logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 7 Permintaan Azizah

Kalimat demi kalimat azan terlontar lirih dari mulut Hafiz masuk ke indera pendengaran putra kecilnya. Allahu Akbar!
Hafiz menggendong putranya dengan gemetar seraya kembali mendekatkan mulut ke telinga mungil itu untuk melantunkan bacaan iqamat.
Hafiz memandang wajah suci itu dengan perasaan takjub. Garis wajahnya begitu mirip dengannya. Mata, hidung, bibir, ah semuanya. Hatinya membuncah dalam haru.
"Selamat datang putraku, Sayang." Hafiz berbicara dalam hati.
"Bagaimana keadaan ibunya, Dok?" tanyanya.
"Ibunya baik-baik saja. Sebentar lagi proses operasi selesai," jawab dokter Raisya. "Selamat ya, Ustadz."
"Terima kasih, Dokter." Hafiz membalas. Dia menyerahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan bibi Sarah.
"Tampan sekali cucu Nenek," ucap bibi Sarah. Dia begitu antusias memandangi bayi mungil itu.
"Mau di beri nama apa, Hafiz?" tanya bibi Sarah sembari mengembangkan senyumnya.
"Belum tahu, Bibi. Nanti saja. Siapa tahu Azizah sudah menyiapkan nama yang bagus." Hafiz mengusap ubun-ubun putra kecilnya. Dia begitu tenang dalam dekapan bibi Sarah.
*****
"Selamat ya, Dek. Hari ini sudah sempurna dirimu menjadi seorang ibu." Hafiz mengecup kening istrinya penuh haru.
"Terima kasih, Abang. Abang sekarang sudah menjadi seorang ayah." Dia tersenyum manis.
"Abang yang seharusnya berterima kasih karena Adek sudah melahirkan seorang anak buat Abang."
"Itu sudah menjadi tugas Adek."
"Abang tahu. Abang hanya merasa sangat bahagia." Hafiz menggenggam tangannya mesra.
Dia memandangi wajah cantik itu. Sosok tubuh yang tengah terbaring tak berdaya di ranjang sempit. Ada rasa haru yang kembali menyeruak mengingat pengorbanannya dalam memberikan seorang keturunan. Tubuh kurus yang kini di hiasi oleh jahitan dari luka bekas sayatan yang masih basah.
"Terima kasih, sayangku. Aku mencintaimu," bisik Hafiz. "Adek mau hadiah apa?"
Azizah menggelang lemah.
"Adek tidak meminta apa-apa. Kasih sayang Abang sudah cukup buat Adek." Matanya menatap laki-laki itu dalam-dalam.
"Abang ingin memberikan kamu hadiah untuk menandai kelahiran anak kita," ucapnya. "Sebutkan saja, Sayang. Asal Abang sanggup pasti Abang kabulkan."
"Sungguhkah Abang?" Dia mengulas senyum manis sembari tetap menggenggam tanganku. "Yakin Abang sanggup?"
"Abang bersungguh-sungguh, Sayang. Adek mau minta apa?"
"Kalau boleh, jadikan Adek sebagai Khadijah-nya Abang ..."
Ya Tuhan, betapa sulitnya mewujudkan permintaan itu!
Hafiz tak tahu apa gerangan yang ada di kepala Azizah. Memang wajar dia meminta seperti itu, tetapi di dalam keadaan sekarang, rasanya permintaan itu tidak bisa dia kabulkan.
"Abang tidak bisa berjanji, Dek, tapi Abang akan berusaha untuk mengabulkan permintaanmu," ucapnya sembari membelai pipinya.
"Adek tahu Abang akan berusaha sekuat mungkin, tapi pada kenyataannya Abang tak bisa, kan?" Senyuman Azizah berubah menjadi kecut.
"Maafkan Abang ya, Abang tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah perjodohan itu."
"Seperti halnya ketika Abang menikahi Yasmin, mungkin akan sangat sulit bagi Abang untuk menolak menikahi Naura. Akan tetapi, Naura berpesan kepada Abang, bahwa Naura hanyalah seorang gadis cacat yang menginginkan seseorang untuk menjadi imamnya. Naura bukankah sebanding dengan istri pertama Abang."
"Tetap saja dia adalah putri seorang kiai, Bang. Mana mungkin Azizah bisa menyaingi pengaruhnya di dalam keluarga Abang?"
"Serahkan semuanya kepada Allah, Dek. Kita hanya bisa berusaha, tetapi ada banyak hal yang membuat kita harus yakin bahwa sekeras apapun usaha kita tetap saja di dalam hati harus dibarengi dengan kepasrahan atas semua kehendakNya."
"Adek memahami itu, Bang, sebesar Adek memahami Abang. Adek tak pernah menentang Abang untuk menikahi siapapun, tapi sebagai seorang wanita Adek merasa sedih dan tak ingin untuk berbagi."
"Abang tahu itu, Dek, tapi sudahlah. Apa yang akan terjadi, nanti kita pikirkan. Sekarang Adek mau hadiah apa?" Hafiz berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Adek tidak menginginkan apa-apa, Bang." Senyum kecut itu masih terasa manis di hadapan Hafiz, meski dia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini.
"Bang, bolehkah Adek memberikan nama untuk putra kita?" tanya Azizah.
"Boleh. Apa nama yang pantas buat anak kita?"
"Adek akan memberikan nama putra kita, Ibrahim, seperti nama yang diberikan oleh Rasulullah kepada putranya yang lahir dari rahim sayyidah Mariyah Al Qibtiyah, seorang wanita yang merupakan hadiah dari raja Mesir."
"Apa alasan Adek memberikan nama itu?" tanya Hafiz. Dia ingin menguji sejauh mana pengetahuan Azizah tentang sejarah Ummul mukminin.
"Sayyidah Mariyah Al Qibtiyah, beliau adalah wanita yang merupakan hadiah dari raja Mesir kepada Rasulullah. Beberapa riwayat bahkan menyatakan beliau tidak dinikahi oleh Rasulullah dan berstatus sebagai jariyah, sehingga beliau ditempatkan Rasulullah di luar kota Madinah sebuah tempat bernama 'Alia."
"Hal itu boleh dikatakan sama dengan nasib yang menimpa Azizah. Azizah menempati rumah yang merupakan peninggalan dari orang tua Azizah. Azizah tidak tinggal di rumah yang disediakan oleh pihak pesantren."
"Sekarang Abang pikir, apa bedanya Azizah dengan Sayyidah Mariyah Al Qibtiyah? Sebagai seorang istri, Azizah hanya sekedar seorang istri, bukan pendamping buat Abang. Azizah hanya melayani Abang seperti halnya seorang jariyah melayani tuannya. Azizah tidak memiliki peran apapun di dalam kehidupan dan karir Abang di pesantren."
"Azizah rasa kami berdua memiliki cinta yang sama. Cinta seorang jariyah kepada tuannya. Cinta yang tidak meminta apapun, bahkan status sekalipun. Azizah dinikahi hanya untuk menghalalkan pergaulan kita. Kalaupun Azizah melahirkan seorang anak buat Abang, status Azizah lebih mirip sebagai Ummul walad. Jadi apakah salah, kalau Azizah memberi nama putra kita dengan nama Ibrahim?"
Suara Azizah tersendat-sendat mengucapkan kata-kata itu. Ada titik bening jatuh dari sudut matanya. Hafiz mengusapnya dengan lembut. Dadanya bergemuruh menahan rasa yang serasa ingin meledak. Ucapan Azizah menohok hatinya.
"Maafkan Abang, Sayang. Abang minta maaf kalau sikap Abang selama ini tidak menyenangkan Adek. Abang berjanji akan memperjuangkan peran dan arti kehadiranmu dalam keluarga besar Abang," sesalnya. Dia tak menyangka Azizah sampai berpikiran sejauh itu.
"Adek tidak minta apa-apa, Bang. Adek sudah cukup puas dengan kehadiran Ibrahim di tengah hubungan kita. Adek pun sudah lega karena sudah menyampaikan ini kepada Abang."
"Sekarang Adek akan membebaskan Abang untuk mengambil keputusan." Perempuan itu menghela nafas dengan di sertai sebuah rintihan. Dia tahu, tak ada yang bisa di lakukan untuk merubah keputusan sang suami untuk menikahi perempuan lain.
Hafiz mengusap pipinya dengan penuh sayang. "Adek terlalu banyak berbicara. Sebaiknya Adek istirahat dulu." Tangannya bergerak memperbaiki selimut istrinya.
Perempuan itu menatap kosong kepada sosok tampan di dekatnya. Ada selaksa makna terpancar di balik netra yang masih saja mengurai basah di sana.
"Buang semua kecemasan dan pikiran buruk tentang Abang. Saat ini kita tak boleh memikirkan apapun kecuali untuk pemulihan diri Adek dan Ibrahim." Hafiz mengecup kening Azizah.
"Percaya pada Abang. Rumah seorang istri adalah hati suaminya. Dimanapun dia berada, selama suami masih mencintai dan menginginkan dirinya, itulah surganya."

Bình Luận Sách (137)

  • avatar
    SolehahUmmu

    Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.

    14/08/2022

      0
  • avatar
    AlzenaaPutrii

    sangat bagus

    15/07

      0
  • avatar
    ArumFatin

    bagus dan keren ceritanya

    06/06

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất