logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 48 Pemberian Maaf

Oek...
Oek...
Oek...
Hmmphfth...
“Bhi Mha... Oh, bhi Mha!’’ berkali-kali, Anna memanggil Bi Ma. Pelayannya iry tak kunjung datang sementara dia sangat memerlukan wanita itu untuk ada disisinya.
“Iya Non? Ada apa?” tiba-tiba datang Bi Ma dari arah belakangnya, wajahnya terlihat panik sementara wajah Anna pucat benar.
“Tholong buatkan aku teh jahe Bhi. Rasanya mual saja dari tadi... Bolehkan bi?”
“I-iya bi. Sas-saya akan buatkan,” setelah mengangguk, bi ma keluar dari dalam kamar mandi yang sekarang sudah menjadi tenpat langganan Anna selama dua hari semenjak bangun dari tidur panjangnya.
****
Sedang disisi lain,
“Tuan, mau kita apakan pria ini?” tanya salah satu anak buah Robert pasal Ravel tak kunjung bangun dari acara tidurnya akibat bius yang terus ditancapkan pada tubuhnya.
“Hmmm,” Robert berfikir. Jujur saja, dia sebenarnya begitu kasihan melihat pria itu.
Tapi, karena terlalu menyakitkan hatinya karena membuat putrinya menderita, maka dia putuskan untuk memberikan satu hukuman itu, atas usulan Vanesha, istrinya.
Belum sempat berkata apapun, tiba-tiba saja deringan ponsel menyadarkan semua.
Vanesha disamping Robert mengambil ponsel itu. Ada nama Bi Ma disana.
“Hallo bi?’’
“...”
“Oh, kami masih ada di rumah sakit, bi. Apa...”
“....”
“Hmmp... Iya, iya bi. Baik. Kami akan segera!”
Panggilan ditutup.
“Ada apa?’’ tanya Robert penasaran.
“Anna, Anna...Dia katanya pingsan lagi. Sudah enam kali dalam dua hari ini Dia seperti itu katanya!”
“I-iya baiklah. Ayo kita segera kesana!”
“Tapi Tuan... Pria itu.. ” anak buah Robert menunjuk tubuh Ravel diatas blankar.
Robert menoleh, “Bawa dia! Soalnya laki-laki itu pasti dibutuhkan untuk sekarang!”
“I-iya Tuan. Akan dilaksanakan!’’
Dengan tergesa-gesa, semua keluar dari rumah sakit.
Menemui rumah besar keluarga Robert, dan segera masuk kedalam kamar Anna.
Disana Robert dan Vanesha melihat wajah Anna. Begitu pucat, seperti mahkluk yang sudah tewas!
Mereka kasihan. Terutama Robert. Laki-laki itu menyentuh pipi dingjn putrinya. Bahkan hampir mengeluarkan air matanya.
‘Apa kau tau nak. Alasan utama yang terpenting maka ayah memarahimu karena ini. Tapi kau malah tak peka dan akhirnya terjerusmus juga. Cukuplah kisah masa muda ayah yang kurang baik. Jangan ikut kau-nya.’
Sudah tak tertahan lagi. Robert menuruni anak tangga, meninggalkan istrinya Vanesha dan bi Ma, pelayan setianya itu.
Sedang dia berpapasan dengan Juo, salah satu anak buahnya yang sedang mempapah Ravel, masuk kedalam rumah.
Dengan segenap kekuatan, laki-laki paruh baya itu mulai melayangkan pukulan cukup kuat pada perut Ravel.
Membuat Ravel yang sama sekali belum sadar langsung terhuyung ke bawah, terlepas dari papahan Juo.
Robert berjalan maju. Melihat laki-laki itu terkapar lemah, dia semakin meleparkan pukulan dari atas hingga ke bawah tubuh Ravel.
“Anak kurang hajar!”
“Laki-laki gila!”
“Laki-laki Biadap!”
“Bukankah sudah ku katakan jangan mendekat pada putriku! Kau malah semakin mendekatinya! Sekarang, jangan harap bisa lepas dari jerat kemarahanku!”
Bhuk!
Bhuk!
Phuk!
“Sudah Tuan. Jangan buat seperti itu. Kasihan dia, tuan. Anda juga cape akhirnya, Tuan. Sudahlah...”
Juo tetap berusaha mencekal Tuan besarnya itu agar tidak memukul Ravel.
Juo tau jika laki-laki yang ada disana itu salah.
Tapi sebuah pelanggaran jika seseorang membabi buta saat lawannya lemah. Itu namanya laki-laki cupu!
“Tidak, biarkan aku melakukannya! Biar dia sampai mati saja!”
Memukul dan memukul. Tak puas dengan hal itu, Robert menarik kerah baju rumah sakit yang dikenakan oleh Ravel dan mencampakkannya hingga terguling diatas anak tangga sebanyak dua puluh itu.
Wajahnya semakin lama semakin pucat, ada banyak luka memar disana.
Terutama kepalanya, Ravel sepertinya mengalami pendarahan.
Juo berusaha menolongnya. Tapi dicekal oleh Robert, “Biarkan laki-laki itu membusuk disana! Jangan biarkan dia berpindah posisi sekalian!”
Robert berbalik badan. Hingga suara putrinya yang terdengar merintih kesakitan membuat langkahnya semakin cepat ke sana.
“A-ada apa?” dilihatnya Anna, dari pintu yang terbuka lebar.
Robert mendekat dan mulai memegangi telapak tangan Anna, “Kau kenapa sih, Anna...”
“Arghhh... Perutku, yah! Sakitttt!!!”
Dua menit habis, suara Anna memenuhi ruangan.
Robert kembali ingat pada keadaan Ravel di depan teras rumahnya.
Dia kembali ingat, jika ini pasti kelakuan anak Ravel yang ada dalam perut Anna.
Ya, Anna hamil. Dia sedang hamil anak Ravel.
Laki-laki yang terkesan tak punya otak hingga dengan mudahnya dia tidak menerima Anna saat hari mereka sadar.
Robert sendiri tidak percaya. Tapi selang ditemukannya Ravel, dia hendak membunuh laki-laki itu.
Namun mungkin ada hukuman yang jauh lebih keji dari ini.
Yaitu membuat Ravel kehilangan reproduksi sperma-nya.
Jadi selamanya laki-laki itu akan mandul.
Walau terasa sulit, tapi Robert pasrah saja.
Dia akan menerima anak dalam kandungan putrinya itu menjadi cucunya.
Sebab dia yakin, jika Ravel sama sekali bukan seorang laki-laki pengecut.
Dan kalau Ravel benar seperti pemikirannya, PENGECUT, maka ada sesuatu yang akan akan menjadi ganjaran bagi laki-laki itu.
Ganjaran yang akan membuat Ravel sendiri mungkin akan menyesal seumur hidup.
“Juo!”
“I-iya Tuan?” nada suara Juo tampak begitu ketakutan. Ah, yang benar saja! Ditengah Juo yang ingin mengangkat tubuh laki-laki malang itu dari tangga paling bawah, dia malah terpergok oleh Robert yang sedang berkacak dipinggang mengamati dirinya dan Ravel dari atas.
Mau tidak mau Juo harus segera ikut naik keatas. Dan meninggakkan Ravel disana, kembali tergeletak.
Dia juga tidak mau kalau Robert akan menghukumnya dengan cara sekasar itu. Tidak bisa dibayangkan kalau Juo bernasip sama dan akhirnya pingsan seperti Ravel.
“Tuan, apa ada yang boleh saya lakukan buat anda?”
Robert melirik kebawah, “Ngapain kau melepas dan meninggalkannya?”
“Ta-tapi Tuan, bukankah Anda yang mengatakan kalau saya tidak boleh menolongnya?”
Suuttt... “Diam! Jangan protes! Lakukan saja apa yang saya pinta!”
“I-iya Tuan. Saya akan lakukan!”
Jou mulai mengangkat tubuh laki-laki bernama Ravel itu.
Membawanya seperti perintah Robert, “Ke kamar putri saya! ”
Sedang Robert, dia berjalan dibelakang Juo dan Ravel.
Mengamati punggung Ravel dengan saksama, ‘Dia, mirip dengan seseorang yang pernah menjadi sahabatku, tapi... Ah, sudahlah! Tidak perlu diingat lagi!’
Sesampainya di dalam kamar Anna, Robert melihat Anna tetap meringis kesakitan.
Menjerit, bahkan sampai meneteskan air mata, “Ayah! Sakittt, tolonggg ahhhhh!”
Terlihat begitu menderita. Robert tidak tau mau buat apa lagi. Yah, terpaksalah...
“Jou!”
“Iya Tuan?”
“Sini, bawa DIA kemari.”
“Baik tuan,’’ Jou mengangguk, dia menyerahkan Ravel pada Robert.
Robert segera mengambil laki-laki itu. Terdengar halus, nafas Ravel, dengan mata menyipitnya.
Robert tau, jika Ravel sudah sadar. Namun dari gerak-geriknya, Ravel dinilai takut, dan Robert hanya bisa diam. Walau mengetahuinya.
Robert mengarahkan tangan penuh memar akibat tinjuan yang dibuat Robert pada tubuh Ravel.
Dengan halus, Robert berbisik pada Ravel, “Disini ada anakmu. Kau harus membuatnya tenang. Sebab aku sudah menyelamatkanmu dan anakmu tetap hidup hingga sekarang. Anggap saja seperti balas budi.”
Ravel menurutinya. Dia mengusap lembut perut Anna, dibantu Robert yang memposisikan tangannya diatas punggung tangan Ravel. Dalam hatipun dia berkata, “Aku memaafkan ayahmu, cucuku. Jadi jangan sakiti ibumu lagi. Kasihan dia.’
Seketika, perut Anna yang terasa sakit itu mereda. Dia menatap ayahnya, dengan senyuman, “Terima kasih ayah.”
Bersambung...

Bình Luận Sách (111)

  • avatar
    Ratu Jihan

    cerita novel nya sangat baguss hebatt💞

    06/05/2022

      4
  • avatar
    ARMuhazarah

    cerita nya bagus kak..

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Muhammad Raka Brahmansyah

    bagus

    16/02/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất