, Jangan Banyak Bicara
32
Edwin langsung masuk ke kamar mandi di dalam ruangan tempat Melati dirawat, setelah lelaki itu menChapter 33 Apa Anda Kasihan Padaku?
33
Melati meringis saat rasa sakit itu muncul kembali.
Dia tidur dalam gelisah, tapi sebisa mungkin mChapter 34 Mungkin Saja Tidak
34
Ernawati mendesah panjang, menatap pada perempuan yang kini tidur menyamping dengan bahu naik turuChapter 35 Apa Yang Kau Pikirkan
35
Seperti sebuah lampu yang tiba-tiba menyala di kepalanya, Jovan teringat sesuatu. Matanya bergerakChapter 36 Jangan Diam Saja
36
"Oh ya, adikmu sedang memasak di dapur. Sepertinya dia terlihat tidak semangat sejak kemarin. CobChapter 37 Pabian Akan Tetap Jadi Milikmu
"Tenanglah Kirana, kita menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Tenangkan dulu dirimu dan katakChapter 38 Rumah?
38
Gunadi mondar-mandir dengan gelisah wajahnya sudah memerah dengan rahang yang mengeras. Dia tidakChapter 39 Kau Mau Menolak Ajakanku
39
Hari mulai beranjak sore, Gunadi dan istrinya memutuskan untuk menginap di hotel, saat tak sengajaChapter 40 Terserah Apa Yang Kau Pikirkan
40
Karena penasaran Teguh kembali ke rumah sakit untuk menemui Melati kali ini dia harus berhasil menChapter 41 Kamu Tidak Akan Pergi
41
Melati pernah merasakan bagaimana cara lelaki itu menyiksa dan memperlakukan dirinya dengan sangaChapter 42 Dia Enggan Menyapa
42
Selepas pertemuan itu. Edwin menyalami beberapa orang penting sebelum akhirnya pergi. Saat keluarChapter 43 Suasana Kaku Dan Penuh Kepalsuan
43
Suasana Kaku Dan Penuh Kepalsuan
Jantung Melati tersentak dengan keras saat melihat sosok itu, yangChapter 44 Apa Yang Terjadi Dengan Candra
44
"Ayolah, Ayah, jangan terlalu dibesar-besarkan masalah kecil seperti itu. Mana mungkin aku ingin mChapter 45 Itu Hanya Asumsimu Saja
45
Edwin kembali ke dalam kamarnya yang ternyata lampunya sudah dimatikan. Dia melihat Melati yang teChapter 46 Kirana Kecelakaan
46
"Bagaimana keadaan kakek Candra saat ini?" Melati menghampiri Edwin yang pagi hari itu baru masukChapter 47 Teguh Mendatangi Melati
Bab 47
"Oh, shit!" Melihat keadaan Melati yang tidak berdaya, Teguh segera mendekat dan mencoba untukChapter 48 Maafkan Aku, Edwin
48.
"Mau kemana kamu, Ed?" Jovan berdiri dan menyentuh bahu sahabatnya. Dia benar-benar penasaran saaChapter 49 Kepergian Melati
Bab 49
[Waktumu tidak banyak, Melati. Aku tak sesabar itu hingga mau lama menunggu. Datanglah segera.Chapter 50 Mencari Keberadaan Melati Dan Teguh
Bab 50
"Jika sampai Teguh macam-macam di sana, tante tidak akan pernah memaafkannya, Edwin. Tante jaChapter 51 Permintaan Burhan
Bab 51
"Ka-kalian?" Mata Teguh membulat sempurna saat bertatapan langsung dengan istri dan keponakannChapter 52 Buntu
Bab 52
"Tante nggak nyangka, Ed, kamu bisa menuduh suamiku melakukan hal buruk itu. Bahkan Tante sampChapter 53 Dimana Melati
Bab 53
Keesokan paginya.
Melati terbangun saat mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya.
Wanita ituChapter 54 Cari Wina
54
"Kita terlambat, Ed." Jovan berucap lesu, begitu dia mendapatkan kabar dari seseorang dalam sambunChapter 55 Penculikan
Bab 55
Edwin berlari sekuat tenaga mencari keberadaan Wina. Bahkan tiap penjual didatanginya karena kChapter 56 Keadaan Wina
Bab 56
"Pak Edwin, sepertinya ada seseorang di dalam kamar ini!" Seorang lelaki tinggi yang berkaosChapter 57 Kenyataan dan Fakta
Bab 57
"Katakan, apa kalian sudah menemukan siapa pemilik mobil itu?" tanya Edwin dengan tidak sabar.Chapter 58 Beban Edwin
Bab 58
"Ya ampun, Edwin! Bangun Ed. Kamu sendiri yang datang kemari, kamu sendiri yang marah-marah,Chapter 59 Kepergian Tak Terduga
59
Mata Wina terbelalak kala melihat siapa orang yang bergerak cepat dan mendekat ke arahnya. Teguh,Chapter 60 Terkejut
Bab 60
Mentari bersinar dengan cerahnya, menyinari gunung-gunung yang masih berselimut kabut. Suara kChapter 61 Ditengah Situasi Gawat
Bab 61
"Kau jangan bicara sembarangan! Apa yang telah kau lakukan pada Jonathan? Lalu apakah kau sengChapter 62 Kesepakatan
Bab 62
Kesepakatan
"Baik, aku akan menyerahkan Melati padamu. Tapi dengan syarat, kau tidak boleh mengChapter 63 Merindukanmu
Bab 63
Bayi yang kecil itu menggeliat dengan suara tangisnya yang khas. Melati baru saja membersihkanChapter 64 Berdebat
Bab 64
Melati sampai menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang dituturkan oleh Edwin.Chapter 65 Kembali Pulang
Bab 65
Melati mengusap-usap badan bayi kecil yang menggeliat setelah lepas dari ASI-nya. MembiarkanChapter 66 Kebencian Kirana
Bab 66
"Mau beristirahat di dalam kamar?" Edwin bertanya.
"Sebentar lagi. Sepertinya ibu masih kangenChapter 67 Merindukannya
Bab 67
"Bagaimana semuanya, Jo?" Edwin duduk di kursinya dan melihat banyaknya tumpukan berkas di ataChapter 68 Kirana membenci Melati
68
Sore harinya, Edwin kembali ke rumahnya setelah sopir menjemputnya di kantor. Tampak istrinya bersChapter 69 Surprise
Bab 69
"Seharusnya Mas Edwin tidak perlu mengajakku untuk pergi kemana-mana, lagian pasti lelah setelChapter 70 Trauma itu
Bab 70
"Apa yang terjadi padanya?" Melati tanya Gunadi menghambur ketika mobil baru saja memasuki halChapter 71 Ancaman besar
Bab 71
Semuanya mengucapkan syukur dan memberi selamat atas pernikahan yang resmi digelar. Bahkan GunChapter 72 Dibalik Telepon
Bab 72
Setelah Edwin mengirimkan pesan itu beserta dengan nomornya, Jovan mulai berusaha untuk menemuChapter 73 Ancaman Tiada Henti
Bab 73
Edwin dan Melati saling berpegangan tangan menuju ke peternakan yang jaraknya beberapa puluh mChapter 74 Salah Satu Harus Mat*
Bab 74
Teguh tersenyum sinis. Dia bersama beberapa orang datang ke tempat di mana Gunadi memintanya uChapter 75 Penculikan
Bab 75
Suara gedoran kasar terdengar dari ruang bawah. Dena yang curiga ada seseorang yang tengah melChapter 76 Di Tempat Asing
Bab 76
Entah jam berapa hingga akhirnya Melati terbangun dari tidurnya. Hanya saja ketika dia membukaChapter 77 Menceraikan Anita
Bab 77
"Apakah anda yakin akan membawanya untuk menemui Bu Anita, Bos?" tanya seorang bodyguard pribaChapter 78 Aduan Anita
Bab 78
Tok tok tok!
Suara pintu yang diketuk, membuat Edwin yang tengah duduk di sofa sambil memijat kChapter 79 Kebenaran Yang Ditutupi Candra
Bab 79
"Apa itu? Apa yang sebenarnya hendak kakek katakan padaku? Kenapa terlihat serius sekali?"
CandChapter 80 Mengejar Jejak
Bab 80
Edwin turun dari mobilnya diikuti beberapa orang anak buahnya, memindai sekeliling tempat ituChapter 81 Sampai Di Belanda
Bab 81
Setelah melakukan penerbangan selama belasan jam. Akhirnya keempat orang itu tiba di negara tuChapter 82 Takkan Berhenti Mencari
Bab 82
Edwin dan anak buahnya berpencar tiap hari untuk mencari keberadaan Melati Bahkan mereka mempeChapter 83 Misi Penyelamatan
Bab 83
Seseorang mengetuk pintu. Melati melirik ke arah sana. Dia tak tahu siapa orang itu, makanya mChapter 84 Ugal-Ugalan
Bab 84
Kendaraan hitam hasil curian itu, dibawa dengan sedikit kasar mengingat pengemudinya tidak terChapter 85 Mendengar Suaramu
Bab 85
"Pak, mungkin anda hanya sedang berhalusinasi!" ujar anak buahnya ikut berdiri, apalagi setelaChapter 86 Sweet Momories
Bab 86
Malam menjelang. Edwin bersama seorang anak buahnya menyiapkan makanan di dapur. Sedangkan istChapter 87 Sesuatu Yang Buruk
Bab 87
Entah kenapa setelah mendengar penjelasan Kirana barusan, Edwin merasa tidak tenang. Seperti aChapter 88 Selesai Operasi
Bab 88
Langkah gadis itu terasa berat saat akan memasuki sebuah ruangan, di mana seseorang terbaringChapter 89 Jangan Menutupi Apapun Dariku
Bab 89
Dengan dua tangan bersedekap Edwin berdiri tepat di samping ranjang. Ada seseorang yang berbarChapter 90 Seperti keluarga
Bab 90
Malam harinya Ernawati pergi ke rumah sakit untuk menemani Jovan. Wanita itu tidak tega meningChapter 91 Pengakuan Yang Paling Mengejutkan
Bab 91
Padahal Edwin baru saja tiba di ruangan Jovan beberapa saat yang lalu. Dan dia langsung menggeChapter 92 Dilema Di tengah Petaka
Bab 92
Kali ini Edwin duduk dengan pandangan menunduk, merasakan sesaknya dada dan air mata yang takChapter 93 Memaafkan
Bab 93
"Jadi, Pak Gunadi mengakui segala tuduhan dan penyebab kecelakaan yang terjadi empat tahun yanChapter 94 Lupakan Masa Lalu
Bab 94
"Melati mana?" Satu kata yang ditanyakan oleh Ernawati ketika sudah sadarkan diri adalah menanChapter 95 Hanya Dia Yang Tulus
Bab 95
"Jadi, apakah menurut kakak, Jovan akan menerimaku, dengan keadaanku yang seperti ini?" KiranChapter 96 Kebahagiaan Jovan
Bab 96
Duduk di tengah-tengah keluarga Candra Wijaya membuat hati Jovan menghangat, di mana dia bisaChapter 97 Akhir Kisah Teguh
Bab 97
Seketika berita itu menjadi trending di beberapa acara berita di Belanda, dan sampai ke telingChapter 98 Hati Yang Terbuka
Bab 98
Entah berapa lamanya mereka saling memadu kasih, hingga keduanya terlelap karena kelelahan.
SaChapter 99 Ending Yang Manis
Bab 99
Melati tertegun, entah apa yang ada dalam pikiran Edwin, namun ketika suaminya menyebut nama w


















Kerennnnn👍🏻
11/06
0kisahnya sangatlah menarik
14/03/2025
0ini si paling best Novel nya 100%
07/03/2025
0nice story...
20/08/2024
0ceritanya setu
10/07/2024
0menyenangkan
03/06/2024
0aku ingin top ap
25/04/2024
0penulisan yg bagusss
24/01/2024
0👍👍👍
12/01/2024
0soo good
27/07/2023
0