logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Part 7 Saweran yang berujung pertengkaran

Kukembalikan suamiku pada saudaranya
Part 7
"Ma-maaf, Ustadzah!" Hanya itu jawaban Mela.
Perempuan berparas manis itu menunduk. Ingin rasanya bercerita agar sesak di dada sedikit lega, namun itu berarti ia membongkar aib suaminya.
"Tidak apa-apa jika Ibu tidak mau cerita. Apapun masalah yang sedang Ibu hadapi saat ini, mintalah pertolongan kepada ALLAH. Di dunia ini, tidak ada manusia yang tidak diuji, Bu. Setiap dari kita pasti punya masalah yang berbeda-beda. Dan solusi dari setiap permasalahan adalah dengan bersabar dan mendekatkan diri kepada ALLAH. Mengadulah pada-Nya setiap habis salat, mintalah hidayah untuk orang yang membuat hati Ibu sedih. Sebut namanya dalam do'a, lalu memohonlah agar dilembutkan hatinya. Karena sesungguhnya hanya ALLAH yang bisa membolak-balikkan hati manusia."
Mendengar penuturan Ustadzah Fatimah yang begitu lembut, Mela tak kuasa menahan air mata. Dia merasa sang Ustadzah begitu tepat menebak sumber kegundahan di dalam hatinya. Untuk sesaat perempuan itu terisak.
Tiba-tiba dia teringat Ibu kandungnya yang berada nun jauh di kota lain. Lalu terbayang pula sosok almarhum ayahnya yang semasa hidup tak pernah sekalipun membiarkan Mela bersedih.
"Seandainya Ayah masih hidup, tentu tidak akan dibiarkan Mas Herman semena-mena kepadaku," batin perempuan itu pedih.
"Te-terimakasih, Ustadzah." Segera disusutnya air mata yang masih mengajak sungai. Mela khawatir ada orang yang masuk masjid dan melihatnya menangis. Setelah merapikan penampilan dan memastikan tidak ada bekas-bekas air mata di wajah, perempuan itu mendongak, tersenyum menatap sosok teduh di hadapan. Genggaman tangan Ustadzah Fatimah masih terasa hangat.
"ALLAH tidak akan membebani satu jiwa pun melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Jika saat ini Bu Mela sedang diuji dengan sesuatu, berarti ALLAH yakin Bu Mela mampu menghadapinya. Yang sabar, ya, Bu! Yakinlah, suatu saat semua pasti akan indah pada waktunya."
"Terima kasih karena Ustadzah sudah sangat perhatian pada saya, maaf jika saya belum bisa bercerita. Mohon doanya Ustadzah, semoga saya diberi kekuatan untuk menghadapi semuanya."
Kata-kata wanita paruh baya berparas teduh itu begitu menentramkan. Bara di dada Mela laksana tersiram air es. Padam seketika menyisakan kesejukan. Setelah berbincang sejenak memastikan berapa banyak nastar dipesan dan kapan harus dikirim, Mela pun pamit pulang.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Besok adalah hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus. Seperti tahun-tahun lalu, malam sebelum hari kemerdekaan akan diadakan syukuran dengan mengundang semua warga kampung. Acaranya seperti biasa penyerahan hadiah lomba 17-an untuk anak-anak, lalu dilanjutkan dengan makan-makan. Namun untuk tahun ini sepertinya lebih meriah, ada panggung orkes organ tunggal di tengah-tengah jalan kampung yang cukup lebar.
Usai acara pembagian hadiah dan makan bersama, Mela sudah mengajak anak-anaknya masuk ke dalam rumah. Runi meraih juara pertama lomba mewarnai, sedangkan Reno meraih juara kedua lomba azan. Setelah membuka hadiah masing-masing, keduanya asyik menonton televisi. Tak peduli di luar suasana cukup ramai. Hiburan orkes organ tunggal sudah dimulai sejak pukul 8 tadi.
"Kak ... kata Ayah, besok mau ajak Runi ke kebun binatang. Sama Tante Muti, Tante Ning dan Tasya. Kakak ikut, ya! Sama Ibu juga," pinta Seruni pada kakaknya penuh harap.
Mela terdiam, seketika dia teringat perkataan Muti di telepon tempo hari. "Ternyata benar, mereka semua berencana ke kebun binatang."
"Kakak, sih, terserah Ibu," jawab Reno menoleh ke arah ibunya.
"Oke, besok kita semua jalan-jalan ke kebun binatang," ujar Mela. Padahal sebenarnya dia malas bepergian kesana di hari libur nasional, karena pasti pengunjungnya penuh. Akan tetapi demi Seruni yang sangat antusias dia tak tega menolaknya.
"Yeeeeeee!" Seruni berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Semoga dengan sering jalan bersama, Mas Herman jadi lebih menyayangi Reno," batin Mela.
Semetara di luar suara penyanyi organ tunggal masih mendayu-dayu. Mela menyingkap sedikit gordennya lalu mengintip keluar. Di depan panggung tampak kursi berjejer-jejer yang sudah terisi penuh oleh warga. Tua, muda, pria, wanita, hampir semua tetangganya ada di sana.
Lalu di atas panggung terlihat seorang biduan sedang menyanyi diiringi seorang pemain musik. Mengenakan dress ketat di atas lutut dengan warna gold yang mengkilat diterpa lampu panggung, perempuan bertubuh tinggi padat berisi itu berjoget meliuk-liukkan tubuh. Bersamanya ada tiga bapak-bapak tetangga Mela yang ikut berjoget sambil melambai-lambaikan uang untuk menyawer. Dan satu di antara bapak-bapak itu adalah Herman, suaminya.
Dengan rasa geram dipandanginya tingkah pria yang sudah 11 tahun membersamainya. Berkali-kali Herman melambai-lambaikan uang berwarna biru sambil berjoget mendekatkan tubuh ke arah penyanyi. Dan setiap lambaian uang selalu disambut dengan senyuman manis dan goyangan yang lebih menggelora dari perempuan dengan dandanan menor itu.
Tak tahan dengan pemandangan yang dilihatnya, Mela menutup gorden dengan perasaan kesal.
Teringat kata-kata Herman sore tadi,
"Besok aku libur, seperti biasa nggak ada uang belanja, ya! Kamu tahu, kan, kalau aku libur aku nggak gajian, dan nggak gajian berarti nggak ada pemasukan. Jadi jangan minta uang belanja!"
Mela hanya diam, percuma mendebat ujung-ujungnya hanya akan terjadi pertengkaran. Dan suaminya itu akan tetap kekeh tidak mau memberi uang. Tidak terhitung berapa kali mereka bertengkar hanya karena Herman tidak mau memberi uang belanja ketika dia libur. Lama-lama Mela lelah selalu bertengkar karena masalah yang sama, juga malu pada tetangga.
Perempuan itu heran, bagaimana bisa Herman tidak mau memberi uang belanja, apakah jika dia libur kerja mereka sekeluarga juga harus libur makan?
Pernah diutarakan hal itu kepada suaminya, dan jawabannya, "Ya, kamu harus pinter-pinter mengelola uang dapur. Jangan dihabiskan semua, sisakan buat ditabung. Buat jaga-jaga kalau aku libur kerja. Kalau aku libur dan kamu masih tetep minta uang, ya rugi dong aku. Udah nggak ada pemasukan, tapi masih tetep ngeluarin duit. Kalau gitu, mending aku nggak libur. Terus kalau aku sakit gimana? Apa masih tetep kamu suruh kerja? Biar bisa ngasih uang belanja ke kamu?"
"Astaghfirullah," Mela hanya bisa mengurut dada. Jika sudah begitu lebih baik mengalah, karena protespun percuma. Suaminya itu akan punya segudang alasan untuk mendebatnya. Padahal setiap hari Mela harus memutar otak mencukup-cukupkan uang belanja yang sudah pas-pasan demi bisa menyuguhkan makanan bergizi untuk keluarganya. Jikapun ada sisa lalu ditabung, pasti keluarnya untuk kebutuhan dapur juga.
Tidak mau memperpanjang masalah, akhirnya jawaban Mela cuma satu. "Yo wislah, terserah kamu, Mas!"
Entah pukul berapa Herman masuk ke dalam rumah. Yang jelas saat Mela terbangun hendak menunaikan qiyyamul lail, lelaki itu sudah mendengkur pulas di sampingnya. Perempuan berparas manis itu beringsut turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu.
Selesai salat, dipanjatkannya doa. Dalam diam dan berlinang air mata, Mela menghaturkan segala keluh kesah di hatinya, memohon pengampunan atas dosa dan kesalahan, meminta untuk senantiasa diberi kekuatan dan keikhlasan hati menghadapi semua permasalahan. Memohon hidayah untuk sang suami tercinta, agar bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga.
Pagi harinya, Herman sengaja bangun agak siang. Setelah mandi gegas ia menuju meja makan untuk sarapan. Dahinya mengernyit ketika membuka tudung saji, hanya ada sayur bayam, sambel, tahu dan tempe goreng.
"Mel, kok cuma ini masaknya?" Mela yang sedang mencuci piring menoleh.
"Makan aja apa yang ada. Uangnya cuma cukup untuk masak itu," sahut Mela datar.
"Ck ...." Herman mendecak kesal lalu menuju kamar. Sebentar kemudian dia muncul lagi, meletakkan uang sepuluh ribu di atas meja.
"Nih, beli telur. Gorengin aku telur!"
Mela menghentikan aktivitasnya mencuci piring, membasuh tangan dengan lap yang tergantung di dinding lalu mendekati suaminya.
"Nggak usah! Simpan aja uang Mas buat nyawer penyanyi dangdut. Noh, hari Sabtu besok di rumah Pak RT ada hajatan mengundang orkes dangdut. Sawer yang banyak di sana, biar Mas puas. Bukankah semakin banyak nyawernya semakin hot goyangnya," ujar Mela sinis.
"Ngomong apa, sih, kamu! Di dengar anak-anak, tuh!" Herman mendelik tajam.
Mela membalas tatapan tajam suaminya. Salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Kenapa kalau didengar anak-anak... malu? Alhamdulillah kalau masih punya malu," bisik Mela sambil beranjak ke ruang tengah. Ada Seruni yang sedang bermain di sana.
Tak berapa lama terdengar suara sepeda motor Herman meninggalkan rumah. Mungkin hendak membeli sarapan di luar, Mela sudah tak peduli.
❤️❤️❤️❤️

Bình Luận Sách (308)

  • avatar
    Rahmat ginanjar

    bagus alur ceritanya

    28/02

      0
  • avatar
    WahyuniYuni

    nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..

    17/02

      0
  • avatar
    Annaznissa

    bagus lanjut lagi cerita nya

    07/02

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất