Gadis itu mengerutkan dahinya sejenak, pandangannya tertuju pada barisan meja sebelah kiri. Tampak seorang lelaki, sendirian, menunduk dan memainkan pulpennya, tak sekejappun melihat ke depan. Aneh? ”Teman-teman, perkenalkan nama saya Dina Megasari, saya biasa dipanggil Mega. Mulai hari ini, saya akan belajar bersama kalian. Mohon bantuannya untuk belajar bersama,” Mega mengedar pandangan ke seluruh teman-teman barunya, dan lagi-lagi terhenti pada wajah tertunduk yang tengah memainkan pulpennya. Entah menulis apa. Suara perkenalan itu, menimbulkan rasa penasaran mendalam di hati Dedi. Suara yang teramat lembut, memaksa wajahnya sedikit terangkat, melirik dengan sorot mata bekunya. Hingga, kedua bola hitam di matanya berada di atas, karena posisi wajahnya masih tertunduk. Mencuri-curi pandangan kearah Mega. Saat itulah, exact, tepat. Dua mata beradu, seolah ada hening yang tercipta diantara keduanya, simponi yang aneh. Ada perasaan aneh yang dihembuskan angin, perasaan yang berkecamuk ditularkan lengang. Kedua sorot mata yang sangat berbeda bertemu; satu kesepian, dan satunya memiliki banyak teman. ”Baiklah, mungkin nanti kalian bisa beramah-tamah kembali. Kamu duduklah Mega, ada dua kursi bangku kosong di kelas ini. Pilihlah sendiri dimana kau akan duduk,” bu Sri tersenyum. ”Makasih Bu,” Mega membalas senyuman, dia melirik dua tempat kosong yang dikatakan bu Sri. Satu kursi kosong di bagian belakang, dan satu kosong..., di dekat lelaki yang memainkan pulpennya, yang menundukkan kepalanya, yang mempunyai pandangan beku dan tajam. Mega mulai melangkah, sambil tetap tersenyum kepada teman-teman baru yang menyapanya. Dia melenggang, berhenti di barisan kiri. Tepat di barisan ketiga, Mega melepaskan tas canglongnya, dan duduk di sebelah Dedi yang masih sibuk menulis dengan pulpennya. ”Hai, aku boleh duduk disini?” Mega menyapa lembut. Tak ada sahutan, Mega tersenyum sendiri, ”Bolehkan?” ”Hati-hati Mega, pindahlah tempat duduk. Dia lelaki paling penakut di seluruh dunia, dan lagi dia itu gila! Ha..ha..ha..,” Jaka berkelakar keras, dua orang yang duduk di sebelahnya mengiyakan pula. Suasana kelas riuh. ”Benar, pindah saja Mega,” Deri yang duduk di sebelah Jaka ikut nimbrung. ”Diam semua, terserah Mega mau duduk dimana,” bu Sri menenangkan suasana, ”Saya tinggal, ada keperluan di kantor. Mega, semoga kamu kerasan di kelas ini ya?” ”Iya Bu.” Bu Sri pamitan, dan saat keluar kelas. Bu Fitri masuk, sempat tak enak bertemu bu Sri karena hari ini dia telat lagi. Bu Fitri mengajarkan Matematika, mereka saling tatap dan tersenyum. Bu Fitri paham arti senyum bu Sri, jangan sampai telat lagi. Bu Fitri menaruh dua buku tebalnya di meja, duduk di kursinya. Dibetulkan kacamatanya sambil menyapa murid-muridnya, dan pastilah, pelajaran yang paling banyak menguras otak itu akan dimulai kembali, apalagi, selalu ada PR yang diberikan setiap pelajarannya. Suasana kelas hening, hanya ada suara spidol boardmarker di papan board dan penjelasan bu Fitri tentang logaritma. Ada siswa yang sungguh-sungguh memperhatikan, ada yang terkantuk-kantuk hingga kepalanya hampir terjatuh di meja, ada yang sibuk menulis kaligrafi ala gravity, ada yang bermain lempar kertas ditulisi kata-kata gokil. ”Hai, aku tidak mengganggumu kan duduk disini?” Mega berbisik pelan, sambil menatap Dedi yang menatap kosong kearah bu Fitri. Tak ada jawaban. ”Kau dengar aku?” Tak ada jawaban, Dedi tetap menatap ke depan, namun kosong. ”Hai,” Mega lebih mendekatkan wajahnya. Dedi perlahan menoleh ke kanan, tatapannya teramat dingin seperti salju yang beku. Mega mengangkat kedua bola matanya, senyumnya terukir. Namun, Dedi kembali menatap ke depan, acuh. ”Hai, siapa namamu?” Mega kembali berbisik. Dedi menggenggam kuat pulpennya, menulis beberapa kata sedikit keras, hingga kertas di bukunya sedikit tampak sobek sedikit karena tekanannya. Lalu, menggesernya ke kanan. Sebuah tulisan empat kata besar, Mega membacanya dalam hati. ”Jangan menggangguku, Dedi Hasanudin” Mega tersenyum, lalu menulis balasan di bawahnya. Menggeser buku itu kembali kearah Dedi, dedi membacanya dalam hati pula. ”Dedi? Kau sungguh aneh. Bisa kita berteman?” Dedi menutup bukunya itu. Ada sesuatu yang memaksanya menoleh ke kanan sedikit. Mega sudah konsentrasi mengikuti pelajaran, dan Dedi melihat rambut hitam itu tergerai menutupi telinga Mega. Wajah yang demikian putih, pipinya nampak lembut bagai kapas, sedikit tertutup dari geraian rambutnya. Dedi masih mencerna kata-kata yang baru saja dibacanya. Aneh, seorang asing yang baru saja bertemu dan berkenalan, tiba-tiba menawarkan sebuah hubungan. Ada yang bermain tiba-tiba di hatinya. Teman?
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 15 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (105)
Izz Hafizi
Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..
Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..
10/06/2022
0Bagus
09/10
0baguss sekali
04/06/2025
0Xem tất cả