logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 49 Kedatangan Jeje

"Halah, tidak perlu pura-pura deh, jelas-jelas kamu habis jalan sama lelaki di Mall kan, ngaku saja!" hardik Dirga dengan marah.
"Mas, memangnya Mas tahu dari mana kalau aku dari mall bersama seorang laki-laki?"
"Dari Sekar, katanya dia tadi melihatmu dengan seorang lelaki dan kalian terlihat mesra, ini foto kamu kan?" tanya Dirga sambil menunjukkan sebuah foto.
"Eh, itu memang aku sama Pak Aldi Mas, tapi kami tidak mesra-mesraan seperti yang dituduhkan Sekar."
"Pak Aldi?"
"Bukankah tadi sebelum rapat aku sudah mengajak Mas untuk ikut tapi Mas lagi sibuk. Lagipula Mas sudah kenal dan paham bagaimana sifat Pak Aldi kan? Dia itu sangat menyayangi keluarganya, dan lagi tidak mungkin aku selingkuh darimu Mas, aku bahagia bersamamu, semua yang aku inginkan sudah kudapatkan darimu, jadi untuk apa aku mencari yang lain? Belum tentu juga orang lain itu lebih baik darimu kan Mas?"
"Maafkan Mas, Sri. Mas terlalu takut kehilanganmu sehingga mudah sekali termakan hasutan Sekar."
"Untuk apa Sekar melakukan semua ini Mas?"
"Mas juga tidak tahu."
Dalam hati kecil Dirga sudah paham maksud dan tujuan Sekar memfitnah Sri namun dia tidak mungkin mengatakannya kepada Sri bahwa dia punya skandal dengan Sekar. 
'Baiklah Sekar, akan kuikuti permainanmu, tunggu dulu, bukankah di rumah ini ada CCTV yang tersembunyi dan hanya aku dan Sri yang mengetahuinya? Sepertinya aku harus mengeceknya untuk melihat rekaman kejadian waktu itu'
"Sri, aku ke ruang kerjaku dulu ya."
"Iya Mas, aku mau tidur dulu, capek sekali hari ini."
"Istirahatlah Sri."
"Iya Mas."
Dirga bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya, dia mulai mencari rekaman saat kejadian naas itu terjadi.
'Dimana ya? Aku lupa tanggal berapa kejadian itu'
Dirga sangat yakin kalau Sekar telah berbuat culas kepadanya. Fitnah yang dilontarkannya kepada Sri hari ini semakin memperkuat dugaan kalau Sekar bukanlah orang yang baik.
'Nah, ini dia. Aku terlihat sempoyongan setelah mencium bunga darinya, sebenarnya bunga apa itu? Aku baru ingat tentang nasehat Mang Ujang, sebaiknya aku temui dia dulu'
Dirga mencari Mang Ujang di belakang rumah tetapi tidak ada. Dari kejauhan terdengar lantunan  ayat Al-Quran yang sangat merdu. Dirga mencari darimana sumber suara berasal. Ternyata suara itu berasal dari Mushola yang ada di samping rumah. 
"Mang Ujang?"
"Eh, Aden, ada apa Den?" tanya Mang Ujang setelah selesai mengaji.
"Ada yang ingin saya tanyakan."
"Silakan Den."
"Mengenai perkataan Amang waktu itu…."
"Yang mana ya? Saya lupa, maaf, mungkin karena faktor U hehehe."
"Itu loh Mang, waktu Amang muntah setelah meminum minuman yang diberikan Sekar."
"Oh, itu, kenapa ya Den?"
"Begini Mang, apakah semua itu ada hubungannya dengan Sekar?"
"Sebenarnya iya Den, dia ingin mempelet Aden."
"Apa? Darimana Amang tahu?"
"Sedikit banyak saya paham masalah seperti itu Den. Bahkan di kampung dulu saya sering dimintai tolong untuk menangkal berbagai ilmu hitam."
"Wah, saya baru tahu kalau Amang paham masalah seperti ini. Kira-kira apa tujuan Sekar melakukan ini kepada saya Mang?"
"Tentu saja untuk mendapatkan Aden."
"Hah? Maksudnya bagaimana?"
"Dia ingin membuat Aden bertekuk lutut kepadanya."
"Hah?"
"Lebih tepatnya dia ingin menguasai harta Aden."
"Benar-benar sudah g*la tuh anak."
"Sebenarnya sebelum saya, juga ada orang lain yang terkena pelet tersebut."
"Siapa Mang?"
"Ucup, untung segera saya atasi, kalau tidak dia bisa jadi gila."
"Astaghfirullah, tega sekali dia."
"Saya lihat sekarang Sekar sudah bekerja di salah satu restoran, apakah terjadi sesuatu antara Aden dengan Sekar?"
"M-maksud Amang apa ya?"
"Orang seperti Sekar pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau."
"Mang Ujang benar, Sekar sudah menjebak saya degan memfoto saya yang sedang telanjang dengannya. Foto tersebutlah yang dia gunakan untuk mengancam saya."
"Astaghfirullah, kenapa tega sekali dia."
"Saya takut foto itu akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak, entah apa yang dipikirkan Sri tentang saya nantinya. Hal ini membuat saya sangat frustasi Mang."
"Sebaiknya Aden segera memberitahu kepada Neng Sri, dia akan sangat terluka jika mendengar kabar ini dari orang lain."
"Tapi bagaimana nanti kalau Sri marah dan tidak terima dengan apa yang sudah terjadi?"
"Berikan pengertian kepadanya, apakah Aden punya bukti kalau Aden tidak bersalah?"
"Ada rekaman CCTV saat kejadian itu. Setelah saya amati lebih cermat lagi, disana terlihat saya sempoyongan setelah mencium bunga yang diberikan Sekar."
"Sepertinya bunga itu sudah di beri obat tidur Den."
"Benar, saya juga beranggapan demikian. Kalau begitu saya temui Sri dulu ya Mang, terimakasih untuk nasehatnya, Amang memang selalu bisa diandalkan."
"Sama-sama Den, saya senang bisa membantu."

"Wah, bajunya bagus-bagus ya Ma," ucap Rida.
"Kamu benar, ambil saja yang kamu suka, lumayan dibayari kan?"
"Iya Ma. Sepatu dan tasnya jangan lupa ya Ma."
"Iya, ambil saja."
Stelah puas memilih baju, sepatu dan tas yang mereka suka, akhirnya waktunya membayar. 
"Om Judi, sini." Rida memanggil Judi yang sibuk telponan.
"Sudah?"
"Sudah Om." Judi dan Rida segera menghampiri Sekar yang sudah berdiri di depan kasir.
"Berapa Mbak?" tanya 
"Totalnya lima puluh juta Pak."
Sekar dan Rida membelalakkan mata saat mendengar nominal yang harus dibayar.
"Ini Mbak," ucap Judi sambil menyerahkan sebuah kartu.
Setelah menyelesaikan pembayaran mereka menuju ke sebuah restoran. Namun Rida tidak ikut karena ada janji dengan temannya.
"Terimakasih ya Mas," ucap Sekar sambil bergelanyut manja di lengan Judi.
"Sama-sama sayang, jangan lupa ya jatahku."
"Iya, siap, mau sekarang atau besok?"
"Besok saja ya biar lebih lama waktu untuk kita berduaan."
"Iya sayang."
"Oh, jadi kayak gini kelakuan Papi di luar? Katanya mau rapat kok malah sama ulat bulu kayak gini, rapat yang Papi maksud itu raba-raba p*nt*t kan Pi?" Tiba-tiba datang seorang wanita yang memanggil Judi dengan sebutan papi, dia langsung menjambak rambut Sekar dan menacakar wajah Sekar.
"Aw, lepaskan, dasar wanita gila."
"Gila katamu? Ini, rasakan lagi." Wanita itu terus saja menyiksa Sekar, sedangkan Sekar hanya bisa mengaduh menahan sakit.
"Aw, lepaskan aku!"
"M-mami, tolong lepaskan Mi, malu dilihat orang."
"Dasar ulat bulu!" ucap wanita itu sambil memukul kepala Sekar.
"Heh, anda ini siapa kok datang-datang ngatain saya ulat bulu."
"Lalu apa sebutan yang tepat untuk perempuan gatal yang mengganggu suami orang."
"Suami orang?"
"Ya, saya Jeje, istri Mas Judi."
"Mas, katanya kamu ini duda, kok ada yang ngaku-ngaku sebagai istrimu sih?" tanya Sekar kepada Judi.
"Sebenarnya...."
"Oh, jadi kamu ini duda, Mas? Ok, aku akan mengabulkan permintaanmu, sampai jumpa di pengadilan. Dan untuk kamu ulat bulu, silakan ambil sampah ini, aku tidak butuh." Jeje langsung pergi meninggalkan Sekar dan Judi.
"Tunggu Mi, Papi bisa jelaskan semuanya," ucap Judi sambil mengejar Jeje, meninggalkan Sekar sendirian dalam keadaan rambut acak-acakan dan wajah terluka.

Bình Luận Sách (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    11/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    03/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất