logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 3 Selamanya Sepi

Derap-derap langkahnya berlari demikian cepat, berlari dan terus berlari. Menderu bersama angin panas, rambutnya tergerai, terbakar sinar mentari. Tangannya terayun, bagaikan mekanika mesin teratur tanpa dipandu. Imajinasi bermain dalam pikirannya, dia sedang terbang mengarungi angkasa, dengan kedua sayapnya yang kokoh, memanfaatkan daya hembus angin.
Kepalan tangan kanannya, dililit-lilit kain putih. Ada rembesan darah merah yang menyisa kering di kain itu. Napasnya berpacu, perut sebelah kirinya sakit, ginjalnya protes. Tapi, imajinasi mengalahkan segalanya. Dia terus berlari, bagai mesin yang tak lagi peduli kondisi mesinnya. Tujuannya adalah sampai, kalau tidak berarti hancur dan rusak seluruh mesinnya.
Matanya tajam, melihat liukan-liukan panas membara di atas aspal. Dia berlari dari rumahnya, dalam hatinya hanya berdendang satu kata, dan itu berulang hingga larinya telah demikian jauh. Satu kata.
Kenapa!?
Antara marah dan tanya. Itulah pikiran yang berkecamuk dalam pikirannya. Satu hal yang menjadi mimpinya, mengumpulkan uang tiga juta rupiah. Baru saja dilihat kantung penyimpanan uangnya yang tersimpan demikian rapi, di bawah dipan kasurnya, tepatnya di galian yang ditutupi dengan satu kotak keramik yang dijebolnya. Tak akan ada yang tahu.
Untuk apa uang itu?
Ketika dilihatnya, dia selalu berkata, ”Sebentar lagi!”
Dedi terus berlari, tak peduli orang yang melihatnya. Tak peduli matahari yang memanggangnya garang, tak peduli angin panas yang menerpa wajahnya yang tirus seolah kurus tanpa daging yang berarti.
Finally. Dedi membentangkan sayapnya, selebar-lebarnya, imajinasinya menari-nari indah, seolah bergerak bak penari balet di lantai awan mendung. Indah. Dedi memejamkan matanya, berputar seperti komidi putar, bentangannya memutar bagai kincir air yang deras dihempas angin.
Dedi membuka matanya, ditatapnya air yang bergelombang pelan, tertiup angin di bendungan Siantar. Inilah tempat favoritnya, dekat dengan perkebunan kopi. Di sinilah, tempat Dedi menghilangkan penat dan kebuntuan pikiran. Di sinilah, seolah surga, hanya ada beberapa pemancing dan pedagang asongan yang berkeliling.
Dipaksakannya tubuhnya untuk duduk, pantatnya terhempas kuat di rerumputan. Empuk. Matanya tak lepas, menyebarkan pandang ke aliran air. Diambilnya sebuah batu kecil, dilemparkan ke dalam air, tercipta gelombang kecil. Membesar, semakin menepi semakin kecil gelombang, hingga kembali membentur telapak kaki telanjang Dedi, yang menyentuh tepian air.
Dedi tersenyum, ada kepuasan kecil di hatinya, di sela kerancuan hidupnya.
Ah! Dedi menyatukan kedua telapak tangannya, di belakang kepalanya. Menjatuhkan tubuhnya di rerumputan, bias sinar mentari dari sela dedaunan dan reranting, menyorot indah wajah kurusnya. Dedi memejam sejenak, menikmati alur irama hidupnya.
Kenapa? Apakah hidupku, memang, selamanya sepi?
Hanya sejenak lamunannya bergejolak.
Seseorang datang menghalangi sorot cahaya matahari di telisik dedaunan, sesosok tubuh kecil wanita, berdiri di atasnya yang tengah berbaring. Dedi kaget, dan sigap langsung mendudukkan tubuhnya.
Dedi menatap gadis kecil itu, menggendong papan kotak berisi dagangan; rokok, kue, minuman gelas dan lainnya. Wajahnya terlihat kehitaman, seolah terbakar karena sinar matahari yang terus menyapa.
Mereka saling bertatapan, terdiam bagai irama alam yang lengang. Tak lama, senyum si gadis pedagang asongan itu terukir. Tapi, Dedi tetap diam, lalu menunduk tak membalas senyum si gadis kecil itu.
Setelah lama tak ada suara, tiba-tiba terdengar bunyi protes dari sebuah perut, milik Dedi. Dia belum makan sehari ini, hanya minum air putih saja. Si gadis kecil tersenyum, menggerakkan tangannya, mengambil dua bungkusan roti dari dalam kotak dagangannya. Dua bungkus roti. Menghulurkan kearah Dedi.
Dedi melihatnya sejenak, tangan kanannya terhulur. Menerima dua bungkus kue, tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Tak ada terima kasih dan basa-basi, Dedi lahap memakannya. Si pedagang kecil, hanya tersenyum. Sudah dua kali ini dia memberikan roti kepada lelaki ini. Lalu berlalu pergi, tanpa permisi.
Dedi menghabiskan satu kue dengan lahap, tiba-tiba makannya terhenti. Dedi melihat perginya si pedagang kecil itu, hingga menghilang tertutup pedagang es dan somay. Ternyata, di dunia ini. Masih ada orang seperti anak kecil itu. Dedi membuka bungkusan satunya, melahapnya dengan puas.
Alhamdulillah.
Kata-kata aneh. Tapi, terasa nikmat diucapkannya. Karena, belum lama Dedi merasakan kenal dengan Tuhan. Itupun dengan tertatih-tatih, Tuhan? Benarkah ada? Kembali batin Dedi menyesak, jika ada, kenapa penderitaan dan kesepian selalu menghinggapi hatinya.
Apakah? Untuk mengenalMu, Kau asingkan aku?
Biarlah! Toh, selamanya aku selalu kesepian. Hanya penderitaan yang menghampiriku, tak pernah kurasakan bahagia rasanya.
Dedi segera bangkit, dilihatnya air sejenak. Begitu tenangnya ia, biasakan Dedi seperti itu? Saatnya telah tiba! Dedi berlari menjauh dari bendungan Siantar, dia berlari menuju sebuah tempat, tempat mengumpulkan uang. Untuk biaya sekolah, dan untuk sebuah cita-cita impiannya. Dedi menghilang dengan cepat, seperti kelebatnya kelelawar kala malam.
Seperginya Dedi, seorang wanita melihatnya sedari tadi. Di sebuah ayunan, di taman, dekat dengan bendungan. Dia tersenyum, entah apa arti senyumannya. Lalu, dia berdiri dan beranjak pergi.
***
Dedi berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar, bukan pula besar rumahnya melainkan pekarangan di depannya teramat luas. Pekarangan rumah itu, dipenuhi dengan bibit-bibit tanaman yang demikian luas. Itu baru di depannya, belum yang di bagian belakang. Lebih luas lagi.
Dedi membuka gerbang itu, tanpa memencet bel. Tiga anjing yang tengah tiduran, tidak menggonggong melihat masuknya Dedi. Mereka telah paham, jadi tidak merasa terusik ketenangannya. Dedi masuk dan masuk lewat pintu samping. Lurus kearah belakang. Seorang lelaki tambun melihatnya dan tersenyum.
”Kau sudah datang.”
Dedi mengangguk.
”Ya sudah, mulailah bekerja agar kau lebih dapat uang daripada kemarin,” si lelaki tambun kembali tersenyum. Dedi tak menjawab, dia langsung berjalan mendekati plastik-plastik hitam yang telah berlubang di sisi-sisinya. Dia mengisikan tanah dan campurannya ke dalam plastik hitam itu. Ditatanya, dipadatkannya. Dedi mengisi polibek itu, untuk menanam bibit-bibit pohon, maupun buah-buahan.
Satu polibek dinilai dengan Rp 150, maka, Dedi harus bekerja ekstra berat, jika ingin mendapatkan hasil yang banyak. Sebelum maghrib, barulah Dedi berhenti bekerja dan menghitung hasil polibeknya. Dan, si Santo gendut itu akan membayarnya sesuai jumlah polibek.
Dedi bekerja dengan konsentrasi penuh, tak peduli apapun juga. Baginya, kesepian adalah tempat terindahnya. Mungkin, jika dia bekerja menjadi penjaga toko, dia akan kesusahan atau bahkan merasa lebih asing. Karena, selama ini, dia begitu akrab, bahkan sudah sangat akrab dengan kesepian. Kesepian adalah teman sejatinya, menemani setiap saat.
Santo melihat Dedi bekerja. Ada senyum terukir di bibirnya. Dia senang Dedi bekerja untuknya, karena mau dibayar Rp 150 perpolibek, padahal itu sangat kecil. Tapi, Dedi mau melakukannya. Bukankah itu keuntungan besar baginya? Tambahannya, Dedi sama sekali tak pernah protes atau minta dinaikkan upahnya.
Itu menurutnya, tapi bagi Dedi, dalam pikirannya hanya berusaha mengumpulkan uang tiga juta. Dan, semuanya akan berakhir sesuai mimpinya. Hanya dia yang tahu, apa mimpinya itu. Tapi, dalam setiap kerjanya, memasukkan campuran pupuk dan tanah gembur ke polibek, dia tersenyum. Senyum yang sangat aneh.

Bình Luận Sách (105)

  • avatar
    Izz Hafizi

    Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..

    10/06/2022

      0
  • avatar
    Dzaidan Ahmad

    Bagus

    09/10

      0
  • avatar
    sasa

    baguss sekali

    04/06/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất