Dedi berjalan mengendap pelan, menuju ruangan makan, lengkap memakai seragam sekolah dan tas di punggungnya. Dia membuka tutup nasi, disana ada nasi dan sayur terong. Ibu yang memasak, walau Ibunya demikian – seperti tak memiliki daya hidup dan pandangannya kosong – tapi, tetap saja dia melakukan tugasnya memasak. Kadang, Dedi ingin berbincang dengan Ibunya. Tapi, Ibunya seolah tak mendengar, Dedi juga merasa asing pada Ibunya. Walau kasihan, tapi bukankah nasibnya lebih memilukan dari Ibunya? Didudukkan tubuhnya, membalik piring dan mengambil nasi pelan, mengambil sayurnya. Berucap Basmallah, lalu makan satu suapan. Hanya satu suapan, sial bagi Dedi. Karena, Ayahnya telah berdiri di belakangnya. Tak biasanya, Ayahnya bangun sepagi ini. Dan, Dedi tak kuasa meneruskan makannya. Gigi-giginya berhenti mengunyah. Suasana hening, Ibunya keluar dan ikut duduk di depan Dedi. Tanpa canggung, sang ibu mengambil nasi dan menumpahkan sayur di dalam piringnya. Lalu, makan dengan lahap, tak peduli bahwa Dedi tengah menunduk ketakutan. Suasana teramat hening, hanya suara makan Halimah yang terdengar. Dedi benar-benar tak meneruskan makannya, hingga hening yang menerpanya, dia mencoba berdiri, hendak berangkat sekolah dan meninggalkan piring makanannya. Lagi-lagi Dedi terlambat, saat tangan kanannya menolak meja hendak bangun. Rambutnya telah terpegang, tertarik demikian kasar. Kepalanya tertarik ke belakang, Dedi merasakan sakit tak tertahankan di pangkal lehernya, kepalanya, ubun-ubunnya, hingga ke semua kulit wajahnya akibat tertarik syaraf-syarafnya yang tiba-tiba. ”Anak Syetan! Berani-beraninya makan dulu daripada aku!” Wajah keras itu, mendekati wajah Dedi. Matanya melotot, hingga dengusan napasnya terasa menampar-nampar wajah Dedi. Dedi berkerut-kerut wajahnya, seluruh tubuhnya menggigil. Petaka seolah tak pernah meninggalkannya, memang, dunia adalah tempat yang asing baginya. ”Ampun Pak,” Nadanya lirih, vibrate, bergetar parau. Namun, Halimah selaku ibunya tak merasakan apa-apa dengan kejadian memilukan itu. Tatapannya tetap kosong, makannya tetap terasa nikmat walau seolah rasa nikmat makan itu pula tak ada. ”Ampun! Anak kurang ajar!” tanpa pelak, tangan kanan Feri mengambil nasi dalam piring, mengangkatnya dan menghempaskan seluruh isi beserta piringnya, ke wajah Dedi yang masih kesakitan. Nasi berhamburan. ”Prang!” Piring terjatuh di lantai keramik. Nasi bertaburan seperti buih di lautan. Dan, wajah Dedi; di matanya, di hidungnya, di keningnya, di telinganya, di mulutnya, nasi telah memenuhi wajahnya yang tirus. Dedi hanya tergetar wajahnya, tak menangis, karena airmatanya telah kering sejak jauh hari. Bahkan, sejak pertama kali dilahirkan ke dunia yang asing ini. Feri masih belum puas, masih sempat menekan kepala Dedi ke meja, hingga kening Dedi membentur meja kayu. Memar merah di keningnya. Feri tersenyum, ada kebanggaan dalam pelampiasannya. Lalu, dia duduk di sebelah isterinya, membuka piring yang tengkurap di sisi meja, lalu mulai mengambil nasi dan makan dengan lahap menemani isterinya. Dedi masih tertunduk, keningnya masih menempel di meja. Benar, airmatanya telah kering. Pandangan matanya telah kehilangan keyakinan, diangkat pelan kepalanya. Matanya tak berani mengedar, dia tetap tertunduk, berdiri dan menuju kamar mandi. Seperti biasa, seolah itu adalah kebiasaan rutin yang lumrah saja. Halimah masih makan dengan lahap, tak peduli apapun. Dimana rasa keibuannya? Apakah dia memang telah menganggap ini biasa? Ataukah, sebenarnya, dia telah tidak berada di dunia? Dedi menutup pintu kamar mandi, dihidupkan air kran, pandangannya masih tertunduk dan tangannya menadah air yang gemericik keluar. Sedetik kemudian, sorot matanya lurus kearah cermin. Wajah itu, tegang dan sorot matanya, menyala demikian merah, seolah hendak membakar kehidupan. Seluruh syaraf dalam tubuhnya, bangkit, urat-urat menegang. Ada dendam yang ingin dilampiaskan. Namun, sedetik kemudian semua kembali tenang. Belum saatnya bagiku, belum saatnya. Dedi membersihkan wajahnya, nasi-nasinya yang tumpah. Hanya satu yang tersisa, keningnya yang memar merah. Dedi keluar dari kamar mandi, tanpa pamit dan mencium tangan orangtuanya. Berlalu keluar ke pintu depan, melenggang dan masih tertunduk. Dia berangkat ke Sekolah, walau bajunya sedikit basah terkena cipratan air untuk membersihkan sisa nasi yang menempel. Jiwanya kembali terbang, bersama sayap-sayap imajinasinya. Langkah-langkahnya tampak tak ada daya kehidupan, wajahnya menunduk, tak peduli orang yang lalu-lalang berlawanan maupun searah dengannya. Inilah bagian terindah dari kehidupannya; bernama kesendirian. Setiap hari, sengaja Dedi berangkat pagi-pagi benar. Dia tidak pernah ingin naik angkot, karena, uang hasil kerjanya selalu ditabung. Untuk sebuah keperluan, yang hanya dia yang tahu. Kala mengingat mimpinya itu, kembali ada semangat menyala di hatinya, di sorot matanya yang beku. Hingga sampailah, di depan gerbang Sekolah Karya Bakti. Matanya masih tertunduk ke bawah, persis satu kilan dari ujung-ujung sepatunya yang melangkah. Terus berjalan, melewati pagar yang dijaga Satpam, yang berdiri menyambut siswa di sisi gerbang yang terbuka. Pak Yudo, satpam sekolah melihat kearah lewatnya Dedi. Ada sisa simpati yang terus menyesak di hati satpam itu, setiap kali Siswa menunduk itu lewat gerbang itu. Pak Yudo merasa, ada sesuatu dalam diri anak yang lewat itu, setiap kali menunduk. Satpam itu, terus mengikuti langkah masuknya Dedi, selalu perasaan aneh menyelimuti kala anak itu lewat. Pandangan pak Yudo beralih secara paksa, melihat dua motor yang menderu-deru memekakkan telinga. Setiap motor itu, dinaiki oleh dua orang. Melintasi gerbang di sisinya, tanpa sopan karena suara dari knalpot semakin dikeraskan. Dasar anak-anak tidak tahu diri! Pak Yudo menggelengkan kepalanya berulang kali. Siapa lagi keempat orang itu, kalau bukan geng-nya Roni. Semua siswa, rata-rata tahu kebandelan mereka, tak ada yang berani melaporkan perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan hari ini, pak Yudo melihat kejadian yang akan diingatnya. Saat geng Roni itu melewati Siswa yang menunduk itu, mereka membagi posisi dengan dua jalur. Mereka seolah pemain sepak bola; sayap kiri dan sayap kanan yang menyerang musuh. Lima detik, sebelum mereka melewati Dedi. Dua orang yang membonceng di belakang, menyatukan telapak tangan mereka, tos. Kemudian, motor itu melaju di sisi-sisi Dedi. Satu diantara yang membonceng itu, menampar Dedi dari sayap kanan, dan dari sayap kiri dengan kuat mendorong bahu kiri Dedi. Motor itu melaju kencang menuju parkiran, menyelinap dan menghilang dari balik tembok, meninggalkan dedi yang tersungkur terjatuh di lantai paping, di lurusan gerbang sekolah. Pak Yudo menggelengkan kepalanya dan berlari meninggalkan pagar yang ditunggunya. Jongkok memegangi kedua pundak Dedi, membantunya untuk bangun. ”Kamu tidak apa-apa?” pak Yudo bertanya demikian khawatir. Tak ada sahutan, Dedi berdiri. Kaki sebelah kirinya terasa sakit dan ngilu. Dedi hanya menggelengkan kepalanya, pertanda tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Dedi memaksakan kakinya melangkah, meninggalkan pak Yudo yang masih hendak membantunya jikalau terjatuh kembali. Wajah Dedi masih saja menunduk, melihat satu kilan di depan ujung-ujung sepatunya. Tak peduli jalannya yang terlihat agak pincang, meninggalkan pak Yudo yang merasa aneh dengan kelakuannya, hingga akhirnya pak Yudo memutuskan untuk kembali ke gerbang, di sisi gerbang, dan menerima tamu siswa-siswa yang datang. Tapi, ada yang menyesak di dadanya. Anak yang aneh. Dedi terus melangkah, pandangannya tetap saja menunduk. Tak peduli rasa sakit di lututnya, baginya, sakit adalah santapan kehidupannya. Hingga, seolah tak terasa sebagai sebuah rasa sakit lagi, melainkan sebuah kebiasaan yang dipaksakan padanya, kebiasaan yang harus diterimanya dengan lapang dada. Benarkan demikian? Inilah satu sisi kehidupan Dedi, semua orang terasa asing dalam hidupnya, walaupun mereka adalah teman-teman satu sekolahnya, bahkan satu kelasnya sekalipun. Dedi memasuki kelasnya, kakinya yang sebelah kiri agak deglag, tapi Dedi tak seolah memiliki rasa malu atau kaku. Toh, tak ada yang akan peduli, apapun kondisinya. Beberapa pasang mata melihatnya, namun segera beralih, seolah mereka memang tak mengenal Dedi, walaupun telah dua tahun belajar bersama dalam satu kelas, setiap harinya. ”Dedi, kamu tidak apa-apa?” sebuah suara demikian lembut menyapanya dari arah belakangnya. Dedi paham suara siapa itu, jika hatinya mau jujur, hanya seorang wanita inilah selalu perhatian padanya. Dan mungkin, dalam kenangannya, teman satu sekolah yang diingatnya hanyalah satu nama; Rahmaiza Ilyani, sang ketua OSIS. Teman satu kelasnya. Dedi berhenti sejenak, lalu menggeleng dua kali. Lalu, langkah kembali terayun, menuju meja paling kiri, di urutan nomor tiga dan lima urutan. ”Tapi, kakimu sedikit tertahan. Apa kamu baru saja terjatuh?” Dedi kembali terhenti, tepat di tengah-tengah antara meja pertama dan kedua. Dedi menggeleng kembali, namun, baru satu kali menggelengkan kepalanya, Jaka yang telah duduk di pojok belakang barisan paling kanan bersuara keras, hingga didengar oleh siswa-siswa di kelas itu. ”Ternyata ketahuan sekarang teman-teman! Si ketua OSIS kita terjadi teramat perhatian pada si kurus! Jangan-jangan,” Jaka menghentikan ucapannya sejenak, ”Jangan-jangan mereka pacaran! Ha..ha..ha...” ”Diam kamu Jaka!” Rahma menatap kearah Jaka. Siswa yang lain tak ada yang berani bersuara, mereka menghentikan obrolan masing-masing dan ikut terbawa dalam ketegangan pagi itu. ”Tidak salah lagi! Ternyata mereka benar-benar pacaran teman-teman.” ”Jaga bicaramu Jaka.” Dedi tak mempedulikan apapun percakapan itu, dia duduk di kursinya, mengambil buku dalam tasnya dengan tenang. Mengambil pulpen dalam tas kecil, lalu sibuk menulis dalam barisan-barisan buku yang dibukanya. Entah apa yang ditulisnya, padahal semua orang tengah melihat keseriusan ketegangan Jaka dan Rahma. Hingga, tanda masuk berbunyi. Ketegangan itu akhirnya reda, saat pak Bambang, guru Matematika masuk dan hendak memberikan pelajaran untuk hari ini. Saat semua telah mulai konsentrasi, hanya satu orang yang berpikir lain. Dedi menggambar sebuah kepala dengan sepasang tanduk, dengan gigi taring yang mengerikan, ada darah yang digambarkan menetes dari taring itu. Ada yang terbakar di dadanya, hingga diluapkan dalam visualnya. Dimanapun, Dedi selalu sendiri. Begitupun, kursi tempat di sebelahnya. Kosong. Tak ada teman yang duduk di sebelahnya. Apakah, memang dia diciptakan untuk berteman dengan kesepian? *** Sepulang sekolah itu, Dedi tidak langsung pulang. Dia berjalan menuju mushola sekolah, padahal semua orang telah pulang, mungkin segelintir yang tersisa karena urusan sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Dedi melepas sepatu wariornya, mengambil air wudhu di tempat wudhu. Melepaskan tasnya, dan masuk ke dalam mushola. Di tengah mushola, seseorang lelaki telah menghadap pintu, tepat arahnya masuk. Lelaki itu tersenyum kearah Dedi, ”Kamu datang juga Ded, masuklah.” Dedi memberanikan wajahnya terangkat, lalu senyumnya terukir, walau sangat kecil ukurannya, bahkan bisa dibilang itu adalah senyum paling pelit yang ada di dunia ini. Dedi menyalami tangan kanan lelaki itu, sudah satu bulan ini dia selalu bertemu khusus dengannya di mushola sekolah, satu kali satu minggu. Dialah pak Mahfudz, guru Agama Islam yang baru masuk di Sekolah Karya Bakti sejak empat bulan yang lalu. Mahfudz Sidiq lengkapnya, dia selalu mengajarkan agama di luar jam sekolah. Tapi, Dedi hanya mau diajari sendiri, khusus. Jika bersama yang lain, dia tidak mau. Maka, pak Mahfudz menyanggupinya. Sudah empat minggu ini mereka bertemu. Dedi merasa, bahwa, seorang yang memahaminya di dunia ini, dia temukan dari sosok Mahfudz ini, entah kenapa jiwanya merasakan itu. Darinya, Dedi belajar tentang shalat yang tak pernah dilakukannya, darinya Dedi belajar kesabaran walau baru sedikit yang dipelajarinya. Setidaknya, kesabaran menunggu meledakkan mimpinya yang tertahan. Bahwa, dia harus bertahan hidup, untuk sebuah mimpi yang mendera jiwa dan raganya. Burung Prenjak bernyanyi riang di pohon akasia di sebelah mushola, mendendang lagu kesyukuran. Lalu, terbang karena melihat lintasan sahabatnya, mengepakkan sayapnya, berdzikir kembali melalui bulu-bulu yang mengepak. Meninggalkan dua orang yang tengah duduk di majlis, di mushola Sekolah Karya Bakti.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 39 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (105)
Izz Hafizi
Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..
Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..
10/06/2022
0Bagus
09/10
0baguss sekali
04/06/2025
0Xem tất cả