Ibu memandang Fathir dengan tatapan penuh tanya. Fathir terduduk lesu, Ibu hanya mampu mengelus lengan Fathir, berharap hal itu bisa sedikit menguatkan putra bungsunya. "Luna dalam bahaya, Bu" sorot mata Fathir tampak kuyu. "Kenapa, Le? Cerita sama Ibu, jangan kamu simpan sendiri." "Kata dokter, Luna mengalami gejala komplikasi, butuh penanganan dan pengawasan lebih lanjut lagi. Posisinya sedang mengandung, aku jadi merasa bersalah" Fathir meremas rambutnya pelan. "Maksudnya gimana? Tapi sepengetahuan Ibu, selama ini Luna sehat, baik-baik saja" kerut di kening Ibu nampak semakin jelas. "Menurut keterangan dokter berdasarkan pemeriksaan. Hasil tekanan darahnya 140/90 mmHg, tes urine nya positif ( ), Luna mengalami preeklamsia, di kehamilannya yang menginjak 16 minggu. Untuk sementara, dokter hanya memberikan obat oral atau IV sampai bayi cukup matang untuk lahir. Namun, dokter tetap harus melakukan pengawasan karena kondisi itu beresiko melahirkan bayi yang prematur untuk menghindari gejala preeklamsia berkelanjutan. Maka dari itu, dokter membutuhkan Fathir sebagai suaminya untuk menandatangani berkas-berkas, jika nantinya diperlukan tindakan urgent, dokter bisa langsung melakukannya." jelas Fathir panjang lebar. "Astaghfirullahaladzim, banyak istighfar, ya, Le. Kamu yang sabar, doakan istri dan anakmu dalam kondisi sehat dan lancar hingga persalinan" ujar Ibu mengusap lembut rambut Fathir. "Iya, Bu. Fathir akan melakukan yang terbaik demi anak itu, entah kenapa saat ini perasaanku seperti memiliki kontak batin dengan anak yang sedang dikandung Luna" Ibu menatap putranya dengan netra yang tajam. "Bukankah itu memang anakmu, Le? Cucu Ibu. Istighfar lah, jangan berprasangka buruk terus" "Fathir bingung, Bu. Hati dan pikiran tak bisa sejalan." "Istirahatlah, tenangkan pikiranmu. Apa Luna akan rawat inap lama disini?" tanya Ibu. "Hanya beberapa hari saja, saat ini dokter sedang melakukan serangkaian tes lebih lanjut sambil menunggu hasil. Jika hasilnya bagus, Luna boleh pulang, rawat jalan di rumah" "Semoga saja tak terjadi apa-apa, kabar baik yang akan datang" ucap Ibu bermustajab. "Aamiin Allahumma Aamiin, terima kasih banyak, Bu. Ayo, Fathir antarkan Ibu pulang, Ibu harus banyak istirahat. Biar Fathir sendiri saja yang akan jaga Luna." Fathir beranjak dari tempat duduk, berdiri memandang wanita yang telah melahirkannya. "Ibu disini saja dulu, Ibu ingin lihat Luna sadar hingga pindah ruang" Fathir menghela nafas panjang, tak lagi menjawab perkataan Ibu. Dua jam kemudian, perawat menyampaikan jika Luna sudah sadar dan segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Ibu mengikuti, menuju kamar inap tempat menantunya dirawat. Luna terlihat pucat, tubuhnya lemas dan tak bertenaga. "Sudah sadar, Nduk?" Ibu bergegas mengambil tempat duduk di samping ranjang Luna. Luna hanya tersenyum sambil mengangguk, matanya celingukan mengamati seluruh penjuru ruangan. Mencari-cari seseorang yang ingin dilihatnya. "Istirahatlah, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Ibu perhatian. "Kepala Luna terasa nyeri, mata juga rasanya buram, berkunang-kunang. Perut Luna sakit, Bu. Rasanya melilit, terus mual, pengen muntah. Emang Luna sakit apa, Bu?" ujar Luna tertatih. "Memang seperti itu, Nduk, bawaan orang hamil. Sabar ya, banyak istirahatlah. Luna mau makan apa?" Ibu sengaja tak memberitahu Luna yang sebenarnya, Ibu tak ingin Luna stres dan banyak pikiran. Itulah sebabnya, Ibu mengalihkan pertanyaan Luna. "Luna pengen nasi bebek, tapi…" ujar Luna sengaja menggantung kalimatnya. "Tapi apa?" "Luna pengennya Mas Fathir yang nyuapin" suara Luna terdengar lirih. "Yowes, tunggu. Biar Ibu bilang ke Fathir" Luna hanya mengangguk senang. Ibu keluar dari kamar, menemui Fathir yang duduk di depan kamar. "Kenapa, Bu?" ujar Fathir saat Ibunya baru saja menutup pintu dari arah luar. "Luna pengen makan bebek, tolong kamu carikan ya. Sekalian Ibu pulang dulu, Luna sudah mendingan. Besok Ibu kembali lagi" Fathir mengangguk pasrah, Ibu kembali masuk ke dalam kamar inap Luna untuk berpamitan. "Nduk, Ibu pulang dulu ya, sekalian Fathir carikan nasi bebek buat kamu. Nanti kalau perlu apa-apa lagi, kamu tinggal telpon aja ya. Atau kalau kamu butuh sesuatu, tekan saja tombolnya biar perawat yang bantu kamu selama Fathir keluar. Besok Ibu datang lagi, kamu nggak papa ditinggal sebentar?" "Iya, Bu. Nggak papa kok. Ibu hati-hati ya, banyak istirahat juga" sahut Luna sopan. Setelah Luna mencium punggung tangan Ibu, Luna memejamkan matanya berbarengan dengan Ibu yang keluar menutup pintu. Ibu dan Fathir melangkah ke parkiran, meninggalkan Rumah Sakit. *** Fathir membuka knop pintu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara. Luna tersenyum melihat kedatangan Fathir yang membawa dua kantong kresek makanan. Aroma bebek goreng menguar lezat menggugah selera. Luna menelan air liur melihat Fathir dengan akas memindahkan nasi bebek ke dalam alat makan Rumah Sakit. Fathir menyerahkan sepiring nasi bebek ke pangkuan Luna tanpa suara. "Mas, suapin ya" pinta Luna dengan wajah memelas. "Hmm, makan sendiri saja. Aku capek, ngantuk banget. Kamu habiskan makananmu, aku ingin rebahan sebentar disana" Fathir menunjuk sofa berwarna peach yang berada di samping Luna. "Ya Udah, Mas. Selera makanku hilang. Kamu simpan saja ini nasinya ke atas meja. Aku juga mau tidur" Luna merebahkan tubuhnya kembali, menarik selimut hingga sebatas dada dan mulai memejamkan matanya. Fathir mendecak kesal, mengambil alih sepiring nasi dan bergegas mendekati Luna, duduk di samping Luna. "Ayo makan, gak usah manja!" Fathir menyendokkan sesuap nasi ke mulut Luna. Luna bangun dari posisinya, duduk di atas ranjang dengan bersandar. "Enak banget, Mas. Luna suka" ucap Luna antusias seperti bocah. "Hmmm…" "Makasih banyak ya, Mas sudah mau rawat dan perhatian sama Luna" "Jangan GR! ayo buruan makannya. Mataku sudah ngantuk berat" Meskipun nada Fathir terdengar tinggi, Luna paham, jauh di lubuk hati Fathir, suaminya itu masih mempunyai perhatian untuknya, meskipun kecil. Luna menyunggingkan senyum terbaiknya. Sakit di tubuhnya tak lagi ia rasa, berganti dengan rasa bahagia dan hangat karena sekecil perhatian dari suaminya. *** Sudah tiga hari Luna dirawat di Rumah Sakit, selama itu pula Fathir dengan telaten merawatnya, walau kadang disertai decakan dan bentakan. "Mas, aku kapan pulang sih? Capek banget rebahan terus disini" rengek Luna. "Tunggu hasil dari dokter" jawab Fathir datar. "Sampai kapan? Aku bosan, pengen pulang. Kita pulang aja kenapa sih? Lagian aku juga sudah sehat gini kok" rengekan Luna membuat Fathir risih. "Bisa diem gak sih, Lun? Kamu pikir kamu saja yang capek? Aku juga capek, lebih malah. Gak usah banyak protes, cepat minum obatmu!" titah Fathir dengan sedikit menyentak, membuat Luna mengerucutkan bibirnya yang seksi. Ceklek.. Seorang perawat masuk ke dalam kamar inap Luna, menyapa Luna dengan sopan dan ramah. "Dengan Pak Fathir? Bisa ikut saya sebentar ke ruangan dokter Adam? Dokter ingin menjelaskan perihal tes lanjutan milik Bu Luna" ujar seorang perawat tersenyum manis ke arah Fathir. Fathir mengangguk dan tersenyum hangat merespon perawat yang menatap ke arahnya dengan pandangan kagum. Luna yang menyadari sinyal dan gelagat saling respon dari dua insan di depannya, memandang tak suka. "Bisa gak sih, Sust, kamu gak usah ganjen gitu ke suami saya? Tebar pesona banget sih!" celetuk Luna dengan wajah memerah menahan emosi. "Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan tugas sesuai prosedur, jika Bu Luna menganggap sikap saya berlebihan, saya mohon maaf sekali lagi, Bu. Saya permisi. Pak Fathir bisa langsung menuju ke ruangan dokter, karena beliau sudah menunggu" ucap perawat dengan nada lembut yang sopan dan tertata. Fathir menatap Luna dengan bengis, "Apa-apaan sih kamu? Malu-maluin banget, gak usah lebay! Baru juga saling tukar senyum, belum tukar keringat!" sahut Fathir dengan enteng, meninggalkan Luna yang sedang emosi mengeluarkan tanduk mirip banteng. "Apa maksudmu, Mas? Awas aja kamu macem-macem, tak buat menyesal perawat ganjen itu!" teriak Luna dengan kencang tanpa mempedulikan situasinya saat ini. Fathir yang masih mendengar teriakan Luna hanya tersenyum licik dalam hati. *** Tok...tok...tok "Permisi, dok" "Ya, masuk" terdengar suara sahutan dari dalam, membuat Fathir berani membuka pintu dan masuk ke dalam. "Silahkan duduk, Pak Fathir" ujar dokter Adam ramah. Fathir menyeret kursi lebih maju, mendekat ke arah dokter yang sedang sibuk memperhatikan file beramplop coklat di tangannya. Tiba-tiba saja, dada Fathir berdetak tak karuan. Entah apa yang sedang dikhawatirkannya. "Baik, Pak Fathir. Saya akan memulai penjelasannya" dokter Adam terlihat serius. "Siap, dok" "Menurut hasil pemeriksaan, kondisi Ibu Luna saat ini…" Jeng jeng jeng……. Kenapa kenapa oh kenapa ? Apakah hasil tes Luna semakin buruk? atau malah ada kabar baik? Kira-kira apa ya hasilnya? Kok jadi tegang begini Ikutan tegang nih, Mamak Hehehe Staytune terus ya, sama cerita Mamak Jangan sampai ketinggalan update terbaru nya Luna hihi. Stay safe semuanya, jagan kesehatan yaaaaa!! Oh, ya. Mamak mau tanya nih, adakah disini Buibu yang pernah mengalami gejala preeklampsia? Sharing aja yuk, tulis di kolom komentar ya sayang2nya Mamak😘😘😘😘 Terima kasih buat kalian semua yang sudah setia sama cerita Luna hingga saat ini. Mamak sayang kalian pollllll… Ditunggu next nya ya, Shay… jangan bosen2 hehe Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan, entah nama, gelar, kalimat, tanda baca maupun keterangan di dalam cerita ini. Mamak mohon untuk krisannya, bisa ditulis di kolom komentar jugaaa, eh… jangan lupa lho tap tombol like/love ya kalau kalian cinta sama cerita ini, loveyou all😘😘😘😘😘❤️ *** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan lompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0Xem tất cả