Total : 80Chapter 1 satu
Malam minggu selalu punya ritme sendiri, pelan untuk sebagian orang, cepat untuk sebagian lainnya. U
readmore Chapter 2 Dua
Malam itu, perjalanan pulang Raisa terasa lebih sunyi dari biasanya. Mungkin karena kejadian kecil d
readmore Chapter 3 Tiga
Pagi berikutnya tidak berjalan seindah pagi-pagi sebelumnya. Raisa membuka mata dengan perasaan bahw
readmore Chapter 4 empat
Raisa kembali ke kelas, Karina yang melihat Raisa baru masuk segera memberondongnya dengan pertanyaa
readmore Chapter 5 lima
Hari ini langit tampak lebih cerah dari biasanya, tapi entah kenapa Raisa merasa ada sesuatu yang ko
readmore Chapter 6 enam
Awan-awan gelap sudah menggantung rendah sejak bel pulang berbunyi, tapi sebelumnya tepat di jam ist
readmore Chapter 7 tujuh
Perpustakaan siang itu tidak seramai biasanya. Mungkin karena sebagian siswa memilih menghabiskan ja
readmore Chapter 8 Delapan
Sore itu, matahari sudah condong ke barat ketika Raisa mematikan motor matic-nya di depan mini marke
readmore Chapter 9 Sembilan
Jam istirahat akhirnya datang, ditandai dengan bel panjang yang menggema di seluruh sudut sekolah. S
readmore Chapter 10 sepuluh
Raka berjalan menyusuri lorong sehabis membeli makan siang di kantin. Di tangan kanannya ada sebungk
readmore Chapter 11 sebelas
Udara siang itu terasa ganjil bagi Raisa, bukan karena cuacanya yang terlalu panas atau karena angin
readmore Chapter 12 dua belas
Sore hari itu, langit tampak pucat, seolah-olah matahari kelelahan bertengkar dengan awan sejak sian
readmore Chapter 13 tiga belas
Raisa berdiri di depan cermin kecil di loker kelasnya, merapikan rambutnya yang diikat rapi dan mene
readmore Chapter 14 empat belas
Raisa bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan alarm ponselnya belum berbunyi ketika ia sudah selesai
readmore Chapter 15 lima belas
Pukul lima sore, langit di atas kota kecil itu mulai berubah warna, beranjak dari biru ke jingga kee
readmore Chapter 16 enam belas
Udara malam sudah mulai lembap ketika jam dinding di kafe menunjuk angka sepuluh. Jarum panjangnya b
readmore Chapter 17 tujuh belas
Motor besar itu berhenti perlahan di depan warung nasi goreng yang lampunya redup tapi hangat. Aroma
readmore Chapter 18 delapan belas
Kantin siang itu terasa lebih ramai dari biasanya. Bau gorengan, soto, bakso, bumbu kacang, soto pan
readmore Chapter 19 sembilan belas
Matahari mulai turun perlahan ketika Raisa keluar dari gerbang sekolah bersama Karina. Udara sore it
readmore Chapter 20 dua puluh
Pagi hari datang lebih cepat dari yang Raisa harapkan. Minggu terasa hanya sepernapasan baru ia mera
readmore Chapter 21 dua puluh satu
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, memecah suasana yang sejak tadi terasa padat di kepala Raisa.
readmore Chapter 22 dua puluh dua
Hari itu matahari tidak sepanas biasanya, tapi halaman sekolah tetap menunjukkan kilau cahaya siang
readmore Chapter 23 dua puluh tiga
Raisa menghempaskan tubuhnya ke kasur begitu pintu kamar kost tertutup rapat di belakangnya. Napasny
readmore Chapter 24 dua puluh empat
Malam itu Raisa tidur dengan gelisah. Ia sudah mematikan lampu sejak pukul sepuluh, tapi matanya tet
readmore Chapter 25 dua puluh lima
Suara bel pulang baru saja berhenti berdering ketika Raisa mengangkat ponselnya, layar menyala denga
readmore Chapter 26 dua puluh enam
Dua minggu berlalu dengan ritme yang tidak seperti biasanya bagi Raisa maupun Raka. Waktu terasa pad
readmore Chapter 27 dua puluh tujuh
Festival sekolah selalu membawa suasana yang berbeda. Sejak pagi lapangan dipenuhi tenda, kain warna
readmore Chapter 28 dua puluh delapan
Lapangan utama sekolah perlahan kembali riuh setelah penampilan Raisa dan Farhan selesai. Musik lata
readmore Chapter 29 dua puluh sembilan
Hari semakin sore. Matahari turun perlahan, membuat cahaya oranye menyelimuti area festival. Para si
readmore Chapter 30 tiga puluh
Pagi itu, sekolah terasa lebih riuh dibanding biasanya. Kelas-kelas sudah mulai membicarakan hasil f
readmore Chapter 31 tiga puluh satu
Malam setelah mereka saling mengungkap perasaan berlangsung dengan sunyi yang justru terasa penuh ge
readmore Chapter 32 tiga puluh dua
Raisa tidak pernah menyangka dirinya akan berada dalam hubungan yang harus ia sembunyikan. Ia bukan
readmore Chapter 33 tiga puluh tiga
Pagi itu, langit Jakarta tampak seperti belum siap membuka mata. Abu-abu, lembap, berat persis seper
readmore Chapter 34 tiga puluh empat
Hujan turun semakin deras ketika langkah kaki Raka meninggalkan pekarangan kos. Payung hitam yang ia
readmore Chapter 35 tiga puluh lima
Setelah di rasa sehat, Raisa kambali masuk sekolah. Raisa tetap jadi Raisa yang sama menunduk saat
readmore Chapter 36 tiga puluh enam
Bel pulang baru saja berbunyi ketika Raka mengirim pesan singkat:Raka : Tunggu gue di gerbang
readmore Chapter 37 tiga puluh tujuh
Pagi itu udara di halaman sekolah agak lebih segar dari biasanya bukan karena cuacanya, tapi karena
readmore Chapter 38 tiga puluh delapan
Selama seminggu penuh sejak momen kedekatan mereka mulai terlihat di depan umum, sekolah seakan beru
readmore Chapter 39 tiga puluh sembilan
Langit siang itu mendung tipis, seolah ikut menahan napas bersama Raisa yang duduk di sebelah Raka d
readmore Chapter 40 empat puluh
Gosip itu akhirnya mulai pudar. Setidaknya, begitulah yang Raisa rasakan dari cara orang-orang di sek
readmore Chapter 41 empat puluh satu
Keesokan harinya, suasana sekolah sudah ramai bahkan sebelum bel masuk pertama berbunyi. Deretan sis
readmore Chapter 42 empat puluh dua
Pagi itu udara di sekolah masih terasa lembap setelah hujan dini hari. Halaman lapangan basket yang
readmore Chapter 43 empat puluh tiga
Rumah itu terlalu rapi untuk ukuran tempat tinggal yang dihuni lebih dari dua orang. Lantai marmer p
readmore Chapter 44 empat puluh empat
Jam kosong adalah kemewahan langka di sekolah mereka terutama di hari yang begitu cerah. Matahari me
readmore Chapter 45 empat puluh lima
Hari-hari berikutnya di sekolah tidak berjalan seperti biasanya. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang
readmore Chapter 46 empat puluh enam
Hari-hari setelah kejadian di ruang olahraga tidak memberi Raisa ruang untuk bernapas. Seharusnya ia
readmore Chapter 47 empat puluh tujuh
Suara langkah kaki di lorong menggema samar, bercampur dengan bisikan-bisikan kecil dari para siswa
readmore Chapter 48 empat puluh delapan
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi beberapa menit lalu, namun kelas Raisa sudah sepi sejak tadi.
readmore Chapter 49 empat puluh sembilan
Sejak beberapa hari terakhir, perilaku Raisa berubah. Tidak mencolok bagi orang lain, tapi sangat je
readmore Chapter 50 lima puluh
Adrian bukan orang yang terbiasa menunggu keadaan berjalan dengan sendirinya. Ia bukan tipe yang tin
readmore Chapter 51 lima puluh satu
Sejak hari ketika Adrian mulai terang-terangan mendekati Raisa, hidup gadis itu berubah menjadi rang
readmore Chapter 52 lima puluh dua
Hari itu seharusnya berakhir tenang untuk Raisa—seharusnya. Tapi sejak beberapa minggu terakhir, ket
readmore Chapter 53 lima puluh tiga
Siang itu terasa lebih terik dari biasanya, seolah seluruh hawa panas sengaja terkumpul di halaman s
readmore Chapter 54 lima puluh empat
Konflik itu akhirnya meledak di depan banyak orang, sebuah letupan besar yang selama ini hanya menun
readmore Chapter 55 lima puluh lima
Langit sudah kemerahan, suara kendaraan tidak terlalu ramai, dan angin sore membuat beberapa helai r
readmore Chapter 56 lima puluh enam
Langit mendung sore itu, seperti menahan hujan yang belum siap turun. Angin dingin mulai merayapi ha
readmore Chapter 57 lima puluh tujuh
Adrian bersandar pada pagar dekat lapangan basket, mengamati dari kejauhan bagaimana Raisa dan Raka
readmore Chapter 58 lima puluh delapan
Pulang sekolah sore itu terasa lebih lengang dari biasanya. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma t
readmore Chapter 59 lima puluh sembilan
Malamnya, Raka mengantar Raisa pulang. Di perjalanan, ia melirik Raisa beberapa kali. “Lo kayak… kepi
readmore Chapter 60 enam puluh
Senja mulai turun perlahan di langit sekolah, memantulkan warna oranye keemasan pada dinding-dinding
readmore Chapter 61 enam puluh satu
Hari-hari di sekolah mulai terasa berat, bukan hanya bagi Raisa atau Raka, tetapi juga bagi Adrian,
readmore Chapter 62 enam puluh dua
Hari itu suasana kelas Raisa terasa lebih ramai dari biasanya. Angin dari jendela yang terbuka memba
readmore Chapter 63 enam puluh tiga
Pagi itu hujan turun rintik-rintik, membasahi halaman sekolah dengan genangan kecil yang memantulkan
readmore Chapter 64 enam puluh empat
Pagi itu sekolah terasa sedikit berbeda bagi Raisa, meskipun secara kasat mata semuanya tampak sama.
readmore Chapter 65 enam puluh lima
Hari-hari setelah Selina mulai dekat kembali dengan Raisa terasa seperti bab baru yang perlahan terb
readmore Chapter 66 enam puluh enam
Hari-hari setelah ketegangan mereda terasa aneh, bukan karena sunyi, melainkan karena terlalu tenang
readmore Chapter 67 enam puluh tujuh
Sepanjang hari itu, Raka merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sejak Adrian dengan nada yan
readmore Chapter 68 enam puluh delapan
Malam turun perlahan di rumah Adrian, membawa udara yang lebih sejuk dan suasana yang entah kenapa t
readmore Chapter 69 enam puluh sembilan
Keesokan harinya, pagi datang dengan langkah pelan namun membawa beban yang tidak kalah berat diband
readmore Chapter 70 tujuh puluh
Hari-hari setelah kunjungan ke rumah Adrian berjalan dengan ritme yang tampak normal di permukaan, t
readmore Chapter 71 tujuh puluh satu
Adrian sering mengira ketenangan adalah jawaban. Bahwa jika ia menahan diri cukup lama, jika ia menu
readmore Chapter 72 tujuh puluh dua
Hari itu tidak berakhir dengan ledakan, tidak juga dengan pengakuan lanjutan yang dramatis. Justru k
readmore Chapter 73 tujuh puluh tiga
Raka berdiri di depan pagar rumah itu lebih lama dari yang ia rencanakan. Rumah besar dengan dinding
readmore Chapter 74 tujuh puluh empat
Sepulang dari sekolah sore itu, Raisa tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih berhenti sejenak di
readmore Chapter 75 tujuh puluh lima
Adrian berdiri di lantai dua rumah itu, tepat di balik tirai jendela kamarnya. Dari sana ia bisa mel
readmore Chapter 76 tujuh puluh enam
Raka berhenti sejenak di depan gerbang sekolah ketika bel pulang sudah lama berlalu dan halaman mula
readmore Chapter 77 tujuh puluh tujuh
Raka tidak langsung menyalakan motor setelah keluar dari halaman rumah besar itu. Ia berdiri di samp
readmore Chapter 78 tujuh puluh delapan
Pagi itu Adrian bangun lebih awal dari biasanya. Rumah besar masih lengang, hanya terdengar suara la
readmore Chapter 79 tujuh puluh sembilan
Setelah pertemuannya dengan ibu Raka, Adrian merasa ada sesuatu yang perlahan bergeser di dadanya. B
readmore Chapter 80 delapan puluh (ending)
Akhir pekan itu datang dengan langkah yang pelan, seolah ikut menyesuaikan diri dengan suasana hati
readmore
cerita ini luar biasa dan tidak mengecewakan saya
08/03
0baguss bangetttt
07/03
0ok banget ceritanya
05/03
0saya sangat suka dengan cerita ini soalnya raisa agak gugup dan ketika melihat laki-laki itu ia tidak bisa berkata-kata lagi
28/01
0seru sih tapi si Raisa karakter ny terlalu kaku atau pendiam
23/01
0saya suka novel ya ,
23/01
0good
23/01
0membuatku ingin membaca novel lebih banyak
21/01
0hai
21/01
0