Total : 30Chapter 1 Satu
Langkah Hanna terasa ringan, hampir seperti ada pegas yang menariknya maju menyusuri lorong restoran
readmore Chapter 2 Dua
“Bim… Bim, coba lihat siapa yang datang!” seru salah satu teman Bimo. Suaranya melengking penuh gai
readmore Chapter 3 Tiga
Hanna mendengus perlahan, bahunya yang sejak tadi tegang kini merosot sedikit. "Akhirnya selesai jug
readmore Chapter 4 Empat
Hanna meletakkan tasnya di sofa tanpa sempat menyalakan lampu. Kegelapan ruang tamu seolah menyatu d
readmore Chapter 5 Lima
Unit apartemen mewah itu terasa begitu hangat, seolah-olah dunia luar yang dingin dan kejam tidak p
readmore Chapter 6 Enam
Cahaya lampu ruang rawat inap yang temaram menyorot lembut ke wajah pucat Hanna. Aroma khas rumah sa
readmore Chapter 7 Tujuh
Langkah Hanna terdengar ringan saat menyusuri koridor Fakultas Teknik yang beraroma oli dan besi. Ha
readmore Chapter 8 Delapan
Dewa berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit Harapan Kasih yang mulai sepi. Suara langkah sepatunya m
readmore Chapter 9 Sembilan
Hanna meraih tas kecilnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Satu per satu barang pribadiny
readmore Chapter 10 Sepuluh
Langkah kaki Bimo terasa berat saat ia keluar dari pintu rumah sakit. Hatinya bergolak, penuh penyes
readmore Chapter 11 Sebelas
Hanna berdiri mematung di depan mobil Dewa. Napasnya terasa sesak. Matanya menatap lurus ke depan, t
readmore Chapter 12 Dua belas
Dewa memarkirkan mobilnya perlahan di depan gerbang rumah Hanna. Sepanjang perjalanan tadi hanya ada
readmore Chapter 13 Tiga Belas
Hanna masuk ke rumah lebih dulu. Bimo dan Tasya mengikuti di belakang dengan langkah berat. Sesampain
readmore Chapter 14 Empat Belas
Cahaya matahari menembus tirai kamar, menyorot lantai kayu yang bersih dan rapi. Hanna berdiri di de
readmore Chapter 15 Lima Belas
Hanna berdiri mematung di depan gerbang besi menjulang berwarna hitam legam itu. Matahari pagi menye
readmore Chapter 16 Enam Belas
Pintu lift terbuka dengan bunyi ting yang halus di lantai tertinggi gedung perusahaan milik Bimo. La
readmore Chapter 17 Tujuh Belas
Suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan teras. Bimo keluar lebih dulu, membiarkan supir memar
readmore Chapter 18 Delapan Belas
Di dalam ruangan kerja eksekutifnya, Bimo sedang duduk di balik meja mahoni besar, sementara Tasya b
readmore Chapter 19 Sembilan Belas
Hanna melangkah keluar dari ruangan Bimo, meninggalkan aroma kepalsuan yang menyesakkan di sana. Beg
readmore Chapter 20 Dua Puluh
Hanna meremas ponsel di saku blazer-nya. Alamat yang dikirimkan melalui pesan singkat itu membawanya
readmore Chapter 21 Dua Puluh satu
Malam di kediaman mewah Bimo dan Hanna terasa begitu sunyi, namun bagi Tasya, keheningan itu justru
readmore Chapter 22 Dua Puluh Dua
Hanna melangkah masuk dengan tenang, sorot matanya yang biasanya tajam kini berubah menjadi sayu pen
readmore Chapter 23 Dua Puluh Tiga
Pagi itu, Bimo sudah meninggalkan rumah lebih awal demi mengejar jadwal pertemuan dengan perwakilan
readmore Chapter 24 Dua Puluh Empat
Suasana di lantai eksekutif gedung perkantoran milik Bimo kini tidak lebih dari sebuah medan perang
readmore Chapter 25 Dua Puluh Lima
Langkah kaki Tasya bergema cepat di atas lantai porselen Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang luas
readmore Chapter 26 Dua Puluh Enam
Pintu kayu jati ruangan direksi yang biasanya kokoh itu kini tampak menyedihkan dengan bekas tendang
readmore Chapter 27 Dua Puluh Tujuh
Hening yang mencekam menyelimuti ruangan Bimo setelah Hanna melangkah keluar membawa map biru itu. B
readmore Chapter 28 Dua Puluh Delapan
Sebuah gudang tua di pinggiran kota yang sunyi menjadi saksi bisu dari akhir pelarian Tasya. Ruangan
readmore Chapter 29 Dua Puluh Sembilan
Lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala satu per satu, menciptakan pendaran cahaya yang kontras denga
readmore Chapter 30 Tiga Puluh (Tamat)
Satu tahun telah berlalu sejak badai yang menghancurkan hidup Bimo Aditya dan Tasya melanda. Langit
readmore