logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 Melahirkan Buah Hati

Allahu Akbar ...
Allahu Akbar ...
Kesadarannya mulai terkumpul ketika dia rasakan sebuah benda kenyal nan basah menyentuh bibirnya. Ketika Hafiz membuka mata, dia melihat wajah keduanya tak lagi memiliki jarak.
"Sayang," suaranya serak. Azizah mengalungkan kedua tangan di lehernya.
"Kangen," bisiknya manja. Dia kembali mengecup bibir Hafiz.
"Oh, ya? Kangen apa?" Hatiz mengerlingkan matanya penuh arti.
"Kangen Abang." Wajahnya malu-malu.
"Abang selalu ada di sini setiap hari. Masa Adek kangen sih?" Hafiz pura-pura tidak mengerti makna ucapan istrinya.
"Bukan itu, Abang. Adek kangen ..." Azizah tak melanjutkan ucapannya. Dia melepaskan tangannya dari leher sang suami.
"Nggak jadi kangen, ah. Abang nggak peka," keluhnya. Dia pun melepaskan diri dari pelukan Hafiz.
"Kita shalat subuh dulu ya, Sayang. Sesudah itu, baru kita lanjut temu kangennya," goda Hafiz sembari menatap nakal wanita hamil itu.
Brakk..
Hafiz menggelengkan kepala melihat tingkah Azizah yang mirip anak kecil yang merajuk lantaran tidak di beri permen lollipop.
Laki-laki bangkit dari tempat tidur setelah melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Terlihat jelas dia melangkah agak kesusahan karena perut besarnya. Cara dia berjalan membuat Hafiz tersenyum. Tubuhnya yang mungil kontras sekali dengan perutnya.
Azizah mulai memasang mukenanya, sementara Hafiz masuk ke dalam kamar mandi.
Ushallii fardash-shubhi rak'ataini mustaqbilal qiblati imaaman lillaahi ta'aalaa.
Aku (berniat) mengerjakan shalat fardhu subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, sebagai imam, karena Allah ta'ala
Allahu Akbar ....
*****
"Aduuh," erang Azizah ketika di rasakan perutnya mulai terasa sakit lagi. Tangan mencengkeram erat bantalan sofa.
Ini entah ke berapa kali ia mengalaminya. Setelah selesai shalat subuh tadi, ia merasakan ada yang berbeda. Kontraksi semakin sering ia alami dengan di barengi rasa mules yang nyaris tiada tertahankan.
"Tahan ya, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang," ujar Hafiz. Laki-laki itu segera mengambil tas besar berisi perlengkapan bayi dan ibunya yang memang sudah di persiapkan oleh Azizah beberapa hari sebelumnya.
Hafiz memapah Azizah yang tertatih berjalan menuju mobil. Di rumah ini memang tak ada siapa-siapa yang bisa mereka mintai tolong. Tak ada asisten rumah tangga, pembantu, khadimah, atau apapun sebutannya. Bahkan rumah ini agak jauh dari pemukiman warga.
Hafiz berusaha untuk tetap tenang dalam mengemudikan mobil. Sesekali dia melirik Azizah yang terus meringis kesakitan.
"Tahan sedikit ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Dia mengusap kepala Azizah dengan tangan kirinya.
"Sambil membaca zikir, Sayang. Kamu pasti kuat!" Hafiz semakin menambah kecepatan laju mobil. Tak kuat rasanya mendengar rintihan yang terus menerus keluar dari mulut istrinya.
"Allahu ... Allahu ... Allahu ...."
Waktu berjalan terasa begitu lambat. Menit demi menit. Hafiz menunggu di depan sebuah ruangan yang tertutup rapat, di mana Azizah tengah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati mereka. Hafiz melihat dari kejauhan sesosok perempuan setengah baya tergopoh-gopoh berjalan menghampirinya.
"Bagaimana kondisi Azizah, Hafiz?" Perempuan tua itu bertanya dengan nafasnya yang masih tersengal.
Hafiz mengenalinya sebagai bibi Sarah, orang yang selama ini berjasa merawat Azizah sejak kecil.
"Masih ditangani di ruangan, Bi," sahutnya seraya menunjuk ke depan pintu. Bibi Sarah mengikuti arah tangan Hafiz, lalu menghela nafas.
"Semoga anak itu baik-baik saja," harapnya.
"Hannah waladat Maryam, Maryam waladat Isa, ukhruj ayyuhal mauluud, bibarkati malikil ma'buud." Perempuan setengah tua itu berkali-kali mengucapkan kalimat itu. Hafiz mengiringi dengan bibir gemetar.
"Dia akan baik-baik saja." Ucapan bibi Sarah menyadarkan Hafiz dari segenap kecemasan yang melingkupi perasaannya.
Hafiz masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia melihat dokter Raisya keluar dari ruangan.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?" Hafiz melangkah maju mendekati sang dokter.
"Ustadz Hafiz," panggilnya.
"Ya, Dok. Ada apa?" Dia harap-harap cemas.
"Bisa kita bicara sebentar?" pintanya.
"Bisa, Dok," ucapnya. Laki-laki muda itu mengiringi dokter Raisya ke sebuah ruangan dengan diiringi oleh bibi Sarah.
"Kondisi Ibu Azizah sekarang mentok di pembukaan dua. Tidak ada lagi kemajuan setelah beberapa jam. Sementara menurut hasil USG, tali pusarnya melilit tubuhnya. Hal ini sangat berbahaya pada bayinya di dalam," ucap dokter Raisya dengan wajah agak muram.
"Lakukan apa saja yang terbaik untuk istri dan anak saya. Soal biaya, tidak ada masalah. Insya Allah saya sanggup," ucap Hafiz mantap.
"Bukan sanggup atau tidak sanggup, Ustadz, tapi Ibu Azizah ngotot ingin melahirkan secara normal."
"Lakukan saja yang terbaik, Dok. Saya akan mencoba untuk membujuk Azizah agar dia mau melahirkan secara caesar. Saya akan mendatangani surat pernyataan izin tindakan." Akhirnya Hafiz memutuskan dengan anggukan dari bibi Sarah.
"Terima kasih, Ustadz. Sekarang silahkan ditandatangani dulu." Seorang asisten dokter memberikan sebuah selembar kertas yang harus dia tandatangani
*****
"Maafkan Adek, Bang. Adek belum bisa menjadi Ibu yang seutuhnya." Azizah meneteskan air mata saat mengetahui kalau dirinya harus menjalani operasi caesar.
"Adek adalah ibu yang seutuhnya buat buah hati kita, terlepas bagaimanapun cara Adek melahirkan. Ini hanya soal cara kamu melahirkan, Sayang."
"Adek adalah ibu yang sempurna. Insya Allah. Seorang ibu adalah madrasah pertama buat anak-anaknya. Jangan hiraukan apa kata orang." Hafiz mengusap air matanya dengan lembut.
Hafiz masih mencuri ciuman di kening dan mengecup punggung tangannya sebelum akhirnya merelakan Azizah dibawa oleh petugas medis ke ruangan operasi.
"Kita banyak berdoa saja, Hafiz. Tenanglah. Azizah akan baik-baik saja." ucap bibi Sarah. Wanita itu terlihat tegar dan bisa mengendalikan diri. Hafiz mendudukkan tubuhnya di kursi panjang berdampingan dengan bibi Sarah.
"Hannah waladat Maryam, Maryam waladat Isa, ukhruj ayyuhal mauluud, bibarkati malikil ma'buud." Kalimat itu berkali-kali dia ucapkan, demikian juga dengan bibi Sarah.
Menit demi menit terasa begitu berharga, berjalan dengan begitu lambat di dalam penantiannya akan sebuah kabar baik tentang kelahiran anaknya.
Drttt drttt ...
Hafiz mengambil ponsel dari saku bajunya.
Keningnya berkerut. Naura?
[Assalamu alaikum, Abang lagi apa?]
[Wa alaikum salam. Aku sedang di rumah sakit, Dek. Azizah mau melahirkan]
Hafiz menghela nafas panjang.
[Semoga lancar semuanya ya, Bang. Adek akan berdoa dari sini]
[Iya, terima kasih, Dek]
Tanpa menunggu balasan dari Naura, Hafiz langsung mematikan data internet dan menaruh ponsel kembali ke saku bajunya.
Hafiz menoleh kepada bibi Sarah. Perempuan setengah tua itu nampak memejamkan mata sembari mulutnya berkomat-kamit.
Ah.. kenapa waktu berjalan terasa begitu lambat?

Bình Luận Sách (137)

  • avatar
    SolehahUmmu

    Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.

    14/08/2022

      0
  • avatar
    AlzenaaPutrii

    sangat bagus

    15/07

      0
  • avatar
    ArumFatin

    bagus dan keren ceritanya

    06/06

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất