logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Tingkepan

Tok...tok...tok
"Permisi, dok" 
"Ya, masuk" terdengar suara sahutan dari dalam, membuat Fathir berani membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Silahkan duduk, Pak Fathir" ujar dokter Adam ramah.
Fathir menyeret kursi lebih maju, mendekat ke arah dokter yang sedang sibuk memperhatikan file beramplop coklat di tangannya.
Tiba-tiba saja, dada Fathir berdetak tak karuan. Entah apa yang sedang dikhawatirkannya.
"Baik, Pak Fathir. Saya akan memulai penjelasannya" dokter Adam terlihat serius.
"Siap, dok" 
"Menurut hasil pemeriksaan, kondisi Ibu Luna saat ini cukup stabil, mengingat imunnya cukup kuat. Namun…" dokter menjeda ucapannya.
Fathir menautkan alis, semburat khawatir tercetak jelas di wajahnya.
"Satu minggu sekali diwajibkan untuk kontrol, cek darah dan tes lanjutan ke tahap berikutnya. Saya hanya ingin memastikan, janin yang dikandungnya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam kandungan" dokter Adam menjelaskan dengan telaten.
"Baik, dok. Saya bisa pastikan Luna akan menjalani tahapan tes yang dokter anjurkan" ujar Fathir mantap.
"Untuk selanjutnya, jangan biarkan Bu Luna mengalami stres, banyak tekanan maupun pikiran. Jaga pola makan juga penting, vitamin harus rutin dikonsumsi sesuai dosis yang akan saya resepkan nanti. Saya mohon Pak Fathir bisa lebih memperhatikan lagi demi kebaikan istri dan calon anak Bapak juga nantinya" pesan dokter Adam membuat Fathir meneguk ludah.
"Baik, dok. Insyaallah saya akan melakukan yang terbaik"
"Besok sore Bu Luna sudah boleh pulang, jangan lupa untuk jadwal kontrol berikutnya, ya!" 
"Iya, dok"
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu? Atau mungkin ada penjelasan saya yang kurang jelas, Pak?" tanya dokter Adam.
"Sudah, dok. Terima kasih banyak atas bantuannya, saya permisi" Fathir menjabat tangan dokter Adam sebelum keluar dari ruangan.
***
Tiga bulan berlalu, usia kehamilan Luna sudah mencapai 28 minggu.
Hari demi hari dijalani Fathir dengan kesabaran penuh mendampingi Luna, meskipun dengan wajah datar dan sikap cueknya.
Ningsih memilih untuk memaafkan Rival dan membuka lembaran baru, menjalani kehidupan berumah tangga lebih baik lagi. Keluarga mereka terlihat semakin harmonis dan bahagia.
Sedangkan Lita dan Frans sedang mengikuti berbagai keperluan proses sidang pengadilan untuk perceraian. 
Lita memilih kembali kepada orang tuanya beserta Lala, anaknya. 
Betapa muntabnya Papa Frans saat mengetahui Lita mengajukan gugatan cerai untuk putranya. Frans tak ambil pusing, memilih menerima takdir yang sudah digariskan untuknya. 
Bapak dan Ibu sedang mempersiapkan acara untuk tujuh bulanan cucu mereka. Menurut hasil USG, bayi yang dikandung Luna berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja hal itu membuat Ibu bahagia karena ini pertama kalinya akan menyambut cucu laki-laki.
Dekorasi lengkap dengan adat siraman tampak indah menghiasi halaman, empat terop megah berwarna kuning gading berdiri kokoh menambah kesan mewah untuk acara siraman itu. Luna memakai sarung tenun khas Jawa, memperlihatkan setengah dadanya. Rambutnya tergerai indah dihias bando rajut dari bunga melati segar. Fathir mengenakan atasan koko dan sarung senada dengan Luna, tampak gagah dan berwibawa.
Acara berjalan dengan khidmat dan meriah, dihadiri Gus ternama dan puluhan anak yatim. Ditambah kehadiran keluarga, tetangga, kerabat dan rekan kerja Fathir membuat acara semakin terlihat meriah.
Proses siraman pun berjalan dengan lancar, fotografer menginstruksikan berbagai gaya untuk mengambil gambar yang sempurna.
"Aduh, harus banget gini ya? Geli banget nih, Mas" ujar Luna saat fotografer menaikkan ayam kampung berbadan sedang ke pangkuan Luna.
Fathir menyorot tajam ke arah Luna, menyuruh Luna untuk diam dan nurut.
"Tahan ya Mbak, oke bagus. Satu… Dua… Ti... " baru menginjak hitungan ketiga, Luna berteriak histeris membuat fotografer mengurungkan niat untuk memotret.
"Ayamnya gak bisa diem nih, Mas. Gerak terus dari tadi, aku geli, ah" ucap Luna dengan tatapan bergidik ngeri melihat ayam yang berlarian di kakinya.
"Kalau gak gerak ya mati, Lun. Aneh kamu ini, udahlah gak usah banyak drama. Sebentar aja kenapa sih, tahan!" ujar Fathir ketus.
"Aduh, Mas. Geli tauk! Aku takut" sahut Luna manja.
Fotografer hanya tersenyum melihat suami istri di depannya beradu argumen.
"Saya ulang ya, Mbak. Ini Mbak pegang kuat, nah tangan ini buat nahan" fotografer kembali mengatur pose dengan sabar.
Luna mengerucutkan bibirnya kesal.
'Adat apaan sih, pake bawa ayam gini, mana badanku udah kedinginan dari tadi diguyur. Nyiksa banget' rutuk Luna dalam hati.
"Mas Fathir agak mendekat sedikit ya, serong gitu. Oke, iya bagus. Tahan ya, tahan. Satu… dua… tiga…" 
Fotografer menurunkan kamera, melihat dengan seksama dan tersenyum puas.
"Oke, bagus. Sekarang berdiri, ya" fotografer menghampiri Fathir dan Luna untuk membantu membenarkan posisi yang bagus agar sempurna di album nanti.
"Ya ampun, aduh … jijik banget ini aku, Mas. Gelayyyyyy" Luna berjingkat menunjuk cairan kental berwarna hijau kecoklatan yang menempel di sarung, tepat di pangkuannya.
Fathir yang hendak protes atas sikap Luna barusan urung, berganti dengan tertawa keras melihat pangkuan Luna penuh dengan kotoran ayam.
"Hahaha, ayam aja tau, Lun, mana tempat yang cocok untuk diberakin. Hahahahahaha" Fathir tertawa sambil memegangi perutnya.
Luna menatap Fathir dengan sengit, berlalu masuk ke dalam rumah. Ngambek.
"Sudah toh, Le. Kamu ini mbok yo ojo nemen-nemen ke istrimu. Kasihan" Ibu memandang Fathir tak suka, bergegas masuk ke dalam rumah menyusul Luna.
"Maaf" Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tetap saja masih dengan tawa yang tak kunjung usai.
"Ayo, lekas ganti dulu, Nduk, bajumu. Nanti masuk angin, sini Ibu bantu" Ibu menghampiri Luna yang sedang kesal, melepaskan semua pakaiannya dan mengganti dengan pakaian kering.
"Masih lanjut ya, Bu? Luna sudah capek" rengek Luna memohon menatap Ibu.
"Sesi foto aja, Nduk. Tadi kan pakaianmu basah, sekarang  versi rapinya. Sabar ya, sebentar kok" 
Luna hanya mengangguk, mengekori Ibu keluar untuk melanjutkan acara.
"Ini untuk proses video cinematic ya, Mas. Jadi posenya yang mesra, ya" perintah fotografer membuat Fathir lesu, ia malas sekali harus bermesraan dengan Luna, meskipun hanya sebentar. Jika Fathir tak perlu mengalami tragedi kemarin, tentu saja dengan senang hati dilakukan tanpa diperintah. Namun kali ini ia malas, memandang lama wajah Luna saja ia tak sudi, apalagi bermesraan.
"Mas, apa bisa dimulai?" ucapan fotografer membuyarkan lamunan Fathir.
Fathir hanya mengangguk, sedangkan Luna sudah tersenyum manis sejak tadi.
"Mas Fathir mendekat, terus hitungan ketiga dari saya nanti, Mas cium pipi istrinya, ya" perintah fotografer.
Mata Fathir membulat mendengar instruksi fotografer, Luna malah tersenyum menggoda di depannya, menjulurkan lidah ke arah Fathir.
"Baik, iya terus lanjut mendekat, satu… dua… tiga…"
Fathir diam di tempat, tak bergeming.
"Mas…" fotografer melihat Fathir dengan wajah heran.
"Maaf, Mas. Ulang, ya" ujar Fathir menghembuskan nafas kasar.
Fotografer hanya mengacungkan jempol, menyiapkan kembali kameranya.
"Oke, ayo mendekat. Hitungan ketiga cium ya, satu… dua… tiga…"
"Oke, bagus" fotografer tersenyum penuh arti.
"Jangan kaku, Mas. Kenapa? Ndredeg ya, duh kayak pengantin baru aja" 
Fathir memutar bola mata dengan malas, Luna hanya cengengesan tak jelas.
"Oke adegan terakhir, Mas Fathir berlutut ya, cium perut Mbak Luna, lanjut berdiri terus peluk Mbak Luna dengan hangat, sebagai penutup video" ujar fotografer sambil mengutak-atik kamera.
Sesuai instruksi Fathir melakukan dengan asal, tak ingin berlama-lama dimanfaatkan Luna yang kini tengah bergelayut manja di lengannya.
"Senyum dong, Mas. Pandang Mbak Luna dengan hangat, oke, baik. Terakhir, cium singkat lanjut berpelukan ya, satu… dua… tiga…" 
"Maaf, Mas. Saya gak bisa" ujar Fathir menjauhkan diri dari Luna.
Si fotografer mengernyit heran,
"Lho, kenapa, Mas?"
Menyadari pandangan tak enak dari Fathir, fotografer segera menarik ucapannya.
"Eh, maaf, Mas. Ya sudah kalau begitu, cukup tertawa bersama saja di depan kamera, sebagai penutup di akhir video, bisa ya, Mas?" 
Fathir hanya mengangguk mengiyakan.
"Apa-apaan sih kamu, Mas? Sama anak sendiri segitunya, nih anak kamu juga pengen dipeluk Ayahnya, keterlaluan kamu!" sentak Luna dengan suara lantang, sehingga beberapa orang yang belum pulang menoleh ke arahnya.
Wajah Fathir memerah, seakan menjadi pusat perhatian. Fathur bergegas menarik Luna dalam pelukannya.
"Ayo, Mas. Cepet kita mulai, ulang bagian terakhir" ujar Fathir tajam.
Fotografer hanya mengikuti arahan Fathir, mengambil beberapa potong adegan mesra sepasang suami istri di depannya.
Senyum Luna merekah, meskipun terpaksa, Fathir tetap mau menuruti keinginannya.
"Gak usah senyum-senyum ke-GR-an ya, kamu. Ini demi menjaga nama baik keluarga, jangan sok kecantikan, yang ada aku eneg" kalimat dari Fathir cukup tajam sehingga membuat Luna menarik kembali senyumnya.
'Sekarang boleh jadi kamu eneg, Mas. Tapi tunggu saja, saat anak ini lahir nanti, masihkah kamu bisa eneg sama aku, Mas?' batin Luna dalam hati.
Sebuah senyum licik terukir dari bibirnya.
******         ******     ******
Halo, terima kasih, Kak. Sudah mau baca kisah Luna sampai sejauh ini.
Tap tombol like/love ya, Kak, kalau suka sama ceritaku.
Mohon krisannya😘😘
Dan jangan lupa baca ceritaku dengan judul 'LC AMOY' yang tak kalah seru dan menggoda dari kisah ini. Love dari Mamak ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

Bình Luận Sách (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất